Anda di halaman 1dari 16

Mekanisme Kontraksi Otot Lurik dan Otot Polos.

Otot
Membuat gerakan tubuh Mempertahankan postur tubuh bersama rangka menstabilkan hubungan antar tulang melindungi jaringan dalam tubuh menyimpan nutrisi

Kontraktilitas Eksitabilitas

Ekstensibilitas Elastisitas

Otot Lurik
Sarkolema

Otot yang melekat pada kerangka

Adalah membran yang melapisi suatu sel otot yang fungsinya sebagai pelindung otot.

Miofibril

Filamen tebal (miosin) Filamen tipis (aktin)


Adalah cairan sel otot yang fungsinya untuk tempat dimana miofibril dan miofilamen berada. Cairannya : kalium, fosfat dan enzim protein

Sarkoplasma Retikulum Sarkoplasmik

menyimpan dan memompa ion kalsium

Struktur filamen dalam miofibril :

Mekanisme Kontraksi Otot Lurik


ADP

Pi

Tidak ada Ca++

(1) Istirahat

E (2b) Tetap istirahat

ADP Pi

Bila ada Ca++


ATP (Mg++)
(4a) kepala miosin terlepas Bila tersedia ATP baru ADP Pi (3) Kepala miosin mengangguk E ADP Pi (2a) Kepala miosin melekat pada aktin

Tidak ada ATP baru

4b Rigor Kompleks

Otot polos
Pengenalan Otot Polos Otot polos disebut juga dengan otot tak sadar, karena kita tidak menyadari saat otot ini bekerja. Otot polos berbentuk seperti gelendong, inti selnya hanya satu dan terletak ditengah.

Jenis jenis otot polos :


1. Otot polos multiunit Sifat paling penting dari serat otot polos multiunit adalah bahwa masing-masing serat dapat berkontraksi tanpa bergantung pada yang lain, dan pengaturannya terutama dilakukan oleh sinyal saraf. Sifat tambahan lainnya adalah bahwa otot ini jarang menunjukkan kontraksi yang spontan.

Next..
2. Otot polos unit-tunggal
Otot polos ini juga dikenal sebagai otot polos sinsisial karena sifat antar hubungannya di antara serat-serat. Serat otot pada otot polos unit-tunggal secara listrik dihubungkan oleh gap junction. Ketika timbul potensial aksi pada lembaran otot polos unit-tunggal, potensial aksi tersebut merambat dengan cepat melalui titik-titik kontak listrik khusus ke seluruh kelompok sel-sel yang saling berhubungan, yang kemudian berkontraksi sebagai satu unit terkoordinasi.

Mekanisme kontraksi otot polos unit-tunggal


Mekanisme pada otot rangka seluruhnya di bawah kontrol saraf yang melibatkan rekrutmen unit motorik dan penjumlahan kedutan. Sedangkan pada otot polos, gap junction memastikan bahwa massa otot polos berkontraksi sebagai satu kesatuan, sehingga jumlah serat otot yang berkontraksi tidak mungkin diubah-ubah.

Faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kecepatan dan kekuatan kontraksi otot polos unit-tunggal dan multiunit misalnya hormon tertentu, metabolit lokal, peregangan mekanis, dan obat-obat spesifik. Dengan demikian, otot polos lebih dipengruhi oleh faktor eksterna, berbeda dengan otot rangka.

Pengaturan Kontraksi oleh Ion Kalsium


Seperti yang terjadi pada otot rangka, peristiwa yang memicu sebagian besar kontraksi otot polos adalah adanya peningkatan ion kalsium intraseluler. Peningkatan ini dapat disebabkan oleh rangsangan saraf pada serat otot polos, rangsangan hormonal, regangan serat, atau bahkan perubahan pada lingkungan kimiawi serat. Otot polos tidak mengandung troponin seperti pada otot rangka, yaitu protein pengatur yang diaktifkan oleh ion kalsium untuk menimbulkan kontraksi.

Penghentian Kontraksi oleh Miosin Fosfat


Bila konsentrasi ion kalsium menurun di bawah nilai kritis, proses yang telah disebutkan di atas akan berlangsung terbalik secara otomatis, kecuali untuk fosforilasi kepala miosin. Proses yang terbalik ini membutuhkan enzim lain, yaitu miosin fosfatase, yang terletak di dalam cairan pada sel otot polos, yang menguraikan fosfat dari rantai ringan pengatur. Kemudian siklus berhenti dan kontraksi berakhir. Karena itu, waktu yang dibutuhkan untuk merelaksasikan otot yang berkontraksi sangat ditentukan oleh jumlah miosin fosfatase aktif dalam sel.

Next...
2. Pengaruh Hormon Terhadap Kontraksi Otot Polos Kebanyakan hormon yang bersirkulasi dalam tubuh akan mempengaruhi kontraksi otot polos hingga derajat tertentu, dan beberapa diantaranya mempunyai pengaruh yang sangat besar. Beberapa hormon dalam darah yang dapat mempengaruhi kontraksi adalah neropinefrin, epinefrin, asetilkolin, angiostensin, vasopresin, oksitosin, serotonin, dan histamin. Suatu hormon dapat menimbulkan kontraksi otot polos bila membran sel otot mengandung reseptor perangsang bergerbang hormon untuk hormon tertentu. Sebaliknya, hormon akan menimbulkan penghambatan jika membran mengandung reseptor penghambat dan bukan reseptor perangsang.

Kontraksi Otot Polos Tanpa Potensial Aksi


1. Kontraksi otot polos sebagai respon terhadap jaringan setempat Otot polos bersifat sangat kontraktil, yang berespon cepat terhadap perubahan keadaan setempat dalam cairan interstisial sekitarnya. Dengan cara ini, sistem pengatur umpan balik setempat yang sangat kuat akan mengatur aliran darah yang menuju ke daerah jaringan setempat.