Anda di halaman 1dari 37

Koagulasi-flokulasi

Bambang Widiono POLINEMA

This process transforms dissolved contaminants into an insoluble solid, facilitating the contaminant's subsequent removal from the liquid phase by sedimentation or filtration. The process usually uses pH adjustment, addition of a chemical precipitant, and flocculation.

Coagulants and Flocculation


In the precipitation process, chemical precipitants, coagulants, and flocculantation are used to increase particle size through aggregation. The precipitation process can generate very fine particles that are held in suspension by electrostatic surface charges. These charges cause clouds of counter-ions to form around the particles, giving rise to repulsive forces that prevent aggregation and reduce the effectiveness of subsequent solid-liquid separation processes. Therefore, chemical coagulants are often added to overcome the repulsive forces of the particles

Koagulasi adalah proses pembubuhan bahan kimia (koagulan) ke dalam air yang akan dioIah. Flokulasi adalah proses penggumpalan bahan terlarut, koloid, dan yang tidak dapat mengendap dalam air

Desatabilisasi ini disebabkan oleh ion monovalen dan divalen yang berada dalam air. Yang menjadi masalah adalah apabila kekuatan ionic dalam air sangat kecil sehingga menyebabkan koloid dalam air dalam kondisi stabil, sehingga susah saling berikatan karena seluruh koloid memiliki muatan yang sama. Untuk itulah sangat diperlukan proses koagulasi untuk mendestabilkan koloid koloid tersebut

beberapa daya yang menyebabkan stabilitas koloid


Gaya Elektrostatik, yaitu gaya tolak menolak terjadi jika koloid koloid mempunyai muatan yang sejenis. Bergabung dengan molekul air ( reaksi Hidrasi ) Stabilisasi yang disebabkan oleh molekul besar yang diadsorpsi pada permukaan. Suspensi atau koloid bisa dikatakan stabil jika semua gaya tolak menolak antar partikel lebih besar daripada gaya tarik massa, sehingga dalam waktu tertentu tidak terjadi agregasi. Untuk menghilangkan kondisi stabil tersebut, maka harus merubah gaya interaksi diantara koloid dengan pembubuhan bahan kimia ( sebagai donor muatan ) supaya gaya tarik menarik menjadi lebih besar.

Koagulan
adalah zat kimia yang menyebabkan destabilisasi muatan negatif partikel di dalam suspensi Zat ini merupakan donor muatan positip yang digunakan untuk mendestabilisasi muatan negatip partikel. pengolahan air sering dipakai garam dari Aluminium, Al (III) atau garam besi (II) dan besi (III).

The three main types of coagulants


inorganic electrolytes (such as alum, lime, ferric chloride, and ferrous sulfate), organic polymers, and synthetic polyelectrolytes with anionic or cationic functional groups.

Koagulan yang umum digunakan pada pengolahan air


: NAMA FORMULA BENTUK REAKSI pH OPTIMUM

DENGAN AIR
Aluminium sulfat, Alum sulfat, Alum, Salum Al2(SO4)3.xH2O

x = 14,16,18
Sodium aluminat

Bongkah, bubuk Asam


Basa

6,0 7,8
6,0 7,8

NaAlO2 atau Na2Al2O4 Bubuk

Polyaluminium Chloride, PAC Aln(OH)mCl3n-m Cairan, bubuk 7,8 Ferri sulfat Fe2(SO4)3.9H2O Kristal halus Asam Ferri klorida FeCl3.6H2O Bongkah, cairan Asam Ferro sulfat FeSO4.7H2O Kristal halus Asam

Asam
49 49 > 8,5

6,0

The amount of flocculation that occurs depends


the opportunity for contact, which varies with the overflow rate, the depth of the basin, the velocity gradients in the system, the concentration of particles, and the range of particles sizes

Flokulator
alat yang digunakan untuk flokulasi berdasarkan cara kerjanya flokulator dibedakan menjadi 3 macam : yaitu pneumatic, mekanik, dan baffle. Flokulator pada prinsipnya bertugas untuk melakukan pengadukan lambat agar jangan sampai mikro flok yang sudah menggumpal pecah kembali menjadi bentuk semula, maka perlu adanya desain khusus bentuk flokulator tersebut.

Alum/Tawas
Tawas/Alum adalah sejenis koagulan dengan rumus kimia Al2S04 11 H2O atau 14 H2O atau 18 H2O umumnya yang digunakan adalah 18 H2O. Semakin banyak ikatan molekul hidrat maka semakin banyak ion lawan yang nantinya akan ditangkap akan tetapi umumnya tidak stabil. Pd pH < 7 terbentuk Al ( OH )2+, Al ( OH )2 4+, Al2 ( OH )2 4+. Pada pH > 7 terbentuk Al ( OH )-4. Flok flok Al ( OH )3 mengendap berwarna putih. Reaksi alum dalam larutan dapat dituliskan.: Al2S04 + 6 H2O Al ( OH )3 + 6 H+ + SO42-

PAC ( Poly Aluminium Chloride )


Senyawa Al yang lain yang penting untuk koagulasi adalah Polyaluminium chloride (PAC), Aln(OH)mCl3n-m. PAC adalah suatu persenyawaan anorganik komplek, ion hidroksil serta ion alumunium bertarap klorinasi yang berlainan sebagai pembentuk polynuclear).

keunggulan yang dimiliki PAC dibanding koagulan lainnya adalah


1. PAC dapat bekerja di tingkat pH yang lebih luas, dengan demikian tidak diperlukan pengoreksian terhadap pH, terkecuali bagi air tertentu.
2. Kandungan belerang dengan dosis cukup akan mengoksidasi senyawa karboksilat rantai siklik membentuk alifatik dan gugusan rantai hidrokarbon yang lebih pendek dan sederhana sehingga mudah untuk diikat membentuk flok. 3. Kadar khlorida yang optimal dalam fasa cair yang bermuatan negatif akan cepat bereaksi dan merusak ikatan zat organik terutama ikatan karbon nitrogen yang umumnya dalam truktur ekuatik membentuk suatau makromolekul terutama gugusan protein, amina, amida dan penyusun minyak dan lipida.

4. PAC tidak menjadi keruh bila pemakaiannya berlebihan, sedangkan koagulan yang lain (seperti alumunium sulfat, besi klorida dan fero sulfat) bila dosis berlebihan bagi air yang mempunyai kekeruhan yang rendah akan bertambah keruh. Jika digambarkan dengan suatu grafik untuk PAC adalah membentuk garis linier artinya jika dosis berlebih maka akan didapatkan hasil kekeruhan yang relatif sama dengan dosis optimum sehingga penghematan bahan kimia dapat dilakukan. Sedangkan untuk koagulan selain PAC memberikan grafik parabola terbuka artinya jika kelebihan atau kekurangan dosis akan menaikkan kekeruhan hasil akhir, hal ini perlu ketepatan dosis. 5. PAC mengandung suatu polimer khusus dengan struktur polielektrolite yang dapat mengurangi atau tidak perlu sama sekali dalam pemakaian bahan pembantu, ini berarti disamping penyederhanaan juga penghematan untuk penjernihan air.

6. Kandungan basa yang cukup akan menambah gugus hidroksil dalam air sehingga penurunan pH tidak terlalu ekstrim sehingga penghematan dalam penggunaan bahan untuk netralisasi dapat dilakukan.
7. PAC lebih cepat membentuk flok daripada koagulan biasa ini diakibatkan dari gugus aktif aluminat yang bekerja efektif dalam mengikat koloid yang ikatan ini diperkuat dengan rantai polimer dari gugus polielektrolite sehingga gumpalan floknya menjadi lebih padat, penambahan gugus hidroksil kedalam rantai koloid yang hidrofobik akan menambah berat molekul, dengan demikian walaupun ukuran kolam pengendapan lebih kecil atau terjadi over-load bagi instalasi yang ada, kapasitas produksi

Feri khlorida:
Reaksi : 2FeCl3 + 3 Ca(CO3)2 - 2Fe(oh)3 + 3CaCl3 + 6CO3 Jika alkalinitas alami tidak cukup maka harus ditambahkan alkalinitas. Biasanya pH optimum yang didapat berkisar 4 12.

Aluminum Chlorohydrate (ACH)


larutan polyaluminum hydroxychloride dengan konsentrasi tinggi. ACH mempunyai kadar aluminat (Al2O3) 23% dengan basicity 83%. ACH merupakan alumunium terpolimerisasi tinggi, garam alum/ alumunium khlorida, dan produk aluminium lainnya dengan muatan positif (kation). Daya kerja koagulasinya pada pH diatas 9,5 dengan dosis yang lebih rendah disbanding dengan koagulan garam logam lainnya.

Kegunaan :
1. Penghilangan kekeruhan (turbidity). 2. Penghilangan warna (color) 3. Penghilangan TSS 4. Penghilangan logam 5. Penghilangan phosphat 6. Penghilangan COD dan BOD. 7. Penghilangan zat organic (TOC) 8. Mereduksi lumpur lebih dari 50% 9. Operasi yang mudah. 10. Biaya yang kompetitif. 11. dsb.

Catatan : ACH diprioritaskan untuk air baku dengan pH yang tinggi (basa) sehingga dengan kadar basicity yang cukup dapat melakukan penyesuaian/ koreksi/ adjustment pH effluent yang cukup hemat. Terutama jika effluent yang diharapkan netral atau sekitar pH 7.5. Operasi yang mudah.dan biaya yang kompetitif. (SAFETY ; Lihat MSDS).

Cara Kerja Pengendapan Partikel Tersuspensi

Cara Kerja Pengendapan Partikel Tersuspensi air yang setelah mengalami perlakukan koagulasi (pemberian koagulan seperti tawas atau PAC, dll), Pada koagulasi ini terjadi pengadukan cepat, pengadukan ini membantu bahan kimia seperti tawas menjadi homogen di dalam air, sehingga partikel tersuspensi akan membentuk gumpalan yang lebih besar. Setelah koagulasi diikuti dengan flokulasi, dalam flokulasi terjadi pengadukan lambat agar partikel yang telah membesar tadi tidak pecah menjadi partikel-partikel semula. Kemudian overflow ke bak sedimentasi, sesuai dengan namanya, pada bak ini partikel yang telah membesar tadi akan mengendap di dalam bak sedimentasi secara gravitasi.

Koagulasi Koloid
Jika partikel-partikel koloid tersebut bersifat netral, maka akan terjadi penggumpalan dan pengendapan karena pengaruh gravitasi. Proses penggumpalan dan pengendapan ini disebut koagulasi

Gambar diagram alir proses koagulasi dengan pengendapan

Proses pengadukan cepat mempunyai peranan yang sangat penting dalam koagulasi yang menggunakan koagulan garam logam karena:
1. Hidrolisis dan polimerisasi merupakan proses yang sangat cepat.
2. Pembubuhan koagulan dan pH yang merata sangat penting dalam pembentukan unsur hidrolisis. 3. Proses absorbsi koagulan berlangsung sangat cepat 4. Apabila pengadukan yang terjadi terlambat, maka koagulan akan terbuang, karena bereaksi terhadap air.

Ada tiga faktor yang menentukan keberhasilan suatu proses koagulasi yaitu: Jenis bahan kimia koagulan yang dipakai Dosis pembubuhan bahan kimia Pengadukan dari bahan kimia

The following chemicals are used as flocculants


alum aluminium chlorohydrate aluminium sulfate calcium oxide calcium hydroxide iron(III) chloride iron(II) sulfate polyacrylamide polyDADMAC sodium aluminate sodium silicate

following natural products are used as flocculants:[


Chitosan Moringa oleifera seeds Papain A species of Strychnos (seeds) Isinglass

Koagulan/Flokulan Pembantu
Zat polimer itu sangat cocok berdasarkan struktur kimia untuk membantu dalam proses flokulasi dan untuk mempengaruhi sifat flok. Pembubuhan Koagulan/flokulan pembantu dilakukan setelah pembubuhan koagulan

Koagulan/Flokulan Pembantu
a. Kopolimer dari akrilamida dan N,Ndimetil amino propilen akrilat Sifat muatan elektrostatik : Ionik Sifat : Kopolimer yang linier dan kationik kepadatan muatan elektrostatik tergantung dari status kopolomerisasi (n/m + n) dan pH, membentuk jarak yang sensitif terhadap hidrolisa Koagulan/Flokulan Pembantu b. Poli (Natriumakrilat) Sifat muatan elektrostatik : Anionik Sifat : Polimer yang paling penting anionik dan segmen linier dalam kopolimer dengan akril amida dan anionik Koagulan/Flokulan Pembantu c. Poli akrilamida Sifat muatan elektrostatik : Non ionogen Sifat : Molekul yang sangat panjang dan linier yang dikenal sebagai flokulan pembantu yang ionogen.

Penggunaan tawas, kapur dan PAC sebagai flokulan mempunyai beberapa kelemahan, yaitu: 1.Penggunaan tawas dan PAC mengakibatkan air menjadi asam karena pembentukan sulfat dalam air mencapai 550 mg/L yang dapat mengganggu kesehatan manusia apabila dikonsumsi. Asam juga dapat mengakibatkan korosi benda-benda dari logam. 2.Pembentukan asam mengakibatkan kebutuhan penetral, yaitu NaOH, menjadi lebih banyak sehingga tidak ekonomis. 3.Kapur dapat membuat air menjadi sadah karena adanya ion kalsium.

flokulasi adalah reaksi dua tingkat yang terdiri dari tahap pembentukan flok pendahuluan dan diikuti dengan tahap pertumbuhannya, pada tahap kedua

Partikel diliputi flokulan

Proses Flokulasi

Prosedur pengujian :

Masukkan volume contoh uji yang sama (1000 mL) kedalam masingmasing gelas kimia. Tempatkan gelas hingga baling-baling pengaduk berada 6,4 mm dari dinding gelas. Catat temperatur contoh uji pada saat pengujian dimulai. Letakkan bahan (kimia) uji pada pereaksi. Operasikan pengaduk muIti posisi pada pengadukan cepat dengan kecepatan kira-kira 120 Rpm. Tambahkan larutan atau suspensi pada setiap penentuan dosis yang telah ditentukan sebelumnya. Kurangi kecepatan sampai pada kecepatan minimal, untuk menjaga keseragaman partikel flok yang terlarut melalui pengadukan lambat selama 20 menit. Setelah pengadukan lambat selesai, angkat baling-baling dan lihat pengendapan partikel flok. Setelah 15 menit pengendapan, catat bentuk flok pada dasar gelas dan catat temperatur contoh uji, Dengan menggunakan pipet atau siphon, keluarkan sejumlah cairan supernatan yang sesuai sebagai contoh uji untuk penentuan warna, kekeruhan, pH dan analisis lainnya. Ulangi langkah 1 sampai 6 di atas sampai semua variabel penentu terevaluasi. Untuk mendapatkan hasil yang lebih teliti prosedur berpasangan 3 dan 3 jartest dianjurkan. Categories: Teknologi Terapan

What is turbidity?
Turbidity is a measure of the degree to which the water looses its transparency due to the presence of suspended particulates. The more total suspended solids in the water, the murkier it seems and the higher the turbidity. Turbidity is considered as a good measure of the quality of water.

What causes turbidity?

There are various parameters influencing the cloudiness of the water. Some of these are: Phytoplankton Sediments from erosion Resuspended sediments from the bottom (frequently stir up by bottom feeders like carp) Waste discharge Algae growth Urban runoff

How do we measure turbidity?


Turbidity is measured in NTU: Nephelometric Turbidity Units. The instrument used for measuring it is called nephelometer or turbidimeter, which measures the intensity of light scattered at 90 degrees as a beam of light passes through a water sample. A turbidity measurement could be used to provide an estimation of the TSS (Total Suspended Solids) concentration, which is otherwise a tedious and difficult parameter to measure.