Anda di halaman 1dari 14

Harry Fernando Simatupang

101.0211.173

Transient Tachypnea of the Newborn


adalah suatu penyakit ringan pada neonatus yang mendekati cukup bulan atau cukup bulan yang mengalami gawat napas segera setelah lahir dan hilang dengan sendirinya dalam waktu 3-5 hari.

Tanda Bahaya Gawat Napas


Sianosis Apnea Stridor Kesulitan bernapas (gasping) Retraksi dada yang berat Perfusi buruk (syok)

Penyebab Umum Gawat Napas


Transient tachypnea of the newborn (TTN) Penyakit Membran Hialin (HMD) Sindrom Aspirasi Mekonium (MAS) Pneumonia Penyakit jantung bawaan

Gejala klinis
takipnea (>60 kali/menit) retraksi pada dada sianosis merintih terlihat nafas cuping hidung

Bayi yang sering mengalami TTN adalah bayi yang dilahirkan secara operasi sesar sebab mereka kehilangan kesempatan untuk mengeluarkan cairan paru mereka. Bayi yang dilahirkan lewat persalinan per vaginam mengalami kompresi dada saat menuruni jalan lahir. Hal inilah yang menyebabkan sebagian cairan paru keluar. Kesempatan ini tidak didapatkan bagi bayi yang dilahirkan operasi sesar.1

Faktor Risiko

Lahir Seksio cesarean.2 Makrosomia.2 Partus lama. 2 Bayi laki-laki.2 Maternal asma dan merokok. 2 Excessive maternal sedation. 2 Negative amniotic fluid phosphatidylglycerol. 2 Birth asphyxia. 2 Cairan overload terhadap ibu, terutama pemberian infuse oksitosin. 2 Delayed clamping terhadap umbilikus. Waktu optimal adalah 45 detik.2 Fetal polycythemia. 2 Ibu dengan diabetes. 2 Prematur (dapat terjadi, tapi sangat jarang).2

Manifestasi Klinik

adanya tanda distress pernafasan, yaitu takipnu, nafas cuping hidung, mendengkur, retraksi dinding dada, dan sianosis pada kasus ekstrim Takipnu ini bersifat sementara dimana penyembuhan biasa terjadi dalam 48-72 jam setelah kelahiran

Diagnosis

Pemeriksaan Laboratorium
Analisis Gas Darah: hipoksia ringan, hipokarbia biasanya ringan (PCO2 >55 mm Hg) Urine and serum antigen test dapat membantu menyingkirkan infeksi bakteri

Pemeriksaan Radiologi
Rontgen thoraks. Berikut adalah gambaran khas pada TTN:
Hiperexpansi paru, khas pada TTN. 3 Garis prominen di perihiler. 3 Pembesaran jantung ringan hingga sedang. 3 Diafragma datar, dapat dilihat dari lateral. 3 Cairan di fisura minor dan perlahan akan terdapat di ruang pleura. 3 Prominent pulmonary vascular markings.3

DD
Pneumonia/sepsis. Jika neonatus mengalami pneumonia atau sepsis, akan didapat pada riwayat kehamilan ibu tanda-tanda infeksi, seperti korioamnionitis, ketuban pecah dini, dan demam. Differensial count menunjukkan tanda neutropenia atau leukositosis dengan jumlah abnormal dari sel immature. Tes antigen urin dapat positif bila neonates mengalami group B streptococcal. Jika terdapat tandatanda infeksi seperti di atas, dianjurkan untuk memberikan antibiotic berspektrum luas. Pemberian antibiotic dapat dihentikan jika didapatkan hasil kultur yang negative dalam 3 hari.3

HMD. Biasanya terjadi pada neonates yang premature atau dengan alasan lain akan tertundanya maturasi paru. Pada rontgen thoraks dapat diketahui dengan jelas pola retikulogranular dengan gambaran atelektasis paru.3

Aspirasi Mekonium. Biasanya dapat diketahui dari riwayat kehamilan dan persalinan berupa cairan ketuban berwarna hijau tua, mekonium pada cairan ketuban, noda kehijauan pada kulit bayi, kulit bayi tampak kebiruan (sianosis), pernafasan cepat (takipnea) , sesak nafas (apnea), frekuensi denyut jantung janin rendah sebelum kelahiran , skor APGAR yang rendah , bayi tampak lemas , auskultasi: suara nafas abnormal.3

Talak
Oksigenasi.4 Antibiotik. Kebanyakan bayi baru lahir diberi antibiotic berspektrum luas hingga diagnosis sepsis atau pneumonia disingkirkan.4 Pemberian makanan. Jika pernafasan di atas 60 kali per menit, neonatus sebaiknya tidak diperi makan per oral untuk menghindari risiko aspirasi. Jika frekuensi pernafasan kurang dari 60 kali per menit, pemberian makanan per oreal dapat ditolerir. Jika 60-80 kali per menit, pemberian makanan harus melalui NGT. Jika lebih dari 80 kali per menit, pemberian nutrisi intra vena diindikasikan.4 Cairan dan elektrolit. Status cairan tubuh dan elektrolit harus dimonitor dan dipertahankan normal.4

Prognosis
Penyakit ini bersifat sembuh sendiri dan tidak ada risiko kekambuhan atau disfungsi paru lebih lanjut. Gejala respirasi membaik sejalan dengan mobilisasi cairan dan ini biasanya dikaitkan dengan dieresis