Anda di halaman 1dari 41

PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN YANG MELANDASI TUGAS, FUNGSI DAN PRAKTEK BIDAN

PERUNDANG-UNDANGAN YANG MELANDASI PELAYANAN KESEHATAN
UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan PP no. 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan

UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan
 Bab

5 bagian kesatu UU 36 th 2009 mengatur ttg tugas, kewajiban dan hak tenaga kesehatan.

Terdiri

29 )

dari 9 pasal ( pasal 21 –

Undang – Undang No. 13 Th. 2003 tentang Ketenagakerjaan
 Pasal

1 (2)

– Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat
 Pasal

5

– Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan

82 (1 & 2 ). Peraturan hukum yang mengatur tentang hak bidan sebagai tenaga kerja adalah pasal 31. 83 & pasal 84 UU 13 tahun 2003. 81 (1). .

 Pasal 31 – Setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk memilih. mendapatkan. atau pindah pekerjaan dan memperoleh penghasilan yang layak di dalam atau di luar negeri  Pasal 81 (1) – Pekerja atau buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha. tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua haid .

5 atau sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidan  Pasal 82(1) – Pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1.Pasal 82 (2) – Pekerja/buruh perempuan yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1.5 bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1.  .5 bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan.

berhak mendapat upah penuh . Pasal 83 – Pekerja /buruh perempuan yang anaknya masih menyusu harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja  Pasal 84 – Setiap pekerja/buruh yang menggunakan hak waktu istirahat.

32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan  Pasal 1 (1) – Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan .PP No.

g.  Pasal 2 (3) – Tenaga keperawatan meliputi perawat dan bidan  Pasal 3 – Tenaga kesehatan wajib memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang kesehatan yang dinyatakan dengan ijazah dari lembaga pendidikan. f. tenaga gizi. d. e. b. . c. tenaga keperawatan. tenaga keteknisian medis. Pasal 2 (1) – Tenaga kesehatan terdiri dari: a. tenaga kesehatan masyarakat. tenaga medis. tenaga kefarmasian. tenaga keterapian fisik.

 Pasal 22 (1) – Bagi tenaga kesehatan jenis tertentu dalam melaksanakan tugas profesinya berkewajiban untuk: a. menghormati hak pasien b. – Setiap tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi standar profesi tenaga kesehatan. memberikan informasi yang berkaitan dengan kondisi dan tindakan yang akan dilakukan d. . menjaga kerahasiaan identitas dan data kesehatan pribadi pasien c. Pasal 10 (1)  Pasal 21 (1) – Setiap tenaga kesehatan memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti pelatihan di bidang kesehatan sesuai dengan bidang tugasnya. meminta persetujuan terhadap tindakan yang akan dilakukan e. membuat dan memelihara rekam medis.

 Pasal 24 (1) – Perlindungan hukum diberikan kepada tenaga kesehatan yang melakukan tugasnya sesuai dengan standar profesi tenaga kesehatan. .

.

secara garis besar dibagi 2 yaitu abortus spontan dan abortus buatan/provokatus. Aborsi adalah berakhirnya kehamilan sebelum anak dapat hidup di dunia luar ( usia kehamilan ≤ 22 minggu dan berat janin ≤ 500 gram. Abortus provokatus terdiri dari :  Abortus provokatus therapiticua  Abortus provokatus krimininalis . Abortus.ABORSI    Aborsi berasal dari kata “abortus” ( bahasa Latin) yang berarti kelahiran sebelum waktunya.

Peraturan Hukum tentang Aborsi Dalam KUHP aborsi tergolong kejahatan terhadap nyawa orang lain (pasal 338-350) dan kejahatan kesusilaan (pasal 281-303) dan UU NO 36/2009 (pasal 75-77) Mereka yang terkena hukuman menurut KUHP : • Wanita yang dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati kandungannya. . • Mereka yg dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati kandungan seorang wanita tidak dengan izin wanita itu.

• • • . • Sengaja menyebabkan gugur atau mati kandungan seorang wanita dengan seizin wanita itu. Seorang dokter.• Perbuatan aborsi yg berakibat kematian. Mengobati atau menyuruh wanita berobat dengan harapan terjadi keguguran. Menjadikannya sebagai mata pencaharian. bidan atau juru obat membantu aborsi.

 UU No. Persetujuan bumil yg bersangkutan d. Sebelum kehamilan berumur 6 minggu dihitung dr HPHT. kecuali korban perkosaan e. Korban pemerkosaan  Pasal 76 Aborsi hanya dapat dilakukan : a. Oleh nakes yg memiliki keterampilan & kewenangan yg memiliki sertifikat yg ditetapkan oleh menteri c. Penyedia layanan kes yg memenuhi syarat . kecuali kedaruratan medis b. Dgn izin suami. 36 tahun 2009 Pasal 75 (1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi (2) larangan sebagaimana dimaksud di atas dpt dikecualikan berdasarkan : a. Indikasi kedaruratan medis b.

. dipidana dgnpidana penjara 10 tahun & denda paling banyak 1 miliar rupiah. Ketentuan pidana  Pasal 194 Setiap orang dengan sengaja melakukan oborsi tidak sesuai dgn ketentuan.

.

 Status bayi tabung : o Inseminasi buatan dengan sperma suami o Inseminasi buatan dengan sperma donor o Inseminasi buatan dengan model titipan . Bayi tabung adalah upaya jalan pintas untuk mempertemukan sel sperma dan sel telur di luar tubuh ( In Vitro Fertilization ).

 UU No. .Peraturan Hukum tentang Bayi Tabung 1. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 42 – Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah.

Hasil pembuahan sperma & ovum dr suami istri ybs ditanamkan dlm rahim istri dr mana ovum berasal b. Pada fasilitas yankes tertentu . Dilakukan oleh nakes yg mempunyai keahlian & kewenangan untuk itu c.2.  UU No 36 tahun 2009 Pasal 127 (1) Upaya kehamilan di luar cara alamiah hanya dilakukan oleh pasutri yg sah dgn ketentuan : a.

.

ttg perlindungan anak).Peraturan Hukum Adposi Adopsi merupakan proses penerimaan seorang anak dari seseorang atau lembaga organisasi ke tangan orang lain secara sah dan diatur dalam peraturan perundang-undangan Anak angkat adalah anak yg haknya dialihkan dari orang tua. wali yg sah yg bertanggunggungjawab atas perawatan ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan penetapan pengadilan (UU 23 /2002. .

agama anak mengikuti agama mayoritas penduduk setempat . (4) pengangkatan anak oleh WNA hanya dpt dilakukan sbg upaya terakhir. (5) anak dg asal usul tdk diketahui.      Pasal 39 UU 23 th 2002 (1) Pengangkatan anak dilakukan untuk kepentingan yg terbaik bagi anak dan dilakukan berdasarkan adat kebiasaan setempat dan ketentuan peratura yg berlaku. (3) Calon orang tua angkat hrs seagama dengan calon anak angkat. (2) Pengangkatan anak tidak memutuskan hubungan darah antara anak yg diangkat dgn orang tua kandungnya.

. Pasal 40  (1) Ortu angkat wajib memberitahu kepada anak angkatnya mengenai asal usulnya dan ortu kandungnya.  (2) Pemberitahuan ttg asal usul dan ortunya dilakukan dg memperhatikan kesiapan anak.

 .Identitas Anak Pasal 27 UU 23 th 2002 (2) Identitas anak dituangkan dalam akta kelahiran. (3) Pembuatan akta kelahiran didasarkan pada keterangan dari orang yang menyaksikan dan atau membantu proses kelahiran. (3) Anak yg tidak diketahui proses kelahiran dan ortunya. pembuatan akta kelahiran didasarkan keterangan orang yang menemukannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Terima Kasih .

wewenang dan peraturan hukum yg berlaku  .Seorang remaja putri datang ke BPS dengan keluhan terlambat haid 1 minggu. etika. Remaja ini meminta bantuan bidan menggugurkan kadungannya karena masih sekolah.  Bagaimanakah keputusan bidan yang tepat pada kasus di atas ?  Kaitkan jawaban saudara dengan moral. Saat ini ia duduk di kelas 1 SMU. Ia telah melakukan tes kehamilan dan hasilnya “positif hamil”.

Ibu meminta bidan mencantumkan identitasnya dalam surat keterangan lahir. Sorang ibu datang ke BPS ingin mengadosi bayi dari seorang remaja hamil di luar nikah. wewenang dan peraturan hukum yg berlaku .  Bagaimanakah keputusan bidan yang tepat pada kasus di atas ?  Kaitkan jawaban saudara dengan moral.