Anda di halaman 1dari 60

Organ Limfoid

TIMUS
> merupakan organ limfoepitelial di mediastinum > embrional berasal dari dua sumber : 1. limfosit berasal dari mesenkim 2. primordial epitel yang berkembang dari entoderm kantong faringeal III dan IV > memiliki simpai (kapsul) jaringan ikat yang berlanjut ke dalam parenkima menjadi septum yang membagi-bagi timus atas lobulus-lobulus > setiap lobulus terdiri atas korteks di daerah tepi dan medula di bagian tengah atau pusat

Figure 1413. Photomicrograph of a section of thymus showing the lobules. Two lobules show the dark cortical and the light medullary zones. At the upper left are blood vessels and the connective tissue capsule. Pararosaniline-toluidine blue (PT) stain. Low magnification.

Korteks (Timus)
> terdiri atas sel-sel limfosit T imatur, sel retikular epitelial dan makrofag > di bawah mikroskop lebih gelap dari medula (lebih banyak mengandung sel-sel limfosit) > sel retikular epitelial adalah sel-sel stelata, intinya pucat berbentuk oval, terhubung satu sama lain dengan desmosom, buktinya berasal dari epitel karena berisi filamen keratin intermediat (tonofibril) di dalam sitoplasmanya > limfosit T imatur berproliferasi di daerah korteks (sebagian apoptosis dan disingkirkan oleh makrofag), bermigrasi ke medula dan darisana memasuki peredaran darah melalui venula > selanjutnya limfosit T menetap di struktur limfoid di luar timus

Figure 1414. Thymus cortical zone showing epithelial reticular cells with visible nucleoli (arrowheads) surrounded by dark-stained T lymphocytes undergoing differentiation. PT stain. Medium magnification.

Figure 1415. The relationship between epithelial reticular cells and thymus lymphocytes. Note the desmosomes and the long processes of epithelial reticular cells extending among the lymphocytes.

Medula (Timus)
> mengandung badan Hassal, ~ merupakan sel-sel retikular epitelial gepeng, tersusun konsentris, dipenuhi dengan filamen keratin, berdegenerasi, terkadang mengapur ~ fungsinya tidak diketahui > medula mempunyai populasi serupa korteks, tetapi terbanyak adalah sel-sel retikular epitelial

Figure 1416. Photomicrograph of the medullary zone of the thymus. The large numbers of epithelial reticular cells with their large and light-stained nuclei are responsible for the light color of the thymus medulla. This zone also contains mature T lymphocytes. PT stain. Medium magnification.

Figure 1417. Photomicrograph of a portion of the cortical zone, identified by its dark staining (right), and a portion of medulla, identified by its lighter staining and the presence of a Hassall corpuscle (left). These corpuscles exist only in the medulla. PT stain. Medium magnification.

Vaskularisasi (Timus)
> arteri (berasal dari a. mammaria interna), memasuki kapsul, mengikuti septa mencapai parenkim di perbatasan korteks dan medula, membentuk anyaman kapiler di daerah korteks maupun medula > kapiler dari timus dengan endotel tanpa fenestra dan lamina basalis yang tebal, impermeabel terhadap protein, yang akan mencegah masuknya antigen ke korteks tempat limfosit T dibentuk > tidak ada sawar timus-darah di medula > tidak memiliki pembuluh limfe aferen (berbeda dengan kelenjar getah bening) > pembuluh limfe eferen terdapat pada dinding pembuluh darah, septa dan kapsul

Figure 1418. Thymus cortex showing the connective tissue capsule that penetrates into the organ. Note an artery and a vein in the capsule. PT stain. Low magnification.

Histofisiologi (Timus)
> perkembangan timus segera setelah lahir dan akan mengalami involusi setelah usia pubertas > sel-sel induk dari sumsum tulang menambah populasi sel T secara kontinu, bermigrasi ke timus selama masa janin dan dewasa > setelah memasuki timus, sel T atau timosit yang berkembang menempati bagian korteks > selama di timus, sel T bermitosis berulang-ulang, tetapi lebih dari 95 % disingkirkan melalui apoptosis, yaitu limfosit yang tidak bereaksi terhadap antigen dan limfosit yang bereaksi terhadap antigen sendiri > bila limfosit yang bereaksi terhadap antigen sendiri tidak disingkirkan menyebabkan terjadinya penyakit autoimun

Figure 1419. Section of the thymus of an elderly adult. Severe atrophy of the parenchyma, which was partially replaced by adipose tissue, can be seen. PT stain. Low magnification.

Histofisiologi (Timus) (samb.)


> limfosit yang akhirnya dihasilkan oleh timus adalah limfosit T, yang bereaksi terhadap antigen asing dan esensial untuk reaksi imun adaptif normal > pada mamalia, daerah tergantung-timus (thymusdependent organs), yang kaya sel-T adalah : ~ zona parakorteks kelenjar getah bening ~ plak Peyer ~ selubung periarterial pulpa putih limpa

Histofisiologi (Timus)(samb.)
> timus menghasilkan protein faktor pertumbuhan yang merangsang proliferasi dan diferensiasi limfosit T, merupakan produk sekresi parakrin dalam timus, yaitu : ~ faktor timosin-alfa ~ timopoietin ~ timolin ~ faktor humoral timus > timus juga merupakan sasaran sejumlah hormon, ~ adrenokortikoid menyebabkan : - pengurangan jumlah limfosit - pengurangan kecepatan mitosis limfosit - atrofi lapisan korteks timus > hormon adrenokortikotropin dari hipofisis anterior merasang aktivitas korteks adrenal > hormon kelamin pria dan wanita mempercepat involusi timus > kastrasi memperlambat involusi timus

KELENJAR GETAH BENING


Pengantar > suatu organ berbentuk ginjal atau lonjong, bersimpai, terdiri dari jaringan limfoid > merupakan sederetan saringan untuk pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme dan penyebaran sel-sel tumor > bagian-bagian kelenjar getah bening ialah, hilus, simpai dan trabekula > daerah-daerah dari kelenjar getah bening ialah, korteks luar, korteks dalam dan medula

Figure 1420. Schematic representation of the structure of a lymph node. Note the outer and inner cortex, the medulla, and the blood and lymph circulation. Also note that the lymph enters through the convex side of the node and leaves through the hilum. The lymph percolates through the node, exposing its contents to the action of defensive cells (macrophages, lymphocytes, APCs).

Figure 1421. Section of a lymph node showing the structure of the cortex and the medulla. The medullary cords and sinuses are clearly visible. PT stain. Low magnification.

KELENJAR GETAH BENING (samb.)


KORTEKS LUAR > mengandung sinus subkapsularis, berhubungan dengan sinus medularis melalui sinus intermediat (sinus trabekularis) > korteks luar terdiri dari jalinan longgar makrofag, sel-sel retikular dan serat retikulin, dipenuhi oleh sel-sel B > mengandung struktur nodul limfoid, kaya akan limfosit B yang bereaksi terhadap antigen > limfosit B bertambah besar, bermitosis menghasilkan selsel besar, basofilik, anak inti jelas disebut imunosit > beberapa nodul limfoid , daerah pusatnya berwarna lebih terang disebut pusat germinal > pusat germinal memperlihatkan sel-sel yang bermitosis dan banyak mengandung imunosit, menghasilkan sel plasma penghasil ntibodi

Figure 1422. Section of a lymph node showing the capsule, subcapsular sinuses, and a small portion of the outer cortex. Some adipose tissue is seen outside the capsule. PT stain. Medium magnification.

Figure 1423. Section of the cortex of a lymph node showing a lymphoid nodule that was strongly activated by the injection of an antigen. Note the large number of macrophages (light structures) surrounded by B lymphocytes. PT stain. Medium magnification.

Figure 1424. Photomicrograph of the cortex of a lymph node activated by injection of an antigen. The main cells are macrophages, which capture and process antigens, and activated B lymphocytes, also called immunocytes. Immunocytes are large cells with basophilic cytoplasm, and large nucleoli that are in the process of multiplication to produce antibodysecreting plasma cells. Some cells are dying by apoptosis (arrows). PT stain. High magnification.

KELENJAR GETAH BENING (samb.)


KORTEKS DALAM > lanjutan dari korteks luar, mengandung sedikit nodul limfoid, banyak mengandung limfosit T MEDULA > terdiri atas korda medularis, yaitu perpanjangan korteks > mengandung limfosit B, (sedikit) sel plasma > sinus limfoid medularis memisah-misah korda medularis > sinus subkapsularis, sinus trabekularis dan sinus limfoid medularis, dindingnya dilapisi oleh sel retikular, sel makrofag dan serat retikulin > sinus-sinus berisi (cairan) limfe

Figure 1425. Photomicrograph of the medulla of a lymph node; the medullary sinuses are separated by medullary cords. PT stain. Medium magnification.

Figure 1426. Photomicrograph of a medullary sinus of a lymph node. The main cells are macrophages, reticular cells, and lymphocytes. PT stain. High magnification.

Figure 1427. Section of the medullary region of a lymph node stained with picrosirius and photographed under polarized light. Note the abundance of reticular fibers made of collagen type III. Medium magnification.

KELENJAR GETAH BENING (samb.) APLIKASI MEDIS > fungsi limfosit B dan T disebabkan defek dari sel-sel tersebut pada penyakit imunodefisiensi (lihat fig. 14-28) > tumor ganas bermetastasis di nodus limfoid > 99 % antigen dan debris lainnya ditangkap oleh makrofag, nodus terkait membesar dengan membentuk pusat germinal baru dengan sel-sel yang aktif berproliferasi > 1-3 % sel plasma merupakan populasi kelenjar yang sedang istirahat, meningkat pesat pada kelenjar yang terangsang, misalnya oleh radang, sehingga sel plasma merupakan salah satu penyebab membesarnya kelenjar > fig. 14-28 menunjukkan pengaruh kekurangan limfosit B dan T dan efeknya pada reaksi imunologik

Figure 1428. Pathologic alterations in lymph nodes related to deficiency of B cells, T cells, or both. (Redrawn, with permission, from Chandrasoma P, Taylor CR: Concise Pathology. Appleton & Lange, 1991.)

KELENJAR GETAH BENING (samb.)


Sirkulasi Limfe dan Darah (Fig. 14-20) > pembuluh limfe aferen menembus simpai, berlanjut ke sinus subkapsularis, sinus trabekularis sampai ke sinus medularis > arsitektur sinus-sinus memperlambat aliran limfe, memberi kesempatan kepada makrofag dan sel dendritik (yaitu sel penyaji-antigen) menangkap dan mencerna materi atau benda asing > makrofag dan sel dendritik dibentuk dalam sumsum tulang dan dibawa sirkulasi ke kelenjar getah bening > aliran limfe keluar di hilus melalui pembuluh limfe eferen > pembuluh darah arteri kecil membentuk anyaman kapiler di dalam nodul limfoid, masuk dan keluar di hilus

Figure 1420. Schematic representation of the structure of a lymph node. Note the outer and inner cortex, the medulla, and the blood and lymph circulation. Also note that the lymph enters through the convex side of the node and leaves through the hilum. The lymph percolates through the node, exposing its contents to the action of defensive cells (macrophages, lymphocytes, APCs).

KELENJAR GETAH BENING (samb.) Histofisiologi


> limfe mengalir melalui kelenjar getah bening untuk penyaringan benda asing sebelum dikembalikan ke darah > limfe yang terbentuk di jaringan sekurang-kurangnya harus melintasi satu kelenjar sebelum memasuki sirkulasi darah

Resirkulasi Limfosit : Suatu Sistem Komunikasi


> perjalanan limfosit : kelenjar getah bening >>> pembuluh eferen >>> sirkulasi darah >>> kembali ke kelenjar getah bening melalui pembuluh darah khusus, venula pasca-kapiler atau venula berendotel tinggi (fig. 14-29)

KELENJAR GETAH BENING (samb.) Resirkulasi Limfosit : Suatu Sistem Komunikasi (samb.)
> venula berendotel tinggi, dengan sel endotel khusus, berbentuk kuboid tinggi, tetapi sel-sel limfosit dapat menerobos pembuluh ini di antara sel-sel tersebut > venula berendotel tinggi terdapat juga di apendiks, tonsila dan plak Peyer ; tidak dijumpai di limpa > resirkulasi limfosit paling sering terjadi di kelenjar getah bening sendiri > kembalinya limfosit disebabkan adanya molekul komplementer pada permukaan limfosit dan permukaan sel endotel tinggi tersebut > melalui resirkulasi limfosit ini terjadi suatu sistem komunikasi di antara kelenjar regional dengan organ limfoid lain untuk menyiapkan organisme untuk respons imun umum terhadap infeksi

Figure 1429. Photomicrograph of a high endothelial venule in a lymph node. Arrowheads indicate high endothelial cells. The venule is crossed by lymphocytes (arrows). PT stain. High magnification.

LIMPA
Struktur Umun
> berperan untuk : ~ pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme yang memasuki peredaran darah ~ tempat penghancuran eritrosit tua ~ tempat produksi limfosit yang aktif yang memasuki peredaran darah ~ menjadi saringan imunologis darah terhadap antigen dan organ pembentuk antibodi

LIMPA (samb.)
Struktur Umum (samb.) > limpa dibungkus oleh simpai (kapsul) dan trabekula menyekat-nyekat parenkim ; kedua-duanya terdiri dari jaringan ikat > adanya hilusnya tempat arteri, vena, pembuluh limfe (dari trabekula saja, pulpa limpa tidak mengandung pembuluh limfe) dan serat saraf keluar masuk ke dalam limpa > simpai dan trabekula mengandung sedikit sel-sel otot polos > parenkim limpa terdiri dari anyaman jaringan retikular, mengandung limfosit, makrofag dan APC

Figure 1430. Section of spleen showing its capsule sending trabeculae to the interior of the organ. Note the white pulp with its arterioles. The red pulp occupies most of the microscopic field. Picrosirius stain. Low magnification.

LIMPA (samb.) Pulpa Limpa


> (suatu irisan limpa yang tidak difiksasi) memperlilihatkan bintik-bintik putih dalam parenkim yaitu pulpa putih, suatu nodul limfoid > di antara nodul-nodul pulpa putih terlihat jaringan merah gelap, dipenuhi darah, disebut pulpa merah > di bawah mikroskop, pulpa merah memperlihatkan struktur memanjang , yaitu korda limpa atau korda Billroth yang terletak di antara sinusoid-sinusoid

Figure 1431. Section of spleen. At left is a region of white pulp with its nodule and arteriole. At right are the red pulp and a trabecula of connective tissue. PT stain. Low magnification.

Sirkulasi Darah (Limpa)


> arteri lienalis memasuki hilus, bercabang-cabang menjadi

> > > >

arteri trabekularis, memasuki parenkim menjadi arteri sentralis atau arteri pulpa putih arteri sentralis diselubungi oleh selubung limfosit T, disebut selubung limfatik periarterial (PALS) arteri sentralis posisinya dalam nodul limfoid pulpa putih adalah eksentris setelah keluar dari pulpa putih, arteri sentralis bercabangcabang membentuk arteriol penisili (diameter 24 mu) arteriol penisili dibungkus oleh selubung dari sel-sel retikular, sel limfosit dan makrofag

Figure 1432. Schematic view of the blood circulation of the spleen. Theories of open and closed circulation are represented. Splenic sinuses (S) are indicated. PALS, periarterial lymphatic sheath. (Redrawn and reproduced, with permission, from Greep RO, Weiss L: Histology, 3rd ed. McGraw-Hill, 1973.)

LIMPA (samb.) Sirkulasi Darah (samb.)


> arteriol penisili berlanjut menjadi kapiler biasa dan selanjutnya menjadi sinusoid atau sinus pulpa merah dan menempati celah-celah di antara korda pulpa merah > (cara darah mengalir dari kapiler ke sinus pulpa merah belum sepenuhnya dimengerti), ada beberapa teori : ~ teori sirkulasi tertutup, darah selamanya berada di dalam pembuluh ~ teori sirkulasi terbuka, darah mengalir melalui celah-celah di antara sel-sel dan mencapai sinusoid di dalam pulpa merah, pada manusia adalah jenis sirkulasi terbuka > dari sinusoid darah masuk ke dalam vena pulpa merah, kemudian menuju vena trabekularis, selanjutnya ke dalam vena lienalis dan meninggalkan limpa melalui hilus > vena trabekularis tidak memiliki dinding dari sel-sel otot polos sendiri, tetapi dilapisi oleh sel endotel

Figure 1433. Structure of the red pulp of the spleen, showing splenic sinusoids and splenic cords with reticular cells and macrophages (some macrophages contain ingested material). The disposition of the reticular fibers in the red pulp is illustrated. In the splenic cords they form a 3dimensional network; in the sinusoids they are mainly perpendicular to the long axis of the sinusoid. Both the open and closed theories of circulation are illustrated. Arrows indicate blood flow and options for movement of blood cells.

LIMPA (samb.
Pulpa Putih > terdiri atas jaringan limfoid yang mengelilingi arteri sentralis dan nodul limfoid yang menempel pada selubung arteri sentralis tersebut > sel-sel limfoid yang mengelilingi arteri sentralis terutama sel limfosit T dan membentuk PALS > nodul limfoid terdiri atas limfosit B > terdapat zona marginal di antara pulpa putih dan pulpa merah, ditempati oleh sinus-sinus, jaringan limfoid longgar, sedikit limfosit dan banyak makrofag aktif > zona marginal banyak mengandung antigen darah, sebab itu berperan pada aktivitas imunologik > limfosit di daerah pusat PALS bersifat thymus dependent > zona marginal dan limfonoduli, pulpa putih perifer , ditempati oleh limfosit B

Figure 1432. Schematic view of the blood circulation of the spleen. Theories of open and closed circulation are represented. Splenic sinuses (S) are indicated. PALS, periarterial lymphatic sheath. (Redrawn and reproduced, with permission, from Greep RO, Weiss L: Histology, 3rd ed. McGraw-Hill, 1973.)

LIMPA (samb.)
Pulpa Merah > mengandung korda limpa dan sinusoid > korda limpa terdiri dari anyaman longgar sel-sel retikular dengan serat retikuli (kolagen tipe III) > korda limpa mengandung makrofag, limfosit B, limfosit T, sel plasma dan sel-sel darah (eritrosit, granulosit dan trombosit) > sinusoid dibatasi oleh sel endotel panjang (sumbu panjangnya sejajar dengan sumbu panjang sinusoid) > sel-sel endotel ini diikat oleh serat retikulin, seperti tali yang mengikat dinding gentong > sel-sel makrofag menempati celah-celah di antara sel-sel endotel > lamina basal dari sinusoid tidak kontinu atau utuh > diameter celah di antara sel-sel endotel sekitar 2-3 um

Figure 1433. Structure of the red pulp of the spleen, showing splenic sinusoids and splenic cords with reticular cells and macrophages (some macrophages contain ingested material). The disposition of the reticular fibers in the red pulp is illustrated. In the splenic cords they form a 3-dimensional network; in the sinusoids they are mainly perpendicular to the long axis of the sinusoid. Both the open and closed theories of circulation are illustrated. Arrows indicate blood flow and options for movement of blood cells.

Figure 1434. General view of splenic red pulp with a scanning electron microscope. Note the sinusoids (S) and the splenic cords (C). x360. (Reproduced, with permission, from Miyoshi M, Fujita T: Stereo-fine structure of the splenic red pulp. A combined scanning and transmission electron microscope study on dog and rat spleen. Arch Histol Jpn 1971;33:225.)

Figure 1435. Scanning electron micrograph of the red pulp of the spleen showing sinusoids, red pulp cords, and macrophages (M). Note the multiple fenestrations in the endothelial cells of the sinusoids. x1600. (Reproduced, with permission, from Miyoshi M, Fujita T: Stereo-fine structure of the splenic red pulp. A combined scanning and transmission electron microscope study on dog and rat spleen. Arch Histol Jpn 1971;33:225.)

LIMPA (samb.) HISTIOFISIOLOGI Produksi Limfosit


> pulpa putih menghasilkan limfosit, limfosit bermigrasi ke pulpa merah, masuk ke sinusoid untuk selanjutnya mengikuti edaran darah

Destruksi Eritrosit
> umur rata-rata eritrosit selama 120 hari > penurunan fleksibilitas dan perubahan membran eritrosit merupakan tanda destruksi eritrosit (juga terjadi di dalam sumsum tulang > makrofag dalam korda limpa mencerna eritrosit yang pecah dalam ruang ekstrasel > hemoglobin diuraikan menjadi globin, selanjutnya dihidrolisis menjadi asam amino untuk digunakan menyintesis protein baru > besi dilepaskan dari heme dan bersama transferin, diangkut ke sumsum tulang untuk selanjutnya digunakan dalam prose eritropoiesis

LIMPA (samb.)
Histofisiologi (samb.) Destruksi Eritrosit (samb.)
> heme bebas besi diuraikan menjadi bilirubin, diekskresi dalam empedu oleh sel-sel hati > setelah splenektomi, terjadi peningkatan jumlah eritrosit abnormal (perubahan bentuk), juga peningkatan jumlah trombosit (menunjukkan limpa juga berperan menghancurkan trombosit)

Pertahanan Terhadap Penyusup


> limpa berperan dalam pertahanan imunologis tubuh, karena mengandung limfosit B, limfosit T, APC dan sel-sel fagositik > limpa juga berperan sebagai saringan bagi darah seperti halnya kelenjar getah bening sebagai saringan bagi limfe > sel-sel limpa adalah sel yang paling aktif dalam memfagositosis organisme hidup (bakteri dan virus) dan partikel mati yang masuk ke darah

Figure 1436. Photomicrograph of 5 spleen macrophages in active phagocytosis of erythrocytes. Note that the erythrocytes in the cytoplasm of the macrophages are in different stages of degradation. PT stain. High magnification.

JARINGAN LIMFOID TERKAIT-MUKOSA


( MUCOSA-ASSOCIATED LYMPHOID TISSUE, MALT ) Pengantar > terdapat agregat limfoid (nodul limfoid) dan jaringan limfoid difus sepanjang mukosa dan submukosa saluran cerna, saluran nafas dan saluran kemih > contohnya antara lain tonsil dan plak Peyer di usus halus, sedangkan di kulit terdapat sel-sel sistem imun yaitu limfosit, makrofag dan sel Langerhans > jaringan limfoid kulit dan mukosa saluran-saluran membentuk suatu sistem yang efisien untuk melindungi tubuh dari patogen lingkungan

Figure 1437. Section of lung showing a collection of lymphocytes in the connective tissue of the bronchiolar mucosa, an example of mucosa-associated lymphoid tissue (MALT). PT stain. Low magnification.

Figure 1438. Section of Peyers patch of the small intestine showing the epithelial covering of enterocytes and goblet cells (right), the intestinal lumen (center), and the covering of the patch with a row of M cells and groups of lymphocytes (left). The small dark nuclei belong to B and T lymphocytes, and the large pale-stained nuclei belong to M cells. PT stain. Medium magnification.

Figure 1439. Lymph nodule of a Peyers patch. Note a group of macrophages containing bacteria in various stages of digestion. Lymphocytes are seen around the macrophages. PT stain. High magnification.

Figure 1440. General view of the mucosa immunity in the intestine. Luminal antigens are captured by dome-shaped M cells present in the covering of Peyers patches and transported to subjacent lymphocytes, macrophages, and dendritic cells. Macrophages and dendritic cells migrate to neighboring lymph nodes, where they stimulate B and T lymphocytes, which then enter the lymphatic circulation and later the blood circulation (lymph flows to the blood). The stimulated lymphocytes home in other tissues, including the mucosa lamina propria, where plasma cells produce considerable amounts of IgA. The lymphoid cells of the lamina propria of intestinal mucosa are a major antibody producer, because of their extension and close contact with antigens introduced into the digestive tract.

Figure 1440. General view of the mucosa immunity in the intestine.

TONSIL
Tonsila Palatina
> sepasang agregat (organ) jaringan limfoid, terletak di dinding lateral faring > epitel permukaannya jenis epitel berlapis gepeng, dengan 10-20 invaginasi epitel memasuki ke dalam parenkim membentuk kriptus yang berisi sel-sel epitel yang lepas, limfosit yang hidup maupun yang mati serta bakteri > di bawah lapisan epitel terdapat jaringan limfoid berbentuk nodul limfoid dengan pusat-pusat germinal > tonsil dipisahkan dengan jaringan di bawahnya dengan simpai (kapsul) jaringan ikatnpadat dan berperan sebagai sawar (barrier) terhadap penyebaran infeksi

TONSIL (samb.)
Tonsila Faringea
> sebuah organ tunggal, terletak di bagian posterior-superior faring
> ditutupi oleh epitel bertingkat silindris bersilia, terdiri atas lipatan mukosa dan mengandung jaringan limfoid difus dan noduli > tidak ada kriptus dan simpainya tipis > hipertrofi tonsila faringea akibat radang menahun dinamakan adenoid

Tonsila Lingualis
> tonsila lingualis lebih kecil dan lebih banyak dari tonsila palatina atau

tonsila faringea > terletak di dasar dari lidah dan permukaannya ditutupi oleh epitel berlapis gepeng > setiap tonsila lingualis mempunyai satu kriptus

Rujukan :

HISTOLOGI DASAR
Teks & Atlas Edisi 10, 2004 Luiz Carlos JUNQUEIRA Jose CARNEIRO Alih Bahasa : dr. Jan Tambayong Penerbit Buku Kedokteran EGC Jakarta