Anda di halaman 1dari 43

REFERAT

SKLERITIS
Andika Siswanta, S.Ked Ajeng Dyah Ayu WP, S.Ked Indah Prasetya Putri, S.Ked Rina Andriani, S.Ked

Pembimbing : dr. Bagus Sidharto,Sp.M


KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU RSUD ARIFIN ACHMAD PEKANBARU 2013

Anatomi dan Fisiologi Sklera

Sklera merupakan berkas berkas jaringan fibrosa yang teranyam sejajar, tebalnya mencapai 1016m dan lebar 100-140m Episklera, stroma, lamina fuska dan endotelium

Sklera
Sklera memiliki fungsi dalam menyediakan sistem perlindungan terhadap komponen intraokuler. Sklera merupakan pembungkus ocular yang bersifat viskoelastis yang memungkinkan pergerakan bola mata tanpa menimbulkan deformitas otot-otot perggeraknya

Skleritis

Defenisi
Inflamasi yang mengenai sklera, dapat terlokalisasi, berupa nodul atau difus.

Epidemiologi
Usia dekade 5 Laki : perempuan 1 : 1,6 Tidak ada perbedaan ras

Patofisiologi
Degradasi enzim dari serat kolagen dan invasi sel T dan makrofag skleritis.

Penyakit imun sistemik dan penyakit kolagen vaskular

Disregulasi dan kerusakan vaskular granulomatosa

Inflamasi

Skleritis
Iskemik dan nekrosis

Penipisan dan perforasi bola mata

Klasifikasi
Anterior Posterior

Skleritis anterior
Skleritis anterior difus Skleritis anterior nodular Skleritis anterior nekrosis dengan inflamasi Skleritis anterior nekrosis tanpa inflamasi

Diagnosis
Anamnesis Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Penunjang

Anamnesis
Mata merah Mata berair Rasa nyeri (tersering, indikator inflamasi aktif) Timbul dari stimulasi langsung dan peregangan ujung saraf akibat adanya inflamasi. Karakteristik nyeri terasa berat, nyeri tajam menyebar ke dahi, alis, rahang dan sinus, pasien terbangun sepanjang malam, kambuh akibat sentuhan. Fotofobia Spasme Penurunan ketajaman penglihatan.

Necrotizing anterior scleritis with inflammation mengeluhkan rasa nyeri yang hebat disertai tajam penglihatan yang menurun, bahkan dapat terjadi kebutaan. Non-necrotizing scleritis Tajam penglihatan biasanya tidak akan terganggu, kecuali bila terjadi komplikasi seperti uveitis.

Riwayat penyakit dahulu : Penyakit vascular atau penyakit jaringan ikat. Penyakit infeksi Penyakit miscellaneous (atopi, gout, trauma kimia, rosasea) Trauma tumpul atau trauma tajam pada mata Obat-obatan seperti pamidronate, alendronate, dll Post pembedahan pada mata

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan tajam penglihatan Pemeriksaan Umum Pemeriksaan Sklera Pemeriksaan dengan Slit-lamp Funduskopi

Pemeriksaan Fisik dan Ofthalmologi


Pemeriksaan tajam penglihtan Visus normal atau menurun Gangguan visus lebih jelas pada skleritis posterior
Pemeriksaan umum pada kulit, sendi, jantung, dan paru-paru dapat dilakukan apabila dicurigai adanya penyakit sistemik.

Pemeriksaan sclera Sklera tampak difus, merah kebiru-biruan Setelah beberapa peradangan, akan terlihat daerah penipisan sklera Area berwarna hitam, abu-abu, atau coklat yang dikelilingi oleh peradangan aktif menandakan proses nekrosis.

Apabila proses berlanjut area tersebut menjadi avaskuler menghasilkan sequester berwarna putih di tengah dan di kelilingi oleh lingkaran berwarna hitam atau coklat gelap.

Pemeriksaan slit-lamp Untuk menentukan adanya keterlibatan secara menyeluruh atau segmental. Injeksi yang meluas ciri khas dari diffuse anterior scleritis. Pada skleritis kongesti maksimum terdapat dalam jaringan episkleral bagian dalam dan beberapa pada jaringan episklera superficial.

Sudut posterior dan anterior terdorong maju atau bergeser ke depan karena adanya edema pada sclera dan episklera. Penggunaan lampu hijau dapat membantu mengidentifikasi area avaskuler pada sclera Pemeriksaan kelopak mata untuk kemungkinan blefaritis atau konjungtivitis dapat dilakukan.

Pemeriksaan skleritis posterior Dapat ditemukan tahanan gerakan mata, sensitivitas pada palpasi dan proptosis Pemeriksaan funduskopi papiledema, lipatan koroid dan perdarahan atau ablation retina

Scleritis necroticans

Scleritis nodulair

Scleritis diffus

Sclero malacia

Penebalan dan edema sklera dan injeksi yang meluas

Pelebaran pembuluh darah sklera yang tidak mengecil dengan pemberian fenilefrin 2,5% topikal

Hanya ditemukan injeksi vaskular ringan di segmen anterior

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan darah lengkap dan laju endap darah Faktor rheumatoid dalam serum Antibodi antinuklear serum (ANA) Serum antineutrophil cytoplasmic antibodies (ANCA) PPD (Purified protein derivative/mantoux test), rontgen toraks Serum FTA-ABS, VDRL Serum asam urat B-Scan Ultrasonography dapat membantu mendeteksi adanya skleritis

B-Scan Ultrasonography pada skleritis posterior menunjukkan adanya akumulasi cairan pada kapsul tenon

Diagnosis Banding

Episkleritis
Reaksi radang jaringan ikat vaskuler yang terletak antara konjungtiva dan permukaan sklera

Episkleritis
Unilateral > 60 % Penyebab tak diketahui Reaksi hiper sensitif Berhubungan dgn penjakit sistemis

Artritis rematoid, sifilisd, tuberkulosa

2 Type : Simple & Noduler Benigna

Gambar episkleritis
Merah, sakit, fotopobi , lunak, lakrimasi Topikal steroid efektif

Pembuluh darah episklera ini dapat mengecil bila diberi fenilefrin 2,5% topikal. Sedangkan pada skleritis, melebarnya pembuluh darah sklera tidak dapat mengecil bila diberi fenilefrin 2,5% topikal

Penatalaksanaan

NSAID Skleritis non nekrotikan


flubiprofen 100 mg tiga kali sehari indometasin 25-50 mg 3 kali sehari.

Tumor necrosis factor (TNF) seperti remicade skleritis yang berhubungan dengan rheumatoid arthritis

Glukokortikoid sistemik
Indikasi:
penggunaan NSAID tidak efektif kasus skleritis nekrotikan anterior pada skleritis posterior.

Dosis
dimulai sebanyak 1 mg/kgBB perhari (maksimal 60 mg/hari) ,tapering off Terapi kejut secara IV, 1 g/hari selama 3 hari diikuti pemberian prednisone 60mg/hari gejala progresif

Immunosupresan, indikasi:
skleritis nekrotikan skleritis yang lain yang tidak terkontrol dengan pemberian glukokortikoid dosis tinggi selama 1 bulan penggunaan prednisone lebih dari 10mg/hari sebagai dosis maintenance

Pada kasus skleritis non-nekrotikan yang membutuhkan agen glukokortikoid-sparing First line:
methotrexate (sampai 25 mg / minggu) azathioprine (sampai 200 mg / hari) mycophenolate mofetil (1 gram dua kali sehari). 46% mencapai ketenangan dan mampu menurunkan penggunaan prednison 10 mg / hari.

lini kedua untuk skleritis termasuk kalsineurin inhibitor (siklosporin atau tacrolimus), infliximab, atau rituximab.

Terapi bedah
Pada beberapa kasus skleritis anterior nekrotikan atau scleromalacia perforans mengatasi perluasan penipisan sclera dan mencegah pecahnya bola mata. Operasi pencangkokan sklera: donor sklera, periostium, atau fasia lata.

Komplikasi
kehilangan peglihatan necrotizing scleritis (82%). Uveitis anterior (42%) katarak (17%) glaukoma (13%) dan penyakit segmen posterior pada 6%.

Prognosis
Skleritis nekrotikans memiliki prognosis yang kurang baik dibandingkan jenis skleritis yang lain Prognosis skleritis tidak berhubungan dengan penyakit sistemik seringkali lebih baik dibandingkan skleritis disertai infeksi atau penyakit autoimun.