Anda di halaman 1dari 60

HEAD INJURY

KOASS BEDAH

PENDAHULUAN
Berdasarkan data epidemiologi dari salah satu rumah sakit di Jakarta yaitu RS Cipto Mangunkusumo, dari sejumlah penderita rawat inap terdapat 60%-70% dengan CKR, 15%20% CKS, dan sekitar 10% dengan CKB . Angka kematian tertinggi sekitar 35%-50% akibat CKB, 5%-10% CKS, sedangkan untuk CKR tidak ada yang meninggal Tindakan pemberian oksigen yang adekuat, mempertahankan tekanan darah yang cukup untuk perfusi otak dan menghindarkan terjadinya cedera otak sekunder merupakan tindakan yang sangat penting untuk keberhasilan kesembuhan penderita. Tindakan selanjutnya yang penting setelah primary survey adalah identifikasi adanya lesi masa yang memerlukan tindakan pembedahan, dan yang terbaik adalah pemeriksaan dengan CT Scan

DEFINISI
Cedera kepala adalah trauma mekanik pada kepala baik secara langsung atau tidak langsung yang dapat mengakibatkan timbulnya gangguan fungsi neurologis, fungsi fisik, kognitif, psikososial, bersifat temporer atau permanent. Menurut Brain Injury Assosiation of America, cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat congenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan/benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik.

B. KLASIFIKASI
Mekanisme Berat Morfologi
Fraktur tengkorak Kalvaria 1. Linear atau stelata 2. Depressed atau nondepressed 3. Terbuka atau tertutup Dasar tengkorak/Basis

Cedera kepala tumpul

CKR

Cedera kepala tembus(penetrasi)

CKS

CKB Lesi intrakranial FokaL Difusa

BERDASARKAN MEKANISME
1. Cedera kepala tumpul Kecepatan tinggi (kecelakaan kendaraan bermotor seperti) Kecepatan rendah (jatuh, dipukul dengan benda tumpul) 2. Cedera kepala tembus (penetrasi) Cedera peluru/luka tembak Cedera tembus lain

BERDASARKAN BERAT
1. Cedera kepala ringan ( CKR ) - GC13-15 - Hilang kesadaran < 30 menit atau < 2 jam jika terdapat fraktur tengkorak , kontusio atau hematom (sekitar 55% ). 2. Cedera kepala kepala sedang ( CKS ) - GCS 9-12 - hilang kesadaran atau amnesia 1/2 - 24 jam - fraktur tengkorak - disorientasi ringan ( bingung ). 3. Cedera kepala berat ( CKB ) - GCS 3-8 - Hilang kesadaran > 24 jam - Contusio cerebral, laserasi atau hematoina atau edema

BERDASARKAN MORFOLOGI
A. Fraktura tengkorak a. Kalvaria 1. Linear atau stelata 2. Depressed atau nondepressed 3. Terbuka atau tertutup b. Dasar tengkorak/Basis Cranii 1. Dengan atau tanpa kebocoran CNS 2. Dengan atau tanpa paresis N VII B. Lesi intrakranial Fokal 1. Epidural 2. Subdural 3. Intraserebral Difusa 1.Intraserebral 2. Komosio ringan 3. Komosio klasik 4. Cedera aksonal difusa

GLASGOW COMA SCALE (GCS)

D. ANATOMI
Kulit Kepala (Scalp) Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan (SCALP) : 1. Skin (kulit). 2. Connective Tissue (jaringan penyambung). 3. Aponeurosis (galea aponeurotika adalah jaringan ikat yang berhubungan langsung dengan tengkorak). 4. Loose areolar tissue (jaringan penunjang longgar). 5. Perikranium.

Tulang Tengkorak (Kranium) - Terdiri dari kalvarium dan basis kranii (bentuk tidak rata dan tidak teratur sehingga cedera pada kepala dapat menyebabkan kerusakan pada bagian dasar otak yang bergerak akibat cedera akselerasi dan deselerasi.), dan di regio temporal tipis (dilapisi oleh otot temporalis). - Rongga dasar tengkorak dibagi atas 3 fosa yaitu : fosa anterior (tempat lobus frontalis), fosa media (tempat lobus temporalis) dan fosa posterior (ruang bagi batang otak bawah dan serebelum

Meningen - Menutupi seluruh permukaan otak 1. Durameter Adalah selaput yang keras terdiri atas jaringan ikat fibrosa yang melekat erat dengan tabula interna atau bagian dalam kranium. Tidak melekat dengan selaput araknoid dibawahnya, sehingga terdapat ruangan potensial (ruang subdural : sering dijumpai perdarahan subdural).

Arteri-arteri meningea terletak antara duramater dan tabula interna tengkorak (terletak pada ruang epidural). Jalannya arteri-arteri ini dapat tampak pada foto polos tengkorak karena membuat alur pada tabula interna tengkorak. Laserasi pada arteri-arteri ini dapat menyebabkan perdarahan epidural. Yang paling sering mengalami cedera adalah arteri meningea media yang terletak pada fosa temporalis (fosa media).

2. Araknoid Diantara arachnoid dan piamater terdapat ruang subarachnoid, ruang ini melebar dan mendalam pada tempat tertentu. Dan memungkinkan sirkulasi cairan cerebrospinal. Terdapat di bawah duramater yang tipis dan tembus pandang 3. Piamater Piameter adalah membran halus yang sangat kaya dengan pembuluh darah halus, masuk kedalam semua sulkus dan membungkus semua gyrus, kedua lapisan yang lain hanya menjembatani sulkus. Pada beberapa fisura dan sulkus di sisi medial hemisfer otak. Lapisan ini melekat erat pada permukaan korteks serebri. Cairan serebro spinal bersirkulasi diantara selaput araknoid dan piamater dalam ruang subaraknoid. Bila terjadi perdarahan sub araknoid maka darah bebas akan berada dalam ruang ini (umumnya disebabkan oleh pecahnya aneurysma intra kranial atau akibat cedera kepala).Prametar membentuk sawan antar ventrikel dan sulkus atau vernia. Sawar ini merupakan struktur penyokong dari pleksus foroideus pada setiap ventrikel.

4. Otak Otak manusia terdiri dari serebrum, serebelum dan batang otak. Serebrum terdiri atas hemisfer kanan dan kiri yang dipisahkan oleh falks serebri yaitu lipatan dura mater yang berada di inferior sinus sagitalis superior. Pada hemisfer serebri kiri terdapat pusat bicara manusia yang bekerja dengan tangan kanan, namun juga pada 85% orang yang kidal. Serebelum bertanggung jawab dalam fungsi koordinasi dan keseimbangan dan terletak dalam fosa posterior, berhubungan dengan medula spinalis batang otak dan kedua hemisfer serebri.

Batang otak terdiri dari mesensefalon (midbran), pons dan medula oblongata. Mesensefalon dan pons bagian atas berisi sistim aktivasi retikulasi yang berfungsi dalam kesadaran dan kewaspadaan. Pada medula oblongata berada pusat vital kardiorespiratorik yang terus memanjang sampai medula spinalis di bawahnya.. Lesi yang kecil saja pada batang' otak sudah dapat menyebabkan defisit neurologis yang berat. Namun demikian lesi-lesi di batang otak sering tidak tampak jelas pada CT Scan kepala.

5. Cairan Serebrospinalis

Dihasilkan oleh pleksus khoroideus dengan kecepatan produksi sebanyak 30 ml/jam. Pleksus khoroideus terletak terutama dalam ventrikel lateralis baik kanan maupun kiri, mengalir melalui foramen Monro ke dalam ventrikel ketiga ventrikel II akuaduktus Sylvius ventrikel ke-empat keluar dari sistim ventrikel ruang subaraknoid yang berada di seluruh permukaan otak dan medula spinalis. CSS diserap ke dalam sirkulasi vena melalui granulasio araknoid. Adanya darah dalam CSS dapat menyumbat granulasio araknoid sehingga mengganggu penyerapan CSS dan menyebabkan kenaikan tekanan intra kranial (hidrosefalus komunikans).

6. Tentorium Tentorium serebeli membagi rongga tengkorak menjadi ruang supratentorial (terdiri dari fosa kranii anterior dan fosa kranii media) dan ruang infratentorial (berisi fosa kranii posterior). Nervus okulomotorius (saraf otak ke III) berjalan di sepanjang tentorium, dan saraf ini dapat tertekan pada keadaan herniasi otak yang umumnya diakibatkan oleh adanya masa supratentorial atau edema otak.

7. Tekanan Intra Kranial (TIK) Tekanan intra cranial (TIK) adalah hasil dari sejumlah jaringan otak, volume darah intracranial dan cairan cerebrospiral di dalam tengkorak pada 1 satuan waktu. Keadaan normal dari TIK bergantung pada posisi pasien dan berkisar 15 mmHg. Hipotesa Monro Kellie menyatakan : Karena keterbatasan ruang ini untuk ekspansi di dalam tengkorak, adanya peningkatan salah 1 dari komponen ini menyebabkan perubnahan pada volume darah cerebral tanpa adanya perubahan, TIK akan naik. Peningkatan TIK yang cukup tinggi, menyebabkan turunnya batang ptak (Herniasi batang otak) yang berakibat kematian.

E. FISIOLOGI
1. Tekanan Intrakranial TIK normal pada saat istirahat kira-kira 10 mm Hg (13b mm H20), TIK lebih tinggi dari 20 mm Hg dianggap tidak normal dan TIK lebih dari 40 mm Hg termasuk dalam kenaikan TIK berat. 2. Doktrin Monro-Kellie Konsep utamanya adalah bahwa volume intrakranial selalu konstan, karena rongga kranium pada dasarnya merupakan rongga yang tidak mungkin mekar. TIK yang normal tidak berarti tidak adanya lesi masa intrakranial,karena TIK umumnya tetap dalam batas normal sampai kondisi penderita mencapai titik dekompensasi dan memasuki fase ekspansional kurva tekanan-volume. 3. Tekanan Perfusi Otak (TPO) TPO mempunyai formula sebagai berikut: TPO = TA TIK (TAR = Tekanan Arteri Rata-rata ; Mean arterial pressure) TPO kurang dari 70 mm Hg umumnya berkaitan dengan kesudahan yang buruk pada penderita cedera kepala.

4. Aliran Darah ke Otak (ADO) ADO normal ke dalam otak kira-kira 50mL/100 gr jaringan otak per menit. Bila ADO menurun sampai 20-25 mL/100 gr/menit maka aktivitas EEG akan hilang dan pada ADO 5ml/100 gr/menit sel-sel otak mengalami kematian dan terjadi kerusakan menetap. Pada penderita non-trauma, fenomena autoregulasi mempertahankan ADO pada tingkat yang konstan apabila tekanan arteri ratarata 50160 mm Hg. Bila tekanan arteri rata-rata di bawah 50 mm Hg, ADO menurun curam dan bila tekanan arteri ratarata di atas 160 mm Hg terjadi dilatasi pasif pembuluh darah otak dan ADO meningkat. Mekanisme autoregulasi sering mengalami gangguan pada penderita cedera kepala. Akibatnya, penderita-penderita tersebut sangat rentan terhadap cedera otak sekunder karena iskemia sebagai akibat hipotensi yang tiba-tiba. Sekali mekanisme kompensasi tidak bekerja dan terjadi kenaikan eksponensial TIK, perfusi otak sangat berkurang, terutama pada penderita yang mengalami hipotensi. Karenanya bila terdapat hematoma intra cranial, haruslah dikeluarkan sedini mungkin dan tekanan darah yang adekuat tetap harus dipertahankan

F. PATOFISIOLOGI
Kerusakan otak pada cedera kepala dapat terjadi melalui 2 cara : 1. Cedera primer - Cedera kepada kepala sebagai akibat langsung dari suatu ruda paksa - Dapat disebabkan oleh benturan langsung suatu benda ke kepala maupun oleh proses akselarasi-deselarasi gerakan kepala. - Cedera primer yang diakibatkan oleh adanya benturan pada tulang tengkorak dan daerah sekitarnya disebut lesi coup. Pada daerah yang berlawanan dengan tempat benturan akan terjadi lesi yang disebut contrecoup. 2. Cedera sekunder - Terjadi akibat berbagai proses patologis yang timbul sebagai tahap lanjutan dari kerusakan otak primer, berupa perdarahan, edema otak, kerusakan neuron berkelanjutan, iskemia, peningkatan tekanan intrakranial dan perubahan neurokimiawi.

Akselarasi-deselarasi terjadi karena kepala bergerak dan berhenti secara mendadak dan kasar saat terjadi trauma. Perbedaan densitas antara tulang tengkorak (substansi solid) dan otak (substansi semisolid) menyebabkan tengkorak bergerak lebih cepat dari muatan intrakranialnya. Bergeraknya isi dalam tengkorak memaksa otakmembentur permukaan dalam tengkorak pada tempat yang berlawanan dari benturan (contrecoup).

H. MORFOLOGI CEDERA
CT scan secara dramatis merubah klasifikasi cedera kepala dan penatalaksanaannya. Penderita cedera kepala yang mengalami perburukan yang cepat, baik neurologis maupun hemodinamik dapat saja dioperasi tanpa CT scan, namun mayoritas penderita akan memerlukan CT scan sebelum tindakan operatif. Bahkan pemeriksaan CT scan yang berturutturut (serial) sangatlah penting, karena penderita cedera kepala sering mengalami perubahan-perubahan morfologis dalam waktu beberapa jam, hari atau minggu. Secara morfologis cedera kepala dapat dibagi atas Fraktur Kranium dan Lesi Intrakranial.

1.Fraktur Kranium Fraktur Kranium dapat terjadi pada atap (kalvaria) atau dasar tengkorak (basis), dan dapat berbentuk garis (linear) atau bintang (stelata) dan dapat pula terbuka atau tertutup. Fraktur dasar tengkorak biasanya memerlukan pemeriksaan foto rontgen dan pemeriksaan CT scan dengan teknik "Jendela Tulang" (bone window) untuk memperjelas garis fraktur serta lokasinya. Sebagai pegangan umum, depressed fragmen lebih dari ketebalan tengkorak (> 1 tabula) memerlukan operasi elevasi. Fraktura tengkorak terbuka atau compound berakibat hubungan langsung antara laserasi scalp dan permukaan serebral karena duranya robek, dan fraktura ini memerlukan operasi perbaikan segera

Adanya tanda-tanda klinis fraktur dasar tengkorak menjadikan petunjuk kecurigaan untuk melakukan pemeriksaan lebih rinci. Tandatanda tersebut antara lain ekimosis periorbital (Raccoon eyes sign), ekimosis retro aurikuler (Battle's Sign), kebocoran CSS (rhinorrhea, otorrhea) dan paresis nervus fasialis. Fraktur kranium terbukanya atau komplikata mengakibatkan adanya hubungan antara laserasi kulit kepala dan permukaan otak karena robeknya selaput dura. Keadaan ini memerlukan tindakan pembedahan segera.

2.Lesi intrakranial Lesi ini diklasifikasi dalam lesi fokal dan lesi difus. Cedera lesi fokal yaitu perdarahan epidural, perdarahan subdural dan kontusio (atau perdarahan intra cerebral). Cedera otak difus umumnya menunjukkan gambaran CT scan yang normal namun keadaan klinis neurologis penderita sangat buruk bahkan dapat dalam keadaan koma. Berdasarkan pada dalamnya dan lamanya koma, maka cedera difus dikelompokkan menurut Kontusio Ringan, Kontusio Klasik dan Cedera Aksonal Difus (CAD).

2A.Perdarahan epidural Epidural hematoma adalah perdarahan yang terbentuk di ruang potensial yang terletak di luar dura tetapi di dalam rongga tengkorak. Cirinya berbentuk bikonveks atau menyerupai lensa cembung. Sering terletak di area temporal atau temporo-parietal yang disebabkan oleh robeknya a.meningea media akibat retaknya tulang tengkorak. Keberhasilan pada penderita perdarahan epidural berkaitan langsung dengan status neurologis penderita sebelum pembedahan. Penderita dengan perdarahan epidural dapat menunjukan adanya "Interval Lucid" yang klasik atau keadaan dimana penderita yang semula mampu bicara lalu tiba-tiba meninggal (talk and die).

2b. Perdarahan subdural Hematoma subdural (SDH) adalah perdarahan yang terjadi di antara duramater dan arakhnoid. SDH lebih sering terjadi dibandingkan EDH, ditemukan sekitar 30% penderita dengan cedera kepala berat. Sering terjadi akibat robeknya vena-vena jembatan (vena bridging) yang terletak antara korteks serebri dan sinus venous tempat vena tadi bermuara, namun dapat juga terjadi akibat laserasi pembuluh arteri pada permukaan otak ataupun substansi otak. Perdarahan subdural biasanya menutupi seluruh permukaan hemisfer otak dan kerusakan otak dibawahnya lebih berat dan prognosis lebih buruk daripada perdarahan epidural. Fraktur tengkorak mungkin ada atau tidak. Selain itu, kerusakan otak yang mendasari hematoma subdural akuta biasanya sangat lebih berat dan prognosisnya lebih buruk dari hematoma epidural.

SUBDURAL HEMATOMA

2C. Kontusio dan perdarahan intraserebral Kontusio serebri hampir selalu berkaitan dengan perdarahan subdural akut. Kontusio serebri sangat sering terjadi di frontal dan lobus termporal, walaupun dapat terjadi juga pada setiap bagian otak, termasuk batang otak dan serebelum. Kontusio serebri dapat saja dalam waktu beberapa jam atau hari mengalami evolusi membentuk perdarahan intra serebral. Hematoma intraserebri adalah perdarahan yang terjadi dalam jaringan (parenkim) otak. Perdarahan terjadi akibat adanya laserasi atau kontusio jaringan otak yang menyebabkan pecahnya pula pembuluh darah yang ada di dalam jaringan otak tersebut. Lokasi yang paling sering adalah lobus frontalis dan temporalis. Lesi perdarahan dapat terjadi pada sisi benturan (coup) atau pada sisi lainnya (countrecoup). Defisit neurologi yang didapatkan sangat bervariasi dan tergantung pada lokasi dan luas perdarahan.

2D. Cedera difus Cedera otak difus merupakan kelanjutan kerusakan otak akibat cedera akselerasi dan deselerasi (bentuk yang sering terjadi pada cedera kepala) Bentuk yang paling ringan dari kontusio ini adalah keadaan bingung dan disorientasi tanpa amnesia (pulih kembali tanpa gejala sisa sama sekali) Komosio serebri klasik adalah cedera yang mengakibatkan menurunnya atau hilangnya kesadaran. Hilangnya kesadaran biasanya berlangsung beberapa waktu lamanya dan reversibel. Dalam definisi klasik penderita ini akan kembali sadar dalam waktu kurang dari 6 jam. Cedera aksonal difus (Diffirse Axonal 1tjury, DAI) adalah keadaan dimana penderita mengalami koma pasca cedera yang berlangsung lama dan tidak diakibatkan oleti suatu lesi masa atau serangan iskemia. Penderita sering menunjukan gejala dekortikasi atau deserebrasi dan bila pulih sering tetap dalam keadaancacat berat, itupun bila bertahan hidup. Penderita-penderita sering menunjukan gejala disfungsi otonom seperti hipotensi, hiperhidrosis dan hiperpireksia dan dulu diduga akibat cedera batang otak primer.

A. PEMERIKSAAN KLINIS
Pemeriksaan klinis pada pasien cedera kepala secara umum meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik umum, pemeriksaan neurologis dan pemeriksaan radiologis. Pada anamnesis informasi penting yang harus ditanyakan adalah mekanisme trauma. Pada pemeriksaan fisik secara lengkap dapat dilakukan bersamaan dengan secondary survey. Pemeriksaan meliputi tanda vital dan sistem organ. Penilaian GCS awal saat penderita datang ke rumah sakit sangat penting untuk menilai derajat kegawatan cedera kepala. Pemeriksaan neurologis, selain pemeriksaan GCS, perlu dilakukan lebih dalam, mencakup pemeriksaan fungsi batang otak, saraf kranial, fungsi motorik, fungsi sensorik, dan refleks-refleks.

Manifestasi klinis yang dapat terjadi, antara lain : 1. Nyeri yang menetap atau setempat. 2. Bengkak pada sekitar fraktur sampai pada fraktur kubah cranial. 3. Fraktur dasar tengkorak: perdarahan dari hidung, faring atau telinga dan darah terlihat di bawah konjungtiva, memar diatas mastoid (tanda battle), otorea serebro spiral (cairan cerebrospinal keluar dari telinga), rhinorea serebrospiral (LCS keluar dari hidung). 4. Laserasi atau kontusio otak ditandai oleh LCS berdarah. 5. Penurunan kesadaran

6. Pusing / berkunang-kunang. 7. Absorbsi cepat LCS dan penurunan volume intravaskuler 8. Peningkatan TIK 9. Dilatasi dan fiksasi pupil atau paralysis edkstremitas 10. Peningkatan TD, Penurunan Frekuensi Nadi, dan Peningkatan Pernafasan Pemeriksaan radiologis yang paling sering dan mudah dilakukan adalah rontgen kepala yang dilakukan dalam dua posisi, yaitu anteroposterior dan lateral. Idealnya penderita cedera kepala diperiksa dengan CT Scan, terutama bila dijumpai adanya kehilangan kesadaran yang cukup bermakna, amnesia, atau sakit kepala hebat

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan cedera kepala sesuai dengan tingkat keparahannya, berupa cederakepala ringan, sedang, atau berat. Prinsip penanganan awal pada pasien cedera kepala meliputi survei primer dan survei sekunder. Dalam penatalaksanaan survei primer hal-hal yang diprioritaskan antara lain airway, breathing, circulation, disability, dan exposure, yang kemudian dilanjutkan dengan resusitasi. Pada penderita cedera kepala khususnya dengan cedera kepala berat survei primer sangatlah penting untuk mencegah cedera otak sekunder dan mencegah homeostasis otak.

PEDOMAN RESUSITASI DAN PENILAIAN AWAL

Menilai jalan nafas : bersihkan jalan nafas dari debris dan muntahan. Jika cedera orofasial mengganggu jalan nafas,maka pasien harus diintubasi. Menilai pernafasan ; tentukan apakah pasien bernafas spontan/tidak. Jika tidak, beri O2 melalui masker O2. Jika pasien bernafas spontan, selidiki dan atasi cedera dada berat seperti pneumotoraks tensif, dan hemopneumotoraks. Menilai sirkulasi ; otak yang rusak tidak dapat mentolerir hipotensi. Hentikan semua perdarahan dengan menekan arterinya. Perhatikan adanya cedera intra abdomen dan intra thoraks. Ukur dan catat frekuensi denyut jantung dan tekanan darah, pasang EKG. Pasang jalur intravena yang besar. Berikan larutan koloid sedangkan larutan kristaloid menimbulkan eksaserbasi edema.

Obati kejang ; Kejang konvulsif dapat terjadi setelah cedera kepala dan harus diobati mula-mula diberikan diazepam 10mg intravena perlahan-lahan dan dpt diulangi 2x jika masih kejang. Bila tidak berhasil diberikan fenitoin 15mg/kgBB Menilai tingkat keparahan : CKR,CKS,CKB Pada semua pasien dengan cedera kepala dan/atau leher, lakukan foto tulang belakang servikal ( proyeksi A-P,lateral dan odontoid ), kolar servikal baru dilepas setelah dipastikan bahwa seluruh keservikal C1-C7 normal Pada semua pasien dengan cedera kepala sedang dan berat : Pasang infus dgn larutan normal salin ( Nacl 0,9% ) atau RL cairan isotonis lebih efektif mengganti volume intravaskular daripada cairan hipotonis dan larutan ini tdk menambah edema cerebro Lakukan pemeriksaan ; Ht, periksa darah perifer lengkap,trombosit, kimia darah Lakukan CT scan

Pasien dgn CKR, CKS, CKB harus dievaluasi adanya : Hematoma epidural Darah dalam sub arachnoid dan intraventrikel Kontusio dan perdarahan jaringan otak Edema cerebri Pergeseran garis tengah Fraktur cranium Pada pasien yg koma ( skor GCS <8) atau pasien dgn tanda-tanda herniasi lakukan : Elevasi kepala 30 Hiperventilasi Berikan manitol 20% 1gr/kgBB intravena dlm 20-30 menit.Dosis ulangan dapat diberikan 4-6 jam kemudian yaitu sebesar dosis semula setiap 6 jam sampai maksimal 48 jam I Pasang kateter foley Konsul bedah saraf bila terdapat indikasi opoerasi (hematom epidural besar, hematom sub dural, cedera kepala terbuka, dan fraktur impresi >1 diplo)

PENATALAKSANAAN CEDERA KEPALA RINGAN (GCS=14-15)


Penderita dengan penurunan kesadaran yang bermakna, amnesia, atau sakit kepala hebat. Pemeriksaan: 1. CT Scan 2. Observasi selama 12-24 jam 3. Foto rontgen (pada cedera kepala tembus) yang perlu dinilai adalah: fraktur linier, posisi kelenjar pineal, batas udara air pada sinus-sinus, fraktur tulang wajah.

PENATALAKSANAAN CEDERA KEPALA SEDANG (GCS 9-13)


Klinis tampak bingung/ mengantuk dan dapat disertai defisit neurologis fokal seperti hemiparesis. Stabilisasi kardiopulmoner CT scan Observasi

PROGNOSIS
Semua penderita mendapat terapi agresif menurut konsultasi seorang ahli bedah saraf. Terutama pada penderita anak-anak yang biasanya memiliki Oaya pemulihan yang baik. Penderita berusia lanjut biasanya mempunyai kemungkinan yang lebih rendah untuk pemulihan dari cedera kepala.

KESIMPULAN
Pada penderita dalam koma, amankan dan pertahankan airway dengan intubasi endotrakeal. Hiperventilasi moderat untuk mengembalikan hiperkarbia, pertahankan PC02 antara 25-35 mm Hg (3,3 - 4,7 kPa) Atasi syok secara agresif dan cari penyebabnya. Resusitasi dengan larutan garam fisiologis, RL atau larutan isotonik yang sejenis yang tidak mengandung dekstrosa. Jangan menggunakan larutan hipotonik. Hindari hipovolemia dan overhidrasi. Tujuan dalam cedera kepala adalah tercapainya keadaaan nomovolemi. Hindari penggunaan obat paralisis yang berefek lama. Lakukan pemeriksaan minineurologis setelah tekanan darah sebelum melakukan paralisis penderita. Cari adanya cedera lain. Singkirkan adanya cedera servikal secara radiologis dan klinis. Bila dibuat beberapa foto rontgen. Hubungi ahli bedah saraf secepat mungkin, bila mungkin sebelum penderita, tiba di UGD. Bila ahli bedah saraf tidak ada di fasilitas anda, segera rujuk semua penderita cedera kepala berat dan cedera kepala sedang Lakukan pemeriksaan dan evaluasi status neurologis penderita secara periodik.

ANATOMI BASIS CRANII

TERIMA KASIH