Anda di halaman 1dari 24

PENCEMARAN UDARA

DAN SAMPLING POLUTAN UDARA

Oleh

Sudrajat

Program S-2 Ilmu Lingkungan UNMUL Samarinda

2010

KEBISINGAN & GETARAN

Bising (Noise) dan Getaran (Vibration) sering dijelaskan perbedaannya dengan menyebut bahwa bising adalah sesuatu fenomena yang dapat didengar (Hearing) sedangkan getaran adalah fenomena yang dapat dirasakan (Feeling).

Pada umumnya tidak semua suara menimbulkan getaran yang dapat dirasakan. Namun dapat dikatakan bahwa semua getaran pasti dapat didengar.

PENGERTIAN

PENGERTIAN Kebisingan dapat diartikan sebagai bentuk suara yang tidak dikehendaki atau bentuk suara yang tidak sesuai

Kebisingan dapat diartikan sebagai bentuk suara yang tidak dikehendaki atau bentuk suara yang tidak sesuai dengan tempat dan

waktunya. Pengertian bising dalam Keputusan

Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP. 48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan didefinisikan sebagai Bunyi yang

tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan

dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan.

DUA HAL YANG MENENTUKAN KUALITAS BISING SUATU BUNYI:

1. Frekuensi, yang dinyatakan dalam jumlah getaran per detik atau disebut Hertz (Hz), yaitu jumlah dari gelombang-gelombang yang sampai di telinga setiap detiknya.

2. Intensitas atau arus energi per satuan luas, biasanya dinyatakan dalam suatu logaritmis yang disebut decibel. (dB(A)).

Skala A artinya pembobotan dengan skala A=Weighted Sound Level, karena telinga manusia kurang memberikan reaksi pada frekuensi rendah dan tinggi dibandingkan frekuensi seperti pada saat berbicara.

SKALA INTENSITAS KEBISINGAN

 

DESIBEL

BATAS DENGAR TERTINGGI

 

120

Halilintar

Menulikan

110

Meriam

Mesin uap

 

100

Jalan hiruk pikuk

Sangat Hiruk

90

Perusahaan sangat gaduh

Pluit polisi

 

80

Kantor gaduh

Kuat

70

Jalan pada umumnya Radio

Perusahaan

 

60

Rumah gaduh

Sedang

50

Kantor umumnya Percakapan kuat Radio perlahan

 

40

Rumah Tenang

Tenang

30

Kantor Perorangan Auditorium Percakapan

Sangat Tenang

20

Suara daun-daun

10

Berbisik

0

Batas dengar terendah

JENIS KEBISINGAN

  • 1. BISING YANG KONTINYU (STEADY NOISE). Jenis bising ini mempunyai tingkat tekanan suara yang relative sama selama terjadinya bising. Contoh penyebab bising ini adalah

air terjun, mesin pembangkit tenaga listrik, mesin industri, dan lain-lain.

  • 2. BISING YANG TIDAK TERUS-MENERUS.

Jenis bising ini mempunyai tingkat tekanan suara yang berbeda-beda selama bising berlangsung. Contoh penyebab bising ini adalah lalu lintas kendaraan bermotor (dari

jarak dekat), suara senjata, pesawat terbang sedang lewat, dan sebagainya.

DAMPAK TERHADAP MANUSIA

Gangguan kebisingan dapat berakibat buruk bagi

manusia, baik secara psikis maupun fisik. Gangguan

fisik adalah jika kebisingan itu mengakibatkan kerusakan organ pendengaran manusia, sedangkan

gangguan psikis adalah reaksi manusia pada

kebisingan yang cenderung menjurus stress.

Tinggi rendahnya tingkat kebisingan akan

mempengaruhi tinggi rendahnya dampak pada

manusia. Tingkat kebisingan di atas 85 dB(A), tidak

hanya mengganggu aspek psikologis, tetapi juga akan merusak aspek fisiologik ke pendengaran

sesudah periode ulangan pemaparan selama 8 jam

atau lebih.

ALAT
ALAT
ALAT SUMBER BISING MEDIA PENCEGAH PENDENGARAN
ALAT SUMBER BISING MEDIA PENCEGAH PENDENGARAN

SUMBER BISING

MEDIA PENCEGAH

PENDENGARAN

DAMPAK NEGATIF KEBISINGAN

  • 1. Gangguan psikologik, yang berupa:

    • - Sukar berkonsentrasi & Sukar tidur

    • - Mudah marah

    • - Kepala pusing & Cepat lelah

    • - Menurunkan daya kerja

    • - Menimbulkan stress

  • 2. Gangguan pendengaran, yaitu hilangnya pendengaran seseorang,

  • jika dibiarkan berlanjut dapat menderita

    ketulian yang bersifat:

    • - Sementara,

    • - Permanen

    • 3. Gangguan tubuh lainnya, yang dapat berupa:

      • - Ketegangan otot

      • - Kontraksi pembuluh darah

      • - Meningkatnya tekanan darah

      • - Meningkatnya denyut jantung

      • - Meningkatnya produksi adrenalin

    International Standard Organization (ISO)

    International Standard Organization (ISO) mengeluarkan acuan tentang derajat gangguan 1. Gangguan pendengaran tingkat ringan, jika seseorang

    mengeluarkan acuan tentang derajat gangguan

    1. Gangguan pendengaran tingkat ringan, jika seseorang

    tidak dapat mendengar bunyi nada pada tingkat

    kebisingan 25-40 dB(A) (hearing loss 25-40 dB(A)).

    2. Gangguan pendengaran tingkat sedang, jika seseorang

    tidak dapat mendengar bunyi nada pada tingkat

    kebisingan 40-55 dB(A) (hearing loss 40-55 dB(A)).

    3. Gangguan pendengaran tingkat berat, jika seseorang tidak dapat mendengar bunyi nada pada tingkat kebisingan > 55 dB(A) (hearing loss >55 dB(A))).

    • 4 Jadi pada hearing loss pada tingkat kebisingan 0-25 dB(A) masih dalam keadaan normal atau tidak ada

    gangguan pendengaran.

    PENGARUH KEBISINGAN DISEBABKAN

    BEBERAPA FAKTOR

    1. Intensitas Kebisingan Makin tinggi intensitasnya, makin besar risiko untuk terjadinya gangguan pendengaran.

    • 2. Frekuensi Kebisingan Makin tinggi frekuensi kebisingan, makin besar kontribusinya untuk terjadinya gangguan pendengaran.

    • 3. Jenis Kebisingan

    Kebisingan yang kontinyu lebih besar kemungkinannya

    untuk

    menyebabkan terjadinya gangguan pendengaran

    daripada kebisingan yang terputus-putus.

    • 4. Lama Pemaparan Makin lama pemaparannya, makin besar risiko untuk terjadinya gangguan pendengaran.

    • 5. Lama Tinggal

    5. Lama Tinggal Makin lama seseorang tinggal di sekitar kebisingan, makin besar risiko untuk terjadinya gangguan

    Makin lama seseorang tinggal di sekitar kebisingan,

    makin besar risiko untuk terjadinya gangguan pendengaran.

    • 6. Umur Pada umumnya, sensitivitas pendengaran

    berkurang

    dengan bertambahnya umur.

    • 7. Kerentanan Individu

    Tidak semua individu yang terpapar dengan kebisingan pada kondisi yang sama akan

    mengalami

    perubahan nilai ambang pendengaran

    yang sama

    pula. Hal ini disebabkan karena respon

    tiap-tiap tergantung dari

    individu pada kebisingan berlainan,

    kerentanan tiap-tiap individu.

    BAKU MUTU TINGKAT KEBISINGAN

    PERUNTUKAN KAWASAN/ LINGKUNGAN KEGIATAN

    TINGKAT KEBISINGAN dB (A)

    A. Peruntukan Kawasan

     
    • 1. Perumahan dan Permukiman

    55

    • 2. Perdagangan dan Jasa

    70

    • 3. Perkantoran dan Perdagangan

    65

    • 4. Ruang Terbuka Hijau

    50

    • 5. Industri

    70

    • 6. Pemerintahan dan Fasum

    60

    • 7. Rekreasi

    70

    • Bandar Udara*

    • Stasiun Kereta Api*

    • Pelabuhan Laut

    70

    • Cagar Budaya

    60

    B. Lingkungan Kegiatan

    • 1. Rumah Sakit dan Sejenisnya

    55

    • 2. Sekolah atau sejenisnya

    55

    • 3. Tempat Ibadah atau Sejenisnya

    55

    KepMen LH No. 48/MNLH/11/1996

    NILAI AMBANG BATAS

    NILAI AMBANG BATAS Untuk mencegah kemungkinan gangguan pada manusia terutama ketulian akibat bising (noise induced hearing

    Untuk mencegah kemungkinan gangguan pada

    manusia terutama ketulian akibat bising (noise induced hearing loss), maka telah ditetapkan batas pemaparan yang aman terhadap bising untuk jangka

    waktu tertentu, dan dikenal dengan sebutan Nilai Ambang Batas (threshold limit value).

    Nilai ambang batas dimaksudkan sebagai batas

    konsentrasi dimana seseorang dapat terpapar dalam

    lingkungan kerjanya selama 8 jam sehari, 40 jam

    seminggu berulang-ulang kali tanpa mengakibatkan gangguan kesehatan yang tidak diinginkan.

    NILAI AMBANG BATAS

    Derajat

    Lama Pemaparan yang

    Kebisingan

    Diperbolehkan (jam)

    85

    8

    90

    4

    95

    4

    100

    1

    105

    0,5

    110

    0,25

    115

    0,125

    DAMPAK GETARAN DAPAT DIKELOMPOKKAN MENJADI:

    • 1. Terganggunya kenyamanan dan kesehatan

    manusia.

    • 2. Dapat menyebabkan kerusakan pada bangunan dan komponen bangunan.

    • 3. Dampak Getaran Kejut.

    PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA
    PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA
    PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA

    PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA

    Upaya pengendalian pencemaran udara dapat dilakukan melalui:

    • 1. Penelitian dan Pemantauan

    • 2. Peraturan Perundangan

    • 3. Teknologi Pengendalian Pencemaran

    PENGENDALIAN PENCEMARAN
    PENGENDALIAN PENCEMARAN
    PENGENDALIAN PENCEMARAN

    1. TEKNOLOGI Perubahan paradigma pengelolaan limbah:

    End of Pipe Treatment minimisasi limbah minimisasi limbah

    • a. Source Reduction (reduksi pada sumbernya) substitusi bahan

    b. Reuse c. Recycle d. Recovery
    b.
    Reuse
    c.
    Recycle
    d.
    Recovery

    3R

    2. PERATURAN PERUNDANGAN & PROGRAM

    KEBIJAKAN

    • a. Baku Mutu (ambien, emisi, effluen, down stream, upstream)

    • b. Amdal, UKL-UPL, Audit Lingkungan,

    • c. PROPER, Adipura, Kota Praja, Produksi Bersih, Langit

    Biru,

    Prokasih, dll.

    PENGENDALIAN PENC. UDARA
    PENGENDALIAN PENC. UDARA
    PENGENDALIAN PENC. UDARA

    1. TEKNOLOGI. Contoh:

    • 1. Dust Precipator/Collector

    • 2. Filter

    • 3. Catalitic Converter

    • 4. Substitusi Bahan Baku

    • 2. PENEMPATAN SUMBER EMISI (dengan

    mempertimbangkan

    hasil simulasi terhadap kondisi

    meteorologis, topografi, self

    purification, dll)

    • 3. PENEMPATAN PENGHALANG

    • 4. PERATURAN

    • 5. MONITORING

    PENGENDALIAN KEBISINGAN

    PENGURANGAN KEBISINGAN PADA SUMBERNYA:

    • a. Mengurangi vibrasi sumber kebisingan, berarti

    mengurang

    sumbernya.

    tingkat kebisingan yang dikeluarkan

    • b. Menutupi sumber suara.

    • c. Melemahkan kebisingan dengan bahan penyerap suara

    atau peredam suara.

    PENEMPATAN PENGHALANG:

    • d. Menghalangi merambatnya suara (penghalang).

    • e. Memperpanjang jarak antara sumber bising & manusia.

    • f. Melindungi ruang tempat manusia atau makhluk lain berada dari suara.

    PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG DIRI

    • g. Melindungi telinga dari suara (tutup telinga/ear muffs/ plugs).

    ear

    CONTOH LAIN PENGENDALIAN

    KEBISINGAN

    1. Menggunakan alat-alat yang lebih rendah kebisingan yang dikeluarkannya.

    • 2. Menggunakan cara pengelolaan yang kurang bising.

    • 3. Pemilihan bahan-bahan yang mengurangi kebisingan.

    • 4. Penanaman pagar dan tanaman peredam suara (tanaman hanya mampu mereduksi kebisingan hingga 2,23 dB(A) dan nilai ini masih jauh lebih rendah dibandingkan tembok yang mampu mereduksi

    6,59 dB(A).

    • 5. Maintenance dan Housekeeping yang baik terhadap peralatan.

    CONTOH LAIN PENGENDALIAN KEBISINGAN

    AKIBAT KEGIATAN LALU LINTAS

    CONTOH LAIN PENGENDALIAN KEBISINGAN AKIBAT KEGIATAN LALU LINTAS 1. Penggunaan peredam suara mesin mobil (knalpot) 2.
    • 1. Penggunaan peredam suara mesin mobil (knalpot)

    • 2. Mengurangi kepadatan lalu lintas

    • 3. Membuat landscaping yang dapat meredam

    suara, misalnya dengan menanami pohon, semak dan perdu di kiri-kanan jalan.

    • 4. Membuat badan jalan yang meredam dan permukaan jalan yang halus.

      • 5. Dan sebagainya.

    PERHITUNGAN TINGKAT KEBISINGAN

    RUMUS:

    L24

    = 10 Log 1/24 (16.10 0,1 . LS

    + 8.10 0,1 . (Lm +

     

    10))

    Dimana:

    L24

    =

    nilai Leq selama 24 jam

    Ls

    =

    nilai Leq sepanjang siang hari (16 jam) dari

     

    jam

    06.00 s/d 22.00.

    Lm

    =

    nilai Leq sepanjang malam hari (8 jam) dari

     

    jam

    22.00 s/d 06.00

    GETARAN

    Getaran adalah suatu gerakan dari hasil kegiatan yang dapat dirasakan (feeling).

    • 1. Akibat Tingkat Getaran tertentu yang dihasilkan dari suatu kegiatan dapat menimbulkan gangguan

    kesehatan

    lingkungan.

    manusia, makhluk hidup lainnya dan

    • 2. Getaran adalah gerakan bolak-balik suiatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan.

    • 3. Getaran Mekanik adalah getaran yang disebabkan oleh sarana/peralatan kegiatan manusia.

    • 4. Getaran Kejut adalah getaran yang berlangsung secara tiba-tiba dan sesaat.

    • 5. Baku Tingkat Getaran Mekanik dan Getaran Kejut adalah batas maksimal Tingkat Getaran Mekanik yang diperbolehkan dari suatu usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak menimbulkan gangguan

    terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan b