Anda di halaman 1dari 36

NAMA KELOMPOK

Ayu Putu Astiti Natih Ayu Savitri Siskayani Arista Apriyanti Destari Dwi Wiantari Komang Jatmika Risca Dana Paramitha Cista Hwardani Satya Nugraha Rai Novi Kartika Aditama Dewantara

P07134011002 P07134011004 P07134011006 P07134011008 P07134011010 P07134011012 P07134011014 P07134011016 P07134011018 P07134011020

CHOLERA

INFO SEPUTAR CHOLERA.

Cholera adalah penyakit infeksi saluran usus yang bersifat akut dan disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae.

Bakteri ini masuk kedalam tubuh host secara per oral umumnya melalui makanan atau minuman yang tercemar.

Feces penderita merupakan sumber infeksi. Cholera dapat menyebar dengan cepat di tempat - tempat yang tidak mempunyai penanganan pembuangan kotoran/sewage dan sumber air yang tidak memadai.

CHOLERA =. ?

ETIOLOGI.

Cholera pada manusia disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae. Bakteri ini merupakan salah satu spesies dari genus Vibrio yang merupakan famili Vibrionaceae.

Vibrio cholera.
Ciri-ciri umum:

Bakteri gram negatif

Batang lurus dan agak lengkung (coma)


Terdapat tunggal dan dalam rantai berpilin Tidak berkapsul Tidak membentuk spora Hampir semua genus Vibrio menghasilkan

enzim Oxydase dan memberikan hasil uji


Vibrio cholerae

Indol yang positif.

Vibrio cholerae.

Bersifat motil, aktif bergerak dengan menggunakan flagella tunggal yang terletak di salah satu ujungnya. Fakultatif anaerob yang mempunyai suhu optimum pertumbuhan sekitar 18C - 37C.

Vibrio cholerae.

Tingkat keasaman /pH optimum untuk pertumbuhannya adalah 7,0 tetapi bakteri ini toleran pada pH alkalis sampai 9,0 . Oleh karena itu pH alkalis ini dijadikan dasar untuk membuat media isolasi Vibrio cholerae. Sebagai media seletif untuk bakteri ini adalah TTGA/Tellurite Taurocholate Gelatin Agar atau TCBS/Thiosulfate Citrate Bile Sucrose Agar. Vibrio cholerae umumnya memfermentasi sucrosa dan manosa.

Vibrio cholerae.

Patogenitas

Vibrio cholera tertelan dengan jumlah yang banyak

Kolonisasi di usus halus tergantung motilitas (flagella polar),

Produksi toxin

Kehilangan banyak cairan dan elektrolit dalam jumlah besar (tidak ada darah, sel darah putih pada feses)

Toksin cholera merangsang hipersekresi air dan klorida dan menghambat absorpsi natrium

toksin kholera (enterotoksin),

Untuk dapat menimbulkan cholera, sedikitnya harus ada minimal 108 1010 bakteri Vibrio cholerae yang menginfeksi, hal ini berbeda dengan salmonellosis atau shigellosis yang dosis infektifnya 102 -105

Bakteri penyebab cholera ini bukan bakteri yang infeksinya bersifat invasif. Vibrio cholerae tidak mencapai peredaran darah sehingga tidak menimbulkan bakteriemia melainkan tetap tinggal pada permukaan sel epithel usus halus, berkembang biak dan mengeluarkan toxin.

Masa inkubasi cholera variatif mulai dari beberapa jam hingga 5 hari, umumnya 2-3 hari. Diperkirakan selama hasil pemeriksaan feces masih positif, maka penderita tersebut masih berpotensi sebagai sumber penularan dan akan berlangsung hingga beberapa hari setelah dinyatakan sembuh, bahkan status sebagai carrier berlangsung hingga beberapa bulan kemudian.

MANIFESTASI KLINIS.

Secara klinis yang pertama kali dirasakan oleh penderita adalah rasa penuh di abdomen , hilangnya nafsu makan , telapak tangan serta kaki terasa dingin. Berikutnya secara tiba tiba mual, muntah dan diare hebat. Feces yang cair yang mula mula berwarna coklat kemudian berubah menjadi pucat berisi sedikit lendir yang secara klasik diistilahkan sebagai rice water stools / air cucian beras. Diare ini dapat mencapai 24 liter per hari.

DIAGNOSA LABORATORIUM.

Diagnosa ditegakkan dengan mengisolasi Vibrio cholerae dari serogrup O1 atau O139 dari feces penderita. Bila fasilitas laboratorium tidak tersedia, medium transport misalnya Cary-Blair dapat digunakan untuk membawa atau menyimpan specimen yang berupa rectal swab/ apus dubur penderita.

DIAGNOSA LABORATORIUM.

Mula mula specimen yang berupa feces penderita diinokulasi pada APW /Alkaline Pepton Water, pada media ini nantinya Vibrio cholerae akan tumbuh secara cepat dan terakumulasi di bagian permukaan media setelah diinkubasi selama 3-6 jam. Selanjutnya inokulum diinokulasi pada media TCBS, pada medium ini Vibrio cholerae akan tumbuh sebagai koloni yang berwarna kuning dan memfermentasi sucrose. Selanjutnya dilakukan uji oxydase dan aglutinasi.

DIAGNOSA LABORATORIUM.

Diagnosa klinis presumptif secara cepat dapat dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopis memakai dark-field microscope untuk melihat gerakan dari bakteri yang khas seperti bintang jatuh /shooting stars

Vibrio cholerae dalam Media TCBS.

PENGOBATAN.

Pada dasarnya ada 3 macam cara pengobatan terhadap penderita Cholera yaitu terapi rehidrasi yang agresif, pemberian antibiotika yang tepat serta pengobatan untuk komplikasi bila ada.

PENCEGAHAN.

Secara primer pencegahan terhadap cholera adalah dengan cara perbaikan hygiene pribadi dan masyarakat yang ditunjang dengan penyediaan sistim pembuangan kotoran / feces yang memenuhi syarat serta penyediaan air bersih yang memadai. Penderita harus secepatnya mendapatkan pengobatan dan benda benda yang tercemar muntahan atau tinja penderita harus didisinfeksi.

Pengertian Disentri
Disentri adalah salah satu penyakit yang menyerang saluran pencernaan, khususnya di usus besar. Disentri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys (=gangguan) dan enteron (=usus) yang berarti radang usus yang menimbulkan gejala meluas dan tinja lendir bercampur darah.

Etiologi
Berdasarkan penyebabnya disentri dapat dibedakan menjadi dua yaitu a. Bakteri (disentri basiler) Shigella penyebab disentri yang terpenting dan tersering ( 60% kasus disentri yang berat dan mengancam jiwa disebabkan oleh Shigella). Terdiri dari 4 tipe: Shigella sonnei paling sering dan menimbulkan gejala paling ringan Shigella flexneri Shigella boydii Shigella dysenteriae menimbulkan gejala yang paling berat Escherichia coli enteroinvasif (EIEC)
Salmonella
Campylobacter jejuni terutama pada bayi
b.

Amoeba (disentri amoeba) Entamoeba hystolitica. Lebih serius dari disentri basiler dan dapat menjadi fatal bila tidak ditangani dengan baik

Epidemologi
Disentri basiler dapat ditemukan di seluruh dunia. Disentri ini dapat terjadi di daerah yang populasinya padat tetapi sanitasinya sangat buruk. Penyebarannya dapat terjadi melalui kontaminasi makanan atau minuman dengan kontak langsung atau melalui vector, misalnya lalat. Namun factor utama dari disentri basiler ini adalah melalui tangan yang tidak dicuci sehabis buang air besar.

Shigella Dysentriae
Shigella adalah bakteri tidak bergerak, gram negatif, bersifat fakultatif anaerobik yang dengan beberapa kekecualian tidak meragikan laktosa tetapi meragikan karbohidrat yang lainnya, menghasilkan asam tetapi tidak menghasilkan gas. Habitat alamiah Shigella terbatas pada saluran pncernaan manusia dan primata lainnya dimana sejumlah spesies menimbulkan disentri basiler. Klasifikasi Kingdom : Bacteria Phylum : Proteobacteria Class : Gamma Proteobacteria Order : Enterobacteriales Family : Enterobacteriaceae Genus : Shigella Species : Shigella dysentriae

Morfologi

Batang pendek gram negatif Tunggal Tidak bergerak Suhu optimum 370c Tidak membentuk spora Aerobik, anaerobik fakultatif Patogenik, menyebabkan disentri Toksin

Shigella spp

Semua Shigella mengeluarkan lipopolisakarida yang toksik. Endotoksin ini mungkin menambah iritasi dinding usus. Selain itu Shigella dysentriae tipe 1 menghasilkan eksotoksin yang tidak tahan panas yang dapat menambah gambaran klinik neurotoksik dan enterotoksik yang nyata.

Gejala-gejala Disentri
Gejala-gejala umum disentri antara lain : Buang air besar dengan tinja berdarah Diare encer dengan volume sedikit Buang air besar dengan tinja bercampur lendir (mucus) Nyeri saat buang air besar (tenesmus)

Manifestasi Klinis

Sindrom prodromal demam yang berlangsung sekitar 12-24 jam lalu tiba-tiba menghilang dan muncul diare dengan kolik yang mengindikasikan gejala sebenarnya Diare mendadak yang disertai darah dan lendir dalam tinja. Pada disentri shigellosis, pada permulaan sakit, bisa terdapat diare encer tanpa darah dalam 6-24 jam pertama, dan setelah 12-72 jam sesudah permulaan sakit, didapatkan darah dan lendir dalam tinja Panas tinggi (39,5 - 40C) Mual dan muntah Anoreksia bisa dehidrasi dan malnutrisi Nyeri kram/kolik di perut dan sakit di anus saat BAB Kadang-kadang disertai dengan gejala menyerupai ensefalitis dan sepsis (kejang, sakit kepala, letargi, kaku kuduk, halusinasi)

Patogenitas dan Patofisiologi


Disentri Basiler Semua strain kuman Shigella menyebabkan disentri, yaitu suatu keadaan yang ditandai dengan diare, dengan konsistensi tinja biasanya lunak, disertai eksudat inflamasi yang mengandung leukosit polymorfonuclear (PMN) dan darah. Kuman Shigella secara genetik bertahan terhadap pH yang rendah, maka dapat melewati barrier asam lambung. Ditularkan secara oral melalui air, makanan, dan lalat yang tercemar oleh ekskreta pasien. Setelah melewati lambung dan usus halus, kuman ini menginvasi sel epitel mukosa kolon dan berkembang biak didalamnya.

S.dysentriae, menghasilkan eksotoksin antara lain ShET1, ShET2, dan toksin Shiga, yang mempunyai sifat enterotoksik, sitotoksik, dan neurotoksik. Enterotoksin tersebut merupakan salah satu faktor virulen sehingga kuman lebih mampu menginvasi sel eptitel mukosa kolon dan menyebabkan kelainan pada selaput lendir yang mempunyai warna hijau yang khas.

Diagnosis
Diagnosis klinis dapat ditegakkan dengan menemukan tinja bercampur darah Diagnosis etiologi biasanya sukar ditegakkan sulit jika hanya melihat gejala klinis semata sedangkan pemeriksaan biakan tinja untuk mengetahui agen penyebab seringkali tidak perlu dilakukan karena memakan waktu lama (minimal 2 hari) dan umumnya gejala membaik dengan terapi antibiotika empiris.

Diagnosis Laboratorium
Pemeriksaan tinja. Pemeriksaan tinja secara langsung terhadap kuman penyebab serta biakan hapusan (rectal swab). Untuk menemukan carrier diperlukan pemeriksaan biakan tinja yang seksama dan teliti karena basil shigela mudah mati . Untuk itu diperlukan tinja yang baru. Media biakan untuk diagnosis Shigella Mac Conkey Agar EMB Agar SS Agar TSI Agar SIM Simmon Citrate Agar

Pemeriksaan Penunjang
Polymerase Chain Reaction (PCR). Pemeriksaan ini spesifik dan sensitif, tetapi belum dipakai secara luas. Enzim immunoassay. Hal ini dapat mendeteksi toksin di tinja pada sebagian besar penderita yang terinfeksi S.dysentriae tipe 1 atau toksin yang dihasilkan E.coli. Sigmoidoskopi. Sebelum pemeriksaan sitologi ini, dilakukan pengerokan daerah sigmoid. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada stadium lanjut.

Pencegahan
Langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi penyakit disentri antara lain : 1. Memperhatikan pola hidup sehat dan bersih, seperti selalu menjaga kebersihan makanan dan minuman dari kontaminasi kotoran dan serangga pembawa kuman, menjaga kebersihan lingkungan, membersihkan tangan secara baik sesudah buang air besar atau menjelang makan atau ketika memegang makanan yang akan dimakan.

SEKIAN DAN TERIMA KASIH