Anda di halaman 1dari 13

ATTERBERG LIMIT

By
M. Firdaus, ST, MT
www.dauspoli.weebly.com
Apabila suatu tanah berbutir halus mengandung mineral
lempung, maka tanah tersebut dapat diremas-remas
(remolded) tanpa menimbulkan retakan.
Sifat kohesif ini dikarenakan adanya air yang terserap
(absorbed water) disekeliling permukaan dari partikel
lempung. Bilamana kadar airnya sangat besar, campuran
tanah dan air akan menjadi sangat lembek seperti cairan.
Salah satu karakteristik tanah berbutir halus yang kohesif
adalah plastisitas, yaitu kemampuan butir tanah untuk
tetap melekat satu sama lain sehingga untuk
mendefinisikan keplastisan tanah kohesif, diperlukan
kedudukan fisik tanah pada kadar air tertentu yang
disebut konsistensi
Atterberg membagi kedudukan fisik
tanah lempung pada kadar air
terntentu menjadi 4 kondisi :
Liquid Limit (LL) adalah kadar air pada batas antara
kondisi cair dan plastis

Pada kedudukan ini, butiran menyebar dan
berkurangnya kadar air berakibat berkurangnya volume
tanah

Untuk menentukan batas cair dilakukan pengujian
laboratorium dengan menggunakan alat yang terdiri
dari sebuah mangkok kuningan yang bertumpu diatas
dasar karet yang keras. Mangkok tersebut dapat
diangkat dan dijatuhkan dengan sebuah pengungkit
eksentris yang dijalankan dengan alat pemutar.
GRAFIK BATAS CAIR
50
52
54
56
58
60
10 100
JUMLAH PUKULAN
K
A
D
A
R

A
I
R

(
%
)
Plastic Limit (PL) adalah kadar air pada batas
kedudukan antara plastis dan semi padat
Selisih antara LL dan PL disebut Indeks
Plastisitas, PI (Plasticity Index) yang dinyatakan
dalam persamaan : PI = LL PL
Jika PI semakin besar, maka jumlah partikel
lempung dalam tanah semakin banyak. Jika PI
rendah, contohnya pada tanah lanau, sedikit
pengurangan kadar air akan berakibat tanah
menjadi kering dan sebaliknya jika kadar air
bertambah sedikit maka tanah menjadi cair.
Liquidity Index (LI) tanah didefinisikan sebagai :



Indeks cair berguna untuk mengevaluasi tanah
jika tanah tersebut pada kondisi terganggu
(disturbed).
Nilai LI > 1,jika kadar air alam (w
N
) lebih besar
dari batas cair tanah dan saat kadar air alam
(w
N
) < PL, maka LI negatif yang dimana tanah
dalam kondisi padat atau semi padat.
PI
PL w
PL LL
PL w
LI
N N

=

=
shrinkage Limit (SL) merupakan batas kadar air yang
didefinisikan pada derajad kejenuhan 100% dimana
untuk nilai-nilai dibawahnya tidak akan terdapat
perubahan volume tanah apabila dikeringkan terus
Harus diketahui bahwa, batas susut makin kecil maka
tanah akan lebih mudah mengalami perubahan volume
dan semakin sedikit air yang dibutuhkan untuk dapat
mengubah volume
Apabila SL = 5%, maka jika tanah dilapangan melebihi
nilai ini mengakibatkan tanah akan mulai mengembang
% 100
) (
2
2 1
2
2 1
x
m
V V
m
m m
SL
w
)
`

|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|

=

Percobaan batas susut menghasilkan data sebagai berikut :
Volume tanah dalam keadaan jenuh air = 25 cm3
Volume tanah setelah kering oven = 16 m3
Berat tanah pada saat jenuh air = 45 grm
Berat tanah pada saat kering oven = 31 grm

Penyelesaian :

% 16 % 100
31
1 ). 16 25 (
31
31 45
% 100
) (
2
2 1
2
2 1
=
)
`

|
.
|

\
|

|
.
|

\
|

=
)
`

|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|

=
x SL
x
m
V V
m
m m
SL
w

Hasil percobaan dari beberapa uji batas batas


konsistensi ditunjukkan dalam tabel :





Tentukan batas cair (LL), Indeks plastisitas (PI).
Diketahui tanah dengan PL = 20 %, kadar air
dilapangan w
N
= 38 %

Benda Uji 1 2 3 4
Jumlah pukulan
Berat tanah basah + cawan (gr)
Berat tanah kering + cawan (gr)
Berat cawan (gr)

12
28,15
24,20
15,30
17
23,2
2
20,8
0
15,1
0
23
23,2
0
20,8
9
15,2
0
28
23,18
20,90
15,00
Contoh benda uji :

% 64 , 38 % 100
00 , 15 90 , 20
90 , 20 18 , 23
% 60 , 40 % 100
20 , 15 89 , 20
89 , 20 20 , 23
% 46 , 42 % 100
10 , 15 80 , 20
80 , 20 22 , 23
% 38 , 44 % 100
30 , 15 20 , 24
20 , 24 15 , 28
=

=
=

=
=

=
=

=
x w
x w
x w
x w
Hasil hitungan kadar air (w) dan jumlah pukulan
digambarkan pada diagram :







Pada 25 kali pukulan diperoleh kadar air 39%, jadi
LL = 39%
Indeks Plastisitas (PI) = LL PL = 39% - 20% =
19%