Anda di halaman 1dari 23

EVIDENCE BASED MEDICINE

DIAGNOSIS ARTICLE Comparison of tuberculin skin testing and QuantiFERON-TB Gold-In Tube test in health care workers

Reza Akbar Rafsanzani 1102009240 Pembimbing ; Dr.Indra Kusuma

SKENARIO

Sebuah RS swasta di daerah Jakarta selalu mengadakan skrining untuk pegawai kesehatannya secara berkala terutama untuk pegawai kesehatannya yang bekerja di bagian perawatan penyakit infeksi. Salah satu infeksi penyakit yang dikhawatirkan adalah infeksi tuberculosis laten. Terdapat berbagai macam metode skrining yang dapat digunakan untuk mendeteksi infeksi tuberculosis laten. Terdapat dua macam skrining yang menjadi pilihan yaitu tes tuberkulin and tes IFN- (Interferongamma) melalui serologi.

Tuberculin VS QuantiFERONTB

Pertanyaan Apakah skrining dengan menggunakan tes serologi IFN- (Interferon-gamma) lebih efektif dari pada tes tuberkulin untuk mendeteksi penyakit tuberkulosis laten pada tenaga kesehatan di rumah sakit?

PICO : Populasi/pasien : orang dewasa ( tenaga kesehatan ) yang bekerja di rumah sakit di bagian perawatan penyakit infeksi

Intervention/intervensi : tes serologi IFN- (Interferongamma) ( QuantiFERON TB ) Comparison/pembanding : tes tuberkulin

Outcomes/hasil : tes serologi IFN- (Interferon-gamma) ( QuantiFERON TB ) lebih efektif untuk mendeteksinya

Pencarian bukti ilmiah Alamat website : http://web.ebscohost.com Kata Kunci : tuberculosis AND tuberculin test AND blood test AND comparison AND health care workers Limitasi : Januari 2003- Desember 2012 Hasil Pencarian : 7 artikel

Validitas
1.

2.

3.

Menentukan ada atau tidaknya perbandingan yang dilakukan secara independent dan blind terhadap suatu standar rujukan (gold standard). Menentukan kesesuaian antara sample pasien penelitian dengan spektrum penderita pada setting praktik klinik saat uji diagnostik tersebut akan diaplikasikan. Menentukan ada tidaknya rujukan standar dilakukan tanpa melihat hasil uji diagnostik.

1. Pernyataan independen dan blind ( primary guides ) : tidak ditemukan adanya blinding pada penelitian ini dikarenakan metode penelitian yang dipakai adalah cross sectional

2. Pasien sesuai dengan spectrum pada jurnal

Terdapar kesesuaian spektrum antara partisipan di jurnal ini dengan pasien di setting klinik yaitu pekerja kesehatan yang bekerja pada suatu rumah sakit tanpa tuberculosis aktif dan berumur 30 tahun

Protokoler / Prosedur penelitian

Prosedir penelitian dilakukan dengan ; 1. Partisipan terlebih dahulu diberikan kuesioner yang berisikan pertanyaan mengenai identitas partisipan, pekerjaan, riwayat kontak , riwayat tb dahulu, hasil tes TST sebelumnya dan riwayat vaksinasi BCG 2. Semua partisipan juga diminta untuk melakukan pemerisaan XRay thorax 3. Selanjutnya dilakukan uji tuberkulin terhadap semua partisipan dan dilakukan pengukuran indurasi 4. Setelah itu, barulah dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan uji serologi QuantiFERON TB.

Ideal study design : Cross sectional

Studi yang digunakan dalam jurnal ini adalah studi cross sectional

3. terdapat gold standard sebagai perbandingan ( Primary guides )

Terdapat pembanding pada studi ini yaitu tes tuberkulin yang memang sudah sejak lama menjadi alat uji diagnostik standar bagi pasien tb

IMPORTANCE
4. Apakah likelihood ratio hasil tes atau data yang dibutuhkan untuk penghitungannya ditampilkan ?

Nilai dari Likehood Ratio nya adalah :


Tes Tuberkulin Positif Pemeriksaan QTFGIT ( QuantiFERON-TB ) Total 57 21 78 Positif Negatif 32 25 Negatif 2 19 34 44 Total

Hasil perhitungan ditampilkan dengan baik oleh peneliti, namun hasil likehood ratio tidak dijelaskan sehingga perlu dihitung.

Hasil :
No. 1 2 3 Value Sensitivity Specificity Likelihood ratio for a positive test result 4 Likelihood ratio for a negative test result 5 6 7 Positive Predictive Value Negative Predictive Value Pre-test Probability ( Prevalence ) 8 9 10 Pre-test-odds Post-test-odds Post-test-probability 2.714285714 16 0.941176471 94,11 % 0.941176471 0.431818182 0.730769231 94,11 % 43,19 % 73,07 % 0.484764543 0.561403509 0.904761905 5.894736842 Result 56,14% 90,47% -

APPLICABILITY : Apakah hasil penelitian tersebut membantu dalam tatalaksana pasien saya?

5. Menentukan kemungkinan penerapan pada pasien (available, affordable, accurate, precise) 6. Menentukan perhitungan pre-test probability pasien 7. Menentukan ada atau tidaknya perubahan tata laksana dari hasil penelitian. 8. Menentukan manfaat uji diagnostik bagi pasien

kemungkinan penerapan pada pasien (available, affordable, accurate, precise)

Tes serologi QuantiFERON TB telah menjadi rekomendasi WHO sejak tahun 2011 dikarenakan memiliki keakuratan dan ketepatan yang lebih baik untuk mendeteksi TB laten. Namun di Indonesia sendiri, tes ini tidak dapat dimanfaatkan karena ketersediaannya yang masih sangat terbatas dan harganya yang relatif mahal serta tidak terjangkaunya bagi masyarakat yang tinggal di daerah terpencil.

perhitungan pre-test probability pasien


No. 1 2 3 Value Sensitivity Specificity Likelihood ratio for a positive test result 4 Likelihood ratio for a negative test result 5 6 7 Positive Predictive Value Negative Predictive Value Pre-test Probability ( Prevalence ) 8 9 10 Pre-test-odds Post-test-odds Post-test-probability 2.714285714 16 0.941176471 94,11 % 0.941176471 0.431818182 0.730769231 94,11 % 43,19 % 73,07 % 0.484764543 0.561403509 0.904761905 5.894736842 Result 56,14% 90,47% -

ada atau tidaknya perubahan tata laksana dari hasil penelitian terdapat kemungkinan perubahan tata laksana dikarenakan hasil pemeriksaan dengan tes serologi menunjukan hasil yang lebih baik dan partisipan yang sebelumnya tidak terdeteksi menderita TB dapat terdeteksi sehingga memerlukan tata laksana lebih lanjut

manfaat uji diagnostik bagi pasien

Studi ini membuktikan bahwa tes serologi QuntiFERON TB memang memiliki keunggulan seperti akurasi yang lebih tepat, sensitivitas yang lebih baik serta tidak terpengaruh dengan riwayat vaksinasi BCG sebelumnya. Tentunya hal ini dapat membantu pasien untuk mendeteksi penyakit TB secara dini dan mendapatkan tata laksana yang lebih dini