Anda di halaman 1dari 29

Tutorial Kelompok J

dr.Deviani Utami

Infeksi
Seorang wanita, 25tahun dibawa ke UGD karena

kejang,menurut keluarga pasien,ia mengeluh badannya panas 1 minggu yang lalu,tetapi setelah minum obat warung membaik,selain itu pasien mengeluh sakit kepala. 2 hari sebelum masuk RS pasien mulai tidak sadar,muntah,kejang.Pemeriksaan GCS 10, suhu 39C, kaku kuduk (+), setelah diruang perawatan dokter melakukan Lumbal Pungsi, ditemukan leukosit sangat meningkat terutama PMN, tes pandy dan nonne (+).

Key Words
Wanita, 25 tahun 1 minggu lalu badannya panas

Sakit kepala, muntah, kejang, GCS 10 (stupor)


Leukosit meningkat, terutama PMN di LCS Kaku kuduk (+)

Tes nonne, tes pandy (+)

Problem
Kejang disertai penurunan kesadaran, muntah, dan

meningkatnya suhu tubuh.

Hipotesa
Pasien mengalami kejang, disertai penurunan kesadaran,

muntah, dan meningkatnya suhu tubuh disebabkan oleh Meningitis bakterial akut

Mekanisme
wanita,25 tahun

UGD
Anamnesa - 1 minggu lalu demam - Sakit kepala Pem.Fisik -GCS = 10 -suhu = 39C Pem.Lab -Leukosit -Tes pandy.nonne (+)

Meningitis bakterial akut

Penatalaksanaan
Prognosis

Dont Know
1.

2.
3. 4.

5.
6. 7.

Pemeriksaan pandy, nonne Meningitis Beda meningitis dan encephalitis Prosedur pelaksanaan lumbal pungsi Indikasi dan Kontraindikasi pelaksanaan lumbal pungsi Cara menurunkan TIK (farma, nonfarma) Hasil pemeriksaan LCS berdasarkan etiologi meningitis

Tes nonne dan Pandy


Test Nonne

Percobaan ini juga dikenal dengan nama test Nonne-Apelt atau test RossJones, menggunakan larutan jenuh amoniumsulfat sebagai reagen (ammonium sulfat 80 gr : aquadest 100 ml : saring sebelum memakainya). Test dilakukan terutama menguji kadar globulin dalam cairan otak. Cara : 1. Taruhlah 1 ml reagens Nonne dalam tabung kecil yang bergaris tengah kira kira 7 mm. 2. Dengan berhati-hati dimasukkan sama banyak cairan otak ke dalam tabung itu, sehingga kedua macam cairan tinggi terpisah menyusun dua lapisan. 3. Tenangkan selama 3 menit, kemudian amatilah perbatasan kedua cairan itu. Catatan : Seperti juga test Pandy, test Nonne ini sering dilakukan sebagai bedside test pada waktu mengambil cairan otak dengan lumbal pungsi. Dalam keadaan normal hasil test ini negative, artinya : tidak terjadi kekeruhan pada perbatasan. Semakin tinggi kadar globulin semakin tebal cincin keruh yang terjadi. Laporan hasil test ini sebagai negative atau positif.

Test Pandy
Reagen Pandy, yaitu larutan jenuh fenol dalam air (phenolum liquefactum 10 ml : aquadest 90 ml : simpan beberapa hari dalam lemari pengeram 37 oC dengan sering dikocok-kocok) bereaksi dengan globulin dan dengan albumin. Cara : 1. Sediakanlah 1 ml reagens Pandy dalam tabung serologi yang kecil bergaris tengah 7 mm. 2. Tambahkan 1 tetes cairan otak tanpa sedimen. 3. Segeralah baca hasil test itu dengan melihat derajat kekeruhan yang terjadi. Catatan : Test Pandy ini mudah dapat dilakukan pada waktu melaukan punksi dan memang sering dijalankam demikian sebagai bedside test. Dalam keadaan normal tidak akan terjadi kekeruhan atau kekeruhan yang sangat ringan berupa kabut halus. Sedemikian tinggi kadar protein, semakin keruh hasil reaksi ini yang selalu harus segera dinilai setelah pencampuran LCS dengan reagen ini. Tidak ada kekeruhan atau kekeruhan yang sangat halus berupa kabut menandakan hasil reaksi yang negatif.

Meningitis
Definisi

Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur.Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokokus, Meningokokus, Stafilokokus, Streptococcus, Hemophilus influenza dan bahan aseptis.Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat.

Etiologi

1. Bakteri: Mycobacterium tuberculosa, Diplococcus pneumoniae (pneumokokus), Neisseria meningitis (meningokokus), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa 2. Penyebab lainnya: Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia 3. Faktor predisposisi : jenis kelamin lakilaki lebih sering dibandingkan dengan wanita

Patofisiologi

Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari orofaring dan diikuti dengan septikemia, yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis bagian atas.Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah korteks, yang dapat menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah serebral. Jaringan serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis dan hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medula spinalis. Radang juga menyebar ke dinding membran ventrikel serebral. Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis intrakranial, yang terdiri dari peningkatan permeabilitas pada darah, daerah pertahanan otak (barier oak), edema serebral dan peningkatan TIK. Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal, kolaps sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya hemoragi (pada sindromWaterhouse-Friderichssen) sebagai akibat terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh meningokokus.

Gejala :

Nyeri kepala hebat


Kekakuan pada leher dan punggung Muntah, penurunan kesadaran, kejang

Demam
Takikardi Syok

Pemeriksaan penunjang

1.Lumbal pungsi pada meningitis bakterial akan menunjukan : LCS nya keruh Tekanan cairan cerebrospinal meningkat Leukosit meningkat Konsentrasi protein meningkat 2.Pemeriksaan penunjang lain: Hitung darah lengkap (Neutrofilia) Pemeriksaan kultur darah

penatalaksanaan
Farmakologi a. Obat anti infeksi Meningitis tuberkulosa: a.Isoniazid 10-20 mg/KgBB/hari PO b.Rifampicin 10-15 mg/KgBB/hari PO c.Streptomycin sulphate 20-40 mg/KgBB/hari IM Meningitis bakterial, umur <2 bulan : a.Cephalosporin Generasi ke 3, atau b.Kombinasi Ampicilin 150-200 mg (400 mg)/KgBB/hari IV dan Chloramphenicol 50 mg/KgBB/hari IV
1.

Meningitis bakterial, umur >2 bulan:

a.Kombinasi Ampicilin 150-200 mg (400 mg)/KgBB/hari IV dan Chloramphenicol 50mg/KgBB/hari IV b.Sefalosporin Generasi ke 3 c.Dexamethasone dosis awal 0,5 mg/KgBB IV dilanjutkan dengan dosis rumatan 0,5 mg/KgBB IV dibagi dalam 3 dosis, selama 3 hari. Diberikan 30 menit sebelum pemberian antibiotika

b. Pengobatan simptomatis 1.Menghentikan kejang: a. Diazepam 0,2-0,5 mg/KgBB/dosis IV atau 0,4-0,6 mg/KgBB/dosis REKTAL SUPPOSITORIA, b. Phenytoin 5 mg/KgBB/hari IV/PO c. Phenobarbital 5-7 mg/Kg/hari IM/PO 2.Menurunkan panas: a. Antipiretika: Paracetamol 10 mg/KgBB/dosis PO atau Ibuprofen 5-10 mg/KgBB/dosis PO diberikan 3-4 kali sehari b. Kompres air hangat/biasa

c. Pengobatan suportif
Cairan intravena Oksigen. Usahakan agar konsentrasi O2 berkisar antara 30-

50%.

2.Perawatan:
1.Pada waktu kejang: - Longgarkan pakaian, bila perlu dibuka - Hisap lendir - Kosongkan lambung untuk menghindari muntah dan aspirasi - Hindarkan penderita dari rudapaksa (misalnya jatuh)

2.Bila penderita tidak sadar lama: - Beri makanan melalui sonde - Cegah dekubitus dan pnemonia ortostatik dengan merubah posisi penderita sesering mungkin, minimal ke kiri dan ke kanan setiap 6 jam - Cegah kekeringan kornea dengan boorwater/salep antibiotika 3.Bila mengalami inkontinensia urin lakukan pemasangan kateter 4.Bila mengalami inkontinensia alvi lakukan lavement 5.Pemantauan ketat: - Tekanan darah - Pernafasan - Nadi - Produksi air kemih - Faal hemostasis untuk mengetahui secara dini ada DIC 6Fisioterapi dan rehabilitasi.

Komplikasi Hidrosefalus obstruktif Sembab otak Kejang Pembentukan abses Gangguan mental Gangguan belajar Efusi subdural Cerebral palsy

Prognosis

Jika segera diberikan pengobatan, maka jumlah penderita yang meninggal mencapai kurang dari 10%. Tetapi jika diagnosis maupun pengobatannya tertunda, maka bisa terjadi kerusakan otak yang menetap atau kematian, terutama pada anak yang sangat kecil dan pada usia lanjut.

Sebagian besar penderita bisa sembuh sempurna, tetapi beberapa penderita sering mengalami kejang. Gejala sisa lainnya adalah kelainan mental yang menetap serta kelumpuhan.

Beda meningitis dan encephalitis


Meningitis Pemeriksaan LCS keruh Demam Sakit kepala Kaku kuduk (+) Encephalitis Pemeriksaan LCS biasanya dalam batas normal Demam Kejang Kesadaran menurun

Prosedur pelaksanaan Lumbal pungsi


Baringkan penderita miring ke sisi kiri, bawa sedekat mungkin ke sisi kanan tempat tidur 2. Posisikan penderita seolah mencium lutut (menelungkup) 3. Punggung berada pada posisi vertikal 4. Tandai tempat untuk melakukan LP yaitu celah vertebrae L3-4 5. Desinfeksi daerah tempat dilakukannya LP 6. Lakukan anestesi lokal 7. Lakukan penusukan jarum spinal 8. Sampai terasa menembus sesuatu (tekanan yang berbeda) 9. Ambil tabung nonne pandy lalu teteskan LCS ke dalamnya 10. Ambil tabung steril dan diisi LCS untuk diperiksa jumlah sel, glukosa, protein 11. Cabut jarum spinal lalu tutup lubang bekas LP dengan kassa steril
1.

Indikasi LP
Indikasinya apabila: 1. Diagnostik : a. Meningitis b. Perdarahan subarakhnoid c. Sklerosis multiple d. Penyakit keganasan e. hipertensi kranial
2.

Terapeutik : a. Kemoterapi intratekal untuk penyakit keganasan b. Anestesi spinal c. mengurangi cairan cerebrospinal pada hipertensi intrakranial jinak dan setelah pembedahan syaraf.

Kontra indikasi LP
Kontra indikasinya apabila: 1. Kecurigaan atau adanya massa intrakranial 2. Sepsis lumbal lokal 3. Gangguan perdarahan (misalnya koagulati,trombositopenia) 4. Deformitas spinal yang signifikan.

Cara menurunkan TIK


Tekanan intrakranial yang meninggi dapat diturunkan dengan salah satu atau gabungan berikut ini:
1.

2. 3. 4.

5.
6.

Manitol bolus, 1 gr/kgBB dalam 20-30 menitkemudian dilanjutkan dengan dosis 0,25-0,5 gr/kgBB setiap 6 jam sampai max. 48 jam.Target osmolaritas : 300-320 mosmol/liter Gliserol 50% oral, 0,25-1 gr/kgBB setiap 4-6 jam atau gliserol 10% intravena, 10ml/kgBB dalam 3-4 jam Furosemid 1 mg/kgBB intravena Intubasi dan hiperventilasi terkontrol dengan oksigen hiperbarik sampai PCO = 20-35 mmHg Steroid (tidak diberikan secara rutin dan masih kontroversial) Tindakan kramiotomi dekompresif.

Pemeriksaan LCS berdasarkan etiologi


Hasil pemeriksaan LCS berdasarkan etiologi meningitis :
1.

Meningitis Purulenta : LCS keruh karena mengandungpus atau nanah. Meningitis purulenta dapat terjadi karena bakteri. : LCS jernih, meskipun mengandung jumlah sel dan protein yang meninggi, penyebab tersering adalah kuman tuberkulosis dan virus.

2. Meningitis Serosa

Beri Nilai