Anda di halaman 1dari 88

JENIS PENGUJIAN MATERIAL

TANPA MERUSAK (NONDESTRUCTIVE)


Deteksi cacat secara dini Tidak merusak komponen/struktur Penghematan biaya Tidak perlu menghentikan proses produksi Diperoleh informasi secara kualitatip dan kuantitatip

MERUSAK (DESTRUCTIVE)
Pengujian yang dapat menimbulkan kerusakan atau berpotensi menimbulkan kerusakan pada material/struktur Hanya cocok untuk statistical sampling basis Tidak cocok untuk struktur/komponen yang mahan dan besar

KATAGORI PENGUJIAN MERUSAK (DT)


Mechanical Test
Tensile test: weld metal, weld joint, nick break Bend test: face bend, root bend, side bend Charpy impact test: V-notch, U-notch, keyhole Hardness test: Brinell, Vickers, Rockwell Fracture test: fillet weld

Fatigue Test Chemical Composition Test Metallurgical Test


Fractography Macrography Micrography

DESTRUCTIVE TESTING PENGUJIAN MERUSAK

TENSILE TEST
Kuat tarik adalah sifat mekanis yang penting dalam mendisain konstruksi
Uji tarik dilakukan pada:
(1) Material dasar (raw material) (2) Material product (las-lasan)

Tujuan pengujian tarik adalah:


(1) (2) (3) (4) Kualifikasi prosedur pengelasan dan material Memperoleh informasi mengenai sifat mekanis material Sebagai acuan kriteria penerimaan dan kendali mutu R&D

Informasi-informasi yang diperoleh dari uji tarik:


Tegangan tarik maksimum (Ultimate Tensile Strength) Tegangan luluh (Yield Strength) Regangan (Elongation) Pengurangan luas penampang (Reduction of Area) Diagram Tegangan-Regangan (Stress-strain Diagram) Lokasi dan mode kepecahan

Jika pengujian tarik dilakukan untuk menguji spesifikasi suatu sambungan las atau untuk mengkualifikasi suatu prosedur pengelasan, maka informasi-informasi berikut ini harus dicantumkan pada laporan hasil pengujian:
Jenis dan jumlah spesimen Spesifikasi base metal Spesifikasi filler material Harga-harga sifat mekanis Lokasi kepecahan

Perlakuan panas pasca pengelasan (Post-Weld Heat Treatment)


Perlakuan mekanis (Mechanical Processing Treatment)

TENSILE TEST

Typical Tensile Specimens


Rectangular Specimen

Dimana: T W A L G B C

tebal spesimen uji lebar bagian prismatik panjang bagian prismatik panjang seluruh spesimen panjang ukur (gage length) panjang grip section lebar grip section

Typical Tensile Specimen


Round specimen

Dimana: D A G R

diameter spesimen uji panjang bagian prismatik panjang ukur (gage length) radius pembulatan

Mesin Uji Tarik (Universal Testing Machine)

10

Typical progress of a tensile test: (1) beginning of test, no load; (2) uniform elongation and reduction of cross-sectional area; (3) continued elongation, maximum load reached; (4) necking begins, load begins to decrease; and (5) fracture. If pieces are put back together as in (6), final length can be measured

SIFAT MEKANIS
1. Tegangan Tarik/Ultimate Tensile Strength (UTS)
[MPa]

Original C.S.A Rectangular =wxt

Round Tubular

= D2 = ( OD2 - ID2 )

REMEMBER!

1 N/mm2 = 1 MPa
12

SIFAT MEKANIS
Untuk round spesimen dengan penampang tidak homogen

Dimana:

m = massa spesimen (dari timbangan) [gram] L = panjang spesimen yang ditimbang [mm]

13

SIFAT MEKANIS
2. Tegangan Yield/Yield Strength
[MPa]

3. Regangan/Elongation

Panjang Lo ditentukan berdasarkan standard pengujian yang dipakai (ASTM, JIS, BKI, dll). Panjang Lo untuk tiap standard dapat berbeda-beda.
14

SIFAT MEKANIS
4. Pengurangan Luas Penampang/Reduction of Area

15

Diagram Tegangan-Regangan
Uj Tarik dilakukan dengan menjepit specimen pada alat/mesin uji dan ditarik hingga putus Dari hasil pengujian tersebut diperoleh Diagram TeganganRegangan Absis (sumbu X) - unit Regangan Ordinat (sumbu Y) - unit Tegangan Yang perlu diperhatikan : Daerah elastic Daerah plastic Diagram untuk material ductile Yield point jelas Kurva agak condong Diagram untuk material Brittle Yield point tidak jelas OFFSET 0.2% Kurva lebih tegak
16

Diagram Tegangan-Regangan

Typical engineering stress-strain plot in a tensile test of a metal

Two Regions of Stress-Strain Curve


The two regions indicate two distinct forms of

behavior:
1. Elastic region prior to yielding of the material 2. Plastic region after yielding of the material

Diagram Tegangan-Regangan

19

Diagram Tegangan-Regangan

20

Diagram Tegangan-Regangan

(c)2003 Brooks/Cole, a division of Thomson Learning, Inc. Thomson Learning is a trademark used herein under license.

21

Kurva Beban-Pemoloran

YIELD POINT

YIELD POINT

Load-strain curves for DUCTILE materials


22

Kurva Beban-Pemoloran

OFFSET YIELD POINT

OFFSET YIELD POINT

Load-strain curves for BRITTLE materials


23

Penentuan Yield Point OFFSET 0.2%

Yield point 0.2% offset (PROOF STRESS 0.2%)

A N
OA MN

c
Yield point 0.2% offset = 0.2 x c/

M
24

Bentuk Kepecahan
Ductile Material Deformasi pada bidang patahan Sudut kepecahan 45o terhadap arah beban Permukaan bidang patahan suram dan berserat-serat (Fibrous/shear fracture) Bentuk Cup & cone

25

Bentuk Kepecahan
Brittle Material Sedikit/tidak ada deformasi pada bidang patahan Sudut kepecahan 90o terhadap bidang kepecahan Granule/cleavage fracture Flat cleavage

26

UJI TARIK SAMBUNGAN LAS

27

28

29

Tensile Test for Bolts

30

BEND TEST
Uji tekuk dilakukan pada:
(1) Material dasar (raw material) (2) Material product (las-lasan)

31

UJI TEKUK SAMBUNGAN LAS

(1) FACE BEND TEST (2) ROOT BEND TEST (3) SIDE BEND TEST
TUJUAN: (1) Mengetahui kemulusan (soundness) hasil las-lasan (2) Mengetahui kekenyalan logam las

32

UJI TEKUK SAMBUNGAN LAS

33

Face Bend Test

34

Root Bend Test

35

Side Bend Testing

36

37

38

Bend Test Sample Removal

39

IMPACT TEST
TUJUAN

Mengevaluasi pengaruh pembebanan tiba-tiba pada keuletan material.


Mengevaluasi ketahanan material akibat adanya takik permukaan.

Mengevaluasi pengaruh suhu terhadap energi absorb.


Menganalisa bentuk kepecahan material.

40

Prinsip
Adanya takik pada permukaan material dapat mengganggu aliran tegangan dan menyebabkan pemusatan tegangan/stress concentration pada daerah yang berdekatan.

41

Prinsip

42

Mesin Uji Impak Charpy

43

Uji Impak Charpy

44

Bentuk dan Ukuran Spesimen


ASTM A-370

Subsize Specimens

45

Bentuk dan Ukuran Spesimen

PROFILE PROJECTOR

46

Kuat Impak
Absorbed Energy Impact Strength = C.S.A under the notch

[Joule/mm2]

Untuk aplikasi praktis, energi absorb lebih banyak digunakan untuk menentukan penerimaan material.

47

Ekspansi Lateral
Perbedaan lebar pada daerah takik, sebelum dan setelah diuji.
LE = Bt B o x 1000 [Mils]

25.4

1 mils = 1/1000 inches

LE LE

Absorbed Energy Absorbed Energy

48

Penentuan Keuletan Material


Kuat impak dan energi absorb tidak bisa dipakai untuk menentukan tingkat keuletan material.
Keuletan bisa dilihat dengan mengamati bentuk permukaan kepecahan. Jenis permukaan kepecahan:

1. Shear Fracture - Buram, memperlihatkan sifat material yang ulet


2. Cleavage Fracture - Berkilau, memperlihatkan sifat material yang getas

49

Penentuan Keuletan Material

4oC Pengaruh Suhu Suhu Suhu

38oC

100oC

DUCTILE BRITTLE

Hot Glycerin Furnace/oven

Dry ice + alcohol Liquid Nitrogen, CO2


50

Penentuan Shear Fracture Surface


ASTM A-370

51

Uji Impak Sambungan Las


Lokasi Notch: Fusion Line Weld Metal HAZ

52

Uji Impak Sambungan Las

53

Uji Impak Sambungan Las


Penentuan lokasi notch dan jumlah spesimen tergantung pada spesifikasi, code, dan standard yang dipakai.

AWS D1.1: 2010

54

Uji Impak Sambungan Las


AWS D1.1: 2010

55

Uji Impak Sambungan Las


AWS D1.1: 2010

56

Uji Impak Sambungan Las


BKI: 2006, Section 5, Volume 6

57

BRINELL HARDNESS TEST


Diameter penekanan rata-rata (dua pembacaan yang saling tegak lurus) diukur untuk memperoleh ANGKA KEKERASAN BRINELL.

58

Pengujian Metalografi
Prinsip
1. Pengujian metalografi pada dasarnya terdiri dari PENGUJIAN MAKRO dan PENGUJIAN MIKRO.

2. Pengujian makro ditujukan untuk mengetahui kondisi melintang sambungan las, apakah terdapat diskontinuitas pada daerah weld metal dan fusion line.
3. Pengujian mikro bertujuan untuk mengetahui kondisi struktur mikro penyusun logam akibat proses pengelasan atau pemanasan dan pendinginan. Struktur mikro berupa butiran-butiran yang dipisahkan oleh batas butir (grain boundary).

59

Pengujian Macroetsa (Macroetch Test)


Tujuan Pengujian 1. Mengetahui kualitas hasil lasan tumpul atau fillet dengan mendeteksi adanya cacat las melalui analisa penampang melintang permukaan specimen uji. Cacat las yang dapat diketahui dengan macroetsa adalah IP, IF, crack, undercut, underfil, overlap, porosity, dan internal defect lainnya. 2. Mengetahui weld profile sehingga dapat diketahui dimensi leg length, size of weld, dan throat of weld (baik throat effective maupun throat actual) serta luasan HAZ (Heat Affected Zone) apakah memenuhi persyaratan dimensional yang baik atau tidak. 3. Pengujian makroetsa dapat digunakan untuk kualifikasi prosedur pengelasan (WPS Welding Procedure Specification) maupun kualifikasi welder dan welding operator (WPQT Welder Performance & Qualification Test).
60

Dasar Teori Pengujian makroetsa digunakan untuk memeriksa kualitas sambungan las tumpul atau fillet. Macroetsa menggabungkan prosedur fisik dan reaksi kimiawi untuk mendeteksi weld discontinuities dan mengukur dimensi weld profilenya. Setelah dipoles dan dietsa, weld discontinuities akan tampak pada penampang melintang las.

Larutan etsa (etchant) yang digunakan tergantung pada jenis logam yang diuji. Untuk baja karbon digunakan larutan Nital 5% (95% alkohol 96% dan 5% HNO3).

61

AWS D1.1: 2010

62

AWS D1.1: 2010

63

AWS D1.1: 2010

64

AWS D1.1: 2010

65

66

67

Pemeriksaan Visual untuk Sambungan Fillet Paragraf 4.9.1.2 AWS D1.1 2010
Sambungan fillet harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. Tidak boleh ada crack berapapun ukurannya. 2. Semua kawah las (sambungan antar kawat las SMAW) harus terisi penuh setebal penampang melintang logam las. 3. Panjang kaki las aktual tidak boleh kurang dari panjang kaki las yang disyaratkan oleh disain. 4. Profil las harus memenuhi persyaratan pada gambar 5.4. 5. Undercut pada logam induk tidak boleh melebihi 1 mm.

68

Profil Las yang Acceptable dan Unacceptable Gambar 5.4 AWS D1.1 2008

69

Profil Las yang Acceptable dan Unacceptable Gambar 5.4 AWS D1.1 2008

70

Acceptance Criteria untuk Uji Makroetsa (Macroetch Test) PROCEDURE QUALIFICATION Paragraf 4.9.4.1 AWS D1.1 2010
Agar bisa diterima, test spesimen apabila diperiksa secara visual harus memenuhi persyaratan berikut: 1. Untuk partial joint penetration (PJP) sambungan tumpul, ukuran las aktual harus sama dengan atau lebih besar dari ukuran las yang disyaratkan oleh disain. 2. Sambungan fillet harus memiliki fusi yang sempurna hingga ke akar sambungan, tapi tidak perlu melebihi kedalaman akar. 3. Ukuran kaki las minimum harus memenuhi ukuran kaki las yang disyaratkan oleh disain.

71

Acceptance Criteria untuk Uji Makroetsa (Macroetch Test) PROCEDURE QUALIFICATION Paragraf 4.9.4.1 AWS D1.1 2010
4. PJP untuk sambungan tumpul dan fillet harus memenuhi ketentuan:
a. Tidak boleh ada crack. b. Fusi yang sempurna antar layer pada logam las dan antara logam las dan logam induk. c. Profil las harus sesuai dengan detil yang disyaratkan oleh disain. d. Tidak boleh ada undercut dengan kedalaman melebihi 1 mm.

72

Acceptance Criteria untuk Uji Makroetsa (Macroetch Test) PERFORMANCE QUALIFICATION Paragraf 4.31.2.3 AWS D1.1 2010
Agar bisa diterima, test spesimen apabila diperiksa secara visual harus memenuhi persyaratan berikut:
1. Sambungan fillet harus memiliki fusi yang sempurna hingga ke akar sambungan, tapi tidak perlu melebihi kedalaman akar. 2. Ukuran kaki las minimum harus memenuhi ukuran kaki las yang disyaratkan oleh disain.

73

Acceptance Criteria untuk Uji Makroetsa (Macroetch Test) PERFORMANCE QUALIFICATION Paragraf 4.31.2.3 AWS D1.1 2010
3. Sambungan las fillet harus memenuhi ketentuan: a. Tidak boleh ada crack. b. Fusi yang sempurna antar layer pada logam las dan antara logam las dan logam induk. c. Profil las harus sesuai dengan detil yang disyaratkan oleh disain. d. Tidak boleh ada undercut dengan kedalaman melebihi 1 mm. e. Untuk porosity dengan ukuran 1 mm, total akumulasi tidak boleh melebihi 4 mm. f. Jumlah ukuran terbesar dari slag harus tidak boleh melebihi 4 mm.

74

Acceptance Criteria untuk Uji Makroetsa (Macroetch Test) PERFORMANCE QUALIFICATION Paragraf 4.31.2.3 AWS D1.1 2010
4. Las sumbat (plug weld) harus memenuhi ketentuan: a. Tidak boleh ada crack.

b. Fusi yang sempurna antara logam las dan logam induk.


c. Total akumulasi panjang slag tidak boleh melebihi 6 mm.

75

76

Contoh Form Pengujian

77

78

Contoh Form Pengujian

79

Pengujian Struktur Mikro


Tujuan Pengujian Mengetahui kondisi struktur mikro akibat pengelasan atau proses pemanasan dan pendinginan yang meliputi perubahan bentuk dan ukuran butir, perubahan fase, presipitasi fase, pembekuan struktur, dan adanya cacat pada logam las.

80

Pengamatan metalography
Proses metalography Persiapan spesimen Pengetsaan Pengamatan mikroskop dan fotografi Pengamatan metalography mampu menunjukkan: Perubahan bentuk dan ukuran butir Perubahan fase Presipitasi fase Struktur solidifikasi Cacat pengelasan

81

Pengamatan metalography

mikroskop

82

Perubahan bentuk dan ukuran butir

Perubahan bentuk butir

Perubahan ukuran butir


83

Perubahan fase pada baja

Ferrite, Pearlite

Martensite

84

Presipitasi fase

Presipitasi fase pada stainless steel

Presipitasi fase pada batas butir paduan aluminium

85

Struktur solidifikasi logam

86

Cacat-cacat pengelasan

Porositas pada daerah melebur parsial

Keretakan pada daerah melebur parsial

Porositas dan pengembangan butir pada HAZ

Keretakan pada kaki fillet weld


87

THE END

88