Anda di halaman 1dari 20

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR RUMAH SAKIT PARU RESPIRA JOGJA

SYAHRAENI AYU PASARIBU PUTRI RAHAYU SYAH UMAR MIRA GUSLAIDA

Defenisi
Limbah cair rumah sakit adalah semua air buangan termasuk tinja yang berasal dari kegiatan rumah sakit yang kemungkinan mengandung mikroorganisme, bahan kimia beracun dan radioaktif yang berbahaya bagi kesehatan (Kepmenkes RI No. 1204/Menkes/SK/X/2004).

KARAKTERISTIK LIMBAH CAIR RS


Karakteristik limbah cair dapat diketahui menurut sifat dan karakteristik kimia, biologis dan fisika. 1) Sifat Fisik a) Padatan

b) Kekeruhan
c) Bau d) Temperatur e) Warna

2) Sifat Kimia a) Biological Oxygen Demand (BOD) b) Chemical Oxygen Demand (COD) c) Metan d) Keasaman Air e) Alkalinitas f) Lemak dan minyak g) Oksigen terlarut h) Klorida i) Phospat

3) Sifat Biologi Mikroorganisme ditemukan dalam jenis yang sangat bervariasi hampir dalam semua bentuk air limbah Secara tradisional mikroorganisme dibedakan menjadi binatang dan tumbuhan

Sumber Limbah menurut Jenisnya


Golongan Gologan ekskresi manusia Golongan tindakan pelayanan Golongan penunjang pelayanan Contoh Dahak, air seni, tinja, darah Sisa kumur, limbah cair pembersih alat medis Limbah cair dari instalasi gizi,limbah cair dari kendaraan,limbah cair dari laundry

Diagram Pengelolaan Air Limbah Rumah Sakit

Pengolahan Limbah Cair RS Paru Respira Jogja


Rumah Sakit Paru Respira Jogja mengupayakan pengolahan air limbah menggunakan teknologi secara biologis yakni memberdayakan aktifitas mikroorganisme untuk menguraikan senyawa polutan organic. proses biologis yang dikembangkan oleh instalasi IPAL Rumah Sakit Paru Respira Jogja adalah menggunakan biakan melekat, dengan proses film mikrobiologis atai BIOFILM. sedangkan system yang digunakan oleh Instalasi IPAL Rumah Sakit Paru Respira EFISIENSI adalah FILTER ANAEROB AEROB. JENIS PROSES PENGHILANGAN BOD KETERANGAN
(%) Biofilter Unaerobic 65 - 85 memerlukan waktu tinggal yang lama, lumpur yang terjadi kecil.

PRINSIP KERJA BIAKAN MELEKAT/BIO FILM/BIO FILTER


Lapisan biofilm yang melekat pada media akan menguraikan senyawa polutan yang ada di dalam air limbah misalnya BOD,COD, Amnonnia,phospor dan lainnya. pada saat bersamaan dengan menggunakan oksigen yang terlarut didalam air senyawa polutan tersebut akan diuraikan oleh mikroorganisme menjadi biomasa. Dalam hal ini unit IPAL Rumah sakit Paru Respira Jogja mensuplai oksigen oleh blower dan dilewatkan melalui diffuser yang ada dibagian dasar air.

Diagram proses pengolahan air limbah dengan proses biofilter anaerob-aerob .

Gambar Pola Unit IPAL Rumah Sakit Paru Respira Jogja tampak samping

Gambar Pola Unit IPAL Rumah Sakit Paru Respira Jogja tampak atas

PENJELASAN TEKNIS MASING MASING RUANGAN


Ruang Anaerobic 1 sebagai gambaran bahwa pada ruangan ini ada suatu media tercelup yang biasa disebut biofilm/biofilter.
1.

Fungsi serta manfaat ruangan Anaerobic 1 : - Proses anaerobic dapat segera menggunakan CO2 yang ada sebagai penerima electron. proses tersebut tidak membutuhkan oksigen. - Penguraian anaerobic menghasilkan lebih sedikit Lumpur (3-20 kali lebih sedikit dari pada aerobic), energi yang dihasilkan bakteri anaerobic relativ rendah. Dengan proses anaerobic satu metric ton COD tinggal 20 - 150 kg biomasa, sedangkan proses aerobik masih tersisa 400 - 600 kg biomasa (Speece, 1983; Switzenbaum, 1983) - Proses anaerobic menghasilkan gas metan yang mengandung sekitar 90% energi dengan nilai kalori 9.000 kkl/m3, gas metan ini dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik setelah melalui beberapa proses. sedikit energi terbuang menjadi panas (3-5%). Produksi metan menurunkan BOD dalam penguraian Lumpur limbah. - Sistem anaerobic dapat membiodegradasi senyawa xenobiotik dan senyawa alami recalcitrant lignin.

Gambar Tangki Anaerobic 1

2. Ruangan Equalisasi
equalisasi ini berfungsi untuk menyetarakan debit aliran agar dalam proses mikrobiologis tidak terjadi fluktuasi aliran yang akan berakibat kurang optimalnya proses biologis oleh mikroorganisme.

3. Ruangan Anaerobic 2
Pada dasarnya fungsi serta manfaat ruangan ini hampir sama dengan ruangan anaerobic 1, yang membedakan hanyalah bahwa pada ruangan ini terjadi proses biologis yang lebih kompleks, yakni kumpulan mikroorganisme, umumnya bakteri terlibat dalam transformasi senyawa kompleks organic menjadi metan. lebih jauh lagi, terdapat interaksi sinergis antara bermacam macam kelompok bakteri yang berperan dalam penguraian limbah Meskipun beberapa jamur (Fungi) dan protozoa dapat ditemukan dalam penguraian anaerobic, bakteri tetap merupakan mikroorganisme yang paling dominan bekerja di dalam proses penguraian anaerobic. sejumlah besar bakteri anaerobic dan fakultatif (seperti : Bacteroides, Bifidobacterium, Clostridium, Lactobacillus, Streptocoocus)terlibat dalam proses hidrolisis dan fermentasi senyawa organic.

4. Ruang Bio Filtration


Di dalam proses pengolahan air limbah organic akan terurai oleh aktifitas mikroorganisme aerobic, senyawa kompleks organik akan terurai oleh aktifitas mikroorganisme aerob. Mikroorganisme tersebut dalam aktifitasnya memerlukan oksigen atau udara untuk memecah senyawa organic yang kompleks menjadi CO2 dan air serta ammonium, selanjutnya ammonium akan diubah menjadi nitrat dan H2S akan dioksidasi menjadi sulfat. >Prinsip kerja Bio Filtration< Ruangan ini terisi oleh Styrene Foam dengan diameter 3-4 mm sebanyak 60% dari total efektiv volume tangki. Air limbah mengalir dari bawah ke atas (Down Up Flow) menembus kumpulan rapat styrene foam yang disuplai udara dari/melalui diffuser. Selama air bersentuhan dengan permukaan media Styrene Foam terjadi proses biologis dimana proses tersebut bisa mengurangi kadar BOD dan SS (Suspended Solid)

Gambar Ruang Bio Filtration

>Keunggulan System Bio Filtration<


Sistem filtrasinya mempunyai kapasitas untuk mengurangi kadar SS Auto Backwashnya bisa beroperasi lama karena menggunakan system pemampatan udara melalui blower, sehingga blocking terhadap media bisa diantisipasi. Kebutuhan listriknya sangat rendah dibanding sistem lain. Efisiensi Penurunan BOD sangat baik. Kadar Ammonia yang diolah oleh Biofiltration sangat efisien.

5. Ruangan Backwash
Berfungsi untuk membantu melakukan pencucian media aerobic / Styrene foam dengan cara memberikan tekanan udara melalui blower sehingga air yang ada di ruangan ini akan keluar ke ruangan biofiltration, dan setelah ruangan backwash kosong atau udara tidak mampu untuk menekan air kembali, maka air akan kembali dengan tiba-tiba sehingga memecah koloni/kumpulan styrene Foam yangt mengakibatkan kotoran yang menempel pada styrene foam terbawa ke ruangan backwash dan diteruskan ke ruangan anaerobic 1.

6. Ruangan Treated Water (Air Hasil Olahan) Berfungsi sebagai penampung/wadah air hasil olahan yang sudah memenuhi standar baku mutu dan ramah lingkungan.
7. Ruangan Desinfectan Disebut juga BOX CHLORINE yang berisi Chlorine sebagai desinfectant untuk membantu membunuh bakteri patogen dari air hasil olahan sebelum dikeluarkan ke lingkungan.

Gambaran Inspeksi Pemeliharaan IPAL