Anda di halaman 1dari 22

KEPERAWATAN ANAK I

LAPORAN PENDAHULUAN ANAK DENGAN PNEUMONIA

PENGERTIAN
Menurut Engram (1998) pneumonia adalah proses inflamasi pada parenkim paru. Hal ini terjadi sebagai akibat adanya invasi agen infeksius atau adanya kondisi yang mengganggu tahanan saluran trakeobrokialis sehingga flora endogen yang normal berubah menjadi patogen ketika memasuki saluran jalan nafas. Pneumonia adalah penyakit infeksi akut paru yang disebabkan terutama oleh bakteri; merupakan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang paling sering menyebabkan kematian pada bayi dan anak balita (Said 2007). Sedangkan menurut Betz dan Sowden (2002) pneumonia adalah inflamasi atau infeksi pada parenkim paru yang disebabkan oleh satu atau lebih agens berikut virus, bakteri, mikoplasma dan aspirasi substansi asing.

EPIDEMOLOGI
Pneumonia streptokokus paling sering terdapat pada 2 tahun pertama kehidupan. Pada 30 % anak dengan pneumonia yang berusia kurang dari 3 bulan dan pada 70 % anak dengan pneumonia yang berusia kurang dari 1 tahun. Pneumonia pneumokokus mencakup 90 % dari semua pneumonia. Mikoplasma jarang menimbulkan pneumonia pada anak yang berusia 5 tahun, mereka berhubungan dengan 20 % kasus pneumonia yang di diagnosis pada pasien antara umur 16 dan 19 tahun.

KLASIFIKASI
Berdasarkan usaha terhadap pemberantasan pneumonia melalui usia, pneumonia dapat diklasifikasikan: 1. Usia 2 bulan 5 tahun Pneumonia berat, ditandai secara klinis oleh sesak nafas yang dilihat dengan adanya tarikan dinding dada bagian bawah. Pneumonia, ditandai secar aklinis oleh adanya nafas cepat yaitu pada usia 2 bulan 1 tahun frekuensi nafas 50 x/menit atau lebih, dan pada usia 1-5 tahun 40 x/menit atau lebih. Bukan pneumonia, ditandai secara klinis oleh batuk pilek biasa dapat disertai dengan demam, tetapi tanpa terikan dinding dada bagian bawah dan tanpa adanya nafas cepat. 2. Usia 0 2 bulan Pneumonia berat, bila ada tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau nafas cepat yaitu frekuensi nafas 60 x/menit atau lebih. Bukan pneumonia, bila tidak ada tarikan kuat dinding dada bagian bawah dan tidak ada nafas cepat.

Menurut Depkes RI (2002) klasifikasi pneumonia menurut program P2 ISPA antara lain : Pneumonia sangat berat Ditandai dengan sianosis sentral dan tidak dapat minum. Pneumonia berat Ditandai dengan penarikan dinding dada, tanpa sianosis dan dapat minum. Pneumonia sedang Ditandai dengan tidak ada penarikan dinding dada dan pernafasan cepat.

Klasifikasi pneumonia atas dasar anatomis dan etiologis, antara lain : 1. Pembagian anatomis Pneumonia lobaris Pneumonia lobularis (bronchopneumonia) Pneumonia interstitialis (brochitis) 2. Pembagian etiologis Bakteria : diplococcus pneumoniae, pneumococcus, streptococcus nerus, dll Virus : respiratory syncytial virus, virus influensa, adenovirus, dll Mycoplasma pneumonia Jamur : aspergillus species, candida albicans, dll Aspirasi : karosen, makanan, cairan amnion, benda asing Pneumonia hipostatik Sindrom loeffler

ETIOLOGI
Bakteri (paling sering menyebabkan pneumonia pada dewasa) yakni Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, Legionella, dan Hemophilus influenzae. Virus : virus influenza, chicken-pox (cacar air) Organisme mirip bakteri : Mycoplasma pneumoniae (terutama pada anak-anak dan dewasa muda) Jamur tertentu.

MANIFESTASI KLINIS
Batuk berdahak (dahaknya seperti lendir, kehijauan atau seperti nanah) Nyeri dada (bisa tajam atau tumpul dan bertambah hebat jika penderita menarik nafas dalam atau terbatuk) Menggigil Demam Mudah merasa lelah Sesak nafas Sakit kepala Nafsu makan berkurang Mual dan muntah Merasa tidak enak badan

PATOFISIOLOGI
Proses pneumonia mempengaruhi ventilasi. Setelah agen penyebab mencapai alveoli, reaksi inflamasi akan terjadi dan mengakibatkan ektravasasi cairan serosa ke dalam alveoli. Adanya eksudat tersebut memberikan media bagi pertumbuhan bakteri. Membran kapiler alveoli menjadi tersumbat sehingga menghambat aliran oksigen ke dalam perialveolar kapiler di bagian paru yang terkena dan akhirnya terjadi hipoksemia (Engram 1998).

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Kajian foto thorak diagnostic, digunakan untuk melihat adanya infeksi di paru dan status pulmoner (untuk mengkaji perubahan pada paru) Nilai analisa gas darah, untuk mengevaluasi status kardiopulmoner sehubungan dengan oksigenasi Hitung darah lengkap dengan hitung jenis untuk menetapkan adanya anemia, infeksi dan proses inflamasi Pewarnaan gram (darah) untuk seleksi awal antimikroba Tes kulit untuk tuberkulin mengesampingkan kemungkinan TB jika anak tidak berespons terhadap pengobatan Dan lain-lain

KOMPLIKASI
Menurut Engram (1998) dan Betz dan Sowden (2002) komplikasi yang sering terjadi menyertai pneumonia adalah abses paru, efusi pleural, empiema, gagal nafas, perikarditis, meningitis, pneumonia interstitial menahun, atelektasis segmental atau lobar kronik, atelektasis persiten, rusaknya jalan nafas, kalsifikasi paru, fibrosis paru, bronkitis obliteratif dan bronkiolitis. Pada pasien usia lanjut usia risiko terjadinya komplikasi tinggi sebab struktur sistem pulmonal telah berubah karena proses penuaan (komplain jaringan paru menurun, kemampuan batuk efektif menurun dan kemampuan ekspansi paru menurun sebagai akibat dari kalsifikasi kartilago vertebra.

PENATALAKSANAAN MEDIS
Kepada penderita yang penyakitnya tidak terlalu berat, bisa diberikan antibiotik per-oral (lewat mulut) dan tetap tinggal di rumah. Penderita yang lebih tua dan penderita dengan sesak nafas atau dengan penyakit jantung atau paru-paru lainnya, harus dirawat dan antibiotik diberikan melalui infus. Mungkin perlu diberikan oksigen tambahan, cairan intravena dan alat bantu nafas mekanik. Kebanyakan penderita akan memberikan respon terhadap pengobatan dan keadaannya membaik dalam waktu 2 minggu.

PENCEGAHAN
Upaya pencegahan merupakan komponen strategis dalam pemberantasan pneumonia pada anak; terdiri dari pencegahan melalui imunisasi dan upaya pencegahan non-imunisasi. Program Pengembangan Imunisasi (PPI) yang meliputi imunisasi DPT dan campak yang telah dilaksanakan pemerintah selama ini dapat menurunkan proporsi kematian balita akibat pneumonia. Hal ini dapat dimengerti karena campak, pertusis dan juga difteri bisa juga menyebabkan pneumonia atau merupakan penyakit penyerta pada pneumonia balita. Yang tidak kalah penting sebenarnya adalah upaya pencegahan nonimunisasi yang meliputi pemberian ASI eksklusif, pemberian nutrisi yang baik, penghindaran pajanan asap rokok, asap dapur dIl; perbaikan lingkungan hidup dan sikap hidup sehat; yang kesemuanya itu dapat menghindarkan terhadap risiko terinfeksi penyakit menular termasuk penghindaran terhadap pneumonia (Said 2007)

ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian keperawatan
Riwayat pasien : panas, batuk, perubahan pola makan, kelemahan, penyakit respirasi sebelumnya, perawatan di rumah, penyakit lain yang diderita anggota keluarga di rumah. Pemeriksaan fisik : demam, dispneu, takipneu, sianosis, penggunaan otot pernafasan tambahan, suara nafas tambahan, rales, ronki, kenaikan sel darah putih (bakteri pneumonia), arterial blood gas, x-ray dada.

Psikososial dan faktor perkembangan : usia, tingkat perkembangan, kemampuan memahami rasionalisasi intervensi, pengalaman berpisah dengan orang tua, mekanisme koping yang dipakai sebelumnya, kebiasaan (pengalaman yang tidak menyenangkan, waktu tidur/rutinitas pemberian pola makan, obyek favorit). Pengetahuan pasien dan keluarga : pengalaman dengan penyakit pernafasan, pemahaman akan kebutuhan intervensi pada distress pernafasan, tingkat pengetahuan, kesia dan keinginan untuk belajar. Sumber : NANDA 2005

Diagnosa Keperawatan
Bersihan jalan nafas tidak efektif Gangguan pertukaran gas Resiko tinggi kekurangan volume cairan Resiko tinggi perubahan suhu tubuh :hipertermia Resiko tinggi penatalaksanaan program terapeutik tidak efektif

Rencana Asuhan Keperawatan


1. Pantau jalan nafas dan pertahankan kepatenannya Letakan anak dalam posisi semi-Fowler. Berikan terapi uap seperti yang diintruksikan oleh dokter Lakukan drainase postural, perkusi, dan vibrasi sesuai kebutuhan dan toleransi anak. Lakukan penghisapan yang dalam sesuai kebutuhan. Berikan isirahat yang cukup

2. Pantau adanya tanda-tanda gawat pernapasan dan respons terhadap terapi oksigen. Pantau status pernafasan Lakukan perawatan tenda kabut Ganti pakaian dan seprai anak untuk mencegah kedinginan. Observasi adanya tanda-tanda komplikasi 3. Pantau dan perhatikan status hidrasi yang optimal Pantau pemberian cairan IV Catat asupan dan keluaran Pantau adanya dehidrasi

4. Pantau respon terapeutik anak dan efek samping dari pengobatan (untuk pneumonia bakterialnafsilin, gentamisin, metisilin, oksasilin, penisilin G, eritromisin) 5. Kontrol demam dengan antipiretik dan mandi sponge dengan air hangat. 6. Ajarkan pada orang tua tentang bagaimana merawat bayi dengan IV dan terapi oksigen.

IMPLEMENTASI Disesuaikan dengan intervensi yang telah dibuat

EVALUASI Disesuaikan dengan kriteria evaluasi.