Anda di halaman 1dari 15

ETIKA PROFESI KEDOKTERAN

KELOMPOK 7

LAPORAN KASUS

Seorang ibu melahirkan dibantu oleh dokter obsgin B

Anaknya kemudian dirawat dokter anak C

Dokter B dan C tidak pernah mengatakan bahwa anaknya menderita penyakit atau cedera waktu lahir

Sepuluh hari pasca lahir orang tua menemuka n benjolan dipundak kanan bayi

Orang tua membawa anaknya ke tempat dokter A

Dilakukan pemeriksaan radiologi dan dinyatakan menderita fraktur klivikula kanan yang sudah terbentuk kasus

ETIKA KEDOKTERAN

Beuchamp dan Childress (1994) menguraikan 4 kaidah dasar moral : Prinsip Otonomi Menghormati hak-hak pasien melahirkan doktrin informed consent. Prinsip Beneficence Mengutamakan tindakan yang ditujukan demi kebaikan pasien Prinsip Non-malificence primum non nocere atau above all, do no harm . Prinsip Justice Mementingkan fairness dan keadilan dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya.

Sedangkan aturan turunannya adalah veracity (berbicara jujur, benar dan terbuka), privacy (menghormat hak pribadi pasien), confidentiality (menjaga kerahasian pasien) dan fidelity (loyalitas dan promise keeping).

ETIKA KLINIK

Jonsen, Siegler dan Winslade (2002) menggunakan 4 topik yang essential dalam pelayanan klinik: Medical indication Semua prosedur diagnostic dan terapi yang sesuai untuk mengevaluasi keadaan pasien dan mengobatinya Patient preferences Memperhatikan nilai dan penilaian pasien tentang manfaat dan beban yang akan diterimanya, yang berarti cerminan kaidah autonomy Quality of life Memperbaiki, menjaga atau meningkatkan kualitas hidup insane. Contextual features Aspek non medis yang mendahului keputusan seperti factorkeluarga, ekonomi, agama, budaya, kerahasiaan, alokasi sumber daya dan factor hukum.

INFORMED CONSENT

Definisi : Suatu kesepakatan/persetujuan pasien atas upaya medis yang akan dilakukan dokter terhadap dirinya setelah mendapat informasi dari dokter mengenai upaya medis yang dapat dilakukan untuk menolong dirinya disertai informasi mengenai segala resiko yang mungkin terjadi.
Informed consent untuk pasien yang inkompeten Pasien inkompeten adalah mereka yang tidak mampu membuat keputusan untuk diri mereka sendiri seperti anak, individu dengan gangguan psikologi atau neurologi berat dan pasien yang tidak sadar. Apabila pasien tidak mampu membuat keputusan untuk dirinya sendiri, perlulah mendapat kebenaran dari wakilnya (WMA declaration of the patient)

HUBUNGAN DOKTER-PASIEN

Bersifat religious Pada awal profesi kedokteran, dipercaya bahwa timbulnya penyakit berasal dari kemarahan dewa. Bersifat paternalistis Orang yang dikatakan dokter generasi pertama tidak lagi berhubungan dengan upacara keagamaan. Dokter zaman dahulu mempunyai murid dan menurunkan keahliannya kepada muridnya itu. Bersifat penyedia jasa dan konsumen Perubahan dari paternalistis ke hubungan ini bertepatan dengan perkembangan teknologi informasi dimana masyarakat makin sadar akan hak haknya serta mampu menilai pekerjaan dokter. Bersifat upaya bersama dan kemitraan Dalam kondisi sakit, baik berat maupun ringan, baik sakit fisik maupun mental, seorang pasien membutuhkan dokter.

HUBUNGAN REKAN SEJAWAT

Diatur dalam KODEKI :


1. Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter atau kompetensi atau yang melakukan penipuan atau penggelapan dalam menangani pasien. Seorang dokter harus menghargai hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya dan hak tenaga kesehatan lainnya dan harus menjaga kepercayaan pasien. Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia ingin diperlakukan. Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecuali dengan persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis.

2. 3. 4.

ASPEK HUKUM

KUH Perdata Pasal 1365 Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut. KUH Perdata Pasal 1366 Setiap orang bertanggung-jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan kelalaian atau kurang hatihatiannya KUH Perdata Pasal 1367 Seorang tidak saja bertanggungjawab untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya sendiri, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan perbuatan orang-orang yang menjadi tanggungannya atau disebabkan oleh barang-barang yang berada di bawah pengawasannya. Undang-Undang No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan Pasal 55 (1) Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan.

ASPEK HUKUM (2)


KUH Perdata Pasal 1371 Penyebab luka atau cacatnya sesuatu anggota badan dengan sengaja atau karena kurang hati-hati memberikan hak kepada si korban untuk selain penggantian biaya-biaya penyembuhan, menuntut penggantian kerugian yang disebabkan oleh luka atau cacat tersebut. Juga penggantian kerugian ini dinilai menurut kedudukan dan kemampuan kedua belah pihak, dan menurut keadaan. Di bidang pidana juga ditemukan pasal-pasal yang menyangkut kelalaian, yaitu : KUHP Pasal 360 (1) Barangsiapa karena kesalahannya (kelalaiannya) menyebabkan orang lain mendapat luka-luka berat, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun. (2) Barangsiapa karena kesalahannya (kelalaiannya) menyebabkan orang lain luka-luka sedemikianrupa sehingga timbul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian selama waktu tertentu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah. KUHP Pasal 361 Jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini dilakukan dalam menjalankan suatu jabatan atau pencarian, maka pidana ditambah dengan sepertiga dan yang bersalah dapat dicabut haknya untuk menjalankan pencarian dalam mana dilakukan kejahatan, dan hakim dapat memerintahkan supaya putusannya diumumkan.

DAMPAK PENUNTUTAN HUKUM

Seorang dokter diduga melakukan pelanggaran etika kedokteran (tanpa melanggar norma hukum) MKDKI terbukti melaukan pelanggaran akan dipanggil dan disidang oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI untuk dimintai pertanggungjawaban (etik dan disiplin profesinya).
Proses persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan terpisah dari proses persidangan gugatan perdata atau tuntutan pidana oleh karena domain dan jurisdiksinya berbeda.

DAMPAK PENUNTUTAN HUKUM (2)

Dalam melakukan memperoleh :

pemeriksaannya,

majelis

berwenang

Keterangan, baik lisan maupun tertulis (affidativ), langsung dari pihak-pihak terkait (pengadu, teradu, pihak lain yang terkait) dan peer-group / para ahli di bidangnya yang dibutuhkan). Dokumen yang terkait, seperti bukti kompetensi dalam bentuk berbagai ijasah / brevet dan pengalaman, bukti keanggotaan profesi, bukti kewenangan berupa Surat Ijin Praktek Tenaga Medis, Perijinan Rumah Sakit tempat kejadian, bukti hubungan dokter dengan Rumah Sakit, hospital by laws SOP dan SPM setempat, rekam medis, dan surat-surat lain yang berkaitan dengan kasusnya.

SOLUSI

Dalam kasus ini telah terjadi penyimpangan etika kedokteran yang harusnya tidak dilakukan oleh seorang dokter. Etika yang dilanggar terutama Prinsip Non-malificence yaitu dokter harusnya tidak melakukan tindakan maupun kelalaian yang akhirnya memperburuk keadaan pasien. Dokter harusnya tidak bisa menghindar dari hukuman dengan melewatkan aturan veracity untuk berbicara jujur, benar dan terbuka.

Dalam kasus ini, langkah yang harus ditempuh oleh dokter A adalah harus sesuai dan berdasar pada Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI), dimana selain menghargai dan melayani pasien dengan sebaiknya, juga menjaga hubungan yang baik dengan rekan sejawatnya.

SOLUSI (2) Dokter A dalam menghadapi pasien dan sejawatnya dilandaskan pada etika kedokteran sbb: 1. Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter. 2. Setiap dokter harus, dalam setiap praktek medisnya, memberikan pelayanan medis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya disertai rasa kasih sayang dan penghormatan atas martabat manusia. 3. Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter atau kompetensi atau yang melakukan penipuan atau penggelapan dalam menangani pasien. 4. Seorang dokter harus menghargai hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya dan hak tenaga kesehatan lainnya dan harus menjaga kepercayaan pasien. Jadi berdasarkan poin-poin etika kedokteran diatas, dokter diharapkan dapat tetap melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya dalam memenuhi hak pasien tanpa melanggar kode etik dan hubungan dengan sejawatnya

KESIMPULAN

Semua kasus klinis dianggap kelalaian cedera pribadi di bawah hukum. Meskipun, kelalaian klinis adalah bidang studi khusus di bawah hukum cedera pribadi karena melibatkan kelalaian professional yang memerlukan prinsip-prinsip hukum yang berbeda dan aturan prosedur. Namun, mencari kompensasi dalam hal klaim atas kelalaian medis bukanlah sederhana dan kerumitan prosedur bebas.

TINJAUAN PUSTAKA

1. Williams J. World Medical Association : Medical Ethics Manual 2nd Edition. 2009 2. Sampurna. Budi., Syamsu. Zulhasmar., Siswaja. Tjetjep Dwidja. Didalam: Bioetik dan HukumKedokteran. Juli 2007 3. Hanafiah. M. Jusuf., Amir. Amri, Etika kedokteran dan Hukum Kesehatan. Penerbit Buku Kedokteran:EGC. Jakarta. 2007. 4. Samil. Ratna Suprapti. Etika Kedokteran Indonesi. Penerbit: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta. 2001. 5. Budi Sampurna. 2007. Kelalaian medik. Diunduh dari: http://www.freewebs.com/kelalaianmedik. Pada 25 januari 2011