Anda di halaman 1dari 25

Om Swastiastu

TEKNOLOGI SEDIAAN LIQUID

ELIXIR

1.

2.
3. 4. 5. 6.

Adi Purwata Ardi Wiguna Ayu Wiwik Listiani Cok istri mega K P Mila Harum Sari Novita Dewi

(121054) (121057) (121063) (121084) (121086) (121090)

Farmakope Indonesia Ed. IV 1995 hlm. 15 Eliksir = Larutan oral mengandung etanol sebagai kosolven Fornas Ed. II hal 313 Eliksir adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau sedap, mengandung selain obat juga zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis lainnya,untuk digunakan sebagai obat dalam. Dapat ditambahkan gliserol, sorbitol, dan propilen glikol.

Mempertinggi kelarutan zat berkhasiat Agar homogenitas lebih terjamin Zat berkhasiat lebih mudah terabsorbsi dalam keadaan terlarut Sediaan berasa manis dan aroma lebih sedap Dapat digunakan oleh orang yang sukar menelan obat seperti anak-anak dan orang tua.

Lebih mudah ditelan daripada bentuk padat. Segera diabsorbsi Obat secara homogen terdistribusi dalam seluruh sediaan. Tidak mengiritasi / jarang mengiritasi lambung. Beberapa obat yang

menyebabkan iritasi Contoh : KI dan KBr dalam keadaan kering menyebabkan iritasi.

Bersifat hidroalkohol. Eliksir lebih stabil. Lebih mudah untuk menyesuaikan dosis Sediaan dalam bentuk larutan dalam pengobatan selalu seragam (dosis uniform). Absorbsi lebih cepat

Penampilan menarik, sediaan dalam botol memberikan pengaruh psikologis dalam penyembuhan. Sediaan larutan dapat dengan mudah diberi bahan pewangi, pemais, atau pewarna untuk meningkatkan penampilan.

Voluminus sehingga kurang menyenangkan untuk diangkut atau disimpan. Stabilitas dalam bentuk larutan lebih jelek disbanding bentuk tablet atau kapsul terutama bila bahan mudah terhidrolisis. Larutan merupakan media ideal untuk pertumbuhan mikroorganisme. Ketepatan dosis tergantung kepada kemampuan pasien untuk menakar. Rasa obat yang kurang menyenangkan akan lebih terasa jika diberikan dalam bentuk larutan dibanding dalam bentuk tablet.

Dibandingkan dengan sirup, eliksir biasanya kurang manis dan kurang kental karena mengandung kadar gula yang lebih rendah dan akibatnya kurang efektif dibandingkan sirup dalam menutupi rasa obat. Sediaan cair umumnya kurang stabil dibandingkan bentuk sediaan padat (tablet atau kapsul) dan ada beberpa obat yang tidak stabil dalam air. Obat cairan memerlukan wadah yang besar sehingga merepotkan dibawa-bawa. Memerlukan alat sendok untuk pemberian dosisnya. Jika timbul kejadian wadah obat dalam bentuk larutan pecah maka isi akan terbuang semua.

pertumbuhan kristal yang disebabkan oleh perubahan suhu, keseragaman ukuran, dll. ketercampuran zat aktif dengan pelarut campur ataupun zat tambahan untuk menghindari terjadinya pengendapan.

R/ - zat berkhasiat

pelarut utama (etanol dan air dengan perbandingan tertentu sesuai dengan daya melarut zat berkhasiat) pelarut tambahan (gliserol, sorbitol, propilen glikol) bahan pembantu (pemanis; pewangi; pewarna; pengawet; anticaplocking agent; penstabil kimia seperti pendapar, pengompleks, antioksidan)

R/ Paracetamol Dextromethorphan HBR Chlorampheniramini Maleat Alkohol Sirup Simplex Aqua dest ad 5 ml m.f.eliksir 60ml

125 mg 10 mg 1mg 5% 6 ml

Paracetamol Acetaminofen mengandung tidak kurang dari 98,0 % dan tidak lebih dari 101,0% C8H9N02 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian : hablur atau serbuk hablur putih ; tidak berbau ; rasa pahit. Kelarutan : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%) P, ; larut dalam larutan alkali hidroksida. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya. Khasiat dan Penggunaan : Analgetikum ; Antipiretikum.

Dekstrometorfan Hidrobromida mengandung tidak kurang dari 99,0 % dan tidak lebih dari 101,0% C18H25NO,HBR, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan Pemerian : Serbuk hablur ; putih ; tidak berbau ; rasa pahit Kelarutan : Larutan dalam 60 bagian air dan alam 10 bagian etanol (95%) P ; mudah larut dalam kloroform p disertai pemisahan air ; praktis tidak larut dalam eter p. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik Khasiat dan penggunaan : Antitusivum

Chlorpheniramni Maleas ( CTM ) Klorfeniramina Maleat mengandung tidak kurang dari 98,5% dan tidak lebih dari 101,0% C16H19CIN2C4H4O4, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian : Serbuk hablur ; putih ; tidak berbau ; rasa pahit. Kelarutan : Larut dalam 4 bagian air, dalam 10 bagian etanol (95%) P dan dalam 10 bagian kloroform p;sukar larut dalam eter p. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya Khasiat dan Penggunaan Antihistaminikum

DM Penyesuaian CTM ( - / 40mg) anak umur 6 th 1 hari pakai = 6/18 x 40 mg = 13,3 mg Dosis Pemakaian 1 x p = 1 mg 1hp = 1 x 3 = 3 mg DM Presentase 1 hari pakai = 3 mg / 13,3 mg x 100 = 22,5%

Dosis

untuk dewasa : Dosis Pemakaian : 1 x P = 1 mg x 4 = 4 mg 1 hp = 3 x 4mg = 12 mg DM Persentase : 1 hp = 12mg/40mg x 100 % = 30 %

Paracetamol = 125 mg x 12 = 1,5 g Dextromethorphan HBr = 10 mg x 12 = 120 mg CTM = 1 mg x 12 = 12 mg

Alkohol = 5 / 100 x 60 = 3 ml Kelarutan Paracetamol dalam etanol 1:7 x : 3 ml x = 3ml / 7 x 1 = 0,428 g Sisa Paracetamol 1,5 g 0,428 g = 1,072 g Propilenglikol 1 : 9 1,072 : x x = 1,072 x 9 /1 = 9,64 ml Aqua = 60ml (1,5 + 0,12 + 12 + 3 + 9,64 ) = 33,74 ml

1. Kalibrasi botol 60 ml 2. Ambil dan timbang bahan 3. Masukkan paracetamol kedalam beker glass tambahkan etanol 3 ml aduk hingga larut 4. Masukkan Propilenglikol 9,64 ml dalam larutan Paracetamol ad homogen, lalu masukkan kedalam botol

5. Masukkan CTM kedalam beker glass, lalu tambahkan aqua 5 ml, aduk ad larut masukkan kedalam botol 6. Masukkan Dextromethorphan HBr kedalam beker glass tambahkan aqua 10 ml aduk ad larut kemudian masukkan kedalam botol 7. Kemudian masukkan Sirup Simplek kedalam botol sebanyak 6 ml, lalu adkan dengan aqua sampai jumlah 60 ml. 8. Kocok sediaan sampai terlihat homogen.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om