Anda di halaman 1dari 39

REFERAT

HIV
Sanabila Yasmin M 03007231 Dokter Pembimbing: dr. Giri Aji Sp.Pd Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti RSUP Fatmawati

HIV AIDS
HIV( human imunodeficiency virus) CD4( pada sel darah putih biasanya limfosit) Nilai normal (1400-1500) Pada HIV jumlah CD4 TURUN

DEFINISI
Kumpulan gejala atau syndroma AIDS akibat (Acquired menurunnya imunodeficiency kekebalan virus) tubuh karena infeksi virus HIV

EPIDEMIOLO EPIDEMIOLOGI GI

ETIOLOGI

ETIOLOGI

HIV

: virus RNA berbentuk sferis yang termasuk retrovirus dari famili Lentivirus. Dua tipe HIV: HIV1 dan HIV 2. yang paling sering terjadi adalah HIV 1

STRUKTUR Struktur HIV HIV

envelope 2 lapisan lipid yang Berasal dari sel hospes Terdiri dari Gp 120 dari Gp 41 Mempunya fungsi terhadap afinitas Tinggi reseptor dan koreseptor CD4

inti/core Terdapat inti yang terbentuk capsid yang mengelilingi 2 helaian RNA Gen: gag, env, pol, tat, rev, nev,vif,vpr, vpu 3 buah enzim: reverse transcriptase, integrase, protease

CARA PENULARAN
Transmisi seksual
homoseksual

Cara penularan

Transmisi non seksual


Transmisi parentral: jarum suntik dan alat tusuk lainnya, darah/ produk darah

heteroseksual

Transmisi transplasental

Faktor Resiko Heteroseksual/HeterosexuaL

AIDS 12717

Homo-Biseksual/Homo-Bisexual

724

Transfusi Darah/Blood Transfusion

48

Transmisi Perinatal/Perinatal Trans.

628

Tak Diketahui/Unknown

772

WHO 1996 beberapa hal yang tidak bisa menularkan:

KONTAK FISIK MEMAKAI MILIK PENDERITA DIGIGIT NYAMUK ATAU BINATANG LAINNYA MENDONORKAN DARAH BAGI ORANG YANG SEHAT

Respon imun terhadap HIV


Reseptor Ag-TCR dengan kompleks Ag-molekul MHC Class II Makrofag Antigen presenting cell( APC)sitokin IL 1 Th IL 2 Aktivasi makrofag, CTLs dan sel limfosit B. Autoaktivasi terhadap sel Th awal atau sel Th yang belum memproduksi IL2.

CD 8 : Mmengikat sel yang terinfekai viruS HIV dan mengeluarkan perforin yang mengakibatkan kematian sel.

NK cell: limfosit dengan granula kasar sebagai petanda CD 16 dan CD56. menhancurkan langsung sel-sel asing, sel tumor, sel terinfeksi virus
Antibody dependent cell mediated cytotoxicity (ADCC)

Perjalanan penyakit hiv


HIV masuk ke tubuh
Oleh APC ke KGB regional

Virus bereplikasi di KGB


Viremia terdeteksi 1-3 minggu setelah infeksi - Demam - Ruam - Pembesaran KGB GEJALA INFEKSI HIV AKUT Terjadi pembentukan Ab, ditandai dengan viremia menurun Replikasi dalam keadaan steady state - Nyeri Menelan - Batuk - Diare

Manifestasi klinik

MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi oportunistik Candidiasis oral Manifestasi paruparu(pneumonia pneumocytics, CMV, mycobacterium tuberculosis, mycobacterium avilium) Manifestasi gastrointestinal ( nafsu makan, diare kronis, berat badan) Manifestasi neurologis Ensefalitis Meningitis

Manifestasi tumor Sarkoma kaposi Limfoma ganas

Demensia

Mielopati Neuropati perifer

DIAGNOSIS HIV AIDS

FAKTOR RISIKO Penjaja seks laki-laki atau perempuan Pengguna napza suntik Homoseksual atau lesbian Berhubungan seks tanpa pelindung Pernah atau sedang menderita penyakiut infeksi menular seksual Pernah mendapat tranfusi darah atau resipient produk darah Suntik, tato, tindik dengan menggunakan alat non steril

gejala mayor Berat badan turun lebih dari 10 % dalam 1 bulan Diare kronik yang berlangsung lebih dari 1 bulan Demam berkepanjangan lebih dari 1 bukan Penurunan kesadaran dan gangguan neurologi Demensia / ensefalopati HIV

GEJALA MINOR Batuk menetap lebih dari 1 bulan Dermatitis generalisata yang gatal Herpes Zooster berulang Kandidiosis Orofaring Herpes Simpleks kronis progresif Limfadenopati generalisata Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita

PEMERIKSAAN FISIK

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Deteksi virus: 1. menggunakan PCR unutk mendeteksi viral load 2. hitung jumlah limfosit Tes hitung jumlah CD 4: <200 Tes antibodi HIV 1. ELISA 2. Tes konfirmasi dengan menggunakan western Blot

STADIUM KLINIS HIV/AIDS


STADIUM 1: ASIMPTOMATIK
1. 2. Tidak ada penurunan berat badan Tidak ada gejala atau hanya : Limfadenopati Generalisata Persisten

STADIUM 2: SAKIT RINGAN


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Penurunan BB 5-10% ISPA berulang, misalnya sinusitis atau otitis Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir Luka di sekitar bibir (keilitis angularis) Ulkus mulut berulang Ruam kulit yang gatal (seboroik atau prurigo -PPE) Dermatitis seboroik Infeksi jamur kuku

STADIUM 3: SAKIT SEDANG


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Penurunan berat badan > 10% Diare, Demam yang tidak diketahui penyebabnya, lebih dari 1 bulan Kandidosis oral atau vaginal Oral hairy leukoplakia TB Paru dalam 1 tahun terakhir Infeksi bakterial yang berat (pneumoni, piomiositis, dll) TB limfadenopati Gingivitis/Periodontitis ulseratif nekrotikan akut Anemia (Hb <8 g%), netropenia (<5000/ml), trombositopeni kronis (<50.000/ml)

STADIUM 4: SAKIT BERAT

1. Sindroma wasting HIV 2. Pneumonia pnemosistis*, Pnemoni bakterial yang berat berulang 3. Herpes Simpleks ulseratif lebih dari satu bulan. 4. Kandidosis esophageal 5. TB Extraparu* 6. Sarkoma kaposi 7. Retinitis CMV* 8. Abses otak Toksoplasmosis* 9. Encefalopati HIV 10. Meningitis Kriptokokus* 11. Infeksi mikobakteria non-TB meluas

Penatalaksanaan

secara umum penatalaksanaan ODHA terbagi menjadi: Pengobatan untuk menekan replikasi virus HIV dengan obat antiretroviral (ARV). Pengobatan untuk mengatasi berbagai penyakit infeksi oportunistik dan kanker yang menyertai infeksi HIV/AIDS. Pengobatan suportif

Terapi Antiretroviral (ARV)


zidovudin, zalsitabin, stavudin, lamivudin, didanosin, abakavir

NRTI

NNRTI

evafirens dan nevirapin sakuinavir, ritonavir, nelvinavir, amprenavir

PROTEASE INHIBITOR

No 1

Nama Golongan NRTI (nucleoside reverse-

Fungsi penghambat kuat enzim

transcriptase inhibitor )

reversetranscriptase dari RNA menjadi DNA yang terjadi

sebelum penggabungan DNA virus dengan kromosom sel inang. 2 NNRTI (non-nucleoside inhibitor menghambat aktivitas enzim reverse-transcriptase mengikat secara dengan langsung

reverse-transcriptase (NNRTI)

tempat yang aktif pada enzim tanpa aktivasi sebelumnya. 3 PI (Protease Inhibitor ) menghambat enzim protease HIV yang dibutuhkan untuk

memecah prekursor poliprotein


virus dan membangkitkan

fungsi protein virus.

Nama Dagang Duviral

Nama Generik

Golongan

Sediaan Tablet, kandungan:

Dosis (per hari) 2x1 tablet

zidovudin 300mg,
lamivudin 150mg Stavir Zerit Hiviral 3TC Viramune Neviral Nevirapin (NVP) NNRTI Lamivudin (3TC) NsRTI Tablet 150mg Lar.oral 10mg/ml Tablet 200mg Stavudin (d4T) NsRTI Kapsul: 30mg, 40mg >60kg: 2x40mg <60kg: 2x30mg 2x150mg <50kg: 2mg/kg, 2x/hari 1x200mg selama 14 hari, dilanjutkan, 2x200mg Retrovir Adovi Avirzid Videx Didanosin (ddI) NsRTI Tablet kunyah: 100mg Zidovudin (ZDV, AZT) NsRTI Kapsul 100mg 2x300mg, atau 2x250mg (dosis alternative) >60kg: 2x200mg, atau 1x400mg <60kg: 2x125mg, atau 1x250mg Stocrin Nelvex Viracept Efavirenz (EFV, EFZ) Nelfinavir (NFV) NNRTI PI Kapsul 100mg Tablet 250mg 1x600mg, malam 2x1250mg

Stadium Klinis

Bila tersedia pemeriksaan CD4

Jika tidak tersedia pemeriksaan CD4

1 Terapi antiretroviral dimulai bila CD4 <200 2

Terapi ARV tidak diberikan

Bila jumlah total limfosit <1200

Jumlah CD4

200 350/mm3,

pertimbangkan terapi sebelum CD4 <200/mm3. Pada kehamilan atau TB: 3 Mulai terapi ARV pada semua ibu hamil dengan CD4 350 Mulai terapi ARV pada semua ODHA dengan CD4 <350 dengan TB paru atau infeksi bakterial berat Terapi ARV dimulai tanpa Terapi ARV dimulai tanpa

memandang jumlah limfosit total

memandang jumlah CD4

Obat ARV direkomendasikan:

Pada semua pasien yang telah menunjukan gejala yang termasuk dalam criteria diagnosis AIDS atau menunjukan gejala yang sangat berat tanpa melihat jumlah limfosit CD4+ Pada semua pasien asimptomatik dengan limfosit CD4+ kurang dari 200 sel/mm3

Pasien asimptomatik dengan limfosit CD4+ 200-350 sel/mm3 dapat ditawarkan untuk memulai terapi. Pada pasien asimptomatik dengan limfosit lebih dari 350 sel/mm3 dan viral load lebih dari 100.000 kopi/ml terapi ARV dapat dimulai, namun dapat pula ditunda.

Kombinasi ARV

Terapi ARV tidak dianjurkan dimulai pada pasien dengan limfosit CD4+ lebih dari 350 sel/mm3 dan viral load kurang dari 100.000 kopi/ml. Kondisi khusus: pengobatan profilaksis pada orang yang terpapar cairan tubuh yang mengandung virus HIV (post exposure prophylaxis) dan pencegahan penularan dari ibu ke bayi

INFEKSI OPORTUNISTIK
Infeksi oportunistik (IO) adalah infeksi yang timbul akibat penurunan kekebalan tubuh. Infeksi ini dapat timbul karena mikroba (bakteri, jamur, virus) yang berasal dari luar tubuh, maupun yang sudah ada dalam tubuh manusia namun dalam keadaan normal terkendali oleh kekebalan tubuh.

Cytomegalovirus (CMV) selain hati, limpa, atau kelenjar getah bening CMV, retinitis (dengan penurunan fungsi penglihatan) Ensefalopati HIV a Herpes simpleks, ulkus kronik (lebih dari 1 bulan), bronchitis, pneumonitis, atau esofagitis Histoplasmosis, diseminata atau ekstraparu Isosporiasis, dengan diare kronis (> 1 bulan) Kandidiasis bronkus, trakea, atau paru Kandidiasis esophagus Kanker serviks invasif Koksidioidomikosis, diseminata, atau ekstraparu Kriptokokosis, ekstraparu Kriptokosporidiosis, dengan diare kronis (> 1 bulan) Leukoensefalopati multifocal progresif Limfoma Burkitt Limfoma imunoblastik Limfoma primer pada otak Mycobacterium avium complex atau M. kansasii, diseminata atau ekstraparu Mycobacteriumi tuberculosis, di paru atau ekstraparu Mycobacteriumi spesies lain atau tak teridentifikasi, di paru atau ekstraparu Pneumonia Pneumocystis carinii Pneumonia rekuren b Sarkoma Kaposi Septikemia Salmonella rekuren Toksoplasmosis otak Wasting syndrome c

Terdapat gejala klinis gangguan kognitif atau disfungsi motorik yang mengganggu kerja atau aktivitas sehari-hari, tanpa dapat dijelaskan oleh penyebab lain selain infeksi HIV. Untuk menyingkirkan penyakit lain dilakukan pemeriksaan lumbal pungsi dan pemeriksaan pencitraan otak (CT scan atau MRI) b Berulang lebih dari satu episode dalam 1 tahun c Terdapat penurunan berat badan lebih dari 10% ditambah diare kronik (minimal 2 kali selama > 30 hari), atau kelemahan kronik dan demam lama (>30 hari, intermiten, atau konstan) tanpa dapat dijelaskan oleh penyakit/ kondisi lain (missal kanker, tuberkulosis, enteritis spesifik) selain HIV.

Daftar Pustaka

Djoerban Z, Djauzi S. HIV/AIDS di Indonesia. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S, eds. Buku ajar ilmu penyakit dalam. 4th ed. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI 2006

Djauzi S, Djoerban Z. Penatalaksanaan HIV/AIDS di pelayanan kesehatan dasar. Jakarta: Balai Penerbit FKUI 2002.
Aditama T. Tuberculosis Paru: Masalah dan Penanggulangannya. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2004. Danusantoso, Halim. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. Jakarta: Hipokrates. 2000. Fauci AS, Lane HC. Human Immunodeficiency Virus Disease: AIDS and related disorders. In: Kasper DL, Fauci AS, Longo DL, Braunwald E, Hause SL, Jameson JL. editors. Harrisons Principles of Internal Medicine. 17th ed. The United States of America: McGraw-Hill Kelompok Studi Khusus AIDS FKUI. In: Yunihastuti E, Djauzi S, Djoerban Z, editors. Infeksi oportunistik pada AIDS. Jakarta: Balai Penerbit FKUI 2005. Laporan statistik HIV/AIDS di Indonesia. 2009 [cited 2009 March 10]. Available at url: http://www.aidsindonesia.or.id Merati TP, Djauzi S. Respon imun infeksi HIV. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S, eds. Buku ajar ilmu penyakit dalam. 4th ed. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI 2006 Mustikawati DE. Epidemiologi dan pengendalian HIV/AIDS. In: Akib AA, Munasir Z, Windiastuti E, Endyarni B, Muktiarti D, editors. HIV infection in infants and children in Indonesia: current challenges in management . Jakarta: Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM 2009 Pedoman Nasional Terapi Antiretroviral. Panduan Tatalaksana Klinis Infeksi HIV pada orang Dewasa dan Remaja edisi ke-2, Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan 2007 UNAIDS-WHO. Report on the global HIV/AIDS epidemic 2010: executive summary. Geneva. 2010. Yayasan Spiritia. Sejarah HIV di Indonesia. 2009 [cited 2009 April 8]; Available from: http://spiritia.or.id/art/bacaart.php?artno=1040