Anda di halaman 1dari 32

ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

ARIF WAHYONO

ILMU KEDOKTERAN FORENSIK ( I.K.F )


Cabang spesialistik Ilmu Kedokteran, yang mem pelajari pemanfaatan dari Ilmu Kedokteran untuk membantu penyelesaian masalah hukum yang berkaitan dengan tubuh manusia dalam rangka penegakan hukum dan keadilan.

SEJARAH I.K.F
Dikenal sejak jaman dahulu Hammurabi code (Babylonia, 2000 SM) Peradilan kasus pembunuhan (Catatan tertua peradilan pidana Mesopotamia, 1850SM) Antitus (Forum di Roma atas pembunuhan Julisu Caesar, 44 SM) Hsi Yuan Lu (Buku pegangan para pemeriksa jenasah, Cina 1274 M)

ASAL KATA FORENSIK


FORUM = PASAR, tempat pertemuan di Romawi kuno untuk membahas pelbagai hal termasuk masalah peradilan Sekarang berkembang menjadi institusi peradilan (pengadilan)

PERKEMBANGAN KEDOKTERAN FORENSIK


Anthropometri kriminal dari Bertillon Anthropologi forensik
Hub. ukuran tulang paha dg tinggi badan dll Parturitas

Serologi forensiK
gol.darah pemeriksaan DNA

PELANGGARAN HUKUM DALAM MASYARAKAT


BANYAK RAGAM :
PENIPUAN PEMALSUAN PENGANIAYAAN PERLUKAAN PEMBUNUHAN KEMATIAN PERACUNAN KERACUNAN PERKOSAAN KEJAHATAN SEXUAL

PROSES PERADILAN PIDANA (pasal 15 KUHAP )


Empat tingkat acara pidana 1. PENYELIDIKAN POLRI 2. PENYIDIKAN POLRI 3. PENUNTUTAN J.P.U 4. PENGADILAN HAKIM 5. EKSEKUSI JAKSA & L.P.

PROSES PENYIDIKAN
KASUS PIDANA UMUM VISUM ET REPERTUM PENYIDIKNYA ADALAH POLISI.

PENYIDIK
PASAL 6 (1) KUHAP : PENYIDIK ADALAH :
PEJABAT POLISI NEGARA REPUBLIK INDONESIA PEJABAT PNS TERTENTU YG DIBERI WEWENANG KHUSUS OLEH UNDANGUNDANG

PASAL 11 KUHAP :
PENYIDIK PEMBANTU MEMPUNYAI WEWENANG SEPERTI TERSEBUT DALAM PASAL 7 (1), KECUALI MENGENAI PENAHANAN YANG WAJIB DIBERIKAN DENGAN PELIMPAHAN WEWENANG DARI PENYIDIK. MENDATANGKAN AHLI ATAU MEMINTA VISUM ET REPERTUM BOLEH DILAKUKAN PENYIDIK PEMBANTU.

YG BERHAK MINTA VISUM ET REPERTUM


PENYIDIK POLISI DAN PENYIDIK PEMBANTU POLISI PENYIDIK PNS TIDAK BERWENANG MEMINTA VISUM ET REPERTUM

PP NO 27 TAHUN 1983
PASAL 2 PP No 27 TAHUN 1983 (2) Penyidik adalah :
a.Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia tertentu yang sekurang-kurangnya berpangkat Pembantu Letnan Dua polisi (Ajun Inspektur Dua)

PASAL 3 PP No 27 TAHUN 1983


(2) Penyidik pembantu adalah :

a.Pejabat Polisi Negara RI tertentu yg sekurangkurangnya berpangkat Sersan Dua polisi; b.Pejabat PNS tertentu yg sekurang-kurangnya berpangkat Pengatur Muda (golongan II/a) atau yang disamakan dengan itu.

PASAL 2 (2) PP No 27 TAHUN 1983


(2) Dalam hal di suatu Sektor Kepolisian tidak ada pejabat penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a, maka Komandan Kepolisian yang berpangkat bintara di bawah Pembantu Letnan Dua Polisi, karena jabatannya adalah penyidik.

ARTINYA :
TIDAK SEMUA POLISI BERPANGKAT PELDA KE ATAS ADALAH PENYIDIK TIDAK SEMUA POLISI BERPANGKAT SERSAN ADALAH PENYIDIK PEMBANTU SETIAP KAPOLSEK PASTI PENYIDIK

SIAPA YANG BERHAK MELAKUKAN PEMERIKSAAN KEDOKTERAN FORENSIK ?


DOKTER AHLI KEDOKTERAN KEHAKIMAN ( Sp F )

DOKTER LAINNYA

DASAR HUKUM
PASAL 133 (1) KUHAP Penyidik Untuk kepentingan pengadilan Pada kasus luka, keracunan atau mati yang diduga karena Tindak Pidana Dapat meminta bantuan dokter ahli Kedokteran Kehakiman, dokter atau ahli lainnya.

PENJELASAN PASAL 133 (1) KUHAP


Keterangan dari ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli Sedangkan keterangan dari ahli lainnya hanya merupakan keterangan saja

KORBAN HIDUP, KORBAN MATI atau BAGIAN TUBUH MANUSIA


PERLU PEMERIKSAAN DOKTER UNTUK (pasal 133 (1) KUHAP) :
Penentuan ada atau tidaknya kelainan Penentuan penyebab kelainan Penentuan ada atau tidaknya hubungan sebab akibat Berat kelainan

KORBAN HIDUP
PERLUKAAN
PEMUKULAN dg TANGAN KOSONG PEMUKULAN dg KAYU PENUSUKAN dg PISAU PENEMBAKAN dg SENJATA API

PERACUNAN
PEMBERIAN ARSENIKUM

PERKOSAAN

BAGIAN TUBUH
KORBAN MUTILASI
Tubuh korban dipotong potong agar mudah dibuang dan menghilangkan jejak. Ciri tubuh dirusak agar tidak dapat dikenali

BAHAN BIOLOGIS DARAH


BERCAK MERAH DI T.K.P
benar darah atau tidak darah manusia atau hewan bila darah manusia darah siapa ?

BERCAK DI PAKAIAN
bercak mani atau bukan berasal dari siapa ?

RAMBUT

CARA MATI
AKIBAT KECELAKAAN
KLL Kecelakaan kerja

AKIBAT PEMBUNUHAN
Kekerasan tumpul Kekerasan tajam Tembakan senjata api

BUNUH DIRI
Minum racun serangga Gantung diri

AUTOPSI
Pemeriksaan forensik jenazah :
1. Pemeriksaan jenazah (PL) 2. Pemeriksaan bedah jenazah (PD)

Membuka semua rongga tubuh


Kepala Dada Perut dan Panggul

Memeriksa semau alat dalam tubuh

MACAM AUTOPSI
AUTOPSI ANATOMIK
Untuk kepentingan pendidikan dokter

AUTOPSI KLINIK
Untuk penelitian penyakit Efisiensi pengobatan Kepentingan asuransi

AUTOPSI FORENSIK
Untuk kepentingan peradilan

MENGAPA PERLU AUTOPSI


UNTUK MENENTUKAN

SEBAB MATI

YANG PASTI !

BILA TIDAK DILAKUKAN AUTOPSI, MAKA TIDAK DAPAT DITENTUKAN PENYEBAB KEMATIAN YANG PASTI

SURAT PERMINTAAN PEMERIKSAAN FORENSIK


Harus TERTULIS, diajukan oleh penyidik / penyidik pembantu JELAS mencantumkan jenis pemeriksaan yang diminta (pemeriksaan luka/mayat atau bedah mayat)

3 SIFAT PEMERIKSAAN FORENSIK


1. ILMIAH berdasaran kaidah ilmu 2. OBYEKTIF mengemukakan fakta
3. IMPARSIAL tidak memihak

MENOLAK PEMERIKSAAN KED. FORENSIK


Merupakan kewajiban hukum Jika dilalaikan oleh dokter: a. Penyidikan : penjara 9 bln (ps. 224 KUHP) b. Pengadilan : denda (ps. 522 KUHP)

PERBEDAAN KEDOKTERAN UMUM DAN KEDOKTERAN FORENSIK


KEDOKTERAN UMUM menyembuhkan PASIEN Subyektif, intuisi, hasrat MENYIMPAN rahasia kedokteran Kepentingan pasien

KED. FORENSIK membantu peradilan BARANG BUKTI Obyektif, tanpa emosi, logika MEMBUKA rahasia kedokteran Kepentingan penegakan hukum & keadilan

T K E A R S I I M H A !!!