Anda di halaman 1dari 28

Gangguan Afektif

Oleh M. Faisal Idrus

21-Jun-13

Pendahuluan
Mood / afek adalah suatu suasana / nada emosional yang disadari serta satu rangkaian kesatuan normal dari sedih atau gembira. Gangguan Mood /afektif adalah kharateristik dengan perasaan abnormal dari depresi atau euforia disertai gejala psikotik pada kasus-kasus yang berat

Bentuk Gangguan Mood


Dikenal ada dua bentuk gangguan mood yi : 1.Episode Depresi 2.Episode Mania Kedua bentuk ini merupakan kelanjutan dari keadaan normal ke bentuk patologik Pada beberapa pasien memberikan gambaran gejala psikotik

Gambaran Klinis Depresi

Gambaran Emosi - Mood depresi, sedih, murung - Anhedonia, kehilangan minat. - Kehilangan semangat. - Ikatan emosi berkurang - Menarik diri dari hubungan interpersonal - Preokupasi dengan ematian

Gambaran Kognitif - Otokritik, perasaan takberharga, bersalah - Pesimis, tak ada harapan, putus asa - perhatian mudah teralih, konsentrasi buruk. - Ragu-ragu. - obsesi - keluhan somatik - gangguan memori - gangguan waham dan halusinasi

Gambaran Vegetatif : - Lesu, tidak ada tenaga. - insomnia atau hipersomnia. - Anoreksia atau hipereksia - Penurunan atau penambahan B. Badan - Retardasi atau agitasi psikomotorik - Libido menurun - Variasi diurnal sering Tanda tanda depresi : - Berhenti dan lambat bergerak - Wajah sedih dab selalu berlinang iar mata - Kulit dan mulut kering. - konstipasi

Gambaran Klinis Mania

Gambaran Emosi : - Mood meningkat, euforia - Emosi Labil - Perubahan sementara yg cepat menjadi depresi akut - Irritabilitas,toleransi terhadap frustasi rendah - Menuntut dan egosentris.

Gambaran Kognitif - Harga diri meningkat, grandiositas. - bicara cepat dan membanjir (logorrhea) - Desakan pembicaraan (pressure of speech) - Lompat gagasan (flight of ideas) - Kadang-kadang inkoherensi - Daya nilai buruk, disorganisasi - Waham dan halusinasi.

Gambaran fisiologik - Tenaga Meningkat. - Insomnia, kebutuhan tidur berkurang - Nafsu makan menurun Tanda Mania - Agitasi psikomotorik

Proses Afektif Normal


Duka cita adalah perasaan disforik yg lebih dalam setelah kehilangan atau trauma berat yg dapat menimbulkan sindroma depresi lengkap, tetapi dengan berjalannya waktu gejala depresi dapat menghilang. Tidak ada proses manik patologik yang dapat diterima secara umum, meskipun beberapa individu ada yang bereaksi terhadap stressor dengan hipomanik.

Gangguan Afektif Ringan


1.

2.

Gangguan Distimik ditandai oleh : - perasaan sedih - susah tertidur - merasa lebih baik pada pagi hari dan rasa sedih sore dan malam hari - lebih banyak pada wanita (2-3 : 1), mulai usia 20 tahun Gangguan Siklotimik - memperlihatkan keadaan depresi dan hipomania, terpisah atau bercampur - perlangsungan sedikitnya 2 tahun - mulai pada usia 20 tahun

Etiologi

Biologik ditunjukkan oleh : a. Hormonal - pada depresi terjadi hiperaktivitas aksis hipotalamus-hipofiseadrenal menyebabkan peningkatan sekresi hormon cortisol, penurunan pelepasan hormon TSH, penurunan GH, FSH,LH, dan penurunan testosteron b. Kimiawi (neurotransmitter) - pada depresi terjadi penurunan biogenik amine (norepinefrin, serotonin,dopamin) - pada mania terjadi peningkatan aktivitas biogenik amine. - ditunjukkan oleh metabolik biogenik amin 5 HIAA (hydroxy indol acetic acid) dari serotonin,HVA (homovanilic acid) dari dopamin), MPHG (3-methoxy-4-hydroxyphenylglycol) dari norepinefrin di darah, urine, dan cairan serebrospinal.

Psikososial a. Teori Psikoanalitik - Freud menyatakan bahwa pada depresi terjadi kehilangan objek cinta, baik nyata maupun imajinasi, bereaksi dengan kemarahan yang tidak disadari dan kemudian diarahkan ke diri sendiri. Mania dipandang sebagai pertahanan terhadap yang mendasari depresi. b. Teori Kognitif - Aaron Beck menyatakan bahwa pada depresi terjadi distorsi persepsi (trias kognitif) yaitu : (a) pandangan negatif terhadap diri sendiri, (b) interpretasi negatif dari pengalaman hidup, (c) pandangan negatif terhadap masa depan.

Klasifikasi Gangguan Afektif


Menurut PPDGJ III dibedakan atas : 1. Gangguan Afektif Episode Mania 2. Gangguan Afektif Bipolar 3. Gangguan Afektif Episode Depresi 4. Gangguan Depresi Berulang 5. Gangguan Suasana Menetap 6. Gangguan Suasana Lainnya 7. Gangguan Suasana YTT

Klasifikasi Episode Manik


Dibedakan atas : 1. Hipomania 2. Mania Tanpa Gejala Psikotik 3. Mania Dengan Gejala Psikotik 4. Episode Manik Lainnya 5. Episode Manik YTT

Gangguan Afektif Episode Mania


1.
2.

Gangguan ini ditandai oleh adanya : Suasana perasaan yang meningkat Peningkatan dalam jumlah dan kecepatan aktivitas fisik dan mental Gangguan ini hanya digunakan untuk satu episode manik tunggal Bila ada episode afektif sebelum atau sesudahnya, maka dikategorikan sebagai Gangguan Afektif Bipolar

Kriteria Diagnostik Hipomania


Menurut PPDGJ III, yaitu : 1. Peningkatan ringan dari suasana perasaaan yg menetap selama beberapa hari berturut-turut 2. Peningkatan enersi dan aktivitas, berupa peningkatan kemampuan bergaul, bercakap, keakraban yang berlebihan, peningkatan enersi seksual, dan penurunan kebutuhan tidur.

Mania Tanpa Gejala Psikotik


Menurut PPDGJ III, yaitu : 1. Peningkatan suasana perasaan tidak sesuai dengan keadaan individu bervariasi antara keriangan (seolaholah bebas dari masalah apapun sampai keadaan eksitasi yang tidak terkendali 2. Peningkatan suasana perasaan (elasi) itu disertai peningkatan enersi sehingga terjadi aktivitas yang berlebihan, percepatan dan kebanyakan bicara, dan berkurangnya kebutuhan tidur 3. Keadaan tersebut telah berlangsung sekurangkurangnya satu minggu dan cukup berat sehingga mengacaukan seluruh atau hampir seluruh aktivitas, baik pekerjaan maupun sosial.

Mania Dengan Gejala Psikotik


Menurut PPDGJ III , yaitu : 1. Harga diri yang membumbung berkembang menjadi waham kebesaran, iritabilitas dan kecurigaan menjadi waham kejaran. 2. Aktivitas dan eksitasi fisik menjurus kepada agresi dan kekerasan, pengabaian makan, minum, dan kesehatan pribadi yg dapat berakibat dehidarasi dan kelalaian diri yang berbahaya. 3. Berdasarkan waham dan halusinasinya keadaan ini dibedakan atas : a. mood congruent (serasi afek), dan b. mood incongruent (tidak serasi afek)

Gangguan Afektif Bipolar


Dibedakan atas : 1. GAB Kini Episode Hipomania 2. GAB Kini Episode Manik Tanpa Gejala Psikotik 3. GAB Kini Episode Manik Dengan Gejala Psikotik 4. GAB Kini Episode Depresi Ringan atau Sedang 5. GAB Kini Episode Depresi Berat Tanpa Gejala Psikotik. 6. GAB Kini Episode Depresi Berat Dengan Gejala Psikotik 7. GAB Kini Episode Campuran. 8. GAB Kini dalam Remisi 9. GAB Lainnya 10. GAB YTT

Episode Depresi
Episode Depresi ditandai oleh : Gejala Utama : 1. Suasana perasaan yang depresif 2. Kehilangan minat dan kegembiraan 3. Berkurangnya enersi, mudah lelah dan berkurangnya aktivitas Gejala Tambahan : 1. Konsentrasi dan perhatian berkurang 2. Harga diri dan kepercayan diri berkurang 3. Perasaan bersalah dan tidak berguna 4. Pandangan masa depan suram 5. Gagasan dan perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri 6. Gangguan tidur 7. Nafsu makan berkurang

Klasifikasi Episode Depresi


Terdiri dari : 1. Episode Depresi 2. Episode Depresi 3. Episode Depresi Psikotik. 4. Episode Depresi Psikotik 5. Episode Depresi

Ringan Sedang Berat Tanpa Gejala


Berat Dengan Gejala Lainnya

Kriteria Diagnostik Depresi


Menurut PPDGJ III, yaitu : 1. Depresi ringan bila didapatkan 2 (dua) dari 3 (tiga) gejala utama ditambah sekurang-kurangnya 2 (dua) dari gejala tambahan. 2. Depresi sedang bila didapatkan 2 (dua) dari 3 (tiga) gejala utama ditambahkan sekurang-kurangnya tiga (sebaiknya empat) gejala tambahan. 3. Depresi berat bila didapatkan harus didapatkan ketiga gejala utama ditambahkan sekurang-kurangnya empat gejala tambahan, yang dibedakan atas : a. Episode depresi berat tanpa gejala psikotik b. Episode depresi berat dengan gejala psikotik

Gangguan Suasana Perasaan Menetap


1. Siklotimia ditandai oleh : - ketidakstabilan menetap suasana perasaan, meliputi banyak periode depresi ringan dan elasi ringan. Diantaranya tak ada yang cukup parah atau cukup lama untuk memenuhi kriteria gangguan afektif bipolar. 2. Distimia ditandai oleh : - suasana depresi yang berlangsung cukup lama yang tak pernah atau jarang sekali cukup parah untuk memenuhi kriteria gangguan depresi berulang ringan atau sedang, yang sudah berlangsung beberapa tahun.

Penatalaksanaan Depresi
1. Farmakologi : a. mulai dengan heterosiklik antidepresan (amitriptilin 25 mg, amoxapine 100 mg) dosis rendah dan monitor selama 2 3 minggu, biasanya respons mulai tampak dalam 4 minggu. b. bila tak ada respon dalam 4 minggu, coba berikan MAOI (meclobemide 150 mg) c. SSRI (fluoxetine, setraline) dipertimbangkan bila efek samping kolinergik perlu dihindari.

2.

Psikologik : a. terapi kognitif ditujukan untuk mengoreksi gangguan pikiran negatif. b. terapi perilaku didasarkan pada teori belajar (classical and operant conditioning) dengan pemberian penguatan positif. c. terapi supportif ditujukan memberikan dukungan emosional d. terapi kelompok ditujukan memperbaiki interaksi dan penyimpangan transferensi oleh anggota yang dalam kelompok. e. terapi keluarga ditujukan pada pasien depresi dengan gangguan stabilitas keluarga

Penatalaksanaan Mania
1.

Farmakologik - Bila hipomania a. berobat jalan (obat terplih lithium carbonat) dan kerjasama dengan keluarga b. pertimbangkan pemberian antipsikotik dosis rendah dan jangka pendek (haloperidol 2 5 mg/hari). - Bila Mania a. rawat dan perbaiki keadaan umum b. keadaan akut segera berikan anti psikotik dosis besar (haloperidol 10 40 mg selama 24 jam pertama) ditambahkan benzodiazepin pada tahap awal.bila tak teratasi, atasi dengan ECT c. bila terkontrol mulai pemberian lithium karbonat (3 x 300mg/hari) dosis terapi antara 900 2100 mg d. obat lain yang digunakan pada mania : carbamazepin (tegretol), valproat acid (depakene), verapamil (isoptin), clonidine (catapres), dan clonazepam (klonopin, rivotril)

2. Pskologik a. terapi kognitif meningkatkan kesadaran akan peningkatan kepatuhan pengobatan lithium. b. terapi perilaku sangat efektif selama pasien dirawat dalam membatasi impulsivitas dan perilaku yang tak semestinya dengan tehnik reinforcement positif dan negatif c. terapi psikoanalisa bermanfaat dalam penyembuhan dan stabilisasi, dan membantu pasien mengerti perlawanan dan kepatuhan pengobatan d. terapi supportif bermanfaat pada pasien kronik dengan gejala residual interperiodik e. terapi kelompok menolong dalam reintegrasi pasien secara sosial. f. terapi keluarga memperbaiki hubungan pasien dengan keluarganya dengan memberikan pengertian kepada keluarga tentang keadaan pasien