Anda di halaman 1dari 61

Presentasi Kasus Demam Tifoid

Stephanie Sofian 11.2011.104

Identitas
Nama lengkap : Nn. I Jenis kelamin : Perempuan

Tempat / tanggal lahir : Depok, 20 Maret 1990 Suku Bangsa : Sunda Status perkawinan : Belum Menikah Pekerjaan : Alamat : Cipayung RT 03/04 No. 56 Agama: Islam Pendidikan : SLTA Tanggal masuk RS: 24 Agustus 2012

Anamnesis
Diambil dari : Autoanamnesis Agustus 2012 Jam : 08.00 Tanggal : 25

Keluhan utama: Demam sejak 4 hari SMRS

Anamnesis
Riwayat Penyakit Sekarang : 3 hari SMRS pasien mengalami demam yang tidak diketahui nilainya karena pasien tidak mengukur dengan menggunakan thermometer. Demam yang dirasakan timbul mendadak dan demam berlangsung seringkali pada sore sampai pagi hari. Pasien mengatakan tidak ada sesak ketika bernapas. BAB frekuensi 1x/ hari, konsistensi lunak, warna coklat, tidak ada darah dan tidak ada lendir.

Anamnesis
2 hari SMRS pasien mengatakan masih demam. Pasien juga mengeluh perutnya terasa mual dan muntah, hal ini mengakibatkan nafsu makan pasien menjadi menurun. Dalam sehari pasien muntah sebanyak lebih dari 5 kali kira kira setiap muntah sebanyak gelas aqua. Pasien mengatakan bahwa tidak ada darah pada muntahannya. Pasien juga mengeluh BAB cair 1 kali, berwarna kuning, tidak ada darah, tidak ada lendir. Berobat ke RSSD namun menolak ranap hari itu.

Anamnesis
1 hari SMRS pasien masih merasakan demam. Keluhan mual masih ada dan kali ini disertai muntah berisi makanan yang dimakan, tidak ada darah pada muntahannya. Pasien akhirnya memutuskan untuk melakukan perawatan di RS Simpangan Depok.

Riwayat Penyakit Dahulu


(-) Cacar (-) Malaria (+) Cacar Air (-) Disentri (-) Difteri (-) Hepatitis (-) Batuk Rejan (-) Tifus Abdominalis (-) Campak (-) Skrofula (+) Influenza (-) Sifilis (-) Tonsilitis (-) Gonore (-) Khorea (-) Hipertensi (-) Demam Rematik Akut(-) Ulkus Ventrikuli (-) Pneumonia (-) Ulkus Duodeni (-) Pleuritis (-) Gastritis (-) Tuberkulosis (-) Batu Empedu Lain-lain : (-) Operasi (-) Kecelakaan (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) Batu ginjal/Sal.kemih Burut (Hemia) Penyakit Prostat Wasir Diabetes Alergi Tumor Penyakit Pembuluh Pendarahan Otak Psikosis Neurosis

Riwayat Keluarga
Hubungan Umur (Tahun) Jenis Kelamin Keadaan Kesehatan Kakek Nenek Ayah Tidak Ingat Tidak Ingat 60 Laki-laki Perempuan Laki-laki Sehat Sehat Sehat Penyebab Meninggal -

Ibu
Saudara

50
30 26 15

Perempuan
Perempuan Perempuan Laki-laki -

Sehat
Sehat Sehat Sehat -

Anak

Riwayat Keluarga
Penyakit Alergi Asma Tuberkulosis Artritis Rematisme Hipertensi Jantung Ginjal Lambung Ya Tidak Hubungan -

Anamnesis Sistem
Kulit (-) Bisul (-) Rambut (-) Keringat Malam (-) Petechie (-) Kuku (-) Kuning/Ikterus (-) Sianosis Kepala (-) Trauma (-) Sakit Kepala (-) Sinkop (-) Nyeri pada Sinus Mata (-) Nyeri (-) Radang (-) Sekret (-) Gangguan Penglihatan (-) Kuning/Ikterus (-) Ketajaman Penglihatan menurun

Anamnesis Sistem
Telinga (-) Nyeri (-) Tinitus (-) Sekret (-) Gangguan Pendengaran (-) Kehilangan Pendengaran Hidung (-) Trauma (-) Gejala Penyumbatan (-) Nyeri (-) Gangguan Penciuman (-) Sekret (-) Pilek (-) Epistaksis Mulut (-) Bibir kering (-) Lidah kotor (-) Gangguan pengecapan (-) Gusi berdarah (-) Selaput (-) Stomatitis

Anamnesis Sistem
Tenggorokan (-) Nyeri Tenggorokan (-) Perubahan Suara Leher (-) Benjolan (-) Nyeri Leher Dada ( Jantung / Paru paru ) (-) Nyeri dada (-) Sesak Napas (-) Berdebar (-) Batuk Darah (-) Ortopnoe (-) Batuk

Anamnesis Sistem
Abdomen ( Lambung Usus ) (-) Rasa Kembung (-) Perut Membesar (+) Mual (-) Wasir (+) Muntah (-) Mencret (-) Muntah Darah (-) Tinja Darah (-) Sukar Menelan (-) Tinja Berwarna Dempul (+) Nyeri Perut (-) Tinja Berwarna Ter (-) Benjolan Saluran Kemih / Alat Kelamin (-) Disuria (-) Kencing Nanah (-) Stranguri (-) Kolik (-) Poliuria (-) Oliguria (-) Polaklsuria (-) Anuria (-) Hematuria (-) Retensi Urin (-) Kencing Batu (-) Kencing Menetes (-) Ngompol (-) Penyakit Prostat

Anamnesis Sistem
Katamenia (-) Leukore (-) lain lain Saraf dan Otot (-) Anestesi (-) Parestesi (-) Otot Lemah (-) Kejang (-) Afasia (-) Amnesia (-) lain lain (-) Pendarahan

(-) Sukar Mengingat (-) Ataksia (-) Hipo / Hiper-esthesi (-) Pingsan (-) Kedutan (tick) (-) Pusing (Vertigo) (-) Gangguan bicara (Disartri)

Anamnesis Sistem
Haid Haid terakhir : 12 Agustus 2012 Jumlah dan lamanya : 2x ganti pembalut perhari, 3-6 hari Haid teratur Sedikit nyeri Menarche: Usia 12 tahun
Ekstremitas (-) Bengkak (-) Nyeri Sendi

(-) Deformitas (-) Sianosis

Anamnesis Sistem
Berat Badan : Berat badan rata rata (kg) : 63 Kg Berat tertinggi kapan (kg) : 65 Kg Berat badan sekarang : 62 Kg (bila pasien tidak tahu dengan pasti) Tetap (-) Turun (-) Naik (-)

Riwayat Hidup
Riwayat Kelahiran Tempat Lahir : (-) di rumah (+) Rumah Bersalin (-) R.S Bersalin Ditolong oleh : (-) Dokter (+) Bidan (-) Dukun (-) lain - lain Riwayat Makanan Frekuensi / Hari : 3 x sehari Jumlah / hari : porsi sedang Variasi / hari : bervariasi Nafsu makan : cukup

Riwayat Hidup
Pendidikan (-) SD (-) SLTP

(+) SLTA

(-) Akademi (-) Universitas (-) Tidak sekolah Kesulitan Keuangan : tidak ada Pekerjaan : tidak ada Keluarga : tidak ada Lain lain : -

(-) Sekolah Kejuruan (-) Kursus

Pemeriksaan Jasmani
Pemeriksaan Umum Tanggal 24 Agustus 2012 Keadaan Umum : Tampak sakit sedang Tinggi Badan : 165 cm Berat Badan : 62 kg Tekanan Darah: 110 / 80 mmHg Nadi : 100 x / menit Suhu: 38,2 C Pernafasaan : 22 x / menit Keadaan gizi : cukup (IMT=19.8) Kesadaran : compos mentis Sianosis : Udema umum : Habitus : Cara berjalan : wajar Mobilitas ( aktif / pasif ) : aktif Umur menurut taksiran pemeriksa : sesuai umur

Aspek Kejiwaan Tingkah Laku : wajar Alam Perasaan : biasa Proses Pikir : wajar Kulit Warna : sawo matang Jaringan Parut : (-) Pertumbuhan rambut : merata Suhu Raba : febris Keringat : Umum (+) Setempat (-) Lapisan Lemak : merata Lain-lain :-

Effloresensi : (-) Pigmentasi : merata Lembab/Kering: lembab Pembuluh darah: normal Turgor : normal Ikterus : (-) Oedem : (-)

Kelenjar Getah Bening Submandibula: tidak teraba membesar Leher : tidak teraba membesar Supraklavikula: tidak teraba membesar Ketiak : tidak teraba membesar Lipat paha : tidak teraba membesar Kepala Ekspresi wajah: normal, wajar Simetri muka : simetri Rambut : hitam Pembuluh darah Temporal : teraba pulsasi Mata Exophthalamus: tidak ada Enopthalamus : tidak ada Kelopak : oedem (-) Lensa : jernih Konjungtiva : anemis (-) Visus : normal Sklera : ikterik (-) Gerakan Mata : normal Lapangan penglihatan: normal Tekanan bola mata: normal Deviatio Konjugate: tidak ada Nistagmus : tidak ada

Telinga Tuli : -/Selaput pendengaran : utuh Lubang : +/+ Penyumbatan : tidak ada Serumen : -/Pendarahan : tidak ada Cairan : -/Mulut Bibir : tidak kering Tonsil : T1-T1 tenang Langit-langit : tidak bercelah Bau pernapasan : tidak khas Gigi geligi : tidak caries Trismus : tidak ada Faring : normal Selaput lendir : normal Lidah : tidak kotor Leher Tekanan Vena Jugularis (JVP) : 5 2 cm H2O. Kelenjar Tiroid : tidak tampak membesar. Kelenjar Limfe kanan : tidak tempak membesar

Dada Bentuk Pembuluh darah Buah dada Paru Paru Inspeksi :


Kiri Kanan

: simetris : tidak tampak vena kolateral : simetris, normal. Depan Belakang

: simetris dalam keadaan statis dan dinamis. : simetris dalam keadaan statis dan dinamis.

Palpasi Perkusi Auskultasi

: Fremitus kiri dan kanan sama, benjolan (-), nyeri tekan (-) : Sonor di kedua lapang paru : Suara nafas vesikuler, Ronkhi dan Wheezing negatif pada kedua lapang paru

Jantung Inspeksi Palpasi

: Tidak tampak pulsasi ictus cordis. : Teraba ictus cordis pada sela iga V 1 cm medial linea midklavikula kiri Perkusi : Batas kanan : sela iga V linea sternalis kanan. Batas kiri : sela iga V, 1cm sebelah medial linea midklavikula kiri. Batas atas : sela iga II linea parasternal kiri. Auskultasi : Bunyi jantung I-II murni reguler, Gallop (-), Murmur (-)

Pembuluh Darah Arteri Temporalis : teraba pulsasi Arteri Karotis : teraba pulsasi Arteri Brakhialis : teraba pulsasi Arteri Radialis : teraba pulsasi Arteri Femoralis : teraba pulsasi Arteri Poplitea : teraba pulsasi Arteri Tibialis Posterior : teraba pulsasi Arteri Dorsalis Pedis : teraba pulsasi Perut Inspeksi : simetris, datar, benjolan (-) Palpasi
Dinding perut: supel, nyeri tekan epigastrium (+), nyeri lepas(-) Hati : tidak teraba pembesaran Limpa : tidak teraba pembesaran Ginjal : Ballotement (-), nyeri ketok CVA (-)

Perkusi : timpani, shifting dullnes (-) Auskultasi : bising usus (+) normal Refleks dinding perut : positif

Anggota Gerak Lengan Otot Tonus Massa Sendi Gerakan Kekuatan Oedem Lain-lain Petechie

Kanan : : : : : : : : normotonus normal nyeri (-) aktif +5 (-) (-) (-)

Kiri normotonus normal nyeri (-) aktif +5 (-) (-) (-)

Tungkai dan Kaki Luka Varises Otot Tonus Massa Sendi Gerakan Kekuatan Oedem Lain-lain Petechie

: :

Kanan tidak ada tidak ada normotonus normal nyeri (-) aktif +5 (-) (-) (-)

Kiri tidak ada tidak ada normotonus normal


nyeri(-) aktif +5 (-) (-) (-)

: : : : : : : :

Refleks
Kanan Refleks Tendon Positif Kiri Positif

Bisep
Trisep Patela Achiles Kremaster Refleks Kulit Refleks Patologis

Positif
Positif Positif Positif Tidak dilakukan Positif Negatif

Positif
Positif Positif Positif Tidak dilakukan Positif Negatif

Laboratorium
Tanggal 23 Agustus 2012 Hematologi Hb : 12,6 g/dl L : 7.600 /uL Ht : 38 % T : 167.000 /uL Tanggal 24 Agustus 2012 Hematologi Hb : 14 g/dl L : 5.800 /uL Ht : 44 % T : 190.000 /uL Widal Test S. Thyposa S. Thyposa S. Parathyposa S. Parathyposa S. Parathyposa

O:H: 1/320 A:B: 1/320 C:-

Ringkasan
Wanita , 22 tahun, datang ke RS Simpangan Depok dengan keluhan demam 3 hari SMRS, demam berlangsung pada sore sampai malam hari. 2 hari SMRS demam belum turun ada mual, muntah, diare, dan nafsu makan berkurang. 1 hari SMRS demam, mual, muntah tetap, Pemeriksaan jasmani ditemukan : suhu 380C, Hasil pemeriksaan Lab : Hb: 12,6 g/dl, L: 7.600 /uL, Ht: 38 %, T: 167.000 /uL. Widal test: S. Thyposa H: 1/320

Diagnosis Kerja: Demam Typhoid

Diagnosis

Dasar diagnosis : demam 3 hari yang berlangsung pada sore hari, mual, muntah. Pemeriksaan widal test S. Thyposa H: 1/320.

Diagnosis Banding 1a. Demam Berdarah Dengue


Yang mendukung diagnosis dari anamnesis berupa: demam, mual dan muntah. Yang tidak mendukung diagnosis : , petechie -, Trombositopenia, Hematokrit meningkat, gusi berdarah.

1b. Malaria
Yang mendukung: demam, perut tidak enak, diare ringan, Yang tidak mendukung : Tidak ada trias malaria (menggigil, demam, berkeringat), tidak ada riwayat ke luar kota.

1c. Leptospirosis
Yang mendukung diagnosis dari anemnesis berupa demam, mual dan muntah. Yang tidak mendukung diagnosis: tidak ada hepatosplenomegali, tidak ada gejala ikterik.

Pemeriksaan yang dianjurkan


Pemeriksaan darah rutin, untuk melihat perkembangan penyakit. Kultur darah untuk menegakan diagnosis pasti.

Rencana Pengelolaan
Non farmakologis : - Tirah baring - Diet lunak Farmakologis : - IVFD RL 4 kolf / 24 jam - Paracetamol 3 x 500mg - Ceftriakson 1 x 2 gr dalam 100 cc NaCl - Ondansentron 2 x 4ml - Omeprazole 1 x 40 mg

Pencegahan
PENCEGAHAN PRIMER Menjaga kebersihan makanan atau minuman Menjaga sanitasi air dan kebersihan lingkungan. Imunisasi dengan vaksin yang dibuat dari strain Salmonella typhi yang dilemahkan PENCEGAHAN SEKUNDER Penemuan penderita maupun carrier secara dini melalui penigkatan usaha surveilans demam tifoid. Mengadakan pengobatan yang cepat dan tepat PENCEGAHAN TERSIER

Prognosis
Ad vitam : Ad bonam Ad functionam : Ad bonam Ad sanationam : Ad bonam

Follow Up
Tanggal 25 Agustus 2012 jam 09.00) S : kepala terasa pusing. O : TD: 100/60 mmHg Nadi: 80x/menit S : 37 RR : 20x/menit Kepala: Normocephali Mata: CA (-/-) SI (-/-) Leher: tidak ada pembesaran KGB dan tiroid Pulmonal: Suara nafas vesikuler, wheezing (-), ronki (-) Cor: BJ I-II reguler, gallop (-), murmur (-) Ekremitas: Akral hangat, tidak ada oedema. A : Demam tifoid P : Teruskan pengobatan

(Tanggal 26 Agustus 2012 jam 09.00) S : lemas, nyeri epigastrium. O : TD: 100/70 mmHg Nadi: 84x/menit S : 37,4 RR : 20x/menit Kepala: Normocephali Mata: CA (-/-) SI (-/-) Leher: tidak ada pembesaran KGB dan tiroid Pulmonal: Suara nafas vesikuler, wheezing (-), ronki (-) Cor: BJ I-II reguler, gallop (-), murmur (-) Ekremitas: Akral hangat, tidak ada oedema. A : Demam tifoid P : Teruskan pengobatan

(Tanggal 27 Agustus 2012 jam 09.00) S : O : TD: 110/70 mmHg Nadi: 80x/menit S : 36,5 RR : 20x/menit Kepala: Normocephali Mata: CA (-/-) SI (-/-) Leher: tidak ada pembesaran KGB dan tiroid Pulmonal: Suara nafas vesikuler, wheezing (-), ronki (-) Cor: BJ I-II reguler, gallop (-), murmur (-) Ekremitas: Akral hangat, tidak ada oedema. A : Demam tifoid dengan perbaikan gejala klinis P : Dapat menjalani pengobatan rawat jalan

Demam tifoid
Stephanie Sofian

Definisi
Demam tifoid disebut juga dengan Typus abdominalis atau typoid fever. Demam tipoid ialah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan (usus halus) dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran

Epidemiologi

Etiologi
Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi dari Genus Salmonella. Bakteri ini berbentuk batang, gram negatip, tidak membentuk spora, motil, berkapsul dan mempunyai flagella (bergerak dengan rambut getar). Bakteri ini dapat hidup sampai beberapa minggu di alam bebas seperti di dalam air, es, sampah dan debu. Bakteri ini dapat mati dengan pemanasan (suhu 600C) selama 15 20 menit, pasteurisasi, pendidihan dan khlorinisasi .

Patofisiologi

Diagnosis
Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibanding dengan penderita dewasa. Masa inkubasi rata-rata 10 14 hari. Pada minggu pertama gejala klinis penyakit ini ditemukan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya, yaitu: demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak perut, batuk dan epistaksis.

Pemeriksaan Fisik
Suhu badan meningkat Sifat demam adalah meningkat perlahan lahan dan terutama pada sore hingga malam hari. Dalam minggu kedua gejala menjadi lebih jelas berupa: demam, bradikardi, lidah berselaput, hepatomegali, splenomegali, meteroismus.

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Darah Rutin Pada pemeriksaan darah perifer lengkap dapat ditemukan leukopenia, dapat pula terjadi kadar leukosit normal atau leukositosis. Leukositosis dapat terjadi walaupun tanpa disertai infeksisekunder. Selain itu pula dapat ditemukan anemia ringan dan trombositopenia. Pada pemeriksaan hitung jenis leukosit dapat terjadi aneosinofilia maupun limfepenia. Laju endapdarah pada demam tifoid dapat meningkat

Pemeriksaan SGOT dan SGPT SGOT dan SGPT seringkali meningkat, tetapi akan kembali menjadi normal setelah sembuh.Kenaikan SGOT dan SGPT tidak memerlukan penanganan khusus.

Uji Widal Uji widal dilakukan untuk deteksi antibodi terhadap kuman S.typhi. Pada uji widal terjadi suatu reaksi aglutinasi antara antigen kuman S.typhi dengan antibodi yang disebut aglutinin. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Maksud uji widal adalah menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita tersangka demam tifoid.

Akibat infeksi oleh S.typhi, pasien membuat antibodi( aglutinin ) yaitu :


Aglutinin O, yaitu dibuat karena rangsangan antigen O ( berasal dari tubuh kuman ) Aglutinin H, karena rangsangan antigen H ( berasal dari flagela kuman ) Aglutinin Vi, karena rangsangan antigen Vi ( berasal dari simapi kuman )

Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang digunakan untuk diagnosisdemam tifoid. Makin tinggi titernya makin besar kemungkinan menderita demam tifoid.

Tatalaksana Demam Tifoid


Istirahat Diet dan terapi simptomatik Pemberian Antimikroba

Tatalaksana Demam Tifoid >>Istirahat


Tujuan: mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. Tirah baring dan perawatan profesional Segala kegiatan sebaikanya dilakukan di tempat. Posisi pasien perlu diawasi untuk mencegah dekubitus dan pneumonia.

Tatalaksana Demam Tifoid >> Diet dan Terapi Suportif


Tujuan: mengembalikan rasa nyaman dan kesehatan pasien secra optimal Beberapa penelitian nenujukan pemberian makanan padat dini yaitu nasi dengan lauk pauk rendah selulosa aman diberikan pada pasien tifoid.

Tatalaksana Demam Tifoid >> Pemberian Antimikroba


Kloramfenikol
Dosis: 4 x 500 mg/ hari IV atau oral. Diberikan sampai 7 hari bebas panas.

Tiamfenikol
Dosis: 4 x 500 mg/ hari IV atau oral. Komplikasi hematologi (anemia aplastik) lebih rendah dari pada kloramfenikol.

Tatalaksana Demam Tifoid >> Pemberian Antimikroba


Kotrimoksazol
Dosis: 2 x 2 tablet 1 tablet mengandung sulfametoksazol 400 mg dan trimetoprim 80 mg Diberikan selama 2 minggu

Sefalosporin generasi ke tiga


Golongan sefalosporin yang terbukti efektif adalah seftriakson Dosis: 3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc diberikan selama jam per infus sekali sehari Diberikan selama 3 5 hari

Tatalaksana Demam Tifoid >> Pemberian Antimikroba


Golongan Fluorokuinolon
Norfloksazin 2 x 400 mg/ hari selama 14 hari Siprofloksazin 2 x 500 mg/ hari selama 6 hari Ofloksazin 2 x 400 mg/ hari selama 7 hari Perfloksazin 400 mg/ hari selama 7 hari Fleroksazin 400 mg/ hari selama 7 hari

Kombinasi Antimokroba
Kombinasi 2 antibiotik hanya pada keadaan tertentu antara lain toksik tifoid, peritonitis serta syok septik

Komplikasi Demam Tifoid


Komplikasi Intestinal: pendarahan usus, perforasi usus, ileus paralitik, pankreatitis. Komplikasi ekstra-intestinal.
Komplikasi kardiovaskular: gagal sirkulasi perifer, miokarditis, tromboflebitis. Komplikasi darah: anemia hemolitik, trombositopenia, KID, trombosis. Komplikasi paru: pneumonia, empiema, pleuritis. Komplikasi hepatobilier: hepatitis, kolesistitis. Komplikasi ginjal: glomerulonefritis, pielonefritis. Komplikasi tulang: osteomielitis, periostitis, spondilitis, artritis. Komplikasi neuropsikiatrik/ toksik tifoid.

Pencegahan Demam Tifoid


Identifikasi dan eradikasi Salmonela typhi pada pasien tifoid Asimtomatik. Karier dan Akut
Dapat dilakukan baik sacara aktif maupun pasif.

Pencegahan transmisi langsung dari pernderita terinfeksi akut maupun karier.


Pencegahan ini dilakukan di rumah sakit, klinik maupun di rumah dan lingkungan sekitar yang diketahui pengidap kuman Salmonela typhi .

Proteksi orang orang yang beresiko tinggi tertular dan terinfeksi.


Dengan cara vaksin tifoid.

Pencegahan Demam Tifoid Tindakan berdasarkan lokasi daerah


Daeran non endemik. Tanpa ada kejadian epidemi.
Sanitasi air dan kebersihan lingkungan. Penyaringan pengelola pembuatan/ distributor/ penjualan makanan minuman.

Bila ada kejadian epidemi.


Pencarian dan eliminasi sumber penularan. Pemeriksaan air minum dan mandi-cuci-kakus Penyuluhan higiene dan sanitasi pada populasi umum daerah tersebut.

Pencegahan Demam Tifoid Tindakan berdasarkan lokasi daerah Daerah endemik


Memasyarakatkan pengelolaan bahan makanan dan minuman yang memenuhi standar prosedur kesehatan (perebusan >57C, iodisasi dan klolinisasi) Pengunjung ke daerah ini harus meminum air yang telah memalui pendidihan, menjauhi makanan segar (sayur/buah) Vaksinasi secara menyeluruh pada masyarakan setempat maupun pengunjung.