Anda di halaman 1dari 7

DAMPAK KONVERGENSI IFRS terhadap PERPAJAKAN

Sayid Reza Helmi 0901103010078

Pendahuluan
Sejak tahun 2008 IAI melakukan konvergensi IFRS ke dalam PSAK Perubahan bertujuan menyamakan bentuk laporan keuangan di Indonesia dengan negara lain. Konvergensi ini menyebabkan perubahan dalam laporan keuangan yang pastinya berdampak terhadap perpajakan. Terdapat beberapa perbedaan antara IFRS dengan Undang-undang pajak.

Pembahasan
PSAK no. 16, tentang aset tetap menyebutkan bahwa nilai aset tetap disajikan pada nilai wajarnya. Artinya perusahaan perlu melakukan revaluasi secara berkala. Berdasarkan pasal 5 PMK 79/PMK.03/2008 nilai selisih dari revaluasi tersebut dikenakan pajak final 10%.

PSAK no. 1, laporan laba rugi menyajikan semua keuntungan, kerugian dan beban dari operasional perusahaan. Sedangkan dalam perpajakan perlu dilakukan koreksi fiskal terhadap undag-undang perpajakan

PSAK no. 10, tentang pengaruh nilai tukar valuta asing dalam IFRS bisa menggunakan mata uang fungsional sebagai pengukuran. Dalam perpajakan hanya bisa menggunakan rupiah dan dollar amerika.

PSAK no. 13, properti yang digunakan pada operating lease diklasifikasikan dan dicatat sebagai properti investasi. Sedangkan pada perpajakan tidak membedakan properti investasi dari aktiva tetap, pengalihan tanah dan/bangunan dikenakan pajak penghasilan final.

Kesimpulan
Laporan keuangan fiskal mengacu pada undang-undang pajak yang berlaku. Perbedaan laporan keuangan fiskal dengan laporan keuangan komersial memerlukan koreksi fiskal. Dengan perubahan laporan keuangan komersial menjadi berstandar IFRS, undang-undang pajak juga harus menyesuaikan perubahan tersebut. Ditjen pajak sedang melakukan koordinasi dengan IAI dalam hal penyesuaian peraturan pajak ini.