Anda di halaman 1dari 72

Presentasi Kasus

Presentan

Selena Christy
FK UKRIDA 11 2011 067
Moderator

Dr. A. Chalim Sp.S

Identitas Pasien
Nama / Usia : Tn. H / 50 tahun Pekerjaan : PNS Agama : Islam Status Pernikahan : Menikah Suku Bangsa : Jawa Tanggal Masuk : 30 Mei 2013 Dirawat ke : Pertama Tanggal Pemeriksaan: 10 Juni 2013

Anamnesa
Auto dan Alloanamnesa Tanggal 10 Juni 2013 Pk. 08.30 WIB

Anamnesa
Keluhan Utama: Kejang di daerah mulut 1 jam sebelum masuk rumah sakit. Keluhan Tambahan: Nyeri kepala yang hilang timbul sejak lebih dari 3 bulan sebelum masuk rumah sakit.

Anamnesa
Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke RSPAD Gatot Soebroto dengan keluhan kejang pada bagian mulut satu jam sebelum masuk rumah sakit. Kejang dirasakan selama 5 menit di sekitar mulut dan tidak terasa pada bagian lain. Saat kejang lidah pasien tergigit sehingga terluka dan mengeluarkan darah. Pasien merasakan banyak air liur yang keluar dan sulit untuk berbicara.

Anamnesa
Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien juga mengaku nyeri kepala telah dirasakan sejak satu tahun yang lalu dan memberat sejak 3 bulan sebelum masuk rumah sakit. Nyeri kepala awalnya hanya ringan dan di satu titik saja dan hilang timbul, namun lama kelamaan berlangsung semakin lama dan nyeri juga dirasakan bertambah. Nyeri kepala lebih dirasakan saat pagi hari dibandingan dengan sore dan malam hari.

Anamnesa
Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien dan keluarga menyangkal adanya mual, muntah, riwayat pingsan atau kesadaran berkurang. Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien lebih susah diajak berkomunikasi dibandingkan sebelum adanya keluhan ini. Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien memang sulit mendengar karena pasien pernah mengalami keluar cairan dari telinganya kurang lebih 4 tahun yang lalu.

Anamnesa
Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien menyangkal adanya nyeri pada bagian wajah, pilek maupun nyeri menelan. Pasien juga menyangkal pernah mengalami benturan dibagian kepala, demam sebelumnya, gangguan menelan, gangguan pengecapan, BAB dan BAK. Keluhan seperti ini baru kali ini dirasakan oleh pasien.

Anamnesa
Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat keluarnya cairan kekuningan dari telinga sebelah kanan 4 tahun yang lalu. Hal yang sama pernah terjadi juga pada telinga kirinya saat pasien masih kecil. Riwayat hipertensi, diabetes melitus, asma, alergi, stroke dan penyakit jantung disangkal.

Anamnesa
Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat hipertensi, diabetes melitus, asma, alergi, stroke dan penyakit jantung disangkal.

Anamnesa
Riwayat Kebiasaan

Merokok sejak usia 13 tahun sampai saat ini 23 bungkus (isi 12) dalam sehari. Minum kopi 4-5 gelas dalam sehari

Pemeriksaan Fisik
Status Internus

Keadaan Umum Kesadaran Tekanan Darah Frekuensi Nadi Frekuensi Nafas Suhu Tubuh Gizi

: Tampak Sakit Sedang : Compos Mentis : 120/80 mmHg : 74 kali/menit : 20 kali/menit : 37oC : Baik

Pemeriksaan Fisik
Status Internus
Mata :
Conjuctiva Anemis (-/-); Sklera Ikterik (-/-); Refleks Cahaya (+/+), Pupil Isokor

THT :
Pendengaran menurun (+/+)

Mulut :
Tampak lidah bekas tergigit

Leher :
Kelenjar getah bening tidak teraba

Toraks :
Simetris saat statis dan dinamis

Pemeriksaan Fisik
Status Internus

Cor :
Bunyi jantung I-II reguler, murmur (-); gallop (-)

Pulmo :
Suara nafas dasar vesikuler (+/+); rhonki (-/-); wheezing (-/-)

Abdomen :
Datar, lemas, nyeri tekan (-); bising usus (+) normal

Ekstremitas :
Hangat, Edema (-)

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologi

Kesadaran : Compos Mentis GCS : E4 M6 V5 ( 15 ) Sikap tubuh : Tegap Cara berjalan : Baik Gerakan abnormal : Tidak ada

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologi

Kepala Bentuk Simetris Pulsasi Nyeri tekan

: Normocephali : Simetris : Teraba pulsasi A.temporalis Dextra dan Sinistra : Tidak ada

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologi

Leher Sikap Gerakan Vertebra Nyeri tekan

: Normal : Bebas ke segala arah : Dalam batas normal : Tidak ada

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologi

Tanda Rangsang Meningeal Kaku kuduk : (-) Laseque : (-/-) Kerniq : (-/-) Brudzinsky I : (-/-) Brudzinsky II : (-/-)

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologi
Nervi Cranialis N. I ( Olfaktorius) Daya penghidu : Normosmia N. II (Opticus) Ketajaman Pengenalan warna Lapang pandang Funduscopy

: Baik : Baik : Baik : Tidak dilakukan

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologi

N. III, IV, VI (Occulomotorius, Trochlearis, Abducens) Ptosis : Tidak ada Strabismus : Tidak ada Nistagmus : Tidak ada Exophtalmus : Tidak ada Enophtalmus : Tidak ada

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologi
N. III, IV, VI (Occulomotorius, Trochlearis, Abducens) Gerakan bola mata : Baik ke segala arah Pupil Ukuran pupil : 3 mm Bentuk pupil : Bulat Isokor/anisokor : Isokor Posisi : Sentral Rf cahaya langsung : (+/+) Rf cahaya tdk langsung : (+/+) Rf akomodasi/konvergensi: (+/+)

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologi
N. V (Trigeminus) Menggigit : (+) Membuka mulut : Simetris Sensibilitas Atas : (+) Tengah : (+) Bawah : (+) Rf masester : Tak dilakukan Rf zigomatikus : Tak dilakukan Rf cornea : Tak dilakukan Rf bersin : Dalam batas normal

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologi

N. VII (Facialis) Pasif Kerutan kulit dahi Kedipan mata Lipatan nasolabial Sudut mulut

: Simetris kanan dan kiri : Simetris kanan dan kiri : Simetris kanan dan kiri : Simetris kanan dan kiri

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologi
N. VII (Facialis) Aktif Mengerutkan dahi : Simetris kanan dan kiri Mengerutkan alis : Simetris kanan dan kiri Menutup mata : Simetris kanan dan kiri Meringis : Simetris kanan dan kiri Menggembungkan pipi : Simetris kanan dan kiri Gerakan bersiul : Dapat melakukan Daya pengecapan lidah 2/3 depan : Baik Hiperlakrimasi : Tidak ada Lidah kering : Tidak ada

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologi

N. VIII ( Acusticus ) Mendengar gesekan jari tangan : Sulit dinilai Mendengar detik arloji : Sulit dinilai Tes Schawabach : Tidak dilakukan Tes Rinne : Tidak dilakukan Tes Weber : Tidak dilakukan

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologi

N. IX ( Glossopharyngeus ) Arcus pharyx : Simetris Posisi uvula : Di tengah Daya pengecapan lidah 1/3 belakang : Baik Refleks muntah : Tidak dilakukan

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologi

N. X ( Vagus ) Denyut nadi Arcus faring Bersuara Menelan

: Teraba,reguler : Simetris : Normal : Tidak ada gangguan

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologi
N. XI ( Accesorius ) Memalingkan kepala Sikap bahu Mengangkat bahu

: Normal : Simetris : Dapat dilakukan

N.XII ( Hipoglossus ) Menjulurkan lidah : Tidak ada deviasi Kekuatan lidah : Dalam batas normal Atrofi lidah : Tidak ada Artikulasi : Jelas Tremor lidah : Tidak ada

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologi

Motorik Gerakan : Baik dan bebas pada keempat ekstremitas Tonus : Normotonus pada keempat ekstremitas Bentuk : Eutrofi pada keempat ekstremitas Kekuatan: 5555 5555 5555 5555

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologi
Reflek Fisiologis Refleks Biseps : (+/+) Refleks Triseps : (+/+) Refleks Patella : (+/+) Refleks Archilles : (+/+) Refleks Periosteum: (-/-) Refleks Permukaan Dinding perut Cremaster Spinchter Anii : : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologi
Refleks Patologis Hoffmann Tromner Babinzki Chaddock Oppenheim Gordon Schaefer Rosolimo Mendel Bechterew Klonus patella Klonus achilles

: (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-)

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologi
Sensibilitas Eksteroseptif : Nyeri : Baik Suhu : Baik Taktil : Baik Propioseptif : Vibrasi : Baik Posisi : Baik Tekan dalam: Baik

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologi
Koordinasi dan Keseimbangan Tes romberg : (-) Tes Tandem : (-) Tes Fukuda : (-) Disdiadokenesis : (-) Rebound phenomen : (-) Dismetri : (-) Tes telunjuk hidung : Dalam batas normal Tes telunjuk telunjuk : Dalam batas normal Tes tumit lutut : Dalam batas normal

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologi

Fungsi Otonom Miksi Inkotinensia Retensi Anuria Defekasi Inkotinensia Retensi

: Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

: Tidak ada : Tidak ada

Pemeriksaan Fisik
Status Neurologi

Fungsi Luhur Fungsi bahasa Fungsi orientasi Fungsi memori Fungsi emosi Fungsi kognisi

: Sulit dinilai : Baik : Sulit dinilai : Baik : Sulit dinilai

Pemeriksaan Penunjang
Darah Lengkap Tanggal 30 Mei 2013 Hemoglobin: 14,9 g/dL Hematokrit: 44 % Eritrosit : 5,3 juta/L Leukosit : 9000 /L Trombosit : 319000 /L MCV : 83 fL MCH : 28 pg MCHC : 34 g/dL Pemeriksaan Darah Ta Ureum : 22 mg/dL Kreatinin : 1,1 mg/dL GDS : 95 mg/dL Natrium : 143 mmol/L Kalium : 4,0 mmol/L Klorida :104 mmol/L

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Darah Tanggal 3 Juni 2013 Bilirubin total : 0,92 mg/dL Fosfatase Alkali : 91 U/L SGOT : 24 U/L SGPT : 34 U/L Gamma-GT : 51 U/L Protein Total : 7,4 g/dL Albumin : 4,5 g/dL Globulin : 2,0 g/dL Kolesterol Total : 235 mg/dL Trigliserida : 150 mg/dL HDL : 49 mg/dL LDL : 156 mg/dL Ureum : 38 mg/dL Kreatinin : 1,2 mg/dL Natrium : 146 mmol/L Kalium : 3,2 mmol/L Klorida : 106 mmol/L Anti HIV Rapid: Non Reaktif

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Darah Tanggal 4 Juni 2013 PT : 10,5 detik APTT : 30,0 detik

Tanggal 5 Juni 2013 Hemoglobin: 14,8 g/dL Hematokrit: 42 % Eritrosit : 5,2 juta/L Leukosit : 8800 /L Trombosit : 259000/L MCV : 82 fL MCH : 29 pg MCHC : 35 g/dL

Pemeriksaan Penunjang
CT Scan kepala tanpa kontras tanggal 30 Mei 2013 Kesan: Lesi solid dengan bercak perdarahan disertai perfokal edema berukuran 3,10 x 2,49 x 2,49 cm (estimasi volume 9,1 cc) melekat pada kalvaria parietalis kiri. Sinusitis maksilaris kiri dan ethmoidalis bilateral.. Mastoiditis khronis bilateral.

Foto thorax tanggal 30 Mei 2013 Kesan: Bronchopneumonia

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Penunjang

Hasil Konsultasi
Departemen Bedah Saraf Kesan: Tumor regio parietal sinistra dd/ abcess Anjuran: Direncanakan kraniotomi removal tumor

Hasil Konsultasi
Departemen Telinga, Hidung dan Tenggorok Kesan:
Tonsilofaringitis kronis dan Otitis Media Serosa Kronis Telinga Kanan dan Kiri Aktif. Sinusitis kronis pada sinus maksilaris sinistra dan ethmoidalis bilateral

Anjuran:
Rawat bersama dengan bagian otologi. Pemberian antibiotik + H2O2 3% + Terivid gtt ADS

Hasil Konsultasi
Departemen Paru Kesan: Community Acquired Pneumonia (CAP) Anjuran: Terapi dengan Ceftriaxon 1x2gr, Ambroxol Syrup 3x1. Rencana cek AGD, Sputum BTA

Hasil Konsultasi
Departemen Penyakit Dalam Kesan: Tumor Fronto Parietal Sinistra. Anjuran: Toleransi operasi sedang-berat.

Hasil Konsultasi
Departemen Jantung Kesan: Stabil. Anjuran: Resiko operasi ringan.

Resume
Anamnesa Pria usia 50 tahun datang dengan keluhan kejang di mulut satu jam SMRS. Saat kejang lidah pasien tergigit sehingga terluka. Pasien merasakan banyak air liur yang keluar dan sulit untuk berbicara. Pasien juga mengaku nyeri kepala telah dirasakan sejak satu tahun yang lalu dan memberat sejak 3 bulan sebelum masuk rumah sakit. Nyeri kepala awalnya ringan, namun lama kelamaan berlangsung semakin lama dan nyeri bertambah. Nyeri kepala lebih dirasakan saat pagi hari dibandingan dengan sore dan malam hari.

Resume
Anamnesa Mual(-) muntah (-) riwayat penurunan kesadaran (-). Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien susah diajak berkomunikasi dibandingkan sebelum adanya keluhan-keluhan ini. Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien memang sulit mendengar karena pasien pernah mengalami keluar cairan dari telinganya 4 tahun yang lalu.

Resume
Pemeriksaan fisik Status Internus Keadaan Umum Kesadaran Tekanan Darah Frekuensi Nadi Frekuensi Nafas Suhu Tubuh Gizi THT

: Dalam batas normal : Tampak Sakit Sedang : Compos Mentis : 120/80 mmHg : 74 kali/menit : 20 kali/menit : 37oC : Baik : Pendengaran menurun ADS

Resume
Status Neurologis Glasgow Coma Scale Tanda Rangsang Meningeal Nervi Cranialis Sensibilitas Motorik Koordinasi & Keseimbangan Fungsi Luhur Sistim Saraf Otonom

: E4 M6 V5, 15 : (-) : N.VIII sulit dinilai : Dalam batas normal : Dalam batas normal : Dalam batas normal : Fungsi bahasa, memori dan kognisi sulit dinilai. : Dalam batas normal

Diagnosis
Diagnosis Klinis Status konvulsius, Cephalgia, OMSK kronis aktif Diagnosis Topis Lobus Parietalis Sinistra Diagnosis Etiologi Space Occupying Lesion (SOL) et causa tumor lobus parietal sinistra

Penatalaksanaan
Non-medikamentosa : Anjuran tidur dengan posisi kepala ditinggikan 20-30o Rencana pembedahan dan alih rawat oleh TS Bedah Saraf

5B Breathe : Awasi jalan nafas pasien dan frekuensi pernafasannya. Blood : Awasi tekanan darah tetap stabil Brain : Awasi tanda-tanda penurunan kesadaran yang tiba-tiba Bowel : Awasi diet pasien. Bladder : Awasi jumlah urin yang keluar.

Penatalaksanaan
Medikamentosa :
Citicoline 500 mg IV 2x1 Fenitoin tab 3x1 Folic Acid tab 1x1 Asam traneksamat 500 mg tab 3x1 Asam mefenamat 500 mg tab 3x1 Terapi Sinusitis dan OMSK sesuai dengan TS THT

Prognosis
Quo Ad Vitam : Dubia Ad Bonam Quo Ad Functionam : Dubia Ad Bonam Quo Ad Sanationam : Dubia Ad Malam Quo Ad Cosmeticum: Ad Bonam

Analisis Kasus
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

Analisis Kasus
Pasien datang dengan keluhan kejang pada bagian mulut. Saat kejang lidah pasien tergigit sehingga terluka dan mengeluarkan darah. Epilepsi atau kejang dapat terjadi pada 30 persen pasien dengan tumor otak. Kejang berupa kejang umum, fokal, atau fokal berkembang menjadi umum. Pada pasien ini kejang yang terjadi merupakan kejang fokal atau bangkitan parsial dimana terjadi hanya pada satu bagian saja.

Analisis Kasus
Bila tumor intrakranial terletak di lobus parietalis dan dekat dengan area motorik dapat timbul kejang fokal. Bangkitan kejang dapat merupakan gejala awal dari tumor otak pada 25% kasus, dan lebih dari 35% kasus pada stadium lanjut. Diperkirakan 2% penyebab bangkitan kejang adalah tumor otak. Bangkitan kejang ditemui pada 70% tumor otak dikorteks, 50% pasen dengan astrositoma, 40% pada pasien meningioma, dan 25% pada glioblastoma.

Analisis Kasus
Nyeri kepala sejak satu tahun yang aawalnya ringan dan semakin memberat sejak 3 bulan yang lalu. Nyeri kepala lebih dirasakan saat pagi hari dibandingan dengan sore dan malam hari. Tanda-tanda adanya nyeri kepala atau cephalgia ini dapat menjadi dugaan awal adanya tumor. Adanya gejala dengan progresifitas lambat merupakan tanda umum pada tumor intrakranial sehingga dapat menyingkirkan kemungkinan kejadian stroke yang biasanya terjadi mendadak.

Analisis Kasus
Nyeri kepala merupakan gejala awal kurang lebih 20-25% penderita tumor intrakranial dan didapatkan kurang lebih 90% dari seluruh penderita tumor intrakranial dalam perjalanan penyakitnya. Nyeri kepalanya dapat dipengaruhi oleh posisi tubuh. Pada penderita nyeri tumor jinak biasanya baru mengeluh nyeri kepala setelah beberapa bulan sampai tahunan dalam penyakitnya.

Analisis Kasus
Nyeri kepala seringkali intermitten, terasanya nyeri hilang timbul dan dapat bertambah hebat bila terdapat perubahan posisi tubuh atau penyebab-penyebab lainnya. Hal ini terlihat pada pasien ini yang nyeri kepalanya lebih hebat di pagi hari karena posisi tidur yang berbaring menyebabkan tekanan intrakranial lebih meningkat dan mengakibatkan nyeri

Analisis Kasus
Pasien dan keluarga menyangkal adanya mual, muntah, riwayat pingsan, baal, kesemutan, kelemahan anggota gerak, gangguan keseimbangan dan penurunan kesadaran. Pasien juga menyangkal pernah mengalami benturan dibagian kepala, demam sebelumnya, gangguan menelan, gangguan pengecapan, BAB dan BAK. Dengan tidak adanya keluhan ini dapat menyingkirkan penyakit lain, seperti infeksi, trauma.

Analisis Kasus
Kesulitan berkomunikasi. Adanya kesulitan berkounikasi dapat menjadi dasar untuk menentukan letak lesi atau SOL, dimana pusat bahasa adalah di hemisfer cerebri sinistra. Bila tumor terletak pada lobus yang dominan dapat menyebabkan afasia sensorik atau afasia sensorik motorik.

Analisis Kasus
Secara klinis, pasien ini didiagnosis dengan status konvulsius, cephalgia dan otitis media supurativa kronis (OMSK). Kejang dan nyeri kepala pada pasien masih sering terjadi sampai saat pemeriksaan. Hal inilah yang menjadi dasar atas penulisan diagnosis status konvulsius dan cephalgia karena masih terjadinya kejang dan nyeri kepala. Pasien juga masih merasakan adanya kesulitan mendengar karena adanya OMSK.

Analisis Kasus
Secara topis, diagnosisnya adalah pada lobus parietalis karena pada lobus parietalis terletak pusat motorik. Apabila korteks motorik ini tertekan oleh massa atau tumor intrakranial maka dapat menyebabkan adanya bangkitan kejang. Pada pasien terjadi kesulitan berkomunikasi. Selain adanya OMSK, tumor pada lobus parietal juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada pusat bahasa yang berada di korteks parietalis.

Analisis Kasus
Diagnosis etiologi pada pasien ini adalah SOL yang merupakan tumor intrakranial. Hal ini hanya menjadi dugaan saat anamnesis karena tidak adanya tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial dan pasien diduga mempunyai penyakit epilepsi. Namun saat dilakukan pemeriksaan penunjang, tampak adanya massa intrakranial pada bagian lobus parietal. Maka penyebab dari keluhankeluhan pada pasien ini adalah SOL et causa tumor lobus parietalis sinistra

Analisis Kasus
Untuk menegakkan diagnosis pada penderita yang dicurigai menderita tumor otak yaitu melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik neurologik yang teliti, adapun pemeriksaan penunjang yang dapat membantu yaitu CTScan dan MRI.

Analisis Kasus
Non-medikamentosa Anjuran tidur dengan posisi kepala ditinggikan 20-30o, Rencana pembedahan dan alih rawat oleh TS Bedah Saraf. Dengan anjuran tidur dengan posisi kepala lebih tinggi diharapkan dapat mengurangi terjadinya cephalgia setelah bangun tidur. Pembedahan diharapkan dapat menjadi terapi kuratif yang tepat bagi pasien ini

Analisis Kasus
5B yaitu breathe, blood, brain, bowel dan bladder. Kelima sistem ini harus terus dipantau dan diawasi untuk mencegah atau mengetahui adanya perburukan pada pasien yang dapat berlangsung secara tiba-tiba, misalnya tanda-tanda peningkatan intrakrainal dimana pada pasien ini tidak ada saat dilakukan pemeriksaan. Apabila terjadi peningkatan tekanan intrakranial dapat diberikan manitol atau dexamethason dengan dosis bertahap dan tappering off setelah penggunaannya hendak dihentikan.

Analisis Kasus
Medikamentosa: Citicoline 500 mg IV 2x1, Fenitoin tab 3x1, Folic acid tab 1x1, Asam traneksamat 500 mg tab 3x1, Asam mefenamat 500 mg tab 3x1 dan terapi Sinusitis dan OMSK sesuai dengan TS THT. Pada kasus tumor intrkranial obat-obatan yang diberikann hanya obat-obatan simptomatis, pada pasien ini diberikan fenitoin untuk mengontrol kejangnya.

Analisis Kasus
Asam traneksamat diberikan untuk mengatasi adanya sedikit bercak perdrahan yang tampak pada hasil CT scan dan untuk mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut yang menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intrakranial. Citicoline dan asam folat diharapkan dapat mengurangi kerusakan pada neuron di korteks otak. Asam mefenamat diberikan untuk mngurangi cephalgia.

Analisis Kasus
Prognosis ad vitam pada pasien ini adalah dubia ad bonam karena pada pemeriksaan tanda vital, keadaan umum dan kesadaran pasien dalam keadaan stabil. Namun dapat memburuk secara tiba-tiba bila terjadi peningkatan tekanan intrakranial. Secara ad functionam adalah dubia ad bonam karena pada pemeriksaan fisik dan pemeriksaan neurologis tidak ditemukan adanya kelainan dan defisit neurologis yang berat selain fungsi luhur yang sulit dinilai akibat adanya tumor pada lobus parietalis dan OMSK.

Analisis Kasus
Dari sisi ad sanationam adalah dubia ad malam karena setelah pengangkatan tumor intrakranial dengan pembedahan, dapat terjadi rekurensi tergantung dari jenis tumor secara patologi anatomi. Prognosis pasien dilihat dari segi ad cosmeticum adalah ad bonam karena tidak ada gangguan yang tampak secara kasat mata.

Terima Kasih