Anda di halaman 1dari 55

A chronic granulomatous infection and its sequele caused by Mycobacterium leprae (Fitzpatrick)

Mycobacterium leprae : Intrasuler obligat


Gram positif, Basil tahan asam & alkohol Ukuran 3-8 x 0,5 Um Menginfeksi kulit & saraf (Schwann cell basal lamina) Tumbuh baik pada daerah seperti kulit, peripheral nerves, COA dari mata, lymph nodes,joints, upper respiratory tract dan testes

Keadaan sosial ekonomi &lingkungan Varian genetik berhubungan dengan kerentanan Perubahan imunitas (HIV-AIDS)

600,000

kasus baru setiap tahun 1.58 juta total kasus di seluruh dunia >80% kasus berada di India, China, Myanmar, Indochina, Indonesia, Brazil, Nigeria. Di US: 4000 kasus dengan 100200kasus baru setiap tahun; kebanyakan kasus berasal dari Mexico,Asia selatan , Filipina, Caribbean

Epidemiologi
Di

Indonesia : anak-anak < 14 tahun : 13% < 1 tahun : jarang Frekuensi tertinggi : usia 25-35 tahun

Klasifikasi
Ridley Jopling: Tuberkuloid (TT) Borderline Tuberkuloid (BT) Mid Borderline (BB) Borderline Lepromatous (BL) Lepromatous (LL)

Klasifikasi WHO
I. Pausibasiler (PB) Kusta tipe I, TT dan sebagian besar BT dengan BTA (-) II. Multibasilar (MB) Kusta tipe LL, BL, BB dan sebagian BT dengan BTA positif

Klasifikasi WHO

Karakteristik Lesi Tipe

Tuberkuloid (TT) Makula atau makula dibatasi infiltrat Satu atau beberapa Terlokalisasi dan asimetris Kering, skuama Jelas Jelas Positif kuat (3+)

Borderline tuberculoid (BT) Makula dibatasi infiltrat saja

Intermediate (I) Makula

Jumlah Distribusi

Beberapa atau satu dengan lesi satelit Asimetris

Satu atau beberapa Bervariasi

Permukaan
Batas Anestesia BTA Pada lesi kulit Tes Lepromin

Kering, skuama
Jelas Jelas - atau 1+ Positif (2+)
Morbus Hansen (Kusta)

Dapat halus agak berkilat


Jelas / tidak jelas Tidak ada tidak jelas Biasanya Meragukan (1+) atau 25

(Klaus Wolff et al, 2008)

Makula atau makula dibatasi infiltrat, terlokalisasi asimetris, kering, berskuama, sensibilitas hilang, tes Lepromin 3+, BTA -.
Morbus Hansen (Kusta)

26

Central healing

(Klaus Wolff et al, 2008)

Makula dibatasi infiltrat, beberapa, ada lesi satelit, asimetris, kering, berskuama, sensibilitas hilang, tes Lepromin 2+, BTA-.
Morbus Hansen (Kusta)

28

Karakteristik
Lesi Tipe

Lepromatosa (LL)

Borderline lepromatosa (BL)

Mid-borderline (BB)

Makula, infiltrate difus, papul, nodus


Banyak, praktis tidak ada kulit sehat Luas, simetris Halus berkilat Tidak jelas Biasanya tidak jelas Banyak (globus) Banyak (globus) -

Makula, plak, papul

Plak, lesi berbentuk kubah, punched-out lesion


Beberapa, kulit sehat + Asimetris Sedikit berkilap, beberapa kering Agak jelas Lebih jelas Agak bayak Tidak ada Biasanya -, dapat juga

Jumlah Distribusi Permukaan Batas Anestesia BTA Pada lesi kulit Pada hembusan hidung Tes Lepromin

Banyak, tapi kulit sehat masih ada Cenderung simetris Halus berkilap Agak jelas Tidak jelas Banyak Biasanya tidak ada -

Morbus Hansen (Kusta)

30

Makula, infiltrate difus, papul, nodus Permukaan halus mengkilap Tidak ada kulit yang sehat Sensibilitas normal BTA : banyak Tes Lepromin -

(Klaus Wolff et al, 2008)

Morbus Hansen (Kusta)

31

Type Polar Lepromatous ( LL )

(Klaus Wolff et al, 2008)

Makula, plak, papul, halus berkilap, Sensibilitas sedikit , Kulit sehat masih ada, BTA kulit banyak, BTA hidung , Tes LeprominMorbus Hansen (Kusta)

34

Type Borderline Lepromatous ( BL )

(Klaus Wolff et al, 2008)

Plakat, Dome-shaped (kubah), punched-out, dapat dihitung, ada kulit sehat, asimetris, permukaan kasar berkilat, BTA kulit agak banyak, BTA hidung -, Tes lepromin Morbus Hansen (Kusta)

37

Tipe :

Mid-borderline
( BB type)

Lagophthalmus

Akibat kerusakan N. facialis cabang temporal dan zygomaticus

Saddle Nose ( hidung pelan

Claw Hand
Kecacatan pada kusta

Akibat kerusakan N.ulnaris dan N.medianus Pada kaki kerusakan N.tibialis posterior (claw toes)

Deformitas akibat kusta

PEMERIKSAAN PENUNJANG

BAKTERIOSKOPIS HISTOPATOLOGIS SEROLOGIS

Fitz Patriks - Slit-Skin smears - Nasal smears or scrapigs - Culture - Dermatopathology


44

Pemeriksaan apusan kulit pewarnaan Ziehl Neelsen

INDEKS BAKTERI 0: tidak ada BTA dalam 100 lapang pandang (LP) 1+ : 1-10 BTA dalam 100 LP 2+ : 1-10 BTA dalam 10 LP 3+ : 1-10 BTA rata-rata dalam 1 LP 4+ : 11-100 BTA rata-rata dalam 1LP 5+ : 101-1000 BTA rata-rata dalam 1LP 6+ : > 1000 BTA rata-rata dalam 1LP
45

INDEKS MORFOLOGI

46

Tipe TT BT BB BL LL

TT
Reaksi lepromin Stabilitas imunologis Reaksi borderline ENL
3+ ++ -

Ti
2+ + 1+ + ++ + -

Li
+ +

LL
++ +

Basil dalam hidung


Basil dalam granuloma Sel epiteloid Sel datia Langhans Globi

0 + +++ -

0-1+ + ++ -

1-3+ + + -

3-4+ + + -

+
4-5+ -

++
5-6+ +

++
5-6+ +

Sel Virchow
Limfosit Infiltrasi zona subepidermal

+++ +

+++ +

++

+ -

+
+ -

++
+/ -

+++
--

Kerusakan saraf

++

+++

++

47

Uji MLPA Uji ELISA ML dipstick

Antibodi spesifik: antibodi phenolic glycolipid-1 (PGL-1) antiprotein 16 kD serta 35 kD

Antibodi nonspesifik : LAM

48

Eradikasi

infeksi dengan menggunakan obatobatan antilepra Mencegah dan mengobati reaksi yang terjadi Mengurangi risiko terjadinya kerusakan saraf Edukasi pasien mengenai neuropati dan anesthesia yang dapat terjadi Mengobati komplikasi dari kerusakan saraf

Form of Leprosy Tuberculoid (PB)

More Intensive Regimen Dapsone (100 mg/d) for 5 years

WHO Recommended Regimen (1982) Dapsone (100 mg/d unsupervised) plus rifampin (600 mg/month supervised) for 6 months Dapsone (100 mg/d) plus (300 mg) clofazimine (50 mg/d, unsupervised); and rifampin (600 mg) plus clofazimine monthly (supervised) for 1 year

Lepromatous (MB)

Rifampin (600 mg/month) for 3 years plus dapsone (100 mg/d) indefinitely

Reaksi tipe I : Prednisone 40-60 mg/hari, dosis dikurangi secara bertahap dalam 2-3 bulan. Indikasi : neuritis, lesi berbentuk ulkus, dan kosmetik (lesi pada wajah).

Reaksi tipe II (ENL) : Prednisone 40-60 mg/hari, tapering off dan Thalidomide untuk ENL berulang 100-300 mg/hari

Reaksi Lucio : Baik prednisone maupun lidomide sangat efektif, atau prednisone 40-60 mg/hari, tapering off

Antimikroba sistemik : Infeksi sekunder maupun ulserasi perlu diobati dengan antimikroba sistemik untuk mencegah infeksi yang lebih dalam seperti osteomyelitis

Orthopedic Care : Penggunaan splint mencegah kontraktur pada denervated regions Perhatian yang baik dalam perawatan kaki mencegah ulserasi neuropati Penatalaksanaan kasus ini memerlukan multidisiplin pada bidang bedah ortopedi, podiatry, oftalmologi, dan terapi fisik