Anda di halaman 1dari 47

Ns.

Rhona Sandra,SKep STIKES SYEDZA SAINTIKA PADANG

Pemeriksaan fisik sistem respirasi

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang

Diagnosis
Pemeriksaan fisik prosedur pemeriksaan untuk memperoleh data mengenai tubuh dan keadaan fisik pasien untuk membantu menegakkan diagnosis atau kondisi pasien.

Dengan pemeriksaan fisik didapatkan diagnosis strukturil, kelainan susunan jaringan


Pemeriksaan fisik tidak dapat menentukan

penyebab dari suatu kelainan fisik Seperti


Diagnosis tb paru tidak dapat ditegakkan hanya dari pemeriksaan fisik saja.

Dinding torak Pleura Rongga pleura Jaringan paru Saluran pernapasan

Fisiologi pernapasan Dada mengembang difragma bergerak ke distal -- rongga torak membesar paru elastis mengikuti pengembang rongga torak tekanan dalam paru lebih kecil udara masuk ke dalam paru

Pemeriksaan fisik paru berdasarkan pada:


Adanya udara di dalam alat pernapasan Terjadinya arus udara di dalam alat pernapasan Adanya saluran udara yang menghubungkan udara luar dengan alveolus Lapisan-lapisan yang berfungsi sebagai penghalang

Adanya udara ini memungkinkan dilakukan pemeriksaan ketok/ Perkusi ; -- bunyi getaran udara tergantung pada jumlah udara yang ada dalam paru
Sonor Hiper sonor Redup Pekak Normal Emfisema Atelektasis masa / cairan

Arus udara dalam saluran pernapasan menimbulkan bunyi napas

Di trakea ----- bising trakeal Dapat didengan di leher depan Bronkus utama -----bising bronkial Dapat didengan diantra kedua skapula Bronkiolus & alveoli bising vesikuler Dapat didengar di ruang inter kostal

Bunyi diatas disebut

bunyi bising pokok

Intensita bunyi napas tergantung pada kecepatan aliran udara, diameter saluran napas

Penyempitan saluran napas kecil pada penyakit paru obstruktif seperti asma dan PPOK dapat timbul bunyi bising yang disebut wheezing atau mengi

Getaran suara dari pita suara di salurkan melalui trakea bronkus , jaringan paru pleura dan dinding torak.

Didinding dada getaran suara dapat


Diraba sebagai fremitus suara Didengar sebagai gema suara Emfisema --- getaran suara napas melemah Infiltrat ( pneumonia ) pemadatan -- getaran suara jadi keras

Pemeriksaan fisik sistem respirasi

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang

Diagnosis

Hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan Pemeriksaan

Perkenalkan diri anda secara formal Jelaskan apa yang akan anda lakukan Tempatkan pasien pada posisi yang benar (lihat apakah nyaman) Usahakan paparan (exposure) pasien yang benar Jangan timbulkan nyeri pada pasien- tanyakan tentang nyeri sebelum melakukan pemeriksaan fisik

Anamnesis
Bertujuan untuk mendapatkan informasi sebanyak

banyaknya mengenai sisakit dan penyakitnya. Pertanyaan disusun secara sistematis


Keluhan utama Keterangan tentang penyakit yang diderita Keadaan penyakit yang pernah diderita Keterang tentang keluarga Keterangan sosial , ekonomi, lingkungan Riwayat pengobatan

Gejala umum Demam Badan lemah Nafsu makan menurun Dll Gejala lokal Batuk Sesak napas Nyeri dada Pengeluaran dahak Batuk darah dll

Pemeriksaan yang dilakukan dengan pengamatan

Kelainan dari alat pernapasan Kelaianan alat diluar alat pernapasan yang mengganggu pernapasan Kelainan paru menyebabkan gejala diluar paru Jari tabuh Sianosis Edema muka Bendungan vena leher ,

Inspeksi dapat dilakukan dalam 2 fase


Melihat torak dalam keadaan statis Melihat torak dalam keadaan dinamis

Normal Pegion chest ( dada burung)/ fectus carinatus 3. Funnel chest / fuctus excavatus 4. Flet chest 5. Barrel chest 6. Skoliosis 7. Kiposis 8. Unilateral flettening 9. Unilateral prominence
1. 2.

Garis imaginer dinding dada depan

1. 2. 3. 4. 5.

Garis mid sternal: Para sternal Garis midclavicularis Aris axilaris anterior Garis axilaris posterior

Frekwensi napas Normal Bradypneu/ olygopneu Tachypneu / polypneu Apneu Pernapasan tidak teratur Pada kelainan otak Asidosis Nyeri waktu bernapas

16-24 kali / menit < 16 kali / menit > 24 kali / menit henti napas/ tidak bernapas

1.

2.

3.

4.

5.

Dyspneu Keluhan rasa sesak. Seseorang merasakan bernapas; pada; latihan, obesitas, sakit jantung, sakit paru, anemia, dll Orthopneu Sesak napas waktu posisi tidur , berkurang kalau posisi duduk, pada; penyakit jantung Pernapasan Kussmaul Pernapasan cepat dan dalam , pada; asidosis Pernapasan Cheyne stokes Pernapasan periodik bergantian antara pernapasan cepat dan apneu pada ; peningkatan tekanan intrakaranial, penyakit ginjal Pernapasan Biots
Pernapasan tidak teratur, pada trauma kapitis, tumor otak, meningoensepalitis

6.

Pernapasan Asmatik
Ekspirasi memanjang disertai wizing., pada ;Asma brronkial, PPOK

Tactil fremitus; Dengan menempelkan telapak dan jari jari tangan pada dinding dada. Seperti punggung , kemudian pasien disuruh mengucapkan kata kata seperti 77, dengan nada yang sedang. Secara simetris dibadingkan getaran yang timbul. Selain itu dengan palpasi dapat menentukan kelainan di perifer seperti kondisi kulit ; basah / kering, adanya demam, arah aliran vena dikulit pada vena yang terbendung, tumor Dapat menentukan kelainan di dalam, seperti meraba ictus cordis, adanya thriil (getaran) pada kelainan katup

Penilaian
Fremitus meningkat pada Infiltrat Compressive atelektasis Cavitas paru Fremetus menurun Penebalan pleura Efusi pleura Pneumothorak Emfisema paru Obstruksi bronkus

Dengan pemeriksaan ketok/ perkusi menggetarkan udara dalam paru Penilaian


Sonor
Hipersonor redup

Pekak

Teknik perkusi
Ketukan biasanya dilakukan dengan jari tengah tangan kanan yang dilengkungkan di sendi ke dua. Tangan digoyangkan dengan sendi pergelangan tangan sebagai engsel. Ketokan dilakukan di atas bagian yang keras, seperti; clavicula, tulang iga, sternum Di atas bagian yang lunak dipakai landasan ( fleximeter), biasanya dipakai jari tengah tangan kiri yang diletakkan di dinding dada tegak lurus atau sejajar dengan iga.

Pemeriksaan perkusi dilakukan secara sistematis.

Mulai dengan menentukan batas jantung paru.


1. Batas kiri

1 jari medial LMCS, sela iga 5 sela iga 3 para sternal kiri tengah tengan sternum

Caranya perkusi mulai dari axilaris anterior kiri setinggi mama


Caranya; perkusi di daerah parasternal mulai dari sela iga satu Caranya perkusi mulai dari axilaris anterior kanan setinggi mama, menuju sternum

2. Batas atas 3. Batas kanan

4. Batas bawah

tidak dapat ditentukan

Batas paru hati


1. Ketok mulai dari mama kanan menuju ke distal, perobahan dari sonor ke redup merupakan batas paru hati, kira kira sela iga 6 2. Batas ini berobah pada waktu inspirasi dan ekspirasi, disebut dengan peranjakan., biasanya sekitar 2 jari . 3. Batas paru hati meninggi pada , efusi pleura, infiltrat di kanan. 4. Batas paru hati menurun pada emfisema.

Batas paru lambung


1. Ketukan dilakukan di derah axilaris kiri setinggi

mamma ke arah distal 2. Tentukan daerah perobahan sonor menjadi tympasi, biasanya sela iga 8

Batas paru belakang


1. Mulai jari ujang skapula ke distal sampai

ketokan sonor jadi redup 2. Kiri biasanya rendah 1 jari dari kanan 3. Batas paru belakang setinggi torakal X- IX

Lebar mediastinum
1.
2. 3.

Biasanya pekan karena tidak mengandung udara Tidak melewati sternum Pelebaran mediastinum pada; pembesaran aorta, vena cava superios, tumor

Daerah supraclavikula
Biasanya sonor

Cronig,
Derah seluas 3 jari dipuncak paru, bisanya sonor Mengecil bila ada TB ( sebelum ada Ro torak)

Perkusi daerah lain


Dilakukan dengan mengetok dada pada tempat yang simetris.

Dapat dilakukan secara direct dengan telinga dan secara indirect menggunakan alat bantu Dilakukan dengan menggunakan stetoskop Dua tipe stetoskop:
Tipe bell untuk nda rendah Tipe Bowel/ membran untuk nada tinggi

Bunyi napas pokok


Arus udara waktu respirasi membentuk bising

trakea pada trakea, bising bronkial pada bronkus dan bising vesikular pada jaringan paru. Bising trakeal dapat didengar di leher, bunyi kh dengan nada tinggi Bising bronkial dapat didengar di daerah antara kedua skapula, bunyi kh dengan nada lebih rendah Bising vesikuler di daeran lain dari torak, bunyi f

Vesikuler ---- hampir seluruh lap paru


Inspirasi lebih panjang , lebih keras, nadanya

lebih tinggi dari ekspirasi

Bronkial / trakeal ---- trakea


Ekspirasi lebih panjang, lebih keras , nadanya

lebih tinggi darai inspirasi

Bronkovesikuler ---- daerah supra sternal, inter scapula


Campuran antra elemen vesikuler dengan

bronkial

Bunyi tambahan
Krepitasi pada emfisema subkutis Susra krik-krik halus , seperti bunyi meremas biskuit mari didekat telinga

Suara gesekan pleura ( fleural friction ) bunyi

berasal dari permukaanan pleura yang tidak rata.


Suara seperti bunyi gesekan jari telujuk dengan ibu jari didekat telinga

Ronchi ( rales)
Suara tambahan yang dihasilkan oleh aliran udara

yang melewati saluran napas yang berisi sekret/ eksudat atau akibat penyempitan saluran napas oleh edema saluran napas. Ronchi dibagi 2
Ronchi basah ( moist rales) Ronchi kering ( dry rales)

Ronchi basah
Akibat adanya exudat/ cairan dalam bronkiolus

atau alvioli bida jua bronkus atau tarakea


Ronchi basah nyaring infiltrat paru Ronchi basah tak nyaring -- bendungan paru Ronchi basah kasar -- cairan di bronkus besar/ trakea

Ronchi kering ( bising suitan)


Lewatnya udara melalui saluran napas yang menyempit

oleh karena cairan yang lengket dan tidak mudah dipindahkan Tergantung diameter bronkus yang ada kelainan bisng dibagi kecil sdang dan besar Terdengan pada fase inspirasi kadang pada fase eksiprasi Dapat berobah setelah batuk, kadang terputus putus Berbeda dengan (bising Mengi / Wheezing )

Bising mengi ( Wheezing)


Terdengar sebagi suitan, namun didegar

sepanjang ekspirasi, ekspirasi dilakukan dengan tekanan . Mengi tidak hilang dengan batuk, malah bertambah keras Mengi gejala penting penyakit asma dan PPOK

Bronchophoni
Vokal sound( suara biasa) didengan pada lapangan paru

terdengar kurang keras , kurang jelas dan jauh. Apabila terdengar lebih keras, pada pangkal telinga pemeriksa disebut bronkoponi positif ; Biasanya pada infiltrat , atelektasis kompresif

Eugophoni
Bronchophoni yang terdengar nasal, biasanya oleh karena

atelektasis kompresif akibat efusi pleura. Didengar pada perbatasan cairan dan parenkim paru