Anda di halaman 1dari 25

BAGIAN FORENSIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2009

DISUSUN OLEH :
1. 2. 3. 4.

5.
6. 7. 8.

ARIF SADZALI UNISSULA DYAN PUSPITASARI UKI SHARLEEN STEFFANIE UKI MARISHA FRISKA H UKI JEPRIN RURU UNDIP JOKO RUDI UNDIP INE ERLIANA UNDIP NOVITA FAJAR UNDIP

LATAR BELAKANG

Jaman dahulu Dokter Kasus malpraktik

dukun

PENDAHULUAN
TUJUAN :
INFORMED CONCENT

DOKTER

PASIEN

PERMASALAHAN
DEFINISI

TATA CARA

INFORMED CONCENT

FUNGSI

DASAR HUKUM

SEJARAH
1. Kasus Mohr vs Williams (1905). dokter memberi informasi pasien setuju tindakan. 2. Kasus Schoendorff vs Society of the New York Hospital (1914) Manusia dewasa & berakal sehat mempunyai hak.

3.Pertengahan 1970an Pasien & Keluarga berhak diberikan informasi secara lengkap Indonesia : Tahun 1988 IDI Surat keputusan No.319/PB/A.4/88 informed consent. Tahun 1989 Peraturan MenKes RI No 585/Men.Kes/Per/IX/1989 Persetujuan tindakan medik ( informed consent)

Tahun 1997 Surat edaran DirJen Pelayanan Medik hak dan kewajiban : pasien, dokter , RS Tahun 1999 Keputusan DirJen Informed Consent. Tahun 2004 UU No 29 Persetujuan tindakan Kedokteran atau Kedokteran Gigi

DEFINISI
Informed Consent Informed consent persetujuan yang diberikan pasien kepada dokter setelah diberi penjelasan.

FUNGSI

Promosi

Otonomi perorangan Keputusan rasional

Proteksi Mencegah penipuan atau paksaan Introspeksi dari profesi medis Keterlibatan masyarakat

BENTUK-BENTUK INFORMED CONSENT


1. 2.

Threshold elements Information element :


disclosure (pengungkapan ) understanding (pemahaman) voluntariness (kesukarelaan ,kebebasan) authorization (persetujuan )

3.

Consent elements :

WHAT

WHEN

WHO

WHICH

Hal-hal yang perlu diinformasikan kepada pasien atau keluarganya meliputi : 1. Alasan perlunya dilakukan tindakan medik 2. Sifat tindakan medik 3. Tujuan tindakan medik, yaitu :

Diagnostik Terapetik Rehabilitatif Promotif

4. 5. 6.

Risikonya Masih ada tindakan medis alternative lain atau tidak Kerugian yang akan atau mungkin dialami jika menolak tindakan medik tersebut

Dalam memberikan informasi tidak boleh bersifat


MEMPERDAYA ( FRAUD )

MENEKAN ( FORCE )

MENCIPTAKAN KETAKUTAN ( FEAR )

PERSETUJUAN & PENOLAKAN


Persetujuan : Yang berhak ?
Permenkes no.585 Tahun 1989

Batasan umur?
Gangguan mental ? Gawat darurat?

PERSETUJUAN & PENOLAKAN


Penolakan : Informed refusal Surat penolakan tindakan medik Transaksi terapeutik ?

Declaration on the Rights of the Patient Asosiasi dokter dunia (WMA)

LANDASAN HUKUM
Undang-Undang

No.23 tahun 1992 Pasal 53 ayat 2 Undang-Undang N0.29 tahun 2004 Pasal 45 ayat 1-6

Pasal

15 PP No.18/1981 Peraturan Menteri Kesehatan No 585/MenKes/Per/IX/1989

ILUSTRASI KASUS
Bocah Meninggal Usai Operasi Usus Buntu Liputan6.com, Bogor: Bocah laki-laki meninggal setelah menjalani operasi usus buntu di Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong, Bogor, Jawa Barat, belum lama ini. Diduga pasien bernama Farid Maulana ini meninggal akibat kasus malapraktik. Kematian Farid membuat orangtua korban, Rita Ernita shock. Rita mengaku menyesal membawa anaknya berobat ke RSUD Cibinong. Menurut Rita, setelah dioperasi, perut anaknya yang berusia 10 tahun makin membesar akibat kelebihan cairan hingga akhirnya meninggal. Namun pihak rumah sakit membantah telah melakukan kelalaian dalam merawat hingga akhirnya korban mengembuskan napas terakhir. Kepala Bidang Pelayanan RSUD Cibinong Wahyu Kurdijanti mengatakan, perawatan sudah dilakukan sesuai prosedur. Kasus dugaan malapraktik di RSUD Cibinong bukan pertama kali terjadi. Dua pekan lalu bocah bernama Ikhsan Akbar meninggal usai operasi amandel di rumah sakit ini

Tindakan medis merupakan suatu tindak pidana penganiayaan Persetujuan sebagai salah bentuk dasar penghapus pidana di luar undang-undang Pada kasus ini

Pidana

Bukan Pidana

KESIMPULAN

Informed consent adalah suatu proses yang menunjukkan komunikasi yang efektif antara dokter dengan pasien, dan bertemunya pemikiran tentang apa yang akan dan apa yang tidak akan dilakukan pada pasien.

Dalam informed consent perhatikan Tata cara pelaksanaan informed consent Hak hak pasien

Landasan Hukum

Undang-Undang No.23 tahun 1992 Pasal 53 ayat 2 Undang-Undang N0.29 tahun 2004

Pasal 45 ayat 1-6


Pasal 15 PP No.18/1981 Peraturan Menteri Kesehatan No 585/MenKes/Per/IX/1989