Anda di halaman 1dari 24

REFERAT

FRAKTUR PELVIS
Destiana Lisnawati 1210221068 Pembimbing : dr. Nursuandy, Sp.OT Kepaniteraan Departemen Bedah RST Wijaya Kusuma Purwokerto 27 Mei 3 Agustus 2013

Trauma pada pelvis terjadi sekitar 44% kasus

Fraktur pelvis berkekuatan-tinggi merupakan cedera yang membahayakan jiwa

PENDAHULUAN

Perdarahan luas sehubungan dengan fraktur pelvis relative umum terjadi akibat fraktur berkekuatan-tinggi

Kira-kira 15-30 % pasien dengan cedera pelvis berkekuatan-tinggi tidak stabil secara hemodinamik, yang mungkin secara langsung dihubungkan dengan perdarahan akibat trauma pelvis

Cedera pelvis berkelanjutan

Selamat

Tidak selamat

Fraktur pelvis

Kematian

Arah panggul yang miring

Perbedaan panjang kaki atau rotasi

Kelainan gaya berjalan

Perdarahan atau cedera otak

Kegagalan multi organ

Trauma pelvis yang lebih berat terkait dengan perdarahan yang luas di pelvis dan dapat berakibat fatal untuk korban, khususnya korban yang lanjut usia

TINJAUAN PUSTAKA

daerah batang tubuh yang berada disebelah dorsokaudal terhadap abdomen dan merupakan daerah peralihan dari batang tubuh ke ekstremitas inferior

Pelvis bersendi dengan vertebra lumbalis ke-5 di bagian atas dengan caput femoris kanan dan kiri pada acetabulum yang sesuai

ANATOMI

Pelvis dibatasi oleh dinding yang dibentuk oleh tulang, ligamentum, dan otot

Kerangka pelvis terdiri dari : 2 os coxae (os illium, os ischium, os pubic), os sacrum dan os coccygeus

GINEKOID

ANTHROPOID

BENTUK PELVIS

ANDROID

PLATIPELOID

FRAKTUR PELVIS

MEKANISME INJURY

PENYEBAB
CEDERA BERKEKUATAN RENDAH CEDERA BERKEKUATAN TINGGI

Prioritas utama (ATLS Protokol) Bimanual kompresi dan distraksi dari iliac wing

Manual leg traction

PEMERIKSAAN FISIK
Rectal examination

Vaginal examination

Perineal skin

TILE CLASSIFICATION OF PELVIC INJURY

TIPE A (stable pelvic fracture)

TIPE B (rotationally unstable, vertically stable fractures)


B1 (open-book fractures) Stage 1 : diastasis simfisis pubis <2,5cm Stage 2 : diastasis simfisis pubis >2,5cm, unilateral injury pelvis posterior Stage 3 : diastasis simfisis pubis >2,5cm, bilateral injury pelvis posterior

TIPE C (rotationally and vertically unstable fractures)


C1 : ipsilateral anterior dan posterior injury

A1 : pelvis intak

A2 : nondisplace pelvic fracture

B2 : lateral kompresi injury (ipsilateral). Terjadi fraktur rami anterior. Bagian posterior hancur

C2 : bilateral hemipelvic disruption

A3 : fraktur transverse pada sakrum dan coccygeus, pelvis intak

B3 : kompresi lateral (kontralateral), dapat terjadi fraktur di keempat rami, menyebabkan hemipelvis pada rotasi anterior dan superior

C3 : jenis fraktur pelvis mana saja yang berhubungan dengan fraktur acetabular

YOUNG AND BURGERS CLASSIFICATION

Kompresi anteroposterior

Kompresi lateral

Vertical shear

ASSOCIATED INJURY
Cedera berkekuatan tinggi Perdarahan
Perdarahan terjadi pada 75% pasien Cedera muskuloskeletal terjadi pada 60 80% pasien Angka kematian 15 20%

Intraabdominal 40% Arteri 10 15% Vena pleksus hematoma retroperitoneal dalam jumlah yang besar

Fraktur pelvis terbuka

Angka kematian 30 50% Cedera pembuluh darah besar perdarahan dan cedera gastrointestinal dan genitourinaria

EMERGENT TREATMENT
MAST (military antisbock trousers) RESUSITASI

jalur intravena

Cairan kristaloid

Transfusi darah

Hipotermia

Pengeluaran urin

Fiksasi eksternal

Iliac wing fractures

Fiksasi internal

Crescent fractures

DEFINITIVE SURGICAL TREATMENT


Posterior pelvic ring fixation Pubic rami fractures

Anterior pubic symphisis plating

Stable, nondisplace or minimal displace fractures

Skeletal traction

Simple openbook fractures

NONOPERATIVE

Early mobilization

Unstable and severely displaced fractures

Nerve injury

Thromboembolisme

KOMPLIKASI