Anda di halaman 1dari 20

DAMPAK IFRS TERHADAP DUNIA USAHA DAN PERPAJAKAN

Ikatan Akuntan Indonesia dengan Direktorat Jenderal Perpajakan


1

Dampak IFRS terhadap Sistem Akuntansi dan Pelaporan


Penyajian: 1. Konsep Other Comprehensive Income di dalam laba rugi komprehensif 2. Perubahan definisi-definisi seperti Kewajiban (Liabilitas) dan hak minoritas menjadi bagian non pengendali (non-controlling interest) 3. Pos Luar Biasa tidak lagi diperbolehkan. 4. Klasifikasi instrumen keuangan 5. Perubahan nama laporan keuangan
2

Dampak IFRS terhadap Sistem Akuntansi dan Pelaporan


Pengukuran: 1. Peningkatan penggunaan nilai wajar (fair value) Standar IFRS Iebih condong kepada penggunaan nilai wajar, terutama untuk properti investasi, beberapa aset tak berwujud, aset keuangan dan aset biologis. Dengan demikian maka diperlukan sumber daya yang kompeten untuk menghitung nilai wajaratau bahkan perlu menyewajasa konsultan penilai terutama untuk asetaset yang tidak memiliki nilai pasar aktif. 2. Penggunaan estimasi dan "Judgement" Akibat karakteristik IFRS yang Iebih berbasis prinsip, akan Iebih banyak dibutuhkan "judgement" untuk menentukan bagaimana suatu transaksi keuangan dicatat.

Dampak IFRS terhadap Sistem Akuntansi dan Pelaporan


3. Persyaratan pengungkapan yang Iebih banyak dan Iebih rinci IFRS mensyaratkan pengungkapan berbagai informasi tentang risiko baik kualitatif maupun kuantitatif. Pengungkapan dalam laporan keuangan harus sejalan dengan data/informasi yang dipakai untuk pengambilan keputusan yang digunakan oleh manajemen.

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Sesuai dengan UU KUP No 28/2007

Penjelasan Pasal 28 Ayat 7: Dengan demikian pembukuan harus diselenggarakan dengan cara atau sistem yang lazim dipakai di Indonesia misalnya berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan, kecuali peraturan perundang-undangan perpajakan menentukan lain.

Perbedaan prinsip Akuntansi dengan Perpajakan


AKUNTANSI Estimasi Impairment Loss Provisions Nilai wajar (fair value) Aset Tetap Properti Investasi Instrumen keuangan Substance over form Finance Lease Definisi Related Parties Principle Based Related Party transaction Umur Manfaat (misalnya, Aset tetap, Aset takberwujud) Konsep Materiality PERPAJAKAN Realisasi Peraturan perpajakan hanya mengakui realisasi bukan nilai estimasi Biaya perolehan (Cost) Peraturan perpajakan belum mengadopsi konsep nilai wajar Form over substance Memiliki syarat-syarat yang memperhatikan status legal Rule Based Definisi lebih detail

Tidak mengenal materiality


6

ED PSAK 10 (revisi 2009): Pengaruh Perubahan Nilai Tukar Valuta Asing


Perusahaan mencatat transaksi dengan mata uang fungsional namun mata uang penyajian dapat berbeda dengan mata uang fungsional ED PSAK 10 mencabut ketentuan bahwa mata uang pengukuran dan penyajian menggunakan rupiah.

ED PSAK 10 (revisi 2009): Pengaruh Perubahan Nilai Tukar Valuta Asing


Contoh Kasus: PT. A (Sebuah BUMN) diharuskan memakai rupiah sebagai mata uang pembukuan, sementara transaksi sehari-hari perusahaan menggunakan US Dollar. Apabila PT. A tetap menggunakan Rupiah ada kemungkinan PT. A melanggar PSAK karena mata uang pencatatan (bukan penyajian) berbeda dengan mata uang fungsionalnya (yakni US$).

ED PSAK 10 (revisi 2009): Pengaruh Perubahan Nilai Tukar Valuta Asing


ED PSAK 10 (revisi 2009): Pengaruh Peraturan Perpajakan Perubahan Nilai Tukar Valuta Asing Pengukuran transaksi mata uang Pembukuan yang dijinkan Pajak asing PMK 196/2007 pasal 2 dan 3 ED PSAK 10 (revisi 2009) paragraf mengatur Wajib Pajak dapat 19: Pengakuan awal transaksi mata menyelenggarakan pembukuan uang asing dicatat dalam mata uang dengan menggunakan bahasa asing fungsional. dan satuan mata uang selain Rupiah yaitu bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat. Wajib Mata uang pelaporan boleh pajak tersebut diatur dalam pasal 3 . menggunakan mata uang apapun ED PSAK 10 (revisi 2009) paragraf 36: entitas dapat menyajikan laporan keuangannya dalam mata uang apapun

ED PSAK 7 (revisi 2009): Hubungan Istimewa


PERBEDAAN ED PSAK 7 (revisi 2009) UU No. 36/2008 Hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus sederajat Keluarga semenda dalam garis keturunan sederajat (contoh: mertua dan anak tiri) Hubungan keluarga semenda dalam garis keturunan kesamping satu derajat (contoh : ipar) (Pasal 18 ayat 4 penjelasan) Kepemilikan penyertaan modal lebih dari 25% (rule based)
10

Definisi Hubungan Anggota keluarga dekat istimewa Pasangan hidup dan anak dari individu Anak dari pasangan hidup individu Tanggungan dari individu atau pasangan hidup individu (paragraf 09)

Entitas yang dikendalikan atau dikendalikan bersama (principle based)

PSAK 13 (2007): Properti Investasi


PERBEDAAN Pengakuan Properti Investasi Pengukuran setelah pengakuan awal PSAK 13 (revisi 2007) Mengakui adanya pengakuan properti untuk investasi Model Biaya Model Nilai wajar (paragraf 33) Jika memenuhi sebagai aset yang dimiliki untuk dijual maka tidak disusutkan UU No. 36/2008 PMK No. 79/PMK.03/2008 Tidak mengakui properti untuk investasi diakui sebagai Aset Tetap Harga perolehan adalah jumlah yang sesungguhnya dikeluarkan Model biaya (pasal 10 UU No 36) Disusutkan sesuai menggunakan tarif sesuai kelompok aset

Penyusutan model biaya

11

PSAK 16 (2007): Aset Tetap


PERBEDAAN PSAK 16 (revisi 2007) UU No. 36/2008 PMK No. 79/PMK.03/2008

Pengukuran setelah pengakuan awal

Model Biaya Model Revaluasi (paragraf 29)

Harga perolehan adalah jumlah yang sesungguhnya dikeluarkan Model biaya (pasal 10 UU No 36)

Komponen biaya perolehan

Termasuk estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset dan restorasi (paragraf 16)

Tidak mengakui biaya estimasi (pasal 10 UU No 36)

12

PSAK 16 (2007): Aset Tetap Cont


PERBEDAAN PSAK 16 (revisi 2007) UU No. 36/2008 PMK No. 79/PMK.03/2008 Efek revaluasi mengakibatkan kenaikan nilai aktiva tetap

Efek revaluasi

Efek revaluasi bisa mengakibatkan kenaikan atau penurunan nilai aset (paragraf 39 dan 40) Revaluasi dilakukan secara teratur dan cukup reguler tergantung perubahan nilai wajar (paragraf 31 dan 34).

Revaluasi dilakukan terlebih dahulu melakukan permohonan ke DJP (Pasal 2) Revaluasi dapat dilakukan kembali dalam jangka waktu 5 tahun (pasal 3)
13

Aset Biolojik
PERBEDAAN Aset Biolojik AKUNTANSI Belum diadopsi untuk PSAK saat ini PERPAJAKAN Tidak diatur

IFRS IAS 41 : Agriculture IAS 16 : Property, Plant and Equipment

14

ED PSAK 19 (revisi 2009): Aset Tidak Berwujud


ED PSAK 19 Aset Tidak Berwujud dengan umur manfaat tidak terbatas Paragraf 88: Aset Tidak Berwujud harus ditentukan umur manfaatnya terbatas atau tidak terbatas. UU PPh No. 36/2008 Pasal 11A UU No. 36/2008, umur manfaat untuk aset tidak berwujud adalah maksimal 20 tahun

15

ED PSAK 30 (revisi 2007): Sewa


PSAK 30 (revisi 2007) Klasifikasi sewa pembiayaan dan sewa operasi Par 16: Lessee mengakui sewa pembiayaan sebagai aset pada awal masa sewa. Par 23: Sewa pembiayaan menimbulkan beban penyusutan dalam setiap periode akuntansi. KMK No. 1169/KMK.01/1991 Pasal 16: selama masa sewa, lessee tidak boleh melakukan penyusutan sampai saat lessee menggunakan hak opsi Setelah lessee menggunakan hak opsi, lessee melakukan penyusutan dan dasar penyusutannya adalah nilai sisa (residual value) barang modal yang bersangkutan;

16

PSAK 48 (revisi 2009): Penurunan Nilai Aset


PSAK 48 (revisi 2009) UU PPh No. 36 / 2008 dan PMK 79 / PMK.03/2008

Penurunan Nilai Paragraf 60, rugi penurunan nilai segera diakui dalam laporan laba rugi.

Dalam ketentuan perpajakan tidak mengatur rugi penurunan nilai pada saat revaluasi aset. Estimasi rugi penurunan nilai tidak diakui dalam peraturan perpajakan.

17

Penerapan PSAK 50 dan PSAK 55


Ketentuan perpajakan yang sekarang berlaku, bank diperbolehkan mengakui pencadangan piutang raguragu sebagai biaya sepanjang mengikuti ketentuan BI (fixed percentage untuk setiap grading pinjaman). Mulai tahun ini, pada prinsipnya pencadangan berdasarkan fixed percentage sudahtidak diperkenankan lagi. Tetapi BI memberikan masa transisi dimana jika bank belum mampu menyiapkan historical data untuk loannya, maka dengan zizn BI, bank masih dapat menggunakan fixed percentage selama maksimum 2 atau 3 tahun.
18

PSAK 55 (revisi 2006): Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran


PSAK 55 (revisi 2006) Peraturan Perpajakan

Premium Bunga dan diskonto PSAK 55 (revisi 2006) paragraf 8: PP 16/2009 pasal 1-3 yang dikenai mengakui adanya premium dalam pajak final hanya bunga dan diskonto. penghitungan metode suku bunga Premiun tidak diatur, sehingga tidak efektif >> metode yang digunakan dikenai pajak. untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan. Keuntungan dan kerugian dari Keuntungan dan Kerugian realisasi perubahan nilai wajar aset PP 14/1997 pasal 1 ayat 2: Besarnya keuangan dan kewajiban keuangan Pajak Penghasilan dihitung ari nilai PSAK 55 (revisi 2006) paragraf 56: transaksi. pajak tidak mengakui Keuntungan dan kerugian tersebut keuntungan dan kerugian yang diakui pada laporan laba rugi atau disebabkan karena perubahan nilai laporan perubahan ekuitas wajar, namun dari nilai transaksi klasifikasinya. penjualan.
19

Kesimpulan
Konvergensi IFRS bukanlah sekedar masalah akuntansi Sesuai dengan kesepakatan G20, kovergensi standar akuntansi sebaiknya juga bersinergi dengan peraturan perpajakan dan pasar modal Dibutuhkan kerjasama yang lebih erat antara IAI dan otoritas perpajakan agar terdapat sinkronisasi antara standar akuntansi dan peraturan perpajakan

20