Anda di halaman 1dari 39

PEMBIMBING: DR. WAHYU HIDAYAT,SP.THT DISUSUN OLEH: FARIDA ARRIYANI (FK-TRISAKTI 06.089) JOANNE NATASHA (FK-TRISAKTI 06.

131)

Pembimbing

.. Dr. Wahyu Hidayat, Sp. THT (Jakarta, Februari 2011)

Pekerjaan meluas industri bising, debu, kimia

Penyakit Akibat Kerja (PAK)

K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

UU No.1 tahun 1970 Tentang keselamatan kerja UU No.23 tahun 1992 Tentang kesehatan kerja

ANATOMI

Daun telinga

Cavum timpani

TELINGA DALAM

FISIOLOGI PENDENGARAN
Menggetarkan cairan telinga dalam m.basilaris

Pembengkokan selsel rambut

Energi bunyi dari luar

Menggetarkan MT Potensial aksi saraf auditorius

BUNYI/ NADA
Kualitas bunyi ditentukan intensitas suara, frekuensi getaran, dan level tekanan. Telinga manusia frekuensi 20 -20.000 Hz paling peka terhadap frekuensi antara 10004000 (Hz)

INTENSITAS / KEPEKAKKAN

KEBISINGAN Campuran bunyi nada murni dengan berbagai frekuensi -Continuous -Intermittent -Impulsive / impact type

Bergantung pada amplitudo

> 85 dB kerusakan organ corti

Suara

Kekuatan Dalam Desibel (dB)

Perbandingan dengan suara terhalus yang masih dapat didengar

Ambang dengar Gemerisik daun Detak jam tangan, bisikan Kantor yang tenang Pembicaraan normal Vacuum cleaner Teriakan, mesin pabrik Konser musik rock Pesawat jet lepas landas

0 dB 10 dB 20 dB 50 dB 60 dB 70 dB 90 dB 120 dB 150 dB

10 kali lebih kuat 100 kali lebih kuat 1 jt kali lebih kuat 1 miliar kali lebih kuat 1 triliun kali lebih kuat 1 kuadriliun kali

Adaptasi Bising SNIHL NITTS (Noise Induced Temporary Threshold Shift) SNIHL NIPTS (Noise Induced Permanent Threshold Shift) Trauma akustik

Peningkatan ambang pendengaran akibat paparan bising Reversibel

Efek akumulatif paparan bising selama bertahun-tahun Terus-meneruspermanen

Akibat bunyi / ledakan keras Intensitas suara tinggi merusak struktur telinga

PATOFISIOLOGI MANIFESTASI KLINIS SNIHL

-Pendengaran, bilateral , gangguan frekuensi tinggi) - Tinnitus -Gangguan Komunikasi, fungsi sosial. ANAMNESA Paparan bising yang berulang periode waktu yang panjang merusak koklea (sel-sel reseptor /sel-sel rambut) stereosilia pada sel-sel rambut menjadi kurang kaku mengurangi respon terhadap stimulasi. intensitas dan durasi paparan >> kerusakan seperti hilangnya stereosilia kerusakan total organ Corti Perubahan fisiologi dan kimia yang menyebabkan stres metabolik disfungsi sel rambut ketulian sementara atau destruksi sel rambut mengakibatkan ketulian permanen. Riwayat : -Jenis pekerjaan -Peristiwa yang terjadi saat pendengaran -Lama kerja /hari -Saat awal pendengaran -Lokasi kerja, posisi kerja dengan sumber bising -APD -Pekerjaan militer -Riwayat Penyakit telinga yang pernah diderita

Pemeriksaan Telinga

Pada pemeriksaan otoskopik tidak ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan audiologi tes penala - Tes rinne positif - Tes weber lateralisasi ke telinga yang pendengaran nya lebih baik - Tes schwabach memendek. Kesan jenis ketulian nya adalah sensorineural. Pemeriksaan audiometric nada murni tuli sensorineural pada frekuensi antara 3000-6000 Hz

Audiometri

Orang yang menderita tuli saraf koklea sangat terganggu dengan bising latar belakang sehingga bila berkomunikasi di tempat ramai, akan kesulitan mendengar

a. Intensitas bising yang dapat ditoleransi adalah < 85 dB b. Durasi dan Lama Paparan Durasi paparan per hari menurut intensitas bising ( OSHA Occcupational Safety and Health Administration) c. Faktor Biologi Pekerja usia, Status kesehatan, Obat ototoxic, penggunaan alat pelindung telinga Intensitas Bising (dB) 85-90 92 95 97 100 102 105 110 115

Lama Kerja per hari (jam)


8 6 4 3 2 1,5 1 0,5 0,25

Standar pemajanan bising telah ditetapkan Kepmenaker No.51 tahun 1999 tentang Nilai Ambang Batas di tempat kerja, menetapkan pemajanan maksimum yang diperbolehkan uaitu 85 dB untuk 8 jam sehari tanpa alat perlindungan pendengaran

PENATALAKSANAAN

-Sebaiknya dipindahkan kerja nya dari lingkungan bising. - Menggunakan alat pelindung telinga berupa sumbat telinga, tutup telinga dan pelindung kepala. -Alat bantu dengar ABD bila kesulitan komunikasi PENGENDALIAN DAN PENCEGAHAN a. Pengukuran Pendengaran ( audiometer sebelum kerja + berkala) b. - Pengendalian bising - Pembatasan waktu pemajanan - Alat Pelindung Telinga ear plug - ear muff - helm c. Analisa Bising Sound Level Meter (SLM)

ANATOMI

FISIOLOGI HIDUNG

Respirasi pengatur, penyaring, humidifikasi

Penghidu indra penghidu (mukosa olfaktorius)

Fonetik resonansi suara, bantu proses bicara

Statik proteksi dan pelindung panas

Refleks nasal refleks bersin

debu
Zat kimia Gangguan Pernafasan

Pekerjaan industri, pengeboran, pemecahan bahan-bahan padat , bahan dasar kayu, debu pakaian Zat-zat kimia , bahan korosif, ct:arsen Hirupan arsen iritasi hidung, epistaxis, perforasi septum nasalis, sampai obstruksi jalan nafas Rhinitis Allergika

Allergen dari binatang dan tumbuhan

Alergi
Rhinitis alergi sudah diderita karyawan

Non alergi
Iritan di lingkungan kerja merangsang membran mukosa nasal

-Iritatif toksik -Medikamentosa -Hormonal -Vasomotor -infeksi Gejala iritasi

Eksaserbasi akibat bahan di lingkungan kerja

Hanya timbul saat kerja, akhir minggu membaik

Bahan korosif merusak sistem olfaktorius

Rhinitis Allergika
inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut Allergen inhalan Tungau debu rumah, serpihan kulit binatang, rerumputan, jamur Susu, sapi, telur, coklat, kacang Penisilin, sengatan lebah Kosmetik, perhiasan

Allergen Ingestan Allergen Injektan Allergen kontaktan

-Bersin -Hidung tersumbat -Rhinorrhoe

Pekerjaan : peternak, petani, pekerja kayu, pekerja tekstil dan penjahit

Nasal Allergy Syndrome

PATOFISIOLOGI Allergen masuk ke dalam tubuh Reaksi Antigen Antibody IgE mengeluarkan mediator kimia ct histamin dampak -Oedem mukosa obstruksi nasi -Kelenjar Rhinorrhoe - Saraf Bersin -Pembuluh darah Hiperemi Pemeriksaan Fisik -Allergic shiner -Allergic salute -Allergic crease Rhinoskopi anterior : Mukosa edema, basah, berwarna pucat, livid, sekret encer banyak +

MANIFESTASI KLINIS -Serangan bersin berulang Anamnesa -Hidung tersumbat -Keluar cairan dari hidung, encer, bening -Hidung mata gatal, keluar air mata -Riwayat alergi dalam keluarga

Penunjang

Pemeriksaan Darah Tepi Hitung Eosinofil normal / IgE

TERAPI -Edukasi pasien -menghindar masker -Medikamentosa : Antihistamin Dekongestan (Pseudoefedrin) Kortikosteroid - Desensitisasi

Penggolongan Antihistamin
Golongan dan Contoh Obat AH1 (klasik/sedatif) -Etanolamin (difenhidramin, dimenhidrinat) -Etilendiamin (pirilamin) -Piperazin (siklizin,meklizin) -Alkilamin (klorfeniramin) -Derivat Fenotiazin (prometazin) -Siproheptadin, mebhidrolin napadisilat AH2 (non sedatif) -Astemizol -Feksofenadin -Loratadine -Setirizin Dosis dewasa 25-50mg, 50 mg 25-50 mg 25-50 mg 4-8 mg 10-25 mg 4 mg, 50-100 mg

10 mg 60mg 10 mg 5-10 mg

TERAPI
Desensitisasi ( Imunotherapi dan hiposensitisasi) Dilakukan bila pengobatan cara lain tidak memberikan hasil yang memuaskan

Kortikosteroid -Metil Prednisolon 4 mg -Prednison 5 mg -Prednsolon 5 mg -Dexametason 0,5 mg -Betametason 0,6 mg -Triamsinolon 4 mg -Kortisol 5-20 mg

DAMPAK PEKERJAAN TERHADAP TENGGOROK

ANATOMI

Rongga larynx : -Vestibulum glotik -Glotik -Subglotik

Proteksi

Mencegah benda asing masuk trakea


Batuk

Menentukan tinggi rendah nada

Fonasi

Emosi

Fungsi laring

Respirasi

Menutup aditus laring, mendorong bolus makanan

Menelan

Sirkulasi

Penyalahgunaan suara (vocal abuse) adalah setiap perilaku atau peristiwa yang melukai lipatan vokal (pita suara)

berbicara berlebihan, batuk, menghirup bahan iritasi, merokok, menjerit, atau berteriak

Merusak lipatan vokal perubahan sementara atau permanen fungsi vokal, kualitas suara, dan kemungkinan kehilangan suara

Pengacara

Penyanyi

Guru/dosen

Resiko tinggi
Aktor Pemandu sorak

Pemuka Agama

"gangguan suara hyperfunctional Laringitis


peradangan atau pembengkakan lipatan vokal
penggunaan suara yang berlebihan, infeksi bakteri atau virus, bahan kimia iritan yang terhirup atau akibat gastroesophageal reflux

Vocal nodule singers nodes

paling umum yang langsung berhubungan dengan penyalahgunaan suara


kecil dan jinak, tumbuh pada pita suara
biasanya terbentuk berpasangan, satu pada setiap lipatan vokal di daerah yang menerima tekanan yang paling tinggi ketika lipatan berkumpul untuk bergetar

gejala : suara serak, bernada rendah, dan sedikit desah.

Vocal polip (edema Reinke /polypoid degenerasi)

pertumbuhan jinak, mirip dengan nodul vokal tetapi lebih lembut


Sering hanya pada satu pita suara

desah suara bernada rendah, serak mirip dengan suara orang yang telah nodul vokal.

Contact ulcers

jarang terjadi pada penyalahgunaan vokal. Pada orang yang menggunakan terlalu banyak tenaga saat menggunakan vokal lipatan untuk berbicara. Gaya yang berlebihan menyebabkan luka atau ulserasi dekat kartilago laring.

gejala : mudah lelah saat bersuara dan mungkin merasa nyeri pada tenggorokan, terutama saat berbicara.

Anamnesis

suara serak suara yang mendesah nyeri pada tenggorok pekerjaan pasien

Pemeriksaan Fisik

laringoskopi hiperemis pada tepi atau difus lipatan vocal dengan kongesti vascular, nodul, polip, ulcer

laringitis disfonia psikogenik disfonia hormonal

Laringitis dengan penyebab non pekerjaan suara serak pada saat bangun

bervariasi, terjadinya tanda tidak tetap

pola konstan disfungsi

hilangkan perilaku vokal yang menciptakan gangguan suara baik seperti dukungan nafas yang tepat untuk pembicaraan atau menghilangkan penyuaraan yang kuat dengan tidak banyak berbicara (vocal rest).

Beberapa kasus

Operasi

TERIMA KASIH