Anda di halaman 1dari 19

CA COLON

Dr. H. Djadjat A. Sobari Sp. B. FinaCS

SMF Bedah RSUD Gunung Jati Cirebon

Definisi
Colorectal Cancer atau dikenal sebagai Ca. Colon atau Kanker Usus Besar adalah suatu bentuk keganasan yang terjadi pada kolon, rektum, dan appendix (usus buntu).

Epidemologi
Di negara maju, kanker ini menduduki peringkat ke tiga yang paling sering terjadi, dan menjadi penyebab kematian yang utama di dunia barat. Untuk menemukannya diperlukan suatu tindakan yang disebut sebagai kolonoskopi, sedangkan untuk terapinya adalah melalui pembedahan diikuti kemoterapi.

Gejala
Mula-mula gejalanya tidak jelas, seperti berat badan menurun (sebagai gejala umum keganasan) dan kelelahan yang tidak jelas sebabnya. Setelah berlangsung beberapa waktu barulah muncul gejala-gejala lain yang berhubungan dengan keberadaan tumor dalam ukuran yang bermakna di usus besar. Makin dekat lokasi tumor dengan anus biasanya gejalanya makin banyak. Bila kita berbicara tentang gejala tumor usus besar, gejala tersebut terbagi tiga, yaitu gejala lokal, gejala umum, dan gejala penyebaran (metastasis).

Gejala lokalnya :
Perubahan kebiasaan buang air Perubahan frekuensi buang air, berkurang (konstipasi) atau bertambah (diare) Sensasi seperti belum selesai buang air, (masih ingin tapi sudah tidak bisa keluar) dan perubahan diameter serta ukuran kotoran (feses). Keduanya adalah ciri khas dari kanker kolorektal Perubahan wujud fisik kotoran/feses Feses bercampur darah atau keluar darah dari lubang pembuangan saat buang air besar Feses bercampur lendir Feses berwarna kehitaman, biasanya berhubungan dengan terjadinya perdarahan di saluran pencernaan bagian atas Timbul rasa nyeri disertai mual dan muntah saat buang air besar, terjadi akibat sumbatan saluran pembuangan kotoran oleh massa tumor Adanya benjolan pada perut yang mungkin dirasakan oleh penderita Timbul gejala-gejala lainnya di sekitar lokasi tumor, karena kanker dapat tumbuh mengenai organ dan jaringan sekitar tumor tersebut, seperti kandung kemih (timbul darah pada air seni, timbul gelembung udara, dll), vagina (keputihan yang berbau, muncul lendir berlebihan, dll). Gejalagejala ini terjadi belakangan, menunjukkan semakin besar tumor dan semakin luas penyebarannya

Gejala umumnya :
Berat badan turun tanpa sebab yang jelas (ini adalah gejala yang paling umum di semua jenis keganasan) Hilangnya nafsu makan Anemia, pasien tampak pucat Sering merasa lelah Kadang-kadang mengalami sensasi seperti melayang

Gejala penyebarannya:
Penyebaran ke Hati, menimbulkan gejala : Penderita tampak kuning Nyeri pada perut, lebih sering pada bagian kanan atas, di sekitar lokasi hati Pembesaran hati, biasa tampak pada pemeriksaan fisik oleh dokter Timbul suatu gejala lain yang disebut paraneoplastik, berhubungan dengan peningkatan kekentalan darah akibat penyebaran kanker.

Stadium Karsinoma Kolorektal


I. TNM (AJCC/UICC) staging system : Tumor Primer (T) Tx : tumor primer belum dapat dipastikan T0 : belum ada bukti tumor primer T1 : terbatas pada mukosa/submukosa T2 : invasi ke tunika muskularis propia T3 : invasi ke viscera peritoneum T4 : invasi ke organ terdekat : prostate, vagina, sacrum Regional Lymph Nodes (N) KGB regional Nx : KGB belum dapat dipastikan No : tidak terdapat metastase ke KGB N1 : metastase ke 1-3 KGB perikolik dan perirektal N2 : metastase ke 4 KGB perikolik dan perirektal N3 : metastase ke KGB manapun yang berada sepanjang pembuluh darah besar Distant metastase (M) metastase jauh Mx : metastase belum dapat dipastikan M0 : tidak terdapat metastase M1 : metastase jauh Karsinoma rektal (DUKES 1932) menilai : ekstensi langsung metastase limpatik regional DukesA : Tumor primer pada dinding usus DukesB : Penetrasi sampai lapisan serosa/ lemak DukesC : C1 : keterlibatan nodul lokal C2 : keterlibatan nodal regional DukesD : metastase jauh

Tujuan : 1. prediksi prognosis. 2. seleksi pasien untuk variasi terapi 3. perbandingan pasien

Colonoscopy

Faktor Resiko
Usia. Resiko meningkat dengan bertambahnya usia. Kebanyakan kasus terjadi pada usia 60 70 an, dan jarang di bawah usia 50 kecuali dalam sejarah keluarga ada yang terkena kanker kolon ini. Adanya polip pada kolon, khususnya polip jenis adenomatosa. Dengan dihilangkannya polip pada saat ditemukan turut mengurangi resiko terjadinya kanker kolon di kemudian hari. Riwayat kanker. Seseorang yang pernah terdiagnosis mengidap atau pernah dirawat untuk kanker kolon beresiko untuk mengidap kanker kolon di kemudian hari. Wanita yang pernah mengidap kanker ovarium (indung telur), kanker uterus, dan kanker payudara memiliki resiko yang lebih besar untuk terkena kanker kolorektal. Penyakit kolitis (radang kolon) ulseratif yang tidak diobati. Kebiasaan merokok. Perokok memiliki resiko jauh lebih besar untuk terkena kanker kolorektal dibandingkan bukan perokok. Kebiasaan makan. Pernah di teliti bahwa kebiasaan makan banyak daging dan sedikit buah, sayuran, serta ikan turut meningkatkan resiko terjadinya kanker kolorektal. Sedikit beraktivitas. Orang yang beraktivitas fisik lebih banyak memiliki resiko lebih rendah untuk terbentuk kanker kolorektal. Inveksi Virus. Virus tertentu seperti HPV (Human Papilloma Virus) turut andil dalam terjadinya kanker kolorektal.

Faktor keturunan : Sejarah adanya kanker kolon khususnya pada keluarga dekat. Penyakit FAP (Familial Adenomatous Polyposis) Polip adenomatosa familial (terjadi dalam keluarga); memiliki resiko 100% untuk terjadi kanker kolorektal sebelum usia 40 tahun, bila tidak diobati. Penyakit lain dalam keluarga, seperti HNPCC (Hereditary Non Polyposis Colorectal Cancer) penyakit kanker kolorektal non polip yang menurun dalam keluarga, atau sindroma Lynch

Manifestasi Klinis :
Insidious Onset of Chronic Symptoms : Tumor pada kolon kanan (kolon asendens & caecum) : lesi berupa polipoid & memanjang pada satu dinding nyeri (vague/tidak jelas) teraba massa pada lower right kuadran anemia o.k occult bleeding feses berwarna merah gelap atau mahogany tercampur dengan feses (dark, tarry stool) obstruksi jarang

tumor pada kolon kiri (kolon desendens) : lesi tumbuh sirkumferensial dan menyebar mengelilingi semua dinding nyeri : kram perut, berkurang setelah BAB muntah pasase darah berwarna merah cerah pada permukaan feses obstruksi ( kolon lebih kecil dari kolon asendens), tapi berjalan lambat konstipasi distensi abdomen yang progresif

Tumor pada rektal (menyebar ke prostat pada laki-laki, vagina pada wanita) : - tenesmus (keinginan untuk defekasi dengan mengejan yang tidak efektif, sering disertai sakit saat mengejan) rektal tidak nyaman darah merah cerah pada permukaan feses

Pasien datang dengan presentasi akut a. Obstruksi Akut : pada kolon curiga keganasan, terutama pada pasien tua. Obstruksi total : tdk dapat BAB, flatus (-), kram perut, distensi abdomen, massa dapat teraba b. Perforasi : bila obstruksi total tidak ditangani distensi kolon berlanjut vaskularisasi terganggu ischemia&nekrosis (severe abdominal pain, nyeri lepas, BU <<) perforasi fecal peritonitis sepsis

Usulan Pemeriksaan :
CBC (complete blood count) LFT (liver function test) untuk evaluasi metastasis hepar pada post-op CEA (Carcinomic Embryonic Antigen) : - tumor yang belum penetrasi seluruh dinding : CEA rendah - CEA pre-op : rekurensi >> - post op : menandakan reseksi komplit atau metastasis yang tidak terdeteksi Kolonoskopi & barium enema : diagnosis pasti Radiografi foto thorax : menyingkirkan metastasis paru CT abdomen/pelvis terpilih : melihat kedalaman invasi tumor primer dan metastasis intraabdominal Ultrasonografi Transkutaneus Intrarektal/transrektal

Penatalaksanaan
- Terapi utama : Pembedahan (kuratif/paliatif) - Terapi kasus rekuren/metastasis : terapi bedah diindikasikan pada kasus dengan rekurensi terbatas (hepar, paru, ovarium) pada kasus yang menyebarluas pertimbagkan kemoterapi paliatif bila belum diberikan kemoterapi, pertimbangkan pemberian 5-FU plus leucovorin bila ada progresivitas setelah ajuvan atau bolus 5FU-based therapy, pertimbangkan infusional 5FU/leucovorin atau irinorectan kasus obstruksi, pertimbangkan percutaneous gastrotomy atau bypass surgery kasus dengan meta tulang, pertimbangkan radiotherapy paliatif kasus unresectable, hanya observasi atau hospice care

Peranan terapi ajuvan :


- preoperative radiasi - menambah resektabilitas - menambah efek karena jaringan lebih vascularized dan oxygenated - menurunkan toksisitas karena usus halus mobile - teoritis : mengurangi implantasi sel-sel tumor selama manipulasi bedah a. RADIOTHERAPY : external beam radiotherapy ( 92% mengurangi sakit, 80% mengecilnya besar tumor) b. CHEMOTHERAPY : tidak ada efek samping sistemik yang dramatik, melalui intraarterial 5 FU & mitomycin

Kanker colon a. Indikasi operasi : harus operable & resectable Reseksi segmental colon : - Karsinoma caecum, kolon ascending, fleksur heptica Hemikolektomi kanan - Karsinoma kolon tranversum Kolektomi tranversal - Karsinoma fleksur splenikus Membuang 1/2 distal kolon tranversum dan kolon desendens - Karsinoma kolon sigmoid Kolostomi sigmoid b. Terapi ajuvan : - kemoterapi dengan NIH (5 FU & levamisole) untuk stadium III - radioterapi : tidak terlalu berguna untuk kanker kolon

Kanker Rektal a. Operasi Gold standard : TME (Total Mesorectal Excision), menurunkan angka kegagalan lokal b. Indikasi pengobatan neoadjuvant : melihat stadium klinis; lebih pada mid-low kanker rektal, dibandingkan untuk high-kanker rektal. - Std.klinis : -T3 T4 - batas sirkumferensial terancam - N (+) Pada locally-advanced non-resectable rectal cancer : kemoradioterapi

Referensi
Schwartz, et al. Principles of Surgery. 7th ed. p1328-1371. McGraw-Hill. International Edition : 1999. Vol 2 Kathryn L. McCance. Pathophysiology : The Biologic Basis for Disease in Adults and Children. 5th ed. St.Louis : Elsevier Mosby. 2006