Anda di halaman 1dari 70

ANXIETAS

KELOMPOK 4

DEFINISI & EPIDEMIOLOGI

Anxietas: kecemasan yang berlebihan dan lebih bersifat subyektif. Pada umumnya pasien datang ke poliklinik penyakit dalam keluhan somatik.

Anxietas (PPDGJ III)


Anxietas dicetuskan oleh adanya situasi/objek yang jelas (daru luar individu itu sendiri), yang sebenarnya pada saat kejadian ini tidak membahayakan Akibatnya, objek/situasi tersebut dihindari/dihadapi dengan rasa terancam

Terdapat keluhan dan gejala-gejala sbb:


Ketegangan motorik: kedutan otot, kaku, pegal, sakit dada, sakitpersendian. Hiperaktif otonom: sesak nafas, jantung berdebar, telapak tanganbasah, mulut kering, rasa mual, mules, diare dan lain-lain. Bila ditemukan adanya kelainan organis pada umumnya keluhan tidak sebanding dengan kelainan organ yang ditemukan Kewaspadaan berlebihan dan daya tangkap berkurang: mudahterkejut, cepat tersinggung, sulit konsentasi, sukar tidur dan lain-lain.

Tingkatan anxietas
Cemas Ringan : cemas yang normal menjadi bagian sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. Ansietas ini dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas. Cemas sedang : cemas yang memungkinkan sesorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang tidak penting.

Cemas berat : cemas ini sangat mengurangi lahan persepsi individu cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak dapat berfikir pada hal yang lain. Semua prilaku ditunjukkan untuk mengurangi tegangan individu memerlukan banyak pengesahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain.

Panik : Tingkat panik dari suatu ansietas berhubungan dengan ketakutan dan terror, karena mengalami kehilangan kendali. Orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan suatu walaupun dengan pengarahan, panik mengakibatkan disorganisasi kepribadian, dengan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional.

Tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Stuart & Sundent, 2000).

Epidemiologi
National comorbidity study melaporkan bahwa 1 diantara 4 orang memenuhi kriteria untuk sedikitnya satu gangguan anxietas dan terdapat angka prevalensi 12 bulan sebesar 17,7% perempuan lebih cenderung mengalami anxietas Prevalensi gangguan anxietas menurun dengan meningkatnya status sosio-ekonomi (Kaplan & Saddock)

FAKTOR RESIKO ANXIETAS & PATOFISIOLOGI GEJALA

a. Teori Psikodinamik
Freud (1993) : kecemasan merupakan hasil dari konflik psikis yang tidak disadari Ketakutan (kecemasan akut) represi dan konflik( tak sadar) kecemasan menahun stress pencetus penurunan daya tahan dan mekanisme untuk mengatasinya perasaan cemas mekanisme pertahanan diri dialami sebagai symtomps seperti fobia, regresi, dan tingkah laku ritualistik.

b. Teori Perilaku
Menurut teori perilaku, Kecemasan berasal dari suatu respon terhadap stimulus khusus (fakta), waktu cukup lama, seseorang mengembangkan respon kondisi untuk stimulus yang penting. Kecemasan tersebut merupakan hasil frustasi, sehingga akan mengganggu kemampuan individu untuk mencapai tujuan yang di inginkan.

c. Teori Interpersonal
Menjelaskan bahwa kecemasan terjadi dari ketakutan akan penolakan antar individu, sehingga menyebabkan individu bersangkutan merasa tidak berharga.

d. Teori Keluarga
Menjelaskan bahwa kecemasan dapat terjadi dan timbul secara nyata akibat adanya konflik dalam keluarga.

e. Teori Biologik
Disregulasi sistem saraf perifer dan pusat sistem saraf otonomik tonus simpatik>> beradaptasi secara lambat terhadap stimuli yang berulang dan berespon secara berlebihan terhadap stimuli. Sistem neurotransmiter utama yang terlibat adalah norepinefrin, serotonin, dan gamma aminobutyric acid (GABA)

Patofisiologi kecemasan

Teori Anxietas

Teori psikoanalitik
Teori intrapersonal

Teori perilaku

Teori biologi

Teori psikoanalitik

ego Id
Struktur kepribadian

Super ego

Teori psikoanalitik

Id

Dorongan insting dan impuls primitif

Superego
Ego

Hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma norma budaya

Mediator antara tuntutan dari id dan super ego

Super ego ego

id

Anxietas
Konflik emosional antara superego dan id yang berfungsi untuk memperingatkan ego tentang suatu bahaya yang harus diatasi

Teori Intrapersonal
Anxietas terjadi dari ketakutan akan penolakan intrapersonal kehilangan Trauma masa pertumbuhan Perpisahan

Teori Perilaku
Anxietas merupakan hasil frustasi dari segala sesuatuyang mengganggu seseorang untuk mencapai tujuan yang ingin di capai

Anxietas merupakan doronganyang dipelajari bedasarkan keinginan untuk menghindarkan rasa sakit
manusia yang dari awal dihadapkann dengan rasa takut akan menunjukan anxietas di usia dewasa

Stessor Jenis kelamin Maturitas

Umur

Kemampuan seseorang menghadapi cemas ditentukan oleh

Tingkat pendidikan

Lingkungan situasi Kepribadian

Keadaan fisik

KLASIFIKASI ANXIETAS

Jenis-jenisnya :
Gangguan Cemas Menyeluruh. Gangguan Distimik. Gangguan Konversi. Gangguan Fobik. Gangguan Obsesi-kompulsif. Gangguan Hypokhondrik.

Gangguan Cemas Menyeluruh


Gejala : a. Akut : gelisah, agitasi, nafas jadi cepat / sesak, kadang-kadang sukar bicara, mulut kering, kulit pucat, tremor, insomnia. b. Kronik : 1. Gangguan tidur : payah memulai tidur, mimpi buruk, sering-sering terbangun. 2. Perasaan takut. 3. Kelemahan fisik, BB , tremor, gelisah. 4. Mudah terkejut, mudah marah, gampang curiga, mudah menangis. 5. Berdebar-debar.

6. Konsentrasi , sakit kepala, nafas pendek. 7. Perubahan fungsi seksual : ejakulasi proekoks, dorongan seksual . 8. Tachycardie, anoreksia, menceret, naursea, vomitus. 9. D.l.l.

Gangguan Distimia
Gejala-gejalanya : 1. Perasaan sedih, mau menangis saja, putus asa, merasa kesunyian, apatis, kurang berhubungan dengan sekitarnya, mudah tersinggung, rasa kasih sayang menghilang, humor jadi berkurang, tidak dapat menyayangi dirnya sendiri.

2. Kritik menjadi berkurang, bisa muncul sikap agresif. 3. Sintom-sintom fisik, seperti : merasa kosong diulu hati, terasa berat didada. 4. Sakit kepala, insomnia, sakit dipinggang, pegal-pegal, anoreksia, konstipasi, mual-mual, merasa lemas, dorongan seksual . 5. Ketergantungan pada orang lain , kurang dapat mengambil kebijaksanaan, pikirran bunuh diri dan bahkan bila berat / parah timbul tindakan bunuh diri. 6. Pikiran-pikiran yang negatif saja. 7. Wajah muram, lesu, suara monoton, kurang bicara dan lebih banyak sikap menunduk.

Gangguan Konversi
Gejala-gejalanya : 1. Kejang-kejang, hal ini berbeda dengan kejang pada epilepsi, dimana pada neurosa histerik sifat kejangnya adalah : Kasar. Berlangsung lama. Bila diberikan perhatian maka kejangnya . Tidak teratur (tidak ritmik) Jarang didapat luka pada badannya. Tidak pernah terjatuh pada tempat yang berbahaya.

2. Tidak bereaksi terhadap stimulus misal : bila dicubit tak ada reaksi. Matanya tertutup dan menghindar bila dibuka. 3. Bila tidak dalam serangan, maka pasien dapat mengingat dan menceritakan apa-apa yang terjadi sewaktu dia dalam keadaan kejang tersebut. 4. Paresis & Poralysis. 5. Anaesthesia dan gangguan pada panca indera, misal : buta, tuli, dsb. 6. Kepribadian pramorbidnya adalah kepribadian histrionik, yaitu : Dramatis. Exhibitionistik. Narsisistik. Seduktif. Dependen. manipulatif

Gangguan Fobia
Gejala-gejalanya : Fobia. Tindakan menghindar terhadap objek atau situasi tersebut . Kadang-kadang bisa timbul panik. Ansietas.

Gangguan Obsesi-Kompulsif
Gejala-gejalanya : Pikiran obsesi. Tindakan kompulsif. Insomnia, aktifitas rutin terganggu, d.l.l.

Gangguan Hypokhondrik
Gejala-gejalanya : 1. Selalu mengeluhkan adanya organ tubuhnya yang mengalami sakit dengan ciri-cirinya : tidak terbatas, tidak khas, bermacam-macam dan bisa pada beberapa alat tubuh. 2. Merasa lemah. 3. Merasa ketakutan kalau-kalau dia sudah gila. 4. Pada pemeriksaan tidak dijumpai kelainan pada alat tubuh tersebut. 5. Ciri-ciri tingkah laku pasien : a. Pasien menjelaskan keluhannya dengan panjang lebar, mendetail dan begitu penting menurutnya.

b. Pasien menunjukan daerah-daerah yang terserang tersebut dengan peragaan gejalanya dan menunjukkan satu lesi yang sangat kecil yang kebetulan ada tapi sebenarnya tidaklah begitu berarti. c. Sering-sering memakai istilah medis karena begitu seringnya dia membahas penyakitnya itu dengan dokternya, atau membaca dari buku, dsb. d. Ada kecemasan terhadap penyakitnya itu. e. Pasien selalu mengunjungi dokternya.

PEMERIKSAAN ANXIETAS

Anamnesis

I.

DATA PRIBADI / IDENTITAS

II. RIWAYAT PSIKIATRI


Riwayat psikiatri diperoleh dari hasil auto/alloanamnesis Alloanamnesis diperoleh dari : (tanggal/bulan/tahun)

B. Riwayat Penyakit Sekarang

C. Riwayat Sebelumnya/Riwayat Penyakit dahulu (RPD)

PSIKIATRI

MEDIS UMUM

PENGUNAAN OBAT-OBATAN DAN NAPZA

D.

Riwayat Pramorbid 1. Prenatal dan Perinatal 2. Masa Anak Awal (sampai 3 tahun) 3. Masa Anak Pertengahan (3-11 tahun) 4. Masa kanak akhir dan Remaja (11-18 tahun)

5. Masa Dewasa

a. Riwayat Pendidikan b. Riwayat Pekerjaan c. Riwayat Keagamaan d. Riwayat Perkawinan e. Riwayat Militer f. Riwayat Pelanggaran Hukum g. Riwayat Sosial

h. Situasi hidup sekarang

i. Riwayat Psikoseksual Usia menarche, mimpi basah orientasi seksual, pengetahuan seks, pergaulan seks bebas (intimacy, ganti-ganti pasangan seks, penyimpangan seksual, pelecehan seksual)

j.

Riwayat Keluarga Isi tentang anak no, jumlah saudara situasi dalam keluarga, retardasi mentaldalam keluarga, trauma keluarga, kegagalan keluarga, dukungan keluarga, bunuh diri.

k. Mimpi, Fantasi dan Nilai-nilai Ingin anaknya hidup dalam kecukupan

III. STATUS MENTAL


A. Deskripsi Umum 1. Penampilan umum 2. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor

3. Sikap Terhadap Pemeriksaan


4. Mood dan afek

B. Deskripsi Umum Jelas dan cukup spontan, berusaha menjawab semua pertanyaan pemeriksa, intonasi suara cukup, volume suara kadang-kadang menurun, Artikulasi jelas, sesekali muncul ekspresi wajah sedih, murung. Kuantitas cukup, kualitas cukup. C. Gangguan Persepsi Ilusi : (-) Halusinasi : auditorik fonema (merasa disuruh nyemplung sumur) Depersonalisasi Derialisasi

D.Pikiran

1.Proses berpikir (Bentuk pikir)

2. Isi Pikir

E. Sensorium dan Kognitif : 1. Kesadaran : 2. Orientasi Personal : Baik Tempat : baik Waktu : Baik Situasinal : Baik 3. Daya ingat Segera : Cukup Jangka pendek : Baik Jangka sedang : Baik Jangka panjang : Baik 4. Konsentrasi dan Perhatian Pasien dapat memusatkan dan mempertahankan perhatian 5. Kapasitas untuk Membaca dan Menulis Cukup 6. Kemampuan Visuospasial : Cukup 7. Pikiran abstrak Baik

F. Pengendalian Impuls Cukup G. Tilikan Derajat tilikan yang dimiliki.

1 2 3

4 5 6

Pemeriksaan fisik & diagnosis multiaksial

IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT A.Status Internus 1.Keadaan Umum : Baik 2. Berat/Tinggi Badan : ... 3. Kesadaran : Kompos Mentis 4. Tanda Vital : TDmmHg, Nadix/mnt, Suhu, Pernafasan 5. Kepala : 6. Leher : 7. Toraks : 8. Abdomen : 9. Ekstremitas : Kesan : Status Neurologis

B. Status Neurologis : Kesan : tidak ada kelainan C. Laboratorium Pemeriksaan darah rutin, urinalisa DBN D. Pemeriksaan Penunjang Lain EKG : .... Foto Toraks : .... CT Scan : .... EEG : .... Disesuaikan dengan kondisi fisik

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA /FORMULASI DIAGNOSTIK

PPDGJ III : Aksis I : diagnsosis klinis Aksis II : Ciri atau gangguan kepribadian/Retardasi Mental Aksis III : Diagnosis dengan pemeriksaan fisik dan laboratorium/Riwayat/ observasi Aksis IV : Stresor psikososial(penyebab/pencetus/tdk ada hubungan) Aksis V : GAF

VI. Evaluasi Multiaksial Menurut PPDGJ III Aksis I : F41.1 Gangguan cemas menyeluruh Aksis II : Aksis III : tidak ada diagnosis Aksis IV : tidak ada stressor: skenario keluhan tanpa sebab yang jelas/kondisi tertentu Aksis V : GAF 50

PENATALAKSANAAN ANXIETAS

Farmakoterapi
Penggolongan :
Benzodiazepine
Diazepam, Chlordiazepoxide, Lorezepam, Clobazam, Bromazepam, Alprazolam

Non-Benzodiazepine
Sulpiride, Buspirone, Hydroxyzine

Indikasi Penggunaan
Adanya perasaan cemas / khawatir yang tidak realistik terhadap 2 atau lebih hal yang dipersepsi sebagai ancaman

Menyebabkan individu tidak mampu beristirahat dengan tenang (inability to relax)

Ketegangan Motorik

Kedutan otot / rasa gemetar Otot tegang / kaku / pegal Tidak bisa diam Mudah menjadi lelah

Hiperaktivitas Otonomik

Nafas pendek / terasa berat Jantung berdebar-debar Telapak tangan basah-dingin Mulut kering Kepala pusing, rasa melayang Mual, mencret, rasa tidak enak pada perut Wajah terasa panas, badan menggigil Sering buang air kecil Sukar menelan Perasaan menjadi peka Mudah terkejut Sulit konsentrasi Sukar tidur Mudah tersinggung

Kewaspadaan berlebihan dan Penangkapan Berkurang

Efek Samping Obat


Sedasi
Rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja psikomotor menurun, kemampuan kognitif melemah

Relaksasi otot
Rasa lemas, cepat lelah

Pemilihan Obat
Golongan Benzodiazepine >> drug of choice dari semua obat yang memiliki efek anti anxietas
Karena spesifisitas, potensi dan kemananan Spektrum klinis Benzodiazepine : efek anti anxietas, antikonvulsan, anti-insomnia

Pengaturan Dosis
steady state (keadaan dengan jumlah obat yang masuk kedalam badan sama dengan jumlah obat yang keluar dari badan) dicapai setelah 5-7hari dengan dosis 2-3kali sehari

PSIKOTERAPI

Penatalaksanaan ansietas pada tahap pencegahaan dan terapi memerlukan suatu metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu mencangkup fisik (somatik), psikologik atau psikiatrik, psikososial dan psikoreligius.

a. Upaya meningkatkan kekebalan terhadap stress,dengan cara: 1) Makan makanan yang bergizi dan seimbang 2) Tidur yang cukup 3) Cukup olahraga 4) Tidak merokok & minum minuman keras.
b. Terapi somatik Dapat diberikan obat-obatan yang ditujukan pada organ tubuh yang bersangkutan. C. Terapi psikoreligius Untuk meningkatkan keimanan seseorang yang erat hubungannya dengan kekebalan dan daya tahan dalam menghadapi berbagai problem kehidupan yang merupakan stressor psikososial.

d. Psikoterapi Psikoterapi diberikan tergantung dari kebutuhan individu, antara lain:


1) Psikoterapi suportif Untuk memberikan motivasi, semangat dan dorongan agar pasien yang bersangkutan tidak merasa putus asa dan diberi keyakinan serta percaya diri. 2) Psikoterapi re-edukatif Memberikan pendidikan ulang dan koreksi bila dinilai bahwa ketidakmampuan mengatsi kecemasan. 3) Psikoterapi re-konstruktif Untuk dimaksudkan memperbaiki kembali (re-konstruksi) kepribadian yang telah mengalami goncangan akibat stressor. 4) Psikoterapi kognitif Untuk memulihkan fungsi kognitif pasien, yaitu kemampuan untuk berpikir secara rasional, konsentrasi dan daya ingat.

5) Psikoterapi psiko-dinamik Untuk menganalisa dan menguraikan proses dinamika kejiwaan yang dapat menjelaskan mengapa seseorang tidak mampu menghadapi stressor psikososial sehingga mengalami kecemasan. 6) Psikoterapi keluarga Untuk memperbaiki hubungan kekeluargaan, agar faktor keluarga tidak lagi menjadi faktor penyebab dan faktor keluarga dapat dijadikan sebagai faktor pendukung.

Pendekatan Psikoterapeutik
Kognitif-perilaku Pendekatan kognitif secara langsung menjawab distrosi kognitif pasien yang dihipotesiskan dan pendekatan perilaku menjawab keluhan somatik secara langsung. Suportif Menawarkan ketentraman dan kenyamanan pasien. Berorientasi-tilikan Untuk menggungkapkan konflik bawah sadar dan mengenali kekuatan ego.

Pendekatan dinamika: meningkatkan toleransi kecemasan pasien (kemampuan untuk mengalami kecemasan tanpa harus melampiaskannya) bukan untuk menghilangkan kecemasannya. Berikan kesempatan pasien untuk membicarakan kesulitannya dengan dokter yang prihatin dan simpatik. Pencarian rasa takut pasien yang mendasarinya.

Memiliki dokter tunggal Kunjungan terjadwal teratur : interval satu bulan Psikoterapi kelompok Rujuk ke dokter psikiatrik

TERIMA KASIH