Anda di halaman 1dari 36

CASE REPORT ANALISA TEMUAN KASUS GIZI KURANG DENGAN PENDEKATAN HL.

BLUM DI PUSKESMAS HALMAHERA PERIODE MEI 2013


Hapsari Rizki A. Aprilia Sri H. Ardiani Okky N. Arif Rahmawan Tri Ratnawati 01.206.5199 01.207.5445 01.208.5608 01.208.5612 01.208.5797

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG 2013

LATAR BELAKANG
Salah satu masalah kesehatan dan sosial yang dihadapi Indonesia adalah rendahnya status gizi masyarakat Rendahnya status gizi jelas berdampak pada kualitas sumber daya manusia status gizi mempengaruhi kecerdasan, daya tahan tubuh terhadap penyakit, kematian bayi, kematian ibu dan produktivitas kerja

Gangguan gizi dapat disebabkan oleh pola pengasuhan makanan anak oleh ibu

TUJUAN
Tujuan Umum: Mengetahui dan menganalisa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kasus gizi kurang dari aspek lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan kependudukan. Tujuan Khusus: Mengetahui kondisi lingkungan pasien yang berpengaruh terhadap terjadinya kasus gizi kurang Mengetahui perilaku pasien yang berpengaruh terhadap terjadinya kasus gizi kurang Mengetahui jarak pelayanan kesehatan dengan rumah pasien Mengetahui keadaan genetik pasien Menganalisis penyebab masalah kasus gizi kurang pada pasien dengan pendekatan HL Blum Mencari alternative pemecahan masalah untuk mengatasi kasus gizi kurang

STATUS GIZI
NORMAL dimana terdapat keseimbangan antara jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh dan energi yang dikeluarkan dari luar tubuh sesuai dengan kebutuhan individu

KURANG

dimana jumlah energi yang masuk lebih sedikit dari energi yang dikeluarkan

LEBIH

dimana jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh lebih besar dari jumlah energi yang dikeluarkan

KLASIFIKASI
RINGAN hasil penimbangan berat badan pada KMS terletak pada pita warna kuning diatas garis merah atau BB/U 70-80% baku median WHONCHS.

SEDANG

hasil penimbangan BB pada KMS berada dibawah garis merah atau BB/U 70-80% baku median WHO-NCHS

BERAT

hasil penimbangan BB/U < 60% baku median WHO-NCHS pada KMS tidak ada garis pemisah KEP berat dan KEP sedang.

FAKTOR YANG BERPENGARUH

Identitas pasien
Nama Jenis kelamin Umur Berat badan Tinggi badan Agama Anak ke Riwayat persalinan Alamat Timur : An. Adinda : Perempuan : 18 bulan : 8 kg : 76 cm : Islam :3 : Normal : Rejomulyo IV No.12 Semarang

Keluhan Pasien
Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien tampak kurus dan berat badan susah untuk naik.

Berat badan pasien saat lahir 3500 gr. Setiap bulan ibu pasien rutin mengikuti penimbangan di Posyandu. Berat badan pasien cenderung sulit untuk naik. Pada bulan ke- 18 sampai sekarang berada di bawah garis merah.

Riwayat ASI

menurut anamnesis dengan ibu pasien, pasien diberikan ASI sejak lahir dengan tambahan susu formula jika ibu pasien sedang bekerja. Ibu pasien menyusui pasien sekitar kurang lebih 4 kali sehari. Pasien menyusui dalam waktu yang cukup lama.

AKG dan Jumlah makanan pendamping ASI yang didapat pada balita usia 18 bulan BB ideal = umur (bln) + 9 / 2 = 18 + 9 / 2 = 13,5 kg AKG untuk anak balita usia 18 bulan: 80-135 x BB (kg) = 105 x 13,5 = 1417, 5 kkal

AKG dan Jumlah makanan pendamping ASI yang didapat pada An. Adinda An. Adinda diberi makanan pendamping ASI oleh ibu pasien Pagi: bubur nasi 1/4: 43,75 kkal, 1 gr protein, 10 gr karbohidrat telur : 37,5 kkal, 3,5 gr protein, 2,5 gr lemak atau tahu : 37,5 kkal, 2,5 gr protein, 1,5 gr lemak, 3,5 gr karbohidrat Siang: nasi gelas tidak habis: 87,5 kkal, 2 gr protein, 20 gr karbohidrat sup : 25 kkal, 1,5 gr protein, 5 gr karbohidrat

Malam: 2x snack: 36 kal, 1,22 gr lemak, 5,88 gr karbohidrat, 0,4 gr protein Susu formula 2x: 134 kkal, 2,9 gr protein ASI 4x: 140 kkal

Total: 512,75
Cakupan gizi An. Adinda: 512,75/ 1417, 5 x 100% = 36,17 %

Riwayat Perkembangan

Menurut ibu pasien riwayat pasien sudah lancar berjalan sejak usia 15 bulan, tetapi pada 18 bulan ini pasien belum dapat mengucapkan kata-kata. Ini cukup terlambat dari bayi pada umumnya dimana usia 18 bulan sudah bisa berbicara beberapa kata.

Riwayat kehamilan dan persalinan

Pasien merupakan anak ketiga. Pada saat hamil ibu Pasien tidak rutin melakukan ANC hanya dua kali menjelang kelahiran di Puskesmas. Persalinan normal dibantu oleh bidan dengan usia kandungan 9 bulan di Bidan Praktek Swasta dengan berat lahir 3500 gram.

Riwayat imunisasi

Riwayat imunisasi pasien belum lengkap yaitu polio 4 dan campak dikarenakan pada waktu akan di imunisasi pasien sakit.

Riwayat keluarga
Riwayat Sosial Ekonomi Pemenuhan kebutuhan dasar

Terdapat keluarga pasien yang menderita gizi kurang tetapi tidak tinggal serumah.

Ayah pasien bekerja sebagai buruh, ibu pasien seorang pedagang di pasar. Pasien tinggal bersama kedua orang tua dan seorang kakaknya. Kesan ekonomi: kurang dengan pendapatan perbulan yang tidak pasti.

Pasien minum ASI dan susu formula dari lahir sampai usia 6 bulan dan diberikan susu formula lanjutan sampai sekarang usia 18 bulan. Pasien sudah diberikan makanan tambahan sejak usia 6 bulan.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum Tanda Vital

: Anak tampak kurus dan rewel.

Kesadaran : Composmentis Suhu : 36,7 C Nadi : 88 x per menit Pernafasan : 18 x per menit

BB PB Lingkar kepala

: 8000 gr : 76 cm : 44 cm

Z-score menurut BB/TB : -2 SD (normal) Z-score menurut BB/U : -2,54 SD (gizi kurang) Z-score menurut TB/U : -1,63 (normal) Diagnosa: Gizi kurang menurut Z-score BB/U dan normal menurut Zscore BB/TB dan TB/U.

Data Perkesmas
No. Anggota Hub. Keluarga dgn KK 1. Joko Ayah Riyadi 2. Susanti Ibu Ningtyas 3. Nanda Anak Widia 4. Maulana Anak Yudha 3. Adinda Anak Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Perempuan Laki-laki Perempuan Umur Pendidikan Pekerjaan Agama

39 th 39 th 19 th 10 th 18 bulan

SD SMP SMA -

Buruh Pedagang Ibu rumah tangga Pelajar -

Islam Islam Islam Islam Islam

Data Lingkungan

Data Individu :
Pasien anak ketiga, pasien tinggal serumah dengan kedua orang tuanya beserta seorang kakaknya. Sehari-hari jika ibu pasien bekerja, pasien diasuh oleh neneknya.

Ekonomi
Ayah pasien bekerja sebagai buruh, ibu pasien sorang pedagang makanan ringan dipasar. Pasien tinggal bersama kedua orang tua dan seorang kakak. Kesan ekonomi: kurang dengan pendapatan perbulan tidak pasti.

Masyarakat
Pasien tinggal di daerah padat penduduk dimana tingkat kebersihan lingkungan, kesadaran kebersihan dan kesehatan penduduknya kurang baik dan ditakutkan ada warga yang terkena TBC, pneumonia, dll.

Lingkungan rumah

Berdasarkan data hasil laporan kasus didapatkan luas tanah rumah pasien 2 m x 3 m = 6 m2 yang dihuni oleh 4 orang sehingga didapatkan kepadatan rumah 1,5m2/orang.
Tidak ada ventilasi di rumah pasien, tidak ada jendela, dan 1 pintu di depan rumah sehingga tidak didapatkan ventilasi udara. Tidak terdapat MCK

Terdapat saluran pembuangan limbah dan tidak tertutup.

Lantai rumah : lantai rumah semen.

Data Akses Pelayanan yang Terdekat


Akses pelayanan terdekat adalah Rumah Sakit Kusuma, Puskesmas Halmahera dan Posyandu yang diadakan sebulan sekali. Cara tempuh dengan sepeda. Petugas Puskesmas Halmahera dan kader kesehatan cukup aktif dalam memberikan penyuluhan kesehatan atau pelayanan kesehatan di daerah tersebut.

Data Genetika

Masalah Individu:
Dari penilaian status gizi Pasien dengan usia 18 bulan mempunyai BB/TB : 8 kg / 76 cm. dan Z-score menurut BB/TB = -2 SD dan BB/U = -2,54 SD sehingga termasuk dalam gizi kurang. Pasien terlihat rewel, penampilannya kurus. Pasien juga terdapat keterlambatan dalam tumbuh kembangnya dimana usia 18 bulan pasien cukup terlambat daripada bayi-bayi seusianya.

Masalah Lingkungan:
Keadaan lingkungan rumah: Luas rumah kurang memadai untuk sejumlah anggota keluarga yang tinggal di dalamnya. Ruangan gelap dan pengap sehingga ditakutkan menjadi pola penyebaran penyakit menular. Masyarakat : Kesadaran masyarakat tentang gizi kurang dan dikhawatirkan dengan lingkungan yang seperti terdapat penyebaran penyakit menular seperti TBC dan pneumonia.

Masalah Perilaku:
Asupan makanan yang diberikan kepada pasien kurang memenuhi kebutuhan kalori, protein dan cairan yang seharusnya didapatkan pasien. Pasien sulit untuk makan karena pola asuh yang kurang sesuai Tumbuh kembang pasien kurang mendapat perhatian.

Diagnosis
Berdasarkan pemeriksaan didapatkan pasien dengan usia 18 bulan dengan keluhan berupa berat badan tidak naik-naik dibawah garis merah, mempunyai BB/TB 8 kg / 76 cm. dan Zscore menurut BB/TB = -2 SD dan BB/U = -2,54 SD. Dimana Balita Gizi Kurang adalah balita dengan status gizi kurang berdasarkan indikator BB/U dengan nilai z-score : -2 SD sampai dengan <-3 SD. Selain itu pasien juga terlihat rewel, tampak kurus, dan perkembangan pasien cukup terlambat tidak seperti bayi-bayi seusianya.

Lingkungan
Terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya gizi kurang pada kasus ini: Kepadatan rumah
Secara umum penilaian kepadatan penghuni dengan menggunakan ketentuan standar minimum, yaitu kepadatan penghuni yang memenuhi syarat kesehatan diperoleh dari hasil bagi antara luas lantai dengan jumlah penghuni 10 m2/ orang. Berdasarkan data hasil laporan kasus didapatkan luas tanah pasien luasnya 2 m x 3 m = 6 m2 yang dihuni oleh 4 orang sehingga didapatkan kepadatan rumah 1,5 m2/orang. Hal ini menunjukkan kepadatan rumah dalam kasus ini tidak memenuhi syarat yang seharusnya. Kepadatan penghuni dalam 1 rumah tinggal akan memberikan pengaruh bagi penghuninya. Luas rumah yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya akan menyebabkan perjubelan (over crowded). Hal ini tidak sehat karena disamping menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen, juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain.

Sosial ekonomi
Keadaan sosial ekonomi sangat erat dengan keadaan rumah, kepadatan hunian, lingkungan perumahan, lingkungan dan sanitasi tempat tinggal yang buruk dapat dikaitkan dengan pendapatan keluarga sangat erat juga dengan kejadian gizi kurang karena pendapatan yang kurang membuat orang tidak dapat hidup layak terutama hubungannya dengan asupan makanan yang memenuhi syarat-syarat kesehatan.

Masyarakat
Pasien tinggal di daerah padat penduduk dimana tingkat kebersihan lingkungan kurang baik dengan kesadaran kebersihan dan kesehatan penduduknya kurang baik. Hal ini menyebabkan keinginan untuk memperbaiki keadaan tidak ada. Dan di lingkungan yang kurang baik tersebut dikhawatirkan terdapatnya pasien-pasien yang terkena penyakit menular seperti TBC, pneumonia dan lainnya.

Perilaku
Pemberian makanan kepada pasien seharusnya sedikit demi sedikit tapi sering sehinggan kebutuhan kalori, protein dan cairannya dapat tercukupi. Makanan yang diberikan sebaiknya bervariasi dari hari ke hari sehingga pasien tidak bosan dan mudah untuk makan Ibu pasien membawa pasien ke Posyandu secara rutin dan saat ini perkembangan pasien diketahui melambat dari pada anak seusianya, sebaiknya ibu pasien mampu meluangkan waktu untuk menstimulasi perkembangan anaknya

Manajemen Penanganan Gizi Kurang


Cara menangani pasien gizi kurang usia 18 bulan yaitu : Memberikan edukasi tentang pemberian makanan pada balita 18 bulan Pemberian ASI tetap dilanjutkan sampai usia 2 tahun walupun jumlahnya sudah berkurang. Pemberian makanan pendamping ASI atau makanan keluarga sekurangkurangnya 3 kali sehari dengan porsi setengah makanan orang dewasa setiap kali makan. Selain itu tetap berikan makanan selingan 2 kali sehari bisa juga ditambah buah. Jenis variasi makanan diperhatikan dengan Padanan Bahan Makanan. Contoh nasi dapat diganti dengan: mie, bihun, roti, kentang, dll. Hati ayam diganti dengan: telur atau ikan. Bayam diganti dengan: daun kangkung, wortel, tomat. Bubur susu diganti dengan: bubur kacang ijo, bubur sumsum, biskuit, dll.

Memberikan edukasi tentang AKG dari makanan, ASI dan susu formula yang perlu dicukupi. Melatih tumbuh kembang pasien agar tidak semakin terlambat. Konsultasi tentang pemberian makanan tambahan untuk gizi kurang.

Kemungkinan Sakit yang Tercetus


Untuk menilai kemungkinan adanya penyakit yang tersembunyi maupun sakit lebih lanjut tidak bisa diprediksikan dengan apa yang dilihat sekarang mengingat keterbatasan waktu kunjungan yang singkat dan keterbatasan alat untuk memeriksa balita Adinda.

Kemungkinan sakit yang tercetus dengan melihat keadaan bayi Adinda sekarang yaitu kalau dibiarkan terus menerus akan berkembang menjadi gizi buruk. Dan dengan kekurangan gizi pada balita Adinda juga bisa menjadi pencetus terlambatnya tumbuh kembang pasien yang mengakibatkan failure to thrive (gagal tumbuh), dimana bisa disebabkan oleh faktor medik (organik, penyakit) atau non medik (psikososial). Berat badan berkaitan erat dengan masalah nutrisi (termasuk cairan, dehidrasi, retensi cairan).

SARAN

Untuk keluarga
Memotivasi keluarga agar pemberian ASI tetap dilanjutkan, pemberian makanan pengganti ASI atau makanan keluarga sekurangkurangnya 3 kali sehari dengan porsi setengah makanan orang dewasa setiap kali makan. Selain itu tetap berikan makanan selingan 2 kali sehari, dan memperhatikan jenis variasi makanan. Memotivasi keluarga untuk rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Cermati apakah pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan standar. Jika tidak sesuai diatas, segera konsultasikan hal itu ke dokter. Memotivasi keluarga untuk memperbaiki kondisi lingkungan rumah sehingga tercipta rumah sehat, dengan cara memperbaiki tatanan rumah agar lebih rapi, mengganti 1 atau 2 genteng menjadi genteng kaca dan membuat ventilasi agar udara luar dapat masuk dalam rumah.

Untuk Puskesmas
Puskesmas melakukan pencegahan meluasnya kasus dengan lebih meningkatkan koordinasi lintas program dan lintas sektor. Puskesmas memberikan penyuluhan gizi dan kesehatan terutama peningkatan ASI Eksklusif sejak lahir sampai 6 bulan dan diberikan Makanan Pendamping ASI setelah usia 6 bulan, menyusui diteruskan sampai usia 2 tahun. Puskesmas memberikan edukasi tentang AKG dari makanan dan minuman yang perlu dicukupi. Puskesmas memberikan manajemen bayi saat usia > 6 bulan, bisa dikonsultasikan lagi masalah gizinya tentang penambahan makanan pendamping (MP-ASI) hingga tercukupi AKG dari Adinda dan juga dipantau baik tumbuh maupun kembangnya. Puskesmas mengupayakan agar kadernya dapat aktif jika mendapati kasus seperti ini dan segera dapat dirujuk ke Puskesmas. Puskesmas memberikan pemantauan dan edukasi terhadap adanya kasus gizi kurang agar tidak menjadi gizi buruk.

Dinas Kesehatan dan Pemerintah


Pemberdayaan keluarga di bidang ekonomi, pendidikan dan bidang ketahanan pangan untuk meningkatkan pengetahuan dan daya beli keluarga. Advokasi dan Pendampingan untuk meningkatkan komitmen ekskutif dan legislatif, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuka adat dan media massa agar peduli dan bertindak nyata di lingkungannya untuk memperbaiki status gizi anak Revitalisasi Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) pemantauan terus menerus situasi pangan dan gizi masyarakat, untuk melakukan tindakan cepat dan tepat untuk mencegah timbulnya bahaya rawan pangan dan gizi kurang.