Anda di halaman 1dari 37

KEDOKTERAN NUKLIR

dr. Hendro S. SpR Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

KEDOKTERAN NUKLIR
1. 2. 3. 4. 5. FISIKA ISOTOPE RADIO FARMAKA INSTRUMENTASI PROTEKSI RADIASI PENGGUNAAN DALAM KLINIK : - DIAGNOTIK - TERAPI

FISIKA ISOTOPE
ATOM Susunan subatomik partikel : elektron, proton, neutron, dll Energi-energi yang mempengaruhi daya tarik antara partikel sifat-sifat fisik masing-masing partikel Hubungan antara massa & energi (energi conversion law) Berat atom, nomor atom, volume atom, diameter atom

ISOTOPE
Sifat-sifat isotope Terjadinya isotope Habisnya suatu isotope waktu paruh decay suatu isotope / peluruhan Sinar alfa, beta, gama

DOSIMETRI
Satuan-satuan aktivitas suatu isotope Dosis radiasi yang dikeluarkan isotope Dosis radiasi yang diberikan ke suatu organ

RADIO FARMAKA
Bahan kimia yang mempunyai afinitas pada organorgan tertentu, mis : - Iodium pada tiroid - Duretika pada ginjal, dll Fisiologi yang berkenaan dengan distribusi, konsentrasi & target organ dan exkresi bahanbahan kimia & berapa lama bahan tersebut berada dalam tubuh. Toxisitas, efek samping, lethal dose & antidote

Memberi tanda pada bahan kimiawi - Iodium untuk tiroid - Technetium untuk bone scan Stabilitas bahan & isotope dalam bentuk komplex Berapa lama dapat disimpan Bagaimana diberikan - per os, per injectio inhalasi Waktu paruh Berapa dosis radiasi yang diterima oleh organ-organ tertentu

INSTRUMENTASI
Kemampuan alat - alat deteksi - alat pencacah ( count detector = penghitung pulsa ) - alat scanning (pemetaan = sidik) - alat pemeriksa fungsi (jumlah count versus waktu) - alat studi dinamika (gambar scan versus waktu)

Kalibrasi / peneraan alat Standar operational procedure - voltage - temperatur ruangan - kelembaban, dll

PROTEKSI RADIASI
Terhadap : - pekerja - penderita - lingkungan Penyimpanan isotope Pembuangan limbah isotope Penanganan terhadap kecelakaan Patuhi prosedur standar

EFEK RADIASI PADA SEL


1. DIREK 2. INDIREK

Ad 1. DIREK
a. Beberapa sel terbunuh lebih dahulu sebelum mitosis b. Beberapa sel mati, kemudian sebelumnya mencoba mitosis c. Beberapa sel jadi steril, kemampuan reproduksi hilang & tak dapat melakukan mitosis

Ad 2. INDIREK
a. Kehilangan blood supply lokal b. Sel-sel hancur

1. SENSITIF GRUP
1. Sel-sel reproduktif : - ovarium - testis 2. Sel-sel bone marrow : (hemopoeitic tissues) 3. Sel-sel epitel GIT (inner surface) 4. Sel-sel epitel kulit (epidermis)

2. INTERMEDIATE SENSITIF GRUP


Hepar, ren, kelenjar-kelenjar (tiroid, dsb)

3. LOW SENSITIF
Otot Tulang Jaringan ikat Jaringan syaraf

EFEK PADA KULIT


1. RADIO DERMATITIS AKUT : Derajat : I. (500 rad) : Epilasi akar rambut rusak tumbuh lagi 3 bulan II. (1000 rad) : Eritema dry desquamasi III. (1500 2000 rad) : Eritema lebih dalam ulserasi lebih dalam moist desquamasi kelenjar keringat rusak IV. (>2500 rad) : Nekrosis = radiation burn

RADIO DERMATITIS KRONIK


Terjadi sesudah beberapa bulan tahun Pada pekerja-pekerja radiasi, penderitapenderita dengan penyinaran lama 1. Chocking vase ischemia fibrosis 2. Pigmentasi 3. Kolit menebal oleh karena fibrosis elastisitas (-)

4. Teleangiectasia : dilatasi terminal blood vessel oleh karena kompensasi 5. Ulserasi lambat area atrofi luka / ulcus 6. Keganasan

EFEK PADA MUKOSA


Mukosa GIT : amat peka diare, bleeding Ulserasi superficial pada mukosa eksudasi cairan yang menggumpal, membentuk lapisan putih terdiri dari sel-sel fibrin (fibrinous / membranous reaction) DD : trush Proctitis, tenesmus, disuria Sindroma malabsorbsi Efek lambat pada mukosa beberapa bulan tahun - Adesi, fibrosis, stenosis, obstruksi - ulserasi, fistula, bleeding

EFEK PADA BLOOD FORMING TISSUE


Haemopoeitic tissue = bone marrow, efek pada parents cells dari leuko, limfosit, dan platelets Sel darah merah kurang sensitif Leukopenia : < 2000 Trombositopenia <8000 (Normal : 250.000/mm3)

EFEK PADA ORGAN REPRODUKSI


GONAD ( = ovarium / testis) mempunyai 2 jenis jaringan : 1. jaringan reproduksi radiosensitif 2. jaringan kelenjar endokrin sex hormon

EFEK PADA ORGAN LAIN


1. MATA : - katarak - Ductus lacrimalis buntu (epiphora) 2. REN : - vasc. renal rusak hipertensi nefritis renal failure (uremia) 3. OTAK & JARINGAN SYARAF : - relatif resisten tapi vasc. rusak

4. TULANG & TULANG RAWAN : - devitalisasi, nekrosis, fracture oleh karena kerusakan vascular 5. PARU :- fibrosis radiation pneumonitis

RADIATION SICKNESS
Terutama radiasi pada tubuh Seperti sea sickness : lemah, lesu, pening, nausea, vomitus Causa : radiasi destruksi jaringan, terutama sel-sel yang membelah terbentuk protein-protein asing yang toxik Terapi : - sedatif - anti vomiting - vit. B6 - cairan

EFEK RADIASI PADA SEL CA


Tak ada beda yang esensial antara efek radiasi pada sel Ca & sel normal Pertumbuhan sel-sel Ca ada yang cepat & ada yang lambat (tak ada keseimbangan antara selsel Ca yang mati & pertumbuhan sel-sel Ca Pertumbuhan sel Ca > sel-sel mati ) Lama-lama : akumulasi sel terbentuk massa sel

RADIASI DAPAT MENGHANCURKAN CA PADA SAAT YANG SAMA TANPA MERUSAK SEL-SEL NORMAL, oleh karena: 1.Kapasitas recovery / pemulihan & repair / perbaikan dari sel-sel normal lebih baik daripada sel-sel Ca 2.Destruksi pembuluh darah kecil yang mensuplai jaringan Ca 3.Respons inflamatori dari sistem pertahanan sel-sel RES (retikulo endothelial system) oleh karena radiasi sel-sel yang lemah hancur

RADIASI PADA NON MALIGNANT DISORDER


MODE OF ACTION : 1.Keadaan-keadaan inflamasi - me leukosit - menguraikan enzim-enzim - supresi imun respons (limfosit) - mempercepat proses ketuaan selsel inflamatoar - mempercepat proses penyembuhan

2. Mengurangi sekresi yang berlebihan pada - kelenjar endokrin (tiroid, ovarium, pituitari) - kelenjar lemak - kelenjar keringat 3. Mengurangi infiltrasi selular, mis : pada eczema 4. Epilasi : destruksi folikel rambut 5. Anti pruritik (mech. belum diketahui) 6. Mengurangi benign over growth mis : - keloid - angioma - warts - hiperkeratosis

ISOTOPE UNTUK DIAGNOSTIK


1. 2. 3. 4. SCANNING = Pemetaan / sidik FUNGSI ORGAN TRACER STUDY = Pelacakan DYNAMIC STUDY

1. SCANNING
Menggambarkan bentuk anatomi organ - Scanning untuk organ - otak - tiroid & paratiroid - paru - perfusi - inhalasi - jantung - miocardial - blood pool - limfatik scan - cysternal scan

2. FUNGSI & DINAMIKA


Mengetahui fungsi - Kelenjar gondok - Exkresi urine pada renogram - Jantung - cardiac output blood flow - ischemia fase sistolik - diastolik volume ventrikel - Otak - sirkulasi darah otak ischemi ? insufisiensi ?

- Hepar - Empedu - atresia? stenosis ? - Oesophagus - reflux ? itis? - Ureter - reflux ? kel. mictio? - Perdarahan intra abdominal - mencari sumber pendarahan

3. TRACER STUDY
hematologi - fs. erytropoeisis pada anemia - metabolisme Fe - vol ery umur trombosit penentuan kadar vit B12 (schilling test) dalam urine Fat absorption (mal absorption syndrome) Radio imuno assay Penentuan kuantitatif - Hormon ACTH, FSH, HCG - Non- hormon FP, chemotripsin, dll

4. DINAMIK STUDY
Detektor dihubungkan dengan komputer diketahui : - image manipulation - fungsi - sequential study - Blood flow study cerebral - Blood flow study jantung - dinamik study dari exkresi empedu exkresi renal - ureter - bladder - dll

SCINTIGRAFI GINJAL (RENOGRAM)


INDIKASI : 1. Hipertensi dengan kerusakan ginjal atau arterio stenosis 2. Obstruksi saluran kencing terutama gangguan fs. renal 3. Insuff. renal 4. Perbandingan fungsi renal kiri & kanan 5. Kontrol sesudah transplantasi ginjal TEKNIK PEMERIKSAAN : Penderita disuntik iodium 131 hippu ran dibuat foto seri & grafik dengan bantuan komputer

PRINSIP Dibuat kurve ginjal kanan & kiri dengan komputer kurve menanjak = fase sekresi kurve menurun = fase exkresi Fase sekresi / perfusi cortex kurve menanjak kemudian masuk pelvis renalis kurve menurun (exkresi) waktu passage adalah waktu yang dicapai hingga maksimum normal. kurve simetri dengan waktu 2-5 menit

Bila asimetri curiga patologi (tidak chas untuk beberapa macam kelainan renal) Hidronefrosis : timbunan bahan radioaktif dalam pyelum Stenosis arteri : passage > fase exkresi menurun