Anda di halaman 1dari 23

REFERAT KEPANITERAAN ILMU KEDOKTERAN KEHAKIMAN

ASPEK MEDIS DAN HUKUM


PENANGANAN GAWAT DARURAT
Denny Ramdhan Hesa Kusuma A Arief Yustiawan Miranti Lestari Tri Lestari Andrew Nugroho K1A002005 K1A002018 K1A002024 K1A002042 K1A002048 K1A002049

LATAR BELAKANG

Isu-isu yang dibicarakan pada penanganan gawat darurat, diawali adanya pelayanan yang kurang ramah, mutu yang tidak baik, dugaan malpraktek, dan inform consent. Ilustrasi kasus penderita gawat darurat yang dalam keadaan tidak sadar dan tidak didampingi keluarga dan memerlukan tindakan bedah segera untuk menyelamatkan jiwanya. Bagaimana sikap dokter dalam menghadapi kasus tersebut ditinjau dari aspek medis dan hukum.

PERMASALAHAN

Bagaimana penanganan gawat darurat ditinjau dari aspek medis dan hukum?

MAKSUD DAN TUJUAN

Agar mahasiswa mampu memahami aspek medis dalam penanganan gawat darurat Agar mahasiswa mampu memahami aspek hukum dalam penanganan gawat darurat Agar mahasiswa mampu mengetahui isuisu yang berkaitan dengan aspek medis dan hukum dalam penanganan gawat darurat

MANFAAT

Manfaat Teoritis Memberikan informasi dan wacana mengenai isu-isu yang berkembang mengenai penanganan gawat darurat. Manfaat Aplikatif Bagi Mahasiswa Menambah wawasan mahasiswa mengenai aspek medis dan hukum penanganan gawat darurat Bagi Tenaga Medis Menambah wawasan bagi tenaga medis mengenai aspek medis dan hukum penanganan gawat darurat sehingga bisa melaksanakan kewajibannya sesuai dengan prosedur hukum dan medis. Bagi Institusi Kesehatan Memberikan masukan bagi institusi untuk membuat prosedur medis yang jelas mengenai penanganan gawat darurat Bagi Masyarakat Memberikan informasi mengenai prosedur penanganan gawat darurat sehingga bisa memahami tindakan medis yang dilakukan.

TINJAUAN PUSTAKA
Aspek Medis Penanganan Gawat Darurat Gawat darurat medik adalah suatu kondisi yang dalam pandangan penderita, keluarga atau siapapun yang bertanggung jawab dalam membawa penderita ke rumah sakit, memerlukan pelayanan medik segera. Keadaan gawat darurat yang sebenarnya adalah suatu kondisi klinik yang memerlukan pelayanan medik. Kondisi tersebut berkisar antara yang memerlukan pelayanan ekstensif segera dengan rawat inap di rumah sakit dan yang memerlukan pemeriksaan diagnostik atau pengamatan, yang setelahnya mungkin memerlukan atau mungkin juga tidak memerlukan rawat inap (The American Hospital Association).

TINJAUAN PUSTAKA

1. 2.

American Hospital Association (AHA) merinci kondisi kegawatan medik Kondisi dianggap emergensi Kondisi emergensi yang sebenarnya (true emergency).

TINJAUAN PUSTAKA

American Hospital Assosiation

1. 2. 3.

4.

mengklasifikasikan pasien yang datang ke unit gawat darurat terdiri dari : Emergent (gawat darurat). Urgent (mendesak) Nonurgent (tidak mendesak) Scheduled procedure (prosedur terjadwal)

TINJAUAN PUSTAKA

1.

2. 3.

4.

AHA mengklasifikasikan pasien yang mendapatkan pelayanan ke bagian gawat darurat dapat sbg berikut : Emergency care system (Sistem penanganan gawat darurat) Hospital (rumah sakit). Hospital emergency departement (Unit gawat darurat). Triage

TINJAUAN PUSTAKA

Apakah emergency room mempunyai kewajiban hukum untuk memeriksa setiap orang yang datang meminta pertolongan mengingat tak semua yang datang itu benar-benar memerlukan emergency care?

TINJAUAN PUSTAKA

Menurut AHA diterima semua akan tetapi setelah diperiksa ternyata nonurgent ditolak Kalau Urgent tetap ditolong

TINJAUAN PUSTAKA
Aspek Hukum Penanganan Gawat Darurat Isu tentang kewajiban dokter dalam menghadapi kasus dengan kegawatan medik; baik di tempat kejadian, tempat praktek dokter ataupun di emergency room itu sendiri. Apakah penanganan tersebut merupakan kewajiban moral saja ataukah juga merupakan kewajiban hukum?

TINJAUAN PUSTAKA

Seperti kasus ttg moral dari dokter yang dinilai kurang tepat saat melihat korban kecelakaan dijembatan Bronx Whitestone Bridge New York Oleh karena itu dibuat undang-undang "Good Samaritan Law" guna meningkatkan semangat para dokter supaya bersedia melakukan pertolongan seperti yang pernah dilakukan oleh orang Samaria yang baik budi. Pada hakekatnya UU diatas menjadi imunitas bagi dokter agar terhindar tuntutan malpraktek kegawatan medik di tempat kejadian yang tidak tersedia fasilitas dan waktu yang cukup untuk berpikir dan berkonsultasi dengan sejawatnya

TINJAUAN PUSTAKA

Doktrin kegawatdaruratan Suatu prinsip legal yang membebaskan seseorang dari standar perawatan yang beralasan adalah jika orang tersebut bertindak secara naluriahnya dengan maksud memenuhi kebutuhan mendesak dan mendadak, dimasukkan ke dalam bentuk imminent-peril doctrine;sudden-emergency doktrin; sudden-peril doktrin. Suatu prinsip legal mengenai persetujuan tindakan perawatan medis dalam situasi yang mengancam adalah diperbolehkan ketika pasien ataupun pihak yang bertanggung jawab atas diri pasien tidak dapat memberikan persetujuan namun terdapat seseorang yang dengan alasan tertentu dapat memberikan persetujuan.

TINJAUAN PUSTAKA

Di Indonesia belum ada Good Samaritan Law atau undang-undang yang mirip dengan itu. Pasal 531 KUHP yang secara implisit mewajibkan siapa saja untuk menolong seseorang yang berada dalam situasi bahaya maut.

TINJAUAN PUSTAKA
Dalam KODEKI terdapat butir yang berkaitan dgn kasus gawat darurat :
1. 2. 3. 4.

Pasal Pasal Pasal Pasal

14 2 10 11

5. 6.

7.
8. 9.

Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal

3 9 12 13 17

TINJAUAN PUSTAKA
Informed Consent pada Keadaan Gawat Darurat Peraturan yang umum mengenai persetujuan adalah bahwa setiap pasien memiliki hak untuk mendapatkan perawatan hanya atas persetujuan dirinya. Dalam kasus-kasus gawat darurat perawatan medis dapat diberikan tanpa persetujuan untuk menyelamatkan hidup atau menghindari kerusakan tubuh yang permanen. Jika tidak memungkinkan untuk mendapatkan persetujuan dan perawatan yang lambat bisa membahayakan kehidupan pasien, maka dilegalkan untuk memberikan perawatan tanpa persetujuan. Ketika staff bagian gawat darurat menemukan pasien dengan kondisi tidak darurat maka persetujuan menjadi penting.

TINJAUAN PUSTAKA

1.

2.

Prinsip umum persetujuan medis Ada dua hal untuk memahami persetujuan medis : Bagian dari kelalaian yang dapat merugikan apabila dilakukan tindakan terhadap pasien, jika prosedur dilakukan tanpa persetujuan pasien Persetujuan kegawatan dalam memberikan perawatan harus tidak boleh ditunda karena untuk menjaga persetujuan.

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam situasi kritis dimana dokter berpacu dengan maut, dan tidak punya cukup waktu menjelaskan kepada pasien benar-benar menyadari kondisi dan kebutuhannya serta memberikan keputusannya. Juga tidak punya waktu banyak untuk menunggu sampai keluarganya datang. Bahkan dokter tetap harus melakukan tindakan medik meskipun tidak disetujui oleh keluarganya. Hal ini sesuai Permenkes No. 585 tentang Persetujuan Tindakan Medik, bahwa dalam keadaan emergensi tidak diperlukan informed consent

KESIMPULAN

Gawat darurat yaitu kondisi yang secara klinik memerlukan penanganan medik segera Penanganan gawat darurat, di negara bagian di Amerika diatur dalam Good Samaritan Law. Sedangkan di Indonesia belum ada yang mengatur perlindungan hukum bagi orang yang melakukan pertolongan gawat darurat namun yang digunakan bagi pedoman hukum yaitu KUHP pasal 531.

KESIMPULAN

Informed consent adalah hal yang penting.

Prioritas paling utama adalah menyelamatkan nyawa atau menghindarkan organ tubuh dari kerusakan menetap. Oleh sebab itu pelaksanaan informed consent tidak boleh menjadi penghalang atau penghambat bagi pelaksanaan emergency care. Hal ini sesuai Permenkes No. 585 tentang Persetujuan Tindakan Medik, bahwa dalam keadaan emergensi tidak diperlukan informed consent.

SARAN

Bagi tenaga medis lebih meningkatkan kualitasnya terutama dalam penanganan gawat darurat. Hendaknya ada legitimasi hukum di Indonesia terutama mengenai perlindungan hukum bagi penanganan gawat darurat. Bagi masyarakat lebih memahami profesi tenaga medis agar tidak terjadi sengketa medis

Anda mungkin juga menyukai