Anda di halaman 1dari 45

EPILEPSI

Hafizh Widi Cahyono, S.Ked 08700238

KASUS
IDENTITAS PASIEN Nama Jenis kelamin Umur Suku Agama Pekerjaan Alamat Status perkawinan : Tn. Budi : Laki-laki : 25 tahun : Jawa : Islam : Kernet truk : Ds. Ngujo RT 022/ RW 004 Kalitidu - Bojonegoro : belum menikah

ANAMNESA Keluhan utama : kejang RPS : Bulan Januari 2013 adalah kejang pertama kali sekitar pukul 02.00 kejang 15 menit, pada bulan Maret 2013 sekitar pukul 03.00 kejang 15 menit, kemudian pada bulan April 2013 pukul 03.00 kejang 5 menit, dan terakhir pada 8 Juli 2013 pukul 03.30 kejang 5 menit. Awal kejang dimulai dari kaki kanan dan tangan kanan. Setelah kejang langsung sadar. Panas (-), muntah (+), trauma tidak ada. Kejang terjadi saat istirahat dan tidak beraktivitas, tidak keluar air liur ataupun berbusa saat kejang.

RPD :

- riwayat DM(-), riwayat HT (-) Pasien mengaku pernah jatuh dari motor dan kepala terbentur duluan pada akhir tahun 2012, namun tidak sampai MRS Riwayat pengobatan : (-) Riwayat keluarga : (-) Riwayat social : merokok (+), alkohol (-), jamu-jamuan (-)

STATUS INTERNA SINGKAT Pemeriksaan umum: Kesadaran :Compos Mentis Tensi : 130/90 mmHg Nadi : 80x/menit RR : 20x/menit Suhu : 36o C Kepala bentuk : oval, simetris mata : sclera : icterus (-) konjungtiva : anemis (-) hidung : dypnea (-) mulut : cyanosis (-) Thorax Cor : S1/S2 tunggal reguler,murmur (-), gallop (-), Pulmo : Rh -/- , Wh -/ Abdomen Ekstremitas : bising usus (+), distended (-), meteorismus (-), nyeri (-), : CRT < 2dtk superior : hangat, odem (-) Inferior : dingin, odem (-)

STATUS PSIKIATRI SINGKAT Emosi dan afek : normal Proses berpikir # Bentuk : normal # Arus : normal # Isi : normal Kecerdasan Penyerapan Kemauan

: normal : normal : normal

STATUS NEUROLOGIK KEADAAN UMUM Kesadaran : Kualitatif : composmentis Kuantitatif : GCS : 4-5-6 Pembicaraan Disartria : tidak ditemukan Monoton : tidak ditemukan Afasia : motorik : tidak ditemukan Sensorik : tidak ditemukan Amnestik/anomik : tidak ditemukan Kepala Asimetri Sikap paksa Tortikolis Muka Mask face Myopatik Full moon Lain-lain

: tidak ditemukan : tidak ditemukan : tidak ditemukan

: tidak ditemukan : tidak ditemukan : tidak ditemukan : tidak ditemukan

PEMERIKSAAN KHUSUS PEMERIKSAAN RANGSANG MENINGEAL Kaku kuduk : (-) Lasegue : (-) / (-) Kernig : (-) / (-) Brudzinski I tanda leher : (-) II tanda tungkai kontra lateral : (-) III tanda pipi : (-) PEMERIKSAAN NERVUS KRANIALIS

N.I (N. olfaktorius) Hipo/anosmia Parosmia : Halusinasi :


N.II (N. optikus) Visus Yojana penglihatan Melihat warna Funduscopy

(-) / (-) (-)/(-) (-) / (-)

: : : :

normal/ normal tidak dilakukan normal tidak dilakukan

N.III,N.IV,N.VI Kedudukan bola mata Pergerakan bola mata Ke nasal Ke temporal atas : Ke bawah : Ke atas : Ke temporal bawah : Eksophtalmus Celah mata (ptosis) : Pupil Bentuk : Lebar Perbedaan lebar Reflek cahaya langsung Reflek cahaya konsesual

sentral / sentral

normal

normal normal normal normal : tidak ditemukan tidak ditemukan bulat/ bulat : 3mm / 3mm : (-) : (+) / (+) : (+)/ (+)

N.V (N.trigeminus) - Cabang motorik Otot masseter : Otot tempral : Otot pterygoideus int/ext: - Cabang sensorik I : opthalmik II : maxilla III : mandibula Reflek kornea : normal N. VII (N.fasialis) - Waktu diam Kerutan dahi : Tinggi alis : Sudut mata : Lipatan nasolabial : - Waktu gerak Mengerutkan dahi : Menutup mata : Mencucu/bersiul : Memperlihatkan gigi : Hyperakusis : Sekresi air mata : Tic facialis :

normal normal normal : : normal normal :

normal

simetris simetris simetris normal simetris simetris simetris simetris (-) / (-) normal (-)

N.VIII (N. vestibulokokhlearis) - Vestibular Vertigo : (-) Nistagmus ke : (-) Tinnitus aureum: tidak dilakukan Tes kalori : tidak dilakukan Kochlear Weber : tidak dilakukan Rhine : tidak dilakukan Schwabach: tidak dilakukan Tuli konduksi: tidak dilakukan Tuli persepsi: tidak dilakukan N. IX, N.X (N.glosofaringeus,N.hipoglosus) - Motorik Suara biasa/parau/tak bersuara Menelan Bising usus - Sensorik Pengecapan1/2 belakang lidah Reflek muntah Reflek pallatum mole

: : :
: : :

biasa normal normal


tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan

N.XI (N. aksesorius) Mengangkat bahu Memalingkan kepala

: :

normal normal

N.XII (N.hipoglosus) Kedudukan lidah : simetris Atrofi : (-) Fasikulasi/tremor : (-) Kekuatan lidah pada bagian dalam pipi : normal

ASSESMENT : Dx. Klinik : Partial seizure dengan secondary generalisata Dx. Topical : Lesi pada daerah lobus temporalis Dx. Etiologi : Epilepsi PLANNING: Terapi : Phenytoin 100 mg 3 X 1 Dilakukan EEG Pemeriksaan laboratorium KIE : Kontrol teratur Minum obat teratur Mengurangi aktivitas yang berat

Pendahuluan

EPILEPSI
Serangan Kejang Rekuren Unprovoked (Berulang)

Apakah kejang itu?


Merupakan gangguan sementara fungsi serebral diakibatkan bangkitan aktifitas listrik otak yang abnormal dan bersifat paroksismal.

Etiologi bangkitan epilepsi


Menurut International League Against Epilepsy, dibagi menjadi 3 kategori:
1. Genetic epilepsy 2. Structural/metabolic epilepsy 3. Unknown

I. Genetic epilepsy
Meliputi cakupan luas dari berbagai kelainan/penyakit, dimana onset usia dalam rentang periode neonatal-dewasa-tua. Diduga mutasi berperan dalam peranan gen terhadap kanal ion neuronal.

II. Structural/Metabolic epilepsy


A. B. Golongan usia pediatri abnormalitas kongenital dan cedera perinatal Kelainan metabolik : - Putus zat atau alkohol adalah penyebab kejang rekuren; - Uremia, hipoglikemia, atau hiperglikemia juga bisa berperan. - Bisa dikatakan ini bukan epilepsi. Trauma : - terutama pada dewasa muda - epilepsi post-traumatik lebih mudah muncul jika ada penetrasi duramater, dan umumnya bermanifestasi dalam 2 tahun paska cedera - kejang yang terjadi di minggu pertama paska cedera kepala tidak selalu menggambarkan bahwa serangan selanjutnya akan terjadi - tidak ada bukti bahwa obat anti kejang profilaksis menurunkan insidens epilepsi post-traumatik

C.

...Structural/Metabolic epilepsy
D. Tumor dan lesi space-occupying lain - bisa pada semua usia, namun biasanya pada usia tua. - biasanya kejang terjadi akibat lesi struktural yang melibatkan regi0 frontal, parietal, temporal. E. Penyakit vaskuler penyebab kejang yang umum dengan onset pada usia 60 tahun atau lebih F. Penyakit degeneratif ex: penyakit Alzheimer G. Penyakit infeksi ex: meningitis, herpes encephalitis; merupakan penyebab kejang yang reversibel di semua golongan usia

III. Unknown
Pada banyak kasus, penyebab epilepsi tidak dapat ditentukan.

Klasifikasi bangkitan
BANGKITAN

Parsial (Focal)

Umum (Generalized)

Bangkitan parsial (Focal seizures)


Aktifitas listrik neuronal yang terganggu terjadi hanya di bagian tertentu dari satu hemisfer serebri. Bisa terjadi tanpa gangguan kesadaran simple partial seizures; Bisa dengan kesadaran yang terganggu complex partial seizures Bangkitan parsial bisa diikuti dengan bangkitan umum partial secondary generalization

...Bangkitan parsial
Partial secondary generalization terjadi ketika bangkitan parsial menyebar dan mengaktivasi seluruh serebrum secara bilateral. Terjadi dengan sangat cepat, sehingga bangkitan parsial awal secra klinis bisa tidak terlihat atau terjadi sangat singkat.

Simple Partial Seizures

menyebabkan gejala motorik, sensorik, atau psikomotor tanpa hilangnya kesadaran Gejala spesifik menandakan area yang terpengaruh di otak

Complex Partial Seizures


Biasanya didahului dengan aura Kesadaran bisa terganggu Bisa terjadi :
-Otomatisme oral (ex: mengunyah involunter) -- Otomatisme anggota gerak -- Mengeluarkan suara yang tidak bisa dimengerti -Postur tonik atau distonik pada ekstremitas yang kontralateral dari fokus bangkitan -Deviasi kepala dan mata -Gerakan bicycling/pedaling kaki, jika bangkitan berasal dari regio medial frontal atau frontoorbital -- Gejala motorik berkurang setelah 1-2 menit -- Amnesia postiktal bisa terjadi

Manifestasi bangkitan parsial menurut lokasi

Bangkitan Umum (Generalized Seizures)


Biasanya disertai hilangnya kesadaran Terdiri atas:
Infantile spasm Typical absence seizures (petit mal) Atypical absence seizures Atonic seizures Tonic seizures Tonic-clonic seizures (grand-mal) Myoclonic seizures Juvenile myoclonic eilepsy Febrile seizures

Infantile spasm
-Fleksi mendadak dan aduksi dari tangan -Fleksi ke depan tubuh -Kejang berlangsung beberapa detik dan berulang beberapa kali sehari -Hanya terjadi di 5 tahun pertama kehidupan -Biasanya ada defek perkembangan

Typical absence/petit mal seizures


sekitar 10-30 detik kesadaran hilang, ditandai dengan kedipan kelopak mata Tonus otot aksial bisa hilang maupun tidak Aktivitas tiba-tiba terhenti, dan tiba-tiba lanjut kembali Tanpa gejala post iktal atau sepengetahuan pasien bahwa ia kejang Sering pada anak-anak

Atypical absence seizures


Biasanya terjadi sebagai bagian dari Sindroma Lennox-Gastaut, yang merupakan bentuk berat epilepsi yang dimulai sebelum usia 4 tahun. Perbedaan dengan typical absence seizures : 1. Durasi bangkitan lebih lama 2. Gerakan otomatisasi lebih jelas terlihat 3. Kehilangan awareness lebih ringan

Atonic seizures
Lebih sering pada anakanak Tonus otot hilang secara komplit dan singkat Hilangnya kesadaran Resiko trauma kepala yang besar

Tonic Seizures
Biasanya terjadi saat tidur dan pada anak-anak Kontraksi tonik dari otot aksial muncul tiba-tiba atau perlahan, kemudian menyebar ke otot proksimal anggota gerak Bangkitan tonik berlangsung 10-15 detik Pada bangkitan lebih lama, sentakan klonik yang ceat bisa terjadi setelah fase tonik

Myoclonic Seizures
sentakan cepat dari anggota gerak atau tubuh Sentakan bisa unillateral atau bilateral Bisa repetitif, yang mengarah ke bangkitan tonik-klonik Kesadaran tidak hilang, kecualui didapatkan progresifitas ke arah bangkitan umum tonikklonik

Tonic-clonic/Grand mal seizures


o Paling banyak terjadi o Biasanya dimulai dengan teriakan, berlanjut hilangnya kesadaran dan jatuh, diikuti kontraksi tonik, kemudian klonik dari otot ekstremitas, tubuh dan kepala o Kontraksi dan relaksasi otot silih berganti o Bisa merupakan primary atau secondary generalized

STATUS EPILEPTIKUS
Merupakan suatu gawat darurat Melibatkan setidaknya satu dari keadaan berikut:
1. Aktivitas bangkitas tonik-klonik yang berlangsung 510 menit 2. Tidak ada kesadaran diantara 2 kejang Bangkitan umum yang berlangsung >60 menit dan tidak tertangani kerusakan otak permanen dan bisa berakibat fatal

DIAGNOSIS
1. Anamnesa :
Apakah ada sensasi yang abnormal, aura Durasi, frekuensi, dan interval antara kejang Faktor resiko kejang : trauma kepala, alkohol, obatobatan, penyakit neurologis lain Riwayat kejang dalam keluarga

2. Pemeriksaan Fisik : jarang mengindikasikan apabila kejang itu idiopatik, namun bisa memberi petunjuk jika kejang itu simtomatik

Petunjuk klinis pada kausa kejang simtomatis

3. Pemeriksaan penunjang
EEG sangat penting dalam diagnosis kejang epileptik, khususnya status epileptikus parsial kompleks atau absence. Hasil EEG normal tidak bisa mengeksklusi langsung diagnosis kejang epileptik, harus ditegakkan secara klinis CT Scan untuk mengeksklusi massa atau perdarahan MRI ; memperlihatkan resolusi lebih baik baik dari tumor atau abses otak, trombosis vena serebral, dan herpes encephalitis Pemeriksaan laboratorium ; untuk mengetahui adanya gangguan metabolik

PENGOBATAN
Prinsip menurut American Academy of Neurology and the American Epilepsy Society:
Pengobatan tunggal, biasanya obat pilihan pertama atau kedua, dapat mengendalikan kejang epileptik pada sekitar 60% pasien. Jika kejang sulit dikendalikan (pada 30-40% pasien), dibutuhkan pengobatan dengan 2 atau lebih obat Jika kejang tidak berkurang (refrakter terhadap 2 obat atau lebih), pasien dirujuk ke pusat epilesi, untuk menentukan apakah pasien harus operasi atau tidak

PILIHAN OBAT
Bergantung pada jenis bangkitan

KEJANG AKUT DAN STATUS EPILEPTIKUS


Umumnya kejang akan remisi spontan dalam beberapa menit dan tidak membutuhkan obat-obatan emergensi. Status epileptikus dan kejang yang berlangsung > 5 menit membutuhkan obat-obatan untuk menghentikan kejang, diikuti dengan monitoring status pernapasan. Endotracheal tube jika ada gangguan napas. Akses IV secepatnya, berikan lorazepam 0,1 mg/kg IV dengan kecepatan 2 mg/menit 8 mg diberi masih kejang phenytoin 15-20 mg/kg IV dengan kecepatan 50 mg/menit Masih tetap kejang refractory status epilepticus phenobarbital, propofol,midazolam, valproat

KEJANG POST-TRAUMA
Obat-obatan diberikan untuk menghindari kejang jika taruma kepala menyebabkan kerusakan struktural yang signifikan (ex: kontusio luas, hematoma, laserasi, depresi fraktur tengkorak) atau GCS skor <10 Obat-obatan dihentikan setelah 1 minggu kecuali jika terjadi kejang lanjutan. Jika kejang terjadi >1 minggu setelah cedera kepala, dibutuhkan pengobatan jangka panjang

Efek Samping Pengobatan


Semua anti-konvulsan bisa menyebabkan alergi scarlatiniform atau morbiliform, dan tidak aman dikonsumsi selama kehamilan. Konsumsi jangka panjang bisa menyebabkan hipertrofi ginggiva dan hirsutism

Apakah perlu pembedahan?


Sekitar 10-20% pasien yang tidak membaik dengan pengobatan diindikasikan untuk pembedahan Jika bangkitan berasal dari fokus otak, reseksi fokus tersebut bisa memperbaiki terkendalinya kejang.

Prognosis
Dengan pengobatan, kejang pada 1/3 pasien tereliminasi, dan frekuensi berkurang hingga >50%. 60% pasien dengan kejang yang terkontrol baik dengan obat bisa berhenti pengobatan dan tetap bebas kejang setelahnya.

TERIMA KASIH ^-^