Anda di halaman 1dari 43

REKAYASA TRAFIK

I.PENDAHULUAN
Sudah sejak tibulnya telekomunikasi, yang dalam hal ini bidang telepon
dan juga telegrap, sudah mulai ada permasalahan seberapa
besar/banyak fasilitas telekomunikasi disediakan untuk melayani
hubungan telepon atau telegrap atau data atau lain sebagainya. Mulai
saat itulah rekayasa trafik berkembang. Rekayasa trafik ini mampu
merancang peralatan/jumlah saluran yang diperlukan secara kuantitatif.

1. Kriteria perancangan.
a). Pada umumnya Sentral Telepon dan / atau peralatan yang lainnya
dirancang sedemikian rupa sehingga pada waktu sibuk, dimana trafik
besar, keinginan pelenggan untuk mengadakan sambungan dapat
dipenuhi dengan KEMUNGKINAN YANG CUKUP BESAR.
b). Perlengkapan penyambungan (selektor-selector, saluran-saluran,
kanal-kanal,Common Circuit, dll) harus ditentukan sedemikian rupa
sehingga pada saat-saat sibuk hanya SEBAGIAN KECIL SAJA dari
permintaan pelanggan yang tidak dapat segera dilayanani berhububg
PERLENGKAPAN TERBATAS
Jadi ada hubungan antara jumlah peralatan dan besarnya kemungkinan
dipenuhinya suatu permintaan pengadaan hubungan

MAKIN BESAR JUMLAH PERALATAN YANG DISEDIAKAN, AKAN
MAKIN BESAR KEMUNGKINAN DIPENUHINYA PERMINTAAN
PENGADAAN SAMBUNGAN

2. Bentuk Jaringan

Penyediaan peralatan/jaringan yang terbatas tersebut menyebabkan tidak setiap
permintaan akan berhasil dilaksanakan dengan segera. Jaringan ini hanya mampu
menyambung secata STATISTIK
Untuk bidang telepon :
Ada 2 bentuk jaringan dasar :

Jaringan dengan rute
Variabel
Set dari
n
masukan
(input
Set dari
n
keluaran
(output)
1
n 3
4 5
1 2
s
3
n
a). Jaringan Mata Jala
b). Jaringan Bintang
Pertimbangan pertimbangan

Dipandang dari segi Ekonomi

a). Jaringan Mata Jala
1. n buah sentral untuk melanyani n pelanggan
2. Diperlukan : (1/2).n.(n-1) saluran
3. Tiap pelanggan dapat dihubungkan ke setiap pelanggan lainnya untuk setiap
waktu (bebas 100%)
4. Kalau ada penambahan pelanggan, harus diadakan saluran dari / ke
pelanggan baru dengan pelanggan lama yang sudah ada.

JADI : TAMBAH 1 PELANGGAN, DIPERLUKAN n SALURAN BARU

KENYATAAN :
1. Tiap pelanggan hanya 1 kali bicara dalam tiap saat (kebebasan 100% yang dipunyai
tak dapat digunakan sepenuhnya).
2. Pelanggan yang sedang bicara tak dapat (tak boleh) dipanggil (ini juga yang
menyebabkan 100% tak dapat digunakan sepenuhnya)

Hal lainnya perlu difikirkan adanya fasilitas-fasilitas :
1. Konferensi
2. Penewaran panggilan Interlokal(Trunk Offering)
Hal hal tersebut diatas menyebabkan :
Jaringan Bintang yang dipakai (karena di-pelanggan tidak ada sentral)

b). Jaringan Bintang.
1. n pelanggan hanya ada satu sentral
2. Tiap pelanggan dihubungkan dengan saluran ke sentral. Jadi hanya ada n
saluran
3. Di Sentral, tiap saluran pelanggan mempunyai Saluran Mobil yang dapat
menghubungkan saluran lain yang dipilih
4. Kalau ada penambahan pelanggan baru, cukup diadakan saluran sejumlah
pelanggan baru saja.
:
:
:
:
:
:
1
2
:
:
:
:
:
:
Pelanggan
Pelanggan
Saluran Mobil
KENYATAAN :

Yang mengadakan pembicaraan biasanya hanya 20% - 30% saja. Sehingga jumlah saluran mobil
dapat dikurangi menjadi hanya 10% saja.
Dengan demikian SELALU ADA KEMUNGKINAN bahwa ada permintaan sambungan dari pelanggan
yang tidak dapat dilayani.
Hingga ada 2 hal yang bertentangan yang harus dipenuhi :
1. Pelayanan (Service) baik
2. Ekonomis

Penyelesaian kompromis dapat diadakan bila diketahui :
1. Besar trafik yang akan (harus) diolah
2. Seberapa jauh baiknya pelayanan (service) yang diadakan (biasanya dinyatakan
dalam %)
misalnya : 0,1 % berarti dari 1000 permintaan sambungan, 1 yang gagal




Untuk Saluran Data :

Biasanya berbentuk :
(Selain Saluran Mata Jala dan Saluran Bintang) juga berbentuk,
- Saluran Jerat (Loop)
- Saluran Bus
- Saluran Pohon


Saluran Jerat Saluran Bus Saluran Pohon
3. Arti Trafik.
Secara sederhana dapat diartikan ;
TRAFIK dapat diartikan sebagai PEMAKAIAN
PEMAKAIAN yang diukur dengan WAKTU ( berapa lama, kapan )
Selain itu masih dikaitkan dengan :
- APA yang DIPAKAI
- DARI mana Ke mana

Pembahasannya ditinjau adalah Trafik dalam Telekomunikasi
Pada sistem telepon, permintaan/panggilan yang datang biasanya tidak dapat ditentukan
lebih dulu tentang :
- KAPAN datangnya
- BERAPA LAMA suatu pembicaraan telepon berlangsung ( atau berapa lama
suatu perlengkapan/saluran diduduki).

Proses tersebut dinamakan Proses STOKASTIK

Dalam hal kapan datangnya panggilan dan berapa lama pembicaraan telepon
berlangsung sudah diketahui terlebih dahulu dan konstan :

Proses tersebut disebut Proses DETERMINISTIK

Maka jelaslah bahwa KUANTISASI besaran trafik hanya dapat diselesaikan dengan
pengetahuan (disiplin-ilmu) STATISTIK dan TEORI PROBABILITAS
4. Besaran Trafik

Nilai trafik dari suatu berkas saluran (atau peralatan) adalah banyaknya (atau
lamanya) waktu pendudukan yang diolah oleh berkas saluran (peralatan)
tersebut

Pada trafik dikenal dengan istilah :
- VOLUME TRAFIK yaitu, Jumlah waktu pendudukan
- INTENSITAS TRAFIK yaitu , Jumlah waktu pendudukan per-satuan waktu

Penjelasannya sebagai berikut :
Dalam suatu pengamatan sistem peralatan telekomunikasi, dipantau jumlah
panggilan yang datang dan yang pergi.
Sistem Peralatan
Telekomunikasi
Panggilan yg datang
Pendudukan yg berakhir
(meninggalkan sistem)
6
5
4
3
2
1
t1 t2 t3 t4 t5 t6 t7 t8 t9 t19 t10 tn T
t
Jumlah
Panggilan
J(t)=D(t)-B(t)
B(t) = Jumlah pendudukan yang
telah berakhir samapai saat t
t1 t2 t3 t4 t5 t6 t7 t8 t9 t19 t10 tn T
3
2
1
t
Jumlah
pendudukan di
dalam sistem
Ada 3 cara pendekatan :

1). Volume trafik

Intensitas trafik ( A ) = V/T

Dimana :

J(t) = Jumlah pendudukan di dalam sistem pada saat t
A = Jumlah pendudukan rata-rata dalam (selama) waktu T

Atau :
Bila suatu keadaan dimana suatu jumlah pendudukan sebesar J(t) = p, mempunyai waktu lamanya
pendudukan sebesar tp
( p 0, 0 t T )

Maka jumlah pendudukan rata-rat dalam (selama) waktu T :




dimana n = jumlah maksimum pendudukan

= =
= =
n
p
n
p
T tp p tp p T A
0 0
) / .( . ) / 1 (
}
=
=
T
t
dt t J V
0
). (
2).


Jadi trafik A merupakan jumlah seluruh waktu pendudukan dari tiap-tiap pendudukan per
satuan waktu


Contoh : Suatu berkas saluran terdiri dari 4 saluran. Dalam 1 jam (jam sibuk) misalnya
- saluran 1 diduduki seluruhnya 0,25 jam
- saluran 2 diduduki seluruhnya 0,5 jam
- saluran 3 diduduki seluruhnya 0,25 jam
- saluran 4 diduduki seluruhnya 0,5 jam

maka = (0,25 Jam + 0,5 jam + 0,25 jam + 0,5 jam)/1jam = 1,5



Waktu pendudukan rata-rata ( t
r
)


Jumlah pendudukan per satuan waktu C : C = A/tr = N/T

=
=
n
1 n
) / 1 ( tn T A

=
=
n
1 n
) / 1 ( tn T A

=
=
n
1 n
) / 1 ( tn N tr
3). A = C.t
r


dimana C = jumlah panggilan per satuan waktu ( 1/jam )
t
r
= lamanya waktu pendudukan rata-rata dinyatakan dalam satuan waktu yang
sama
Contoh :
C = 3600 panggilan / jam
= 60 panggilan / menit
= 1 panggilan / detik

tr = 1/60 jam
= 1 menit
= 60 detik

maka ;

A = [(3600 panggilan/jam)] x [(1/60 jam)] = 60 panggilan

= [(60 panggilan/menit)] x [( 1 menit)] = 60 panggilan

= [(1 panggilan/detik)] x [(60 deik)] = 60 panggilan

Satuan atau unit trafik = Erlang

Diambil dari nama seorang ilmuan Denmark : Agner Krarup Erlang, 1878 1929, yang telah berjasa
dalam mengembangkan teori trafik


Macam- macam Trafik :
- Offered traffic = Trafik yang ditawarkan
- Carried traffic = Trafik yang dimuat/diolah
- Lost traffic = Trafik yang hilang

Simbol :
- Trafik yang ditawarkan = A
- Trafik yang dimuat/diolah = Y
- Trafik yang hilang = R

Dimana :
terdapat Relasi : A = Y + R

Penjelasannya sbb :
Misal p panggilan yang berusaha memakai saluran dari suatu berkas saluran
tertentu dan hanya b panggilan yang berhasil menduduki saluran, maka :

-Trafik yang ditawarkan A = p.t
r

- Trafik yang dimuat Y = b.t
r

- Trafik yang hilang R = ( p b ).t
r

dimana : tr = waktu pendudukan rata-rata

Dari ketiga macam trafik tersebut hanya trafik yang dimuat/diolah yang dapat diukur
Trafik yang ditawarkan dan trafik yang hilang dari hasil perhitungan

Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
Unit unit trafik
Erlang
TU = Trafik Unit
VE = Verkehrseinheit

CCS = Cent Call Seconds
HCS = Hundred Call Second
UC = Unit Call

ARHC = Appels Reduits a 1Heure Shargee
EBHC = Equted Busy Hour Call



Harga yang menunjukan jumlah
pendudukan rata-rata


Jumlah pendudukan (panggilan) rata-
rata per jam dengan waktu
pendudukan rata-rata 100 detik


Jumlah pendudukan (panggilan) rata-
rata dengan waktu pendudukan rata-
rata 120 detik



Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Unit-unit
Trafik
Erl
TU
VE
CCS
HCS
UC
ARHC
EBHC
1 erl
1 TU
1 VE
1

= 1 Jam/Jam
36

= 1 Jam/100 detik
= 3600 detik/100detik
30

= 1 Jam/120detik
= 3600 detik/120 detik
1 CCS
1 HCS
1 UC
1/36
= 100 detik/1 Jam
= 100 detik/3660 detik

1

5/6
1 ARHC
1 EBHC
1/30
= 120 detik/1 Jam
= 120 detik/3600 detik

6/5

1
Tabel Konversi
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
Besaran-besaran Trafik :

1.

2.

3. A = C.t
r

=
=
=
=
N
n
n
p
tn T A
T tp p A
1
0
) / 1 (
) / .(
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
Contoh Penggunaan Rumus-rumus Trafik

Pengamatan Saluran pada suatu berkas saluran
Jumlah waktu dalam menit
Jumlah Saluran
yang diduduki
5 menit 7 menit 12 menit
3 menit 4 menit 3 menit 5 menit
15 menit
7 menit 4 menit
11 menit
1
2
3
4
= 24 menit
= 15 menit
= 15 menit
= 22 menit
= 76 menit
Lamanya
pendudukan
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
Volume trafik = Jumlah total waktu pelayanan
= 76 menit
= 1,267 Erlang jam



= 6,91 menit







= 2,533 Erlang
pendudukan
menit
rata ananRata WaktuPelay
11
76
=
menit
menit
rata TrafikRata Intensitas
gama PeriodaPen
ik VolumeTraf
rata TrafikRata Intensitas
30
76
tan
=
=
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
Atau dapat juga dituliskan sbb :

Volume Trafik = Jumlah Pendudukan kali Waktu Pelayanan Rata-rata

Atau

Volume Trafik = Intensitas Trafik kali Perioda Pengamatan

Sehingga didapat Relasi Dasar :

AT = nh
Dimana :
A = Intensitas Trafik
T = periode pengukuran
n = Jumlah pendudukan
h = waktu rata-rata pelayanan

Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
Cara penyelesaian :
Untuk,
p = 0 : tp = ( t1 - 0 ) = [ 1 ]
p = 1 : tp = ( t2 t1 ) + ( T t9 ) = [ 2 ]
p = 2 : tp = ( t3 t2 ) + ( t5 t4 ) + ( t9 t8) = [ 3 ]
p = 3 : tp = ( t4 t3 ) + ( t4 t5 ) + ( t8 t9 ) = [ 4 ]
p = 4 : tp = ( t7 t6 ) = [ 5 ]

Maka Intensitas Trafik :




A = (1/T){ 0.[1] + 1.[2] + 2.[3] + 3.[4] + 4.[5]}









0 t
1
t
2
t
3
t
4
t
5
t
6
t
7
t
8
t
9
T
t
Jumlah
Pendudukan

=
=
=
=
N
n
n
p
tn T A
T tp p A
1
0
) / 1 (
) / .(
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
5. Variabel trafik dan jam sibuk
Bila trafik (jumlah pendudukan) dalam suatu sistem peralatan telekomunikasi diamati, maka akan terlihat bahwa
harganya akan berubah-ubah (bervariasi)
1). Saat demi saat
2). Jam demi jam
3). Hari demi hari
4). Musim demi musim ( hari besar, liburan, dll )

dan selain itu terdapat kecendrungan ( tendensi ) untuk naik ( tiap tahun )

Suatu contoh kurva tipikal untuk suatu hari ( jam demi jam )
6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
Jumlah
Pendudukan
Jam
Terdapat pengertian :
- Jam tersibuk
- Jam sibuk
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
- Jam tersibuk
Jam tersibuk adalah 1 jam tiap hari dimana trafik tertinggi ( tersibuk )

- Jam sibuk
Jam sibuk adalah 1 jam yang diambil dari kurva rata-rata dimana trafik tersibuk. (Ini merupakan
Time Consistent Busy Hour)
Untuk perencanaan dipakai nilai trafik tertentu
Rekomendasi CCITT
a). Kalau tidak punya alat otomatis
Diambil kurva trafik beberapa hari, lalu dimbil kurva rata-rata nya, kemudian
ditentukan jam sibuk dan nilai trafiknya.

b). Bila terdapat alat otomatis
Pengukuran dilakukan tiap hari sepanjang tahun
Diambil 30 hari (tidak perlu berurutan) yang mempunyai nilai trafik tertinggi (juga
diambil 5 hari trafik tertinggi dalam 1 minggu)
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
Hari ke 1
Hari ke 2
Contoh kurva-kurva trafik
Hari ke 10
Kurva rata-rata
Jumlah hari pengamatan dipilih pada musim
sibuk
Dapat diperpanjang (s/d 13 minggu
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
6. Beberapa pengertian teknis
a). Titik gandeng
Semua kontak yang dikerjakan bersamaan secara paralel yang digunakan untuk meneruskan
sambungan sambungan pada tempat gandeng
Dalam instalasi penyambungan, penyambungan dilakukan oleh elemen gandeng
Elemen gandeng
(g)
Jalan
masuk
(inlet)
Jalan
keluar
(outlet)
Jalan masuk dan jalan keluar di sambungkan lewat titik-titik gandeng
Misal bila sebagai
elemen gandeng
adalah selektor
(inlet)
(outlet)
Selektor
mempunyai 4
tangan (wiper)
yaitu a, b, c dan d
yang bergerak
secara paralel
a
b
C
d
Outlet dari 1 titik
gandeng yang
mempunyai 4 tempat
gandeng
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
b). Berkas (saluran) masuk dan berkas (saluran) keluar.
- Saluran-saluran masuk bersama-sama membentuk berkas (saluran) masuk
- Saluran-saluran keluar bersama-sama membentuk berkas (saluran) keluar berkas






c). Berkas sempurna (full availability bundle) dan berkas tidak sempurna / berkas terbatas
(limited availability bundle)
- Bila setiap saluran dari berkas keluar dapat dicapai oleh setiap saluran dari berkas masuk, maka
berkas tersebut disebut berkas sempurna (full availability)
- Bila hanya sebagian saja dari berkas keluar dapat dicapai oleh saluran-saluran masuk dari
berkas masuk, maka berkas tersebut dinamakan berkas tidak sempurna atau berkas terbatas
(limited availability)
Elemen gandeng
(g)
Berkas masuk
:m saluran
Berkas keluar :
n saluram
Elemen gandeng
(g)
Berkas /
saluran
masuk
Berkas /
saluran
keluar
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
Berkas / Saluran Sempurna

Saluran
Masuk
1
m
1
2
3
4
5
n = 5
Setiap saluran keluar
1,2,3,4,5 dapat dicapai
oleh setiap saluran
masuk
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

d). Daya sampung ( k )
Dalam berkas terbatas, jumlah saluran masuk dapat mencapai saluran keluar
disebut daya sambung (availability)

Saluran
Masuk
(1/2) m
1
2
3
4
5
n = 7
(1/2) m
6
7

Berkas Terbatas
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
DASAR-DASAR TEORI PROBABILITAS

1. Model Matematis
Untuk mendapatkan kuantitas lalu lintas telepon diperlukan pengetahuan (disiplin) ilmu
statistik dan probabilitas

Teori Probabilitas
Suatu teori yang mempelajari persoalan dari perisiwa-peristiwa yang kejadiannya tidak
diramalkanlebih dahulu, oleh karena itu dalam lalu lintas telepon, teori probabilitas merupakan
suatu model matematis yang cocok untuk menerangkan, menginterprestasikan dan
menafirkan suatu gejala yang diamati.

Model = peng-idealisasian dari pada keadaan yang sebenarnya.

Teori probabilitas tersebut biasanya dengan istilah-istilah :
- Experimen (percobaan)
- Possible out come (hasil-hasil atau tanda-tanda yang mungkin tibul dari suatu percoban)
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
Beberapa contoh :
1). Experiment : Pelemparan dadu
Possible out comes : tanda-tanda 1,2,3,4,5,6
- Semua hasil-hasil/tanda-tanda yang mungkin dari suatu percobaan tersebut : Sample space (S)
- Individual out come : Sample point.
Dalam contoh diatas
S = [1,2,3,4,5,6]
S = merupakan Set dari pada Point (out comes) 1,2,3,4,5,6
S = adalah 1. Diskrit
2. Terbatas

2). Experiment : Melihat (mengamati) panggilan telepon antara jam 09.00 s/d 10.00
Ruang sample : waktu (saat) terjadinya panggilan telepon
Bila t = waktu terjadinya panggilan telepon
maka
S = ( t ; 9 < t < 10 )
S adalah Set dari pada titik t sedemikian, sehingga 9 < t < 10
S adalah : 1. kontinyu
2. tak terbatas
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
Event : adalah kelompok dari titik-titik sample.
Contoh :
Dalam suatu permainan dengan dadu, si A menang bila yang muncul adalah tanga : 5 atau 6
(5U6).
Dengan menyatakan event E untuk si A menang, maka E = (5,6)
Dapat ditunjukkan dengan diagram Venn :
1
4
2
5
3
6
E
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
2). Ukuran (besarnya) probabilitas.
Ada 2 cara :
1. Klasik (Equality likely)
Dengan cara ini dianggap semua tanda (Out come) mempunyai kemungkinan yang sama
contoh :
- pelemparan dadu
- dianggap tanda-tanda 1,2,3,4,5,6 mempunyai keadaan yang sama
Jadi besarnya kemungkinan munculnya tanda 1 = tanda 2 = tanda 3 = ..= tanda6,
sehingga,
Probabilitas munculnya tanda 1 = Probabilitas munculnya tanda 2 = . = Probabilitas
munculnya tanda 6 = 1/6

2. Frekuensi Relatif.
Ukuran besarnya kemungkinan munculnya suatu tanda dikaitkan dengan berapa sering
tanda tersebut muncul dalam beberapa (banyak) kali Experimen.
Misalnya :
Dalam suatu experimen pelemparan dadu
n kali ulangan (percobaan) pelemparan, timbul fA kali munculnya tanda (titik sampel) A
Jadi fA = frekuensi muncul tanda A
maka :
fA/n = frekuensi relatif dari tanda A
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
Jadi bila :
n
1
ulangan, menimbulkan fA
1
kali
n
2
ullangan, menimbulkan fA
2
kali


n
i
ulangan, menimbulkan fA
i
kali

bila harga n
1
, n
2
, .., n
i
besar sekali
maka ;
beda harga antara fA
1
/n
1
, fA
2
/n
2
, .., fA
i
/n
i
adalah kecil

Ada tedensi bahwa frekuensi relatif tersebut menuju (berkisar) pada suatu harga tertentu :
Ini dikatakan : TERDAPAT KESTABILAN JANGKA PANJANG FREKUENSI RELATIF DARI
TANDA YANG BERSANGKUTAN.
Contoh :
n kali pelemparan mata uang logam (coin)
Tanda gambar Garuda & tulisan adalah eqully likely
Bila n = 4 : misalnya muncul tanda gambar : 0 kali (Ini tak mengherankan karena n kecil)
n = 500 : akan (diperkirakan) muncul tanda gambar kurang lebih 250 kali (Ini karena eqully
likely, bila munculnya : 0 kali aneh !)
(Bila tidak equally likely bisa terjadi bahwa tanda gambar muncul 0 kali)
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
PROBABILITAS MATEMATIS :







= Probabilitas munculnya tanda A


Sifat-sifat :




Bila A tanda yang pasti muncul : P(A) =1
Bila A tanda yang tak mungkin muncul : P(A) = 0
n
fA
A P
n
= lim ) (
1 ) ( 0
1 0 0
s s
s s s s
A P
n
fA
n fA
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
3. Beberapa teorema
Pengertian Peristiwa dan (event) dan Himpunan




gabungan A dan B Peristiwa A atau B
atau dua-duanya

irisan A dan B Peristiwa A dan B

komplemen dari A Peristiwa bukan A

A hipunan bagian dari B Jika peristiwa A terjadi
maka peristiwa B juga
terjadi




B A
Lambang
Pengertian
Himpunan
Pengertian
Peristiwa
B A
c
A
B Ac
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
Dengan diagram Venn :
A B B A
Peristiwa A atau B
atau dua-duanya
Peristiwa A dan B
A B A
Peristiwa buka A Peristiwa A terjadi maka B
ter jadi juga
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
1). Adisi


2). Multiplikasi.



Dimana PROBABILITAS BERMASYARAKAT munculnya tanda A bila
diketahui tanda B terjadi. (Probabilitas munculnya tanda A
dalam subderetan tanda B)

PROBABILITAS BERMASYARAKAT munculnya tanda B bila
diketahui tanda A terjadi. (Probabilitas munculnya tanda B
dalam subderetan tanda A).

Bila peristiwa A dan B saling tak bergantungan :
Maka ,

Sehingga,
) ( ) ( ) ( ) ( B A P B P A P B A P + =
) ( ). ( ) ( ). ( ) ( A P A B P B P B A P B A P = =
: ) ( B A P
: ) ( A B P
) ( ). ( ) ( B P A P B A P =
) ( ) ( ) ( ) ( B P A B danP A P B A P = =
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
3). Teori Probabilitas Total.
Bila B
1
, B
2
, .., B
n
merupakan peristiwa yang disjoint
maka ,

dan jika B
1
, B
2
,..,Bn merupakan seluruh peristiwa yang membentuk Ruang Sampel,
maka,


Bukti :


dengan


maka,
0 .. ..........
3 2 1
=
n
B B B B

=
=
n
i
i i
B P B A P A P
1
) ( ). ( ) (

=
=
n
i
i
B A P A P
1
) ( ) (
) ( ) ( ) ( ) (
i i i i
B P B A P B A P B A P = =

=
=
n
i
i i
B P B A P A P
1
) ( ). ( ) (
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
4). Teorema Bayes.




Bukti :


Teorema Bayes ini memberikan suatu cara untuk menghitung :
Probabilitas bersyarat dari suatu tanda terhadap tanda yang lain dengan menghitung probabilitas bersyarat dari
tanda yang lain tersebut, terhadap tanda yang pertama.
Catatan :

=
i
i i
i i
i
B P B A P
B P B A P
A B P
) ( ). (
) ( ). (
) (

= =
) ( ). (
) ( ). (
) (
) (
) (
i i
i i i
i
B P B A P
B P B A P
A P
A B P
A B P

B1
B3
B2
B3
A
Munculnya tanda A pasti berkaitan dengan salah
satu dari Bi, yang mutually exclusive exhaustic
Probabilitas Total

= ) ( ).( ( ) (
i i
B P B A P A P
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
Beberapa contoh :
(1). Dalam suatu perjudian
Ada 2 bandar judi yang kembar (tak dapat dibedakan). Yang satu jujur dan yang satu lagi tak
jujur.
- Kalau main dengan bandar yang jujur, probbabilitas kalah =
- Kalau main dengan bandar yang tak jujur, probabilitas kalah = p ( 0< p < 1 )
- Pada waktu masuk tempat judi, probabilitas mendapatkan salah satu dari kedua bandar
tersebut adalah =

Misalkan main satu kali dan kalah :
BERAPA PROBABILITAS BAHWA BANDAR YANG DIHADAPI ITU ADALAH BANDAR YANG
TAK JUJUR ?
Jawab :
Bila B(J) = peristiwa bahwa yang dihadapi adalah bandar yang jujur
B(T) = peristiwa bahwa yang dihadapi adalah bandar yang tak jujur
K = peristiwa bahwa kita kalah main
maka yang ditanyakan adalah :

Yaitu : probabilitas menghadapi bandar yang tak jujur
kalau diketahui kita kalah main. (= Probabilitas munculnya tanda B(T) dari sub deretan
tanda K)
Hal diatas tidak begitu jelas, tetapi kalau dipakai Teorema Bayes dapat dihitung sbb :


) ) ( [ K T B P
)] ( [ )]. ( [ )] ( [ )]. ( [
)] ( [ ]. ( [
] ) ( [
J B P J B K P T B P T B K P
T B P T B K P
K T B P
+
=
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
Catatan :
Yang mutually exlusip exhaustic(ekivalen dengan Bi pada rumus Bayes adalah B(J) dan
B(T)
Jadi


Cara lain :




- Masuk tempat judi probabilitas mendapatkan bandar jujur = probabilitas mendapatkan
bandar tak jujur =
- Jika mendapat bandar tak jujur, probabilitas kalah =
- Jika mendapat bandar jujur, probabilitas kalah =

Jadi peristiwa K (kalah) : dengan teorema multiplikasi dan adisi :


1 2
2
) 2 / 1 ( ) 2 / 1 ).( 2 / 1 ( ) 2 / 1 .(
) 2 / 1 .(
] ) ( [
+
=
+
=
+
=
p
p
p
p
p
p
K T B P
) 2 / 1 )( 2 / 1 ( ). 2 / 1 (
). 2 / 1 (
) (
] ) ( [
] ) ( [
+
= =
p
p
K P
K T B P
K T B P

Masuk
tempat jidi
B(T)
B(J)
M
M = Menang
K
K
1/2
1/2
1/2
K = Kalah
1/2
(1-p)
p
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
(2). Tes penyakit AIDS (HIV test)
- HIV tes ini kurang andalm(tidak tepat 100%)
- Probabilitas pasien (seseorang punya AIDS) = 0,05 (ini benar)
- Dari paien yang punya AIDS :
Probabilitas HIV test memberikan hasil positif (H
+
) = 0,8
- Dari pasien yang TAK PUNYA AIDS :
Probabilitas HIV test memberikan hasil posistif (H
+
) = 0,1
Pertanyaan :
Berapa besar probabilitas seseorang pasien yang di tes dengan HIV test memberikan hasil positif, betul-
betul punya penyakit AIDS ?
Jawab :
Bila : A adalah peristiwa bahwa pasien punya AIDS.
H
+
adalah pristiwa bahwa hasil HIV test adalah positif
Maka : :


) (
) (
) / ( ). 1 . 8 , 0 ) / ( ). 1
) ( / ) ( ) / ( ?( ) / (
A P
A H P
A H P ad A H P
H P H A P H A P H A P

+
+ +
+ + + +
= =
= =
) (
) (
) / ( ). 2 . 1 , 0 ) / ( ). 2
c
c +
c + c +
= =
A P
A H P
A H P ad A H P

) ........( 095 , 0 ) (
) 05 , 0 1 (
) (
1 , 0 II A H P
A H P
=

=
c +
c +

05 , 0
) (
8 , 0 05 , 0 ) ( ). 3
A H P
A P

+
= =
) ........( .......... .......... .......... .......... 04 , 0 ) ( I A H P =
+

135 , 0 095 , 0 04 , 0 ) ( ) ( ) ( = + = + =
c + + +
A H P A H P H P
296 , 0 135 , 0 / 04 , 0 ) ( / ) ( ) / ( = = =
+ + +
H P H A P H A P
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
(3). Probabilitas menembak jatuh sebuah pesawat musuh dengn SEBUAH MERIAM penangkis
pesawat terbang adalah sebesar = 0,004
Pertanyaan :
Berapa besar probabilitas menembak jatuh seuah pesawat terbang musuh bila 250 MERIAM
penangkis pesawat terbang ditembak secara bersamaan ?
Jawab :
Probabilitas (menembak jatuh 1 pesawat dengan 1 meriam) = 0,004
Probabilitas (menembak tidak jath) = 1 0,004 = 0,996
Probabilitas (menembak dengan 250 meriam dan tidak ada yang menjatuhkan) = (0,996)
250
Probabilitas (paling sedikit 1 meriam menjatuhkan = 1 (0,996)
250

(4). Suatu berkas saluran terdiri dari 2 saluran yang sering rusak :
p(k) = Probabilitas bahwa k saluran baik.
p(0) = 0,2; p(1) = 0,3; p(2) = 0,5
E(k) = Probabilitas bahwa suatu panggilan diblok bila diketahui k saluran baik
E(0) = 1; E(1) = 2/3 ; E(2) = 2/5
Pertanyaan :
Berapa besar probabilitas bahwa suatu panggilan di blok ?
Jawab :
Probabilitas (suatu panggilan di blok ) = p(0).E(0) + p(1).E(1) + p(2).E(2) = 0,6
Rekayasa Trafik
Teknik Elektro Telekomunikasi
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL