Anda di halaman 1dari 37

Kemantapan Lereng

Dalam menentukan dimensi jenjang, maka hal yang perlu diperhatikan adalah keamanan dan kemantapan dari lereng tersebut. Karena faktor kemantapan suatu lereng adalah suatu faktor yang menentukan apakah areal tersebut layak atau tidak layak dilakukan operasi penggalian atau penimbunan karena menyangkut persoalan keselamatan manusia (pekerja), keamanan peralatan dan harta benda serta kelancaran produksi.

1.

Faktor Keamanan Lereng

a. Tinggi kritis lereng Tinggi kritis lereng adalah jarak lurus vertikal yang diukur dari suatu bidang datar ke bidang datar berikutnya, atau jarak dari satu lantai jenjang ke lantai jenjang berikutnya. Dan jika tinggi jenjang melebihi tinggi kritis yang telah ditentukan, maka kestabilan lereng diperkirakan akan hilang.

b. Faktor Keamanan
Faktor keamanan (FK) yaitu perbandingan antara gaya-gaya penahan dengan gaya-gaya penggerak, yang merupakan kondisi standar untuk mengetahui mantap tidaknya suatu lereng.

Hubungan nilai FK dengan kemungkinan kelongsoran lereng menurut Bowles, J.E, adalah sebagai berikut :
FK < 1,07, sering terjadi kelongsoran 1,07 FK 1,25, kelongsoran pernah terjadi FK 1,25, kelongsoran jarang terjadi

2.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemantapan Lereng

Geometri lereng Geometri lereng adalah tinggi, kemiringan dari suatu lereng. Makin kecil kemiringan dan ketinggian lereng maka lereng tersebut akan semakin mantap, sebaliknya makin besar kemiringan dan ketinggian lereng maka lereng semakin tidak mantap.

Karakteristik fisik dan mekanik Karakteristik fisik dan mekanik batuan dalam hubungannya dengan kelongsoran adalah mempengaruhi daya tahan terhadap longsoran. Karakteristik fisik berupa bobot isi (), porositas maupun kandungan air, sedangkan karakteristik mekanik berupa sudut geser dalam(C), kohesi() dan kekuatan / strength material lereng .

Struktur Geologi
Struktur geologi ini berupa kekar, lipatan, patahan dan bidang lemah lainnya . Kelongsoran lebih sering terjadi pada pada daerah yang memiliki bidang lemah dengan kemiringan yang > 35.

Struktur tersebut sangat mempengaruhi kekuatan batuan karena merupakan bidang-bidang lemah pada batuan tersebut atau paling tidak merupakan tempat-tempat rembesan air dan hal ini akan mempercepat pelapukan dan pada umumnya bidang lemah tersebut menjadi bidang longsor.

Hidrologi dan Hidrogeologi


Air hujan akan menyebabkan terjadinya erosi dan penambahan beban pada lereng. Erosi akan menyebabkan perubahan geometri lereng dan menyebabkan pendangkalan pada saluran-saluran air yang menyebabkan terganggunya penirisan, sehingga dengan adanya faktor hidrologi akan menyebabkan tingkat pelapukan yang tinggi.

Adanya faktor hidrogeologi mempunyai dampak yang negatif terhadap kemantapan lereng. Hidrologi akan mempengaruhi nilai kekuatan material dan mempengaruhi penurunan tekanan normal efektif dan daya tahan terhadap kuat geser (shear strength).

Gaya-gaya luar
Pengaruh gaya-gaya luar ini adalah percepatan seismik yang diakibatkan oleh adanya gempa bumi, kegiatan peledakan dan trafik alat-alat berat.

Tegangan Regional
Tegangan regional adalah besarnya tegangan di sekitar lokasi lereng yang sangat tergantung pada kondisi geologi di sekitar lereng (mengalami fenomena tektonik yang dahsyat).

Waktu
Fungsi waktu dapat mempengaruhi kemantapan lereng, sedangkan waktu dipengaruhi oleh musim atau iklim dan erosi. Bila iklim dan erosi kuat, maka unsur waktu sangat berpengaruh.

3. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Kelongsoran 3.A Faktor-faktor Yang Menaikan Tegangan Geser
. Pengurangan penyangga lateral, antara lain karena : erosi air sungai, air hujan, aliran es, pelapukan, pembekuan air, longsoranlongsoran terdahulu yang membentuk lereng-lereng baru, dan akibat aktivitas manusia seperti pembuatan kanal dan kolam.

Penambahan tegangan, antara lain karena penambahan beban dari air hujan, mata air, bocoran-bocoran pipa air, hasil longsoran diatasnya, tekanan air rembesan, dan penumpukan material seperti penimbunan tanah. Gaya-gaya dinamik, disebabkan oleh getaran akibat gempa terktonik maupun vulkanik, getaran-getaran oleh peledakan, mesin-mesin dan lalu lintas kendaraan.

Pengangkatan atau penurunan regional, disebabkan oleh gerakan-gerakan pembentukan pegunungan dan merubah sudut kemiringan.
Tegangan lateral yang disebabkan oleh air didalam pori-pori dan rekahan batuan, pengembangan lapisan-lapisan batuan seperti lempung.

Pemindahan penyangga, disebabkan oleh pemotongan tebing oleh aliran sungai, pelapukan dan erosi dibawah permukaan, larutnya material-material yang mudah larut, kegiatan penambangan dan pembuatan terowongan.

3. B Berkurangnya Kekuatan Geser

Rona awal Kekuatan geser awal yang sudah rendah disebabkan oleh komposisi, struktur dan geometri lereng. Komposisi kimia dan tekstur batuan dapat menyebabkan tekanan geser turun. Hal ini disebabkan oleh bidang diskontinuitas dan kemiringan lapisan yang lunak dan kedap air.

Perubahan karena pelapukan reaksi kimia fisik Hal ini dapat menyebabkan lunaknya lempung berpori, disintregasi batuan granular, turunya kohesi batuan dan larutnya material-material penyemen pada batuan.
Perubahan gaya-gaya antar butiran Hal ini disebabkan oleh kandungan air, tekanan air pori dan permeabilitas batuan

Perubahan struktur Seperti terbentuknya rekahan rekahan pada lempung yang terdapat ditebingtebing atau lereng.

4. Jenis-jenis Longsoran
Jenis-jenis longsoran yang sering terjadi pada tambang terbuka, yaitu; longsoran lingkaran, longsoran bidang, longsoran bajih dan longsoran guling Pada batuan longsoran yang biasanya terjadi adalah longsoran baji, bidang dan longsoran guling. Sedangkan longsoran busur atau sirkular terjadi pada material tanah. Longsoran busur inilah yang umumnya terjadi pada daerah penggalian.

Longsoran Bidang (Plane Slide/Planar) Longsoran ini terjadi pada batuan atau material yang memiliki bidang luncur bebas mengarah ke lereng. Pada umumnya bidang luncur itu terdapat pada bidang-bidang diskontinyu, sepert sesar, kekar atau bidang perlapisan. Syarat-syarat untuk terjadi longsoran bidang adalah : Terdapat bidang luncur bebas Sudut lereng lebih kecil dibandingkan sudut bidang luncur Sudut geser dalam lebih kecil dibandingkan dengan sudut bidang luncur

Lonsoran Baji (Wedge Failure)


Longsoran jenis ini hanya terdapat pada batuan yang mempunyai lebih dari satu bidang lemah atau bidang bebas, dengan sudut antara kedua bidang bebas tersebut membentuk sudut yang lebih besar dari pada sudut geser dalam.

Longsoran Guling (Toppling Failure)


Longsoran jenis ini terjadi pada lereng batuan keras yang terjal dengan bidangbidang lemah yang hampir tegak lurus atau tegak dan searah dengan bukaan lereng. Lonngsoran ini biasanya berbentuk blok atau bertingkat.

Longsoran Busur (Circular Failure) Jenis Longsoran ini paling umum terjadi di alam, terutama pada tanah yag lunak. Kelongsoran busur biasanya disebut dengan istilah kelongsoran lingkaran (rational slip) atau kurva bukan lingkaran. Pada umumnya bentuk longsoran ini ditemukan pada jenis tanah yang homogen dan kelongsoran pada tanah yang berbentuk lingkaran adalah pada tanah yang tidak homogen. Jadi longsoran busur adalah longsoran yang terjadi disepanjang permukaan dibidang longsor yang berupa busur. Menurut Hoek dan Bray (1981), longsoran busur hanya akan terjadi pada tanah atau material yang bersifat tanah.