Anda di halaman 1dari 27

OLEH : BAKHTIAR ROHMAN

Permasalahan penyakit kusta ini bila dikaji secara mendalam merupakan permasalahan yang sangat kompleks dan permasalahan kemanusiaan seutuhnya. Penyakit ini menyerang saraf perifer dengan komplikasi cacat primer maupun sekunder yang tampak menyeramkan sehingga penderitanya ditakuti, dijauhi, dan diisolasi secara sosial atau masyarakat berupaya menghindari penderita kusta.

Metode penanggulangan ini terdiri dari : metode pemberantasan dan pengobatan, metode rehabilitasi yang terdiri dari rehabilitasi medis, rehabilitasi social, rehabilitasi karya dan metode permasyarakatan yang merupakan tujuan akhir dari rehabilitasi. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi kecacatan seminimal mungkin dan mencegah bertambah beratnya cacat yang ada dengan bantuan rehabilitasi medis atau fisioterapi.

1.

2.

3.

Kecacatan akibat kerusakan saraf tepi tersebut dapat dibagi menjadi 3 tahap yaitu: Terjadi lesi pada saraf berbentuk penebalan saraf, nyeri, tanpa ada gangguan fungsi gerak, terjadi gangguan sensorik. Terjadi kerusakan pada saraf, timbul paralisis tidak lengkap atau paralisis awal termasuk pada otot kelopak mata, otot jari tangan dan otot kaki. Pada stadium ini masih dapat terjadi pemulihan kekuatan otot. Terjadi penghancuran saraf. Kelumpuhan akan menetap pada stadium ini dapat terjadi infeksi yang proresif dengan kerusakan tulang dan kehilangan penglihatan.

Cacat yang timbul pada penyakit kusta dapat dikelompokan menjadi 2 kelompok yaitu : 1. Cacat primer Cacat yang disebabkan langsung oleh aktivitas penyakit terutama kerusakan akibat respon jaringan terhadap M.Lepra. 2. Cacat sekunder Cacat sekunder ini terjadi akibat cacat primer, terutama akibat adanya kerusakan saraf (sensorik, motorik, otonom).

1.

Yang termasuk cacat primer adalah : Cacat pada fungsi saraf sensorik , yaitu anesthesia fungsi saraf motorik, misalnya : claw hand, wrist drop, foot drop, claw toes, lagoftalmos. Dan cacat pada fungsi otonom menyebabkan kulit kering, elastisitas kulit berkurang serta gangguan reflek vosodilatasi. Infiltrasi kuman pada kulit dan jaringan subkutan menyebabkan alopesia atau madarosis, kerusakan glandula sebasea dan sudorofera menyebabkan kulit kering dan tidal elastic. Cacat pada jaringan lain akibat infiltrasi kuman kusta dapat terjadi pada tendon, ligament, sendi, tulang rawan, tulang testis dan bola mata.

2.

3.

Cacat sekunder ini terjadi akibat cacat primer


Anetesia akan memudahkan terjadinya luka akibat trauma mekanis atau termis yang dapat mengalami infeksi sekunder dengan segala akibatnya. Kelumpuhan motorik menyebabkan kontraktur sehingga dapat menimbulkan gangguan menggenggam atau berjalan juga memudahkan terjadinya luka. Kelumpuhan saraf otonom menyebabkan kulit kering dan elastisitas berkurang akibatnya kulit mudah retak-retak dan dapat terjadi infeksi sekunder.

Kerusakan saraf tepi Serabut Serabut sensorik otonom Hilang rasa Kulit kering Serabut motorik Kelemah an otot

Kerusakan saraf tepi disebabkan oleh m.leprae. Dapat dicegah dengan diagnosa dini dan pengobatan teratur.

Terbakar kerusakan jaringan

Luka infeksi

Kontraktur

Ketidak mampuan berfungsi dan cacat tubuh sekunder Dapat dicegah sampai tingkat tertentu melelui penyuluhan kesehatan dan rehabilitasi/fisioterapi

Cacat sekunder

WHO membagi cacat kusta menjadi tingkat kecacatan yaitu :

Cacat pada tangan dan kaki : Tingkat 0 : tidak ada anesthesia dan kelainan anatomis. Tingkat 1 : ada anesthesia tetapi tidak ada kelainan anatomis. Tingkat 3 : terdapat kelainan anatomis. Cacat pada mata : Tingkat 0 : tidak ada kelainan pada mata (termasuk visus). Tingkat 1 : ada kelainan mata, tetapi tidak terlihat, visus sedikit berkurang. Tingkat 3 : ada langoftalmus dan visus sangat terganggu.

Kecacatan pada tangan Gangguan pada n. ulnaris, n. medianus, kombinasi n. ulnaris dan n. medianus, n. radialis Kecacatan pada kaki gangguan pada n. Peroneus komunis, n tibialis posterior Kecacatan pada mata Gangguan pada n fasialis, n aurikularis magnus


1. 2. 3.

Tujuan pencegahan cacat : Mencegah timbulnya cacat pada saat diagnose kusta ditegakan dan diobati Mencegah agar cacat yang telah terjadi jangan menjadi lebih berat. Menjaga agar cacat yang telah baik tidak kambuh lagi.

Upaya pencegahan cacat terdiri dari : Upaya pencegahan cacat primer, meliputi : Diagnosa dini, Pengobatan secara teratur dan adekuat, Diagnosa dini dan penanggulangan neuritis, Diagnosa dini dan penatalaksanaan reaksi

Upaya pencegahan cacat sekunder, meliputi : Perawatan diri sendiri untuk mencegah luka. Latihan fisioterapi pada otot yang mengalami kelumpuhan untuk mencegah terjadinya kontraktur. Bedah rekontruksi untuk koreksi otot yang mengalami kelumpuhan agar tidak mendapat tekanan yang berlebihan. Bedah septic untuk mengurangi perluasan infeksi sehingga pada proses penyembuhan tidak terlalu banyak jaringan yang hilang. Perawatan tangan yang anestesi atau mengalami kelumpuhan otot.

Pencegahan dan perawatan untuk mencegah terjadinya cacat dapat dilakukan oleh penderita sendiri atau keluarganya Mengamati dan melaporkan kepada petugas kesehatan adanya : Perubahan rasa, berkurangnya kekuatan otot, nyeri saraf, Timbul luka, kulit retak-retak atau kekakuan sendi, Luka yang tidak sembuh-sembuh, Perlu perbaikan/ganti alat bantu atau alat pelindung

Perawatan tangan, kaki, dan mata Bila ada kelemahan otot maka perlu latihan secara aktif dan pasif. Pertahankan ROM (range of movement) sendisendi yang mengalami kelumpuhan dengan latihan ROM aktif maupun pasif, bila telah timbil kontraktur dilakukan latihan peregangan otot. Pada daerah mata, lindungi mata yang tidak tertutup dengan kaca mata atau penutup mata. Pada mata lakukan setiap hari buka tutup mata.

Lindungi tangan yang mati rasa dari : benda panas, benda kasar, benda tajam untuk mencegah luka. Periksa setiap hari telapak tangan, bila ada kemerahan, melepuh atau luka istirahatkan dan rawatlah luka. Rendamlah tangan paling sedikit 1 kali sehari dengan air bersih yang tidak panas selama 30 menit, untuk menjadikan kulit lembut dan tidak kering. Gosoklah kulit tangan yang menebal dengan batu apung setelah direndam untuk menjadikan kulit lembut dan tipis. Setelah digosok, olesi tangan yang masih basah dengan minyak kelapa yang bersih. Untuk mencegah luka, gunakan kain yang tebal bila memegang panci atau benda panas, bungkus tangkai alat kerja dengan kain yang tebal, dan gunakan pipa sewaktu merokok. (lebih baik berhenti merokok).

Kurangi tekanan pada bagian tangan yang luka dengan istirahat, luka harus selalu bersih, dan bila luka berbau, panas dan bengkak segeralah ke puskesmas atau ke petugas kesehatan. Rendamlah tangan 2 kali sehari dengan air bersih yang tidak panas selama 30 menit, untuk membersihkan luka. Gosoklah kulit tangan yang menebal dengan batu apung setelah direndam untuk menjadikan kulit lembut dan tipis. Setelah digosok, olesi tangan yang masih basah dengan minyak kelapa yang bersih. Setelah tangan diolesi balutlah luka dengan kain bersih supaya luka tidak mudah kotor. Jangan gunakan tangan dengan luka untuk bekerja.

Latihlah jari-jari tangan yang bengkok sesering mungkin supaya tidak menjadi kaku. Sebaiknya sebelum latihan rendamlah tangan dalam air bersih yang tidak panas selama 30 menit. Olesi tangan yang masih basah dengan minyak kelapa yang bersih. Setelah diolesi, luruskan jari-jari dengan tanganyang lain secara hati-hati sebanyak 20 kali setiap latihan. Latihan otot jari-jari, yaitu menaruh tangan di atas telapak tangan yang lain atau di atas paha/bantalan yang lembut dan sedapat mungkin luruskan jari-jari.

Latihan ibu jari, yaitu dengan menempatkan tangan yang lemah di atas paha. Letakan tangan yang lain diatasnya, dengan jari-jari tangan yang kuat, tegakkan ibu jari ke posisi menunjuk ke atas. Posisikan ibu jari tangan yang kuat dipangkal ibu jari yang lemah, keempat jari melakukan gerakanmengurut hingga kearah ujung ibu jari yang lemah sampai lurus, tahan selama 10 detik, lakukan 3 kali sehari, sebanyak 10 kali setiap latihan.

Yang perlu diperhatikan yaitu resiko pada kaki yang mati rasa adalah: kulit telapak kaki menjadi pecahpecah, luka pada telapak kaki karena berjalan, berdiri lama, terkena benda kasar, tajam atau panas. Periksalah telapak kai setiap hari, bila ada kemerahan, melepuh atau luka istirahatkan dan merawat luka. Rendamlah kaki paling sedikit 1 kali sehari dengan air bersih yang tidak panas selama 30 menit, untuk menjadikan kulit lembut dan tidak kering. Gosoklah kulit yang menebal dengan batu apung setelah direndam untuk menjadikan kulit lembut dan tipis. Setelah digosok, olesi kaki yang masih basah dengan minyak kelapa yang bersih. Gunakan selalu alas kaki untuk mencegah luka. Pakailah sandal atau sepatu dengan bagian dalam yang lembut.

Yang perlu diperhatikan yaitu mengurang tekanan pada luka dengan cara istirahatkan kaki, jangan berdiri atau berjalan terlalu lama, memakai tongkat, duduk dan jangan jongkok. Bila luka berbau, panas dan bengkak laporkan ke petugas kesehatan. Rendamlah kaki 2 kali sehari dengan air bersih yang tidak panas selama 30 menit, untuk membersihkan luka. Gosoklah kulit yang menebal dengan batu apung setelah direndam untuk menjadikan kulit lembut dan tipis. Setelah digosok, olesi telapak kaki yang masih basah dengan minyak kelapa yang bersih. Setelah kaki diolesi balutlah luka dengan kain bersih supaya luka tidak mudah kotor.

Yang perlu diperhatikan yaitu setiap hari latihlah kaki yang lunglai supaya pergelangan kaki tidak menjadi kaku, menghindari luka pada kaki, mempermiudah operasi kalau diperlukan nanti. Untuk mencegah kekakuan pada kaki yaitu 2 kali sehari duduk dengan lutut lurus, lingkari telapak kaki dengan sarung dan tarik kaki, tahanlah selama 4 detik, yang perlu diingat lutut harus tetap lurus. Lakukan 20 kali tiap latihan. Latihan otot kaki yaitu 2 kali sehari sambil duduk cobalah sedapat mungkin mengangkat kaki yang lunglai. bila ada kekuatan pakailah beban Lakukan 20 kali setiap latihan. Latihan otot kaki juga dapat dilakukan dengan mengikat ban sepeda pada kursi dan tarik dengan kaki, tahan selama 4 detik. Lakukan 20 kali setiap latihan. Pakailah alas kaki atau sepatu yang cukup tinggi membungkus kaki atau sandal khusus dari rumah sakit supaya berjalan lebih aman.

Yang perlu diperhatikan yaitu lindungi mata yang tidak tertutup rapat dari angin, debu, atau sinar matahari untuk mencegah mata merah dan kebutaan Periksalah setiap hari dengan menggunakan cermin untuk melihat apakah ada kotoran pada mata, keluarkan kotoran dengan hatihati. Bila mata merah laporkan ke petugas kesehatan. Latihan mata juga dapat dilakukan dengan mengedipkan mata sesering mungkin setiap hari.

Dua kali sehari pejamkan mata seerat mungkin, sambil menutup mata tariklah kulit disudut mata kearah luar. Lakukan sebanyak 20 kali setiap latihan. Gunakan kacamata (kacamata hitam) atau topi yang lebar untuk melindungi mata dari debu, angin atau sinar matahari Pada waktu tidur, tutplah mata drngan kain bersih yang lembab dan ikatlah secara longgar supaya debu tidak masuk mata. Dapat juga gunakan kelambu.

Penderita mengerti bahwa daerah yang mati rasa merupakan tempat resiko terjadinya luka. Penderita harus melindungi tempat resiko tersebut Penderita mengetahui penyebab luka. Penderita dapat melakukan perawatan kulit dan ,elatih sendi bila mulai kaku. Penyembuhan luka dapat dilakukan oleh penderita sendiri dengan membersihkan luka, mengurangi tekanan pada luka dengan istirahat.

1. 2. 3.

Pada penyakit kusta kerusakan pada saraf tepi ,merupakan sumber awal kecacatan. Pencegahan cacat ditujukan untuk : Mencegah timbulnya cacat pada saat didiagnosis kusta ditegakan dan diobati Mencegah agar cacat yang telah terjadi jangan menjadi lebih berat Menjaga agar cacat yang telah baik jangan kambuh lagi Rehabilitasi dan fisioterapi memegang peranan yang sangat penting untuk mengatasi cacat yang disebabkan oleh penyakit kusta Kecacatan yang dimiliki dilatih menurut fungsinya yang nantinya bekerja sesuai dengan keahliannya.

TERIMA KASIH