Anda di halaman 1dari 36

Pertemuan I

Oleh Baharuddin

Sediaan

cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia terlarut (FI. Ed IV) Larutan terjadi jika bahan padat tercampur atau terlarut secara kimia maupun fisika kedalam bahan cair.

Larutan

dapat digolongkan menjadi larutan langsung (direc) dan larutan tidak langsung (indirec)

Larutan langsung (direc) adalah larutan yang terjadi karena semata-mata peristiwa fisika. Misalnya: NaCl dilarutkan kedalam air. Glokosa dilarutkan dilarutkan kedalam air, jika pelarutnya (air) diuapkan, maka NaCl atau glukosa akan diperoleh kembali.

Larutan tidak langsung (inderec) adalah larutan yang terjadi kerena peristiwa kimia, bukan peristiwa fisika. Misalnya jika Zn ditambahkan kedalam H2SO4 maka akan terjadi reaksi kimia menjadi larutan ZnSO4 yang tidak dapat kembali menjadi Zn dan H2SO4.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan zat:


1.

Sifat polaritas zat terlarut dan pelarut. Dikenal dengan istilah like dissolves like, molekul-molekul dengan distribusi muatan yang sama dapat larut secara timbal-balik, yaitu melokel polar akan larut dalam media polar, sedangkan media non polar akan larut dalam media non polar.

2. Co-solvency.
Co-solvency dapat dipandang sebagai modifikasi polaritas sistem pelarut terhadap zat terlarut atau terbentuknya pelarut baru. Jadi Co-solvency adalah suatu peristiwa terjadinya kenaikan kelarutan karena penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut. Misalnya, luminal tidak larut dalam air, tetapi larut dalam campuran air-gliserin (Sol. Petit)

3. Sifat kelarutan
Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut, sedangkan zat yang sukar larut memerlukan banyak pelarut. Senyawa yang dapat larut dalam air Semua garam klorida, kecuali AgCl, PbCl2, Hg2Cl2. semua garam nitrat, kecuali nitrat basa seperti bismut subnitrat. Semua garan sulfat, kecuali Ba2SO4, Pb SO4. Senyawa yang tidak larut dalam air Semua garam karbonat, kecuali K2CO3, Na2CO3, (NH4)2CO3. Semua oksida dan hodroksida, kecuali KOH, NaOH, NH4OH, BaO, dan Ba(OH)2. Semua garam fosfat, kecuali K3PO4, Na3PO4, (NH4)3PO4.

4. Temperatur/Suhu

Beberapa zat pada umumnya bertambah larut jika temperaturnya dinaikkan dan dikatakan zat ini bersifat eksoterm. Pada beberapat zat lain kenaikan temperatur menyebabkan zat tersebut tidak larut (endoterm). Contoh zat yang bersifat endoterm CaSO4, Ca(OH)2, minyak atsiri dan gasgas terlarut.

5. Salting in dan salting out


Silting in adalah peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan lebih kecil dibandingkan zat utamanya sehingga menyebabkan kenaikan kelarutan zat utama. Contoh: Globulin tidak larut dalam air, tetapi dapat larut dalam larutan garam encer dalam air.

Salting out adalah peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan lebih besar dibandingkan zat utamanya sehingga menyebabkan penurunan kelarutan zat utama Contoh: Kelarutan minyak atsiri dalam air akan turun jika kedalam larutan tersebut datambahkan larutan NaCl jenuh.dalam hal ini, kelarutan NaCl lebih besar dibandingkan kelarutan minyak atsiri dalam air,sehingga minyak atsiri akan memisah. Reaksi antara papaverin HCl dengasn solutio Charcot menghasilkan endapan Papaverin basa.

6. Pembentukan Kompleks
Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tidak larut dan zat yang larut dengan membentuk senyawa kompleks yang baru. Contoh: Iodium dalam larutan KI atau NaI I2 + KI KI3 I2 + NaI NaI3

Larutan kofein dalam larutan Na-salisilat atau Na-benzoat Kofein + Na-salisilat kofein Na-salisilat Kofein + Na-benzoat kofein Na-benzoat Senyawa kompleks ini mudah larut dan bersifat reversibel, mudah terdisosiasi dan melepaskan zat aktifnya sehingga memberi efek terapi.

7. Ukuran Partikel
Makin halus zat terlarut, makin kecil ukuran partikel, makin luas permukaanya yang kontak dengan pelarut sehingga zat terlarut makin cepat larut.

Keuntungan dan Kerugian Bentuk Larutan


a. 1. 2. 3. 4. 5.

6.

Keuntungan: Merupakan campuran homegen. Dosis dapat diubah-ubah dalam pembuatan Dapat diberikan dalam larutan encer, sedangkan tablet atau kapsul susah diencerkan. Kerja awak obat lebih cepat karena obat lebih cepat diabsorbsi. Mudah diberi corrigensia (pemanis, pewarna, bau) hal ini cocok untuk pemberian obat pada anak-anak. Untuk pemekaian luar, bentuk larytan mudah digunakan.

b. Kerugian:
1.
2. 3.

Volume bentuk larutan lebih besar. Ada obat yang tidak stabil dalam larutan. Ada obat yang sukar ditutupi rasa dan baunya dalam larutan.

Cara-cara khusus pengerjaan obat dalam bentuk larutan.


1. Natrium bikarbonat Harus dilakukan dengan cara gerus tuang (adsliben). 2. Natrium bikarbonat bersama-sama dengan natrium salisilat Natrium bikarbonat digerus tuang, kemudian ditambahkan natrium salisilat. Untuk mencegah perubahan warna pada larutan harus ditambahkan natrium pirifosfst 0,25% dari berat larutan.
R/ NaHCO3 Na. Salisilat Na. Pirifosfat Sir. Gula m.f. potio S. 1-1-1 Pro: dedy 2 1 q.s 15 100 ml

Kalium permanganat (KmnO4) Dilarutkan dengan pemanasan. Pada proses pemanasan akan terbentuk batu kawi (MnO2), oleh sebab itu setelah dingin tanpa dikocok dituang kedalam botol atau dapat disaring dengan gelas wool.

Zink klorida/seng klorida (ZnCl2) Harus dilarutkan dengan air sekaligus, kemudian disaring. Karena jika air ditambah sedikit demi sedikit akan terbentuk zink oksi klorida (ZnOCl) yang sukar larut dalam air. R/ NH4Cl 2 Na. Bromida 1 ZnCl2 2 Ol. Citri ggt III m.f. potio 100 ml S.4 dd cth II Pro: Natal

Tanin Tanin mudah larut dalam air dan gliserin, tetapi tanin selalu mengandung hasil oksidasi yang larut dalam air, tetapi tidak larut dalam gliserin sehingga larutannya dalam gliserin harus disaring. Jika ada air dan gliserin, larutkan tanin dalam air, kocok, baru tambahkan gliserin.
R/ Efedrin HCl Na. Bromida Tanin Ol. Citri ggt m.f. sol. S.4 dd cth II Pro: winda 0,2 2 1 III 60 ml R/ Efedrin HCl Na. Bromida Tanin Gliserin m.f. sol. S.4 dd cth II Pro: winda 0,2 2 1 5 60 ml

Succus liquirite a.Dengan gerus tuang (adsliben). b.Dengan merebus atau memanaskannya hingga larut.
Bahan berkhasiat keras Harus dilarutkan tersendiri.

Jika ada bahan obat yang harus diencerkan dengan air, hasil pengenceran yang diambil paling sedikit adalah 2 ml.
R/ Succus liq. Codein HCl CTM Ol. Citri ggt m.f. potio S.3 dd C I Pro: winda 2 0,2 30 III 80 ml

mg

Kodein
a. b. c.

Direbus dengan air sebanyak 20 kali kodein, setelah larut encerkan sebelum dingin. Dengan alkohol 96% sampai larut, lalu segera diencerkan dengan air. Diganti dengan kodein HCl sebanyak 1,17 kali jumlah kodein. Didapat dariperbandingan BM kodein dengankodein HCL.

Macam Macam Sediaan Larutan Obat

Larutan oral Yaitu sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral , mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma, pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran kosolven-air.

1. Potiones (obat minum) Adalah solutio yang dimaksudkan untuk pemakaian dalam ( per oral ). Selain berbentuk larutan potio dapat juga berbentuk emulsi atau suspensi.
2. Elixir Adalah sediaan larutan yang mengandung bahan obat dan bahan tambahan (pemanis, pengawet, pewarna, pewangi) sehingga memiliki bau dan rasa yang sedap dan sebagai pelarut digunakan campuran air - etanol.
Disini etanol berfungsi mempertinggi kelarutan obat . Pada elixir dapat pula ditambahkan glycerol, sorbitol atau propilenglikol. Sedangkan untuk pengganti gula bisa digunakan sirup gula.

3. Sirup. Ada 3 macam sirup yaitu : a. sirup simplex mengandung 65 % gula dalam larutan nipagin 0,25 % b/v b. sirup obat mengandung satu atau lebih jenis obat dengan atau tanpa zat tambahan digunakan untuk pengobatan c. sirup pewangi tidak mengandung obat tetapi mengandung zat pewangi atau penyedap lain. Penambahan sirup ini bertujuan untuk menutup rasa atau bau obat yang tidak enak.

4. Netralisasi, Saturatio dan Potio Effervescent.


a.

Netralisasi adalah obat minum yang dibuat dengan mencampurkan bagian asam dan bagian basa sampai reaksi selesai dan larutan bersifat netral Contoh : Solutio Citratis Magnesici, Amygdalas Ammonicus Pembuatan: Seluruh bagian asam direaksikan dengan bagian basanya bila perlu reaksi dipercepat dengan pemanasan.

b. Saturatio adalah obat minum yang dibuat dengan mereaksikan asam dengan basa tetapi gas yang terjadi ditahan dalam wadah sehingga larutan jenuh dengan gas.

Pembuatan : Komponen basa dilarutkan dalam 2/3 bagian air yang tersedia. Misalnya NaHCO3 digerus tuang kemudian masuk botol. Komponen asam dilarutkan dalam 1/3 bagian air yang tersedia. 2/3 bagian asam masuk basa, gas dibuang seluruhnya. Sisa asam dituang hati-hati lewat tepi botol, segera tutup dengan sampagne knop sehingga gas yang terjadi tertahan.

c. Potio Effervescent adalah saturatio yang CO2nya lewat jenuh. Pembuatan: a. Langkah 1 dan 2 sama dengan pada saturatio. b. Langkah ke 3 Seluruh bagian asam dimasukkan kedalam basa dengan hati-hati, segera tutup dengan sampagne knop. Gas CO2 umumnya digunakan untuk pengobatan, menjaga stabilitas obat, dan kadang-kadang dimaksudkan untuk menyegar-kan rasa minuman ( corrigensia).

Hal yang harus diperhatikan untuk sediaan saturatio dan potio effervescent adalah :

Diberikan dalam botol yang kuat , berisi kirakira 9/10 bagian dan tertutup kedap dengan tutup gabus atau karet yang rapat. Kemudian diikat dengan sampagne knop. Tidak boleh mengandung bahan obat yang tidak larut , karena tidak boleh dikocok. Pengocokan menyebabkan botol pecah karena botol berisi gas dalam jumlah besar.

Penambahan Bahan bahan.

Zat zat yang dilarutkan dalam bagian asam

Zat- zat yang dilarutkan dalam bagian basa.

a. Zat netral dalam jumlah kecil. Bila jumlahnya banyak, sebagian dilarutkan dalam asam sebagian dilarutkan dalam basa, berdasarkan perbandingan jumlah airnya. b. Zat-zat mudah menguap. c. Ekstrak dalam jumlah kecil dan alkaloid d. Sirup

a.

b.

Garam dari asam yang sukar larut . misalnya natrii benzoas, natrii salisilas. Bila saturasi mengandung asam tartrat maka garamgaram kalium dan ammonium harus ditambahkan kedalam bagian basanya, bila tidak, akan terbentuk endapan kalium atau ammonium dari asam tartrat.

Tabel saturasi dan netralisasi (Farmakope Belanda V)


Untuk 10 bagian Ammonia Kalium Karbonat Natrium Karbonat Natrium Bikarbonat Asam Asam Asetat Asam Sitrat Amygdalat Encer 8,9 58,8 4,1 Asam Salisilat 8,1 Asam Tartrat 4,41

18,1 Ammonia

144,7
69,9 119,0 Kalium Karbonat -

10,1
4,9 8,3 Natrium karbonat -

20,0
9,7 16,4 Natrium Bikarbonat 5,5

10,9
5,2 8,9

Asam Amygdalat Asam Asetat (e) Asam Sitrat Asam Salisilat Asam Tartrat

11,2

1,7
24,0 12,3 22,7

0,7
9,9 5,0 9,2

1,43
20,4 10,4 19,1

0,84
12,0 6,1 11,2

5. Guttae ( drop)

Guttae atau obat tetes adalah sediaan cair berupa larutan, emulsi atau suspensi, apabila tidak dinyatakan lain dimaksudkan untuk obat dalam. Digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan yang setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes baku yang disebutkan oleh Farmakope Indonesia. Biasanya obat diteteskan ke dalam makanan atau minuman atau dapat diteteskan langsung kedalam mulut.
Dalam perdagangan dikenal pediatric drop yaitu obat tetes yang digunakan untuk anak-anak atau bayi . Obat tetes sebagai obat luar, biasanya disebutkan tujuan pemakaiannya misalnya : eye drop untuk mata, ear drop untuk telinga.

Larutan topikal

Larutan topikal ialah larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali juga pelarut lain, misalnya etanol untuk penggunaan topikal pada kulit dan untuk penggunaan topikal pada mukosa mulut. Larutan topikal yang berupa suspensi disebut lotio

Sedian-sedian termasuk larutan topical :


1. Collyrium (cuci mata) 2. Guttae Ophthalmicae. (tetes mata) 3. Gargarisma (Gargle) Gargarisma atau obat kumur mulut adalah sediaan berupa larutan umumnya dalam keadaan pekat yang harus diencerkan dahulu sebelum digunakan. Dimaksudkan untuk digunakan sebagai pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan.

Penandaan. a. Petunjuk pengenceran sebelum digunakan b. Hanya untuk kumur, tidak ditelan Contoh : Betadin Gargle.

4. Litus Oris. Oles Bibir adalah cairan agak kental dan pemakaiannya secara disapukan dalam mulut. Contoh : Larutan 10 % borax dalam gliserin.
5. Guttae Oris Tetes mulut adalah obat tetes yang digunakan untuk mulut dengan cara mengencerkan lebih dahulu dengan air untuk dikumur-kumurkan, tidak untuk ditelan. 6. Guttae Nasales Tetes hidung adalah obat yang digunakan untuk hidung dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga hidung, dapat mengandung zat pensuspensi, pendapar dan pengawet. Minyak lemak atau minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai cairan pembawa.

7. Lavement / Clysma / Enema. Cairan yang pemakaiannya per rectum/colon yang gunanya untuk membersihkan atau menghasilkan efek terapi setempat atau sistemik Enema yang digunakan untuk membersihkan atau penolong pada sembelit atau pembersih faeces sebelum operasi, tidak boleh mengandung zat lendir. Selain untuk membersihkan enema juga berfungsi sebagai karminativa, emolient, diagnostic, sedative, anthelmintic dan lain-lain. Dalam hal ini untuk mengurangi kerja obat yang bersifat merangsang terhadap usus , dipakai basis berlendir misalnya mucilago amyli. Pada pemakaian per rectal berlaku dosis maksimal.

Enema diberikan dalam jumlah variasi tergantung pada umur dan keadaan penderita. Umumnya 0,5 sampai 1 liter, tetapi ada juga yang diperpekat dan diberikan sebanyak 100 200 ml.

8. Douche. Adalah larutan dalam air yang dimasukkan dengan suatu alat ke dalam vagina, baik untuk pengobatan maupun untuk membersihkan. Karenanya larutan ini mengandung bahan obat atau antiseptik. Untuk memudahkan, kebanyakan douche ini dibuat dalam bentuk kering/padat (serbuk, tablet yang kalau hendak digunakan dilarutkan dalam sejumlah air tertentu, dapat juga diberikan larutan kental yang nantinya diencerkan seperlunya. Contoh Betadin Vaginal Douche (dikemas beserta aplikatornya)

9. Epithema /Obat kompres Adalah cairan yang dipakai untuk mendatangkan rasa dingin pada tempat tempat yang sakit dan panas karena radang atau berdasarkan sifat perbedaan tekanan osmose digunakan untuk mengeringkan luka bernanah. Contoh: Rivanol. Liquor Burowi, Solutio Rivanol, campuran Borwater -