Anda di halaman 1dari 35

Emulsi (emulsa)

Oleh baharuddin
1

A. Pengertian Emulsi
Emulsi berasal dari kata emulgeo yang artinya menyerupai milk, warna emulsi adalah putih.

emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Stabilitas emulsi dapat dipertahankan dengan penambahan zat yang ketiga yang disebut dengan emulgator (emulsifying agent) (Farmakope indonesia ed III)
2

B. Komponen Emulsi
1. Komponen dasar
Adalah bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat didalam emulsi. Terdiri atas : a. Fase dispers/fase internal /fase diskontinue Yaitu zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil ke dalam zat cair lain. b. Fase kontinue/fase external/fase luar Yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar dari emulsi tersebut. c. Emulgator. Adalah bagian dari emulsi yang berfungsi 3 untuk menstabilkan emulsi.

2. Komponen tambahan
Bahan tambahan yang sering ditambahkan pada emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya corrigen saporis, odoris, colouris, preservative (pengawet), anti oksidan. Preservative yang digunakan antara lain metil dan propil paraben, asam benzoat, asam sorbat, fenol, kresol dan klorbutanol, benzalkonium klorida, fenil merkuri asetas dan lain-lain. Antioksidan yang digunakan antara lain asam askorbat, L.tocopherol, asam sitrat, propil gallat, asam gallat.
4

C. Tipe Emulsi
1. Emulsi tipe O/W ( oil in water) atau M/A (minyak dalam air).
Adalah emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar kedalam air. Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase external.

2. Emulsi tipe W/O ( water in oil ) atau A/M (air dalam minyak)
Adalah emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar kedalam minyak. Air sebagai fase internal dan minyak sebagai fase external.
5

D. Teori Terjadinya Emulsi


1. Teori Tegangan Permukaan (Surface Tension)
Molekul memiliki daya tarik menarik antara molekul yang sejenis yang disebut daya kohesi. Selain itu molekul juga memiliki daya tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis yang disebut daya adhesi. Daya kohesi suatu zat selalu sama, sehingga pada permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan Tegangan yang terjadi pada permukaan tersebut dinamakan tegangan permukaan (surface tension).
6

2. Teori Orientasi Bentuk Baji (Oriented Wedge) Setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua kelompok yakni : a. Kelompok hidrofilik, yaitu bagian dari emulgator yang suka pada air. b. Kelompok lipofilik , yaitu bagian yang suka pada minyak. Masing-masing kelompok akan bergabung dengan zat cair yang disenanginya, kelompok hidrofil kedalam air dan kelompok lipofil kedalam minyak. Dengan demikian emulgator seolah-olah menjadi tali pengikat antara air dan minyak. Antara kedua kelompok tersebut akan membuat suatu keseimbangan.
7

Setiap jenis emulgator memiliki harga keseimbangan yang besarnya tidak sama. Harga keseimbangan itu dikenal dengan istilah H.L.B. (Hydrophyl Lipophyl Balance) yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara kelompok lipofil dengan kelompok hidrofil. Semakin besar harga HLB berarti semakin banyak kelompok yang suka pada air, itu artinya emulgator tersebut lebih mudah larut dalam air dan demikian sebaliknya.
8

Dalam tabel dibawah ini dapat dilihat keguaan suatu emulgator ditinjau dari harga HLB-nya.

HARGA HLB
1-3 4-6

K E G U NAAN
Anti foaming agent Emulgator tipe w/o

7-9
8-18 13 15

Bahan pembasah ( wetting agent) Emulgator tipe o/w


Detergent

10 -18

Kelarutan (solubilizing agent)

Contoh : Pada pembuatan 100 ml emulsi tipe o/w diperlukan emulgator dengan harga HLB 12. Sebagai emulgator dipakai campuran Span 20 (HLB 8,6) dan tween 20 (HLB 16,7) sebanyak 5 gram. Berapa gram masing-masing berat Span 20 dan Tween 20?

10

Jawab:
(B1 x HLB1) + (B2 x HLB2) = (B camp x HLB camp) B = Berat emulgator Misalnya berat tween = X Berat span = 5X (X x 16,7) + (5-X) x 8,6 = 5 x 12 16,7 X + 43 8,6 X = 60 8,1X = 60 43 X = 2,1 gram (tween) Berat span = 5 2,1 = 2,9 gram
11

3.Teori Interparsial Film Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dan minyak, sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase disper. Dengan terbungkusnya partikel tersebut maka usaha antara partikel yang sejenis untuk bergabung menjadi terhalang. Dengan kata lain fase disper menjadi stabil.
12

syarat emulgator yang dipakai


a) dapat membentuk lapisan film yang kuat tapi lunak b) jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan partikel fase- dispers c) dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan dapat menutup semua permukaan partikel dengan segera.

13

4.Teori electric double layer ( lapisan listrik rangkap) Jika minyak terdispersi ke dalam air, satu lapis air yang langsung berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis, sedangkan lapisan berikutnya akan mempunyai muatan yang berlawanan dengan lapisan didepannya. Dengan demikian seolah-olah tiap partikel minyak dilindungi oleh 2 benteng lapisan listrik yang saling berlawanan.
14

E. Bahan Pengemulsi (Emulgator)


1. Emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan. Pada umumnya termasuk karbohydrat dan merupakan emulgator tipe o/w, sangat peka terhadap elektrolit dan alkohol kadar tinggi, juga dapat dirusak bakteri. Oleh sebab itu pada pembuatan emulsi dengan emulgator ini harus selalu ditambah bahan pengawet.
15

a. Gom Arab
Sangat baik untuk emulgator tipe o/w dan untuk obat minum. Emulsi yang terbentuk sangat stabil dan tidak terlalu kental. Kestabilan emulsi yang dibuat dengan gom arab berdasarkan 2 faktor yaitu: 1) kerja gom sebagai koloid pelindung (teori plastis film) 2) terbentuknya cairan yang cukup kental sehingga laju pengendapan cukup kecil sedangkan masa mudah dituang (tiksotropi)
16

Bila tidak dikatakan lain maka emulsi dengan gom arab menggunakan gom arab sebanyak dari jumlah minyaknya. Untuk membuat corpus emulsi diperlukan air 1,5 X berat gom, diaduk keras dan cepat sampai putih, lalu diencerkan dengan air sisanya. Lemak-lemak padat PGA digunakan sama banyak dengan lemak padat Cara pembuatan. Lemak padat dilebur lalu ditambahkan gom, buat corpus emulsi dengan air panas 1,5 X berat gom . Dinginkan dan encerkan emulsi dengan air dingin. Contoh : cera, oleum cacao, parafin solid
17

Minyak atsiri PGA yang digunakan sama banyak dengan minyak atsiri Minyak lemak PGA kali berat minyak, kecuali oleum ricini karena memiliki gugus OH yang bersifat hidrofil sehingga untuk membuat emulsi cukup dibutuhkan 1/3 nya saja. Contoh: Oleum amygdalarum Minyak Lemak + minyak atsiri + zat padat larut dalam minyak lemak Kedua minyak dicampur dulu, zat padat dilarutkan dalam minyaknya, tambahkan gom ( x myk lemak + aa x myk atsiri + aa x zat padat )
18

Bahan obat cair BJ tinggi, contohnya chloroform, bromoform : Ditambah minyak lemak 10 x beratnya, maka BJ campuran mendekati satu. Gom sebanyak kali bahan obat cair. Balsam-balsam Gom sama banyak dengan balsam. Oleum Iecoris Aseli Menurut Fornas dipakai gom 30 % dari berat minyak.
19

b. Tragacanth
Dispersi tragacanth dalam air sangat kental sehingga untuk memperoleh emulsi dengan viskositas yang baik hanya diperlukan trgacanth sebanyak 1/10 kali gom arab. Emulgator ini hanya bekerja optimum pada pH 4,5 6. Tragacanth dibuat corpus emulsi dengan menambahkan sekaligus air 20 x berat tragacanth. Tragacanth hanya berfungsi sebagai pengental tidak dapat membentuk koloid pelindung.
20

c. Chondrus Sangat baik dipakai untuk emulsi minyak ikan karena dapat menutup rasa dari minyak tersebut. Cara mempersiapkan dilakukan seperti pada agar. d. Emulgator lain Pektin, metil selulosa, selulosa 1-2 %.

karboksimetil

21

2. Emulgator alam dari hewan a. Kuning telur


Kuning telur mengandung lecitin (golongan protein/asam amino) dan kolesterol yang kesemuanya dapat berfungsi sebagai emulgator. Lecitin merupakan emulgator tipe o/w. Tetapi kemampuan lecitin lebih besar dari kolesterol sehingga secara total kuning telur merupakan emulgator tipe o/w. Zat ini mampu mengemulsikan minyak lemak empat kali beratnya dan minyak menguap dua kali beratnya.
22

b. Adeps Lanae Zat ini banyak mengandung kholesterol, merupakan emulgator tipe w/o dan banyak dipergunakan untuk pemakaian luar. Penambahan emulgator ini akan menambah kemampuan minyak untuk menyerap air. Dalam keadaan kering dapat menyerap air 2 X beratnya.
23

3. Emulgator alam dari tanah mineral. a. Magnesium Aluminium Silikat/ Veegum Merupakan senyawa anorganik yang terdiri dari garam-garam magnesium dan aluminium. Dengan emulgator ini, emulsi yang terbentuk adalah emulsi tipe o/w. pemakaian yang lazim adalah sebanyak 1%. Emulsi ini khusus untuk pemakaian luar.
24

b. Bentonit Tanah liat yang terdiri dari senyawa aluminium silikat yang dapat mengabsorbsikan sejumlah besar air sehingga membentuk massa sepert gel. Untuk tujuan sebagai emulgator dipakai sebanyak 5 %. Emugator ini khusus untuk pemakaian luar.
25

4. Emulgator buatan a. Sabun.


Sangat banyak dipakai untuk tujuan luar, sangat peka terhadap elektrolit. Bila sabun tersebut bervalensi 1, misalnya sabun kalium, merupakan emulgator tipe o/w. sedangkan sabun dengan valensi 2, misal sabun kalsium, merupakan emulgator tipe w/o.
b. Tween 20 : 40 : 60 : 80

c. Span 20 : 40 : 80
26

Secara umum Emulgator dikelompokkan menjadi


Anionik : sabun alkali, natrium lauryl sulfat.

Kationik : senyawa ammmonium kuartener. Non Ionik : tween dan span.

Amfoter : protein, lesitin.


27

F. Cara Pembuatan Emulsi


1. Metode gom kering atau metode kontinental. Dalam metode ini zat pengemulsi (biasanya gom arab) dicampur dengan minyak terlebih dahulu, kemudian ditambahkan air untuk pembentukan corpus emulsi, baru diencerkan dengan sisa air yang tersedia.

28

2. Metode gom basah atau metode Inggris.

Zat pengemulsi ditambahkan ke dalam air (zat pengemulsi umumnya larut) agar membentuk suatu mucilago, kemudian perlahan-lahan minyak dicampurkan untuk membentuk emulsi, setelah itu baru diencerkan dengan sisa air.

29

3. Metode botol atau metode botol forbes.

Digunakan untuk minyak menguap dan zay-zat yang mempunyai viskositas rendah (kurang kental).
Serbuk gom dimasukkan ke dalam botol kering, kemudian ditambahkan 2 bagian air, tutup botol kemudian campuran tersebut dikocok dengan kuat. Tambahkan sisa air sedikit demi sedikit sambil dikocok.
30

G. KESTABILAN EMULSI
Emulsi dikatakan tidak stabil bila mengalami hal-hal seperti dibawah ini: 1. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan, dimana yang satu mengandung fase dispers lebih banyak daripada lapisan yang lain. Creaming bersifat reversible artinya bila digojok perlahan-lahan akan terdispersi kembali.
31

2. Koalesen dan cracking (breaking) adalah pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesen(menyatu). Sifatnya irreversible (tidak bisa diperbaiki). Hal ini dapat terjadi karena : a. Peristiwa kimia, seperti penambahan alkohol, perubahan pH, penambahan CaO/CaCl2 exicatus. b. Peristiwa fisika, seperti pemanasan, penyaringan, pendinginan, pengadukan.
32

3. Inversi adalah peristiwa berubahnya dengan tibatiba tipe emulsi w/o menjadi o/w atau sebaliknya. Sifatnya irreversible.

33

Baca Buku
Untuk mendapatkan ilmu yang lebih banyak

34

Terima kasih untuk kebersamaan yang indah ini.

35