Anda di halaman 1dari 52

Kegawatdaruratan psikiatri adalah setiap gangguan dalam pikiran, perasaan, atau tindakan yang membahayakan diri dan hidup

individu bersangkutan yang memerlukan intervensi teraputik segera.

Kasus kedaruratan psikiatri adalah:


Gaduh

Gelisah Violence (tindak Kekerasan) Suicide (bunuh diri) dan Homicide (keinginan membunuh) Delirium Gejala Ekstra Piramidal akibat penggunaan obat

Yang perlu diperhatikan untuk pelayanan Kegawatdaruratan Psikiatri


Keamanan
Ruangan Khusus Akses yang berhubungan dng Ruang

Gawatdarurat Medik Tersedia obat Psikofarmaka Staf (tim) yang bertugas harus memiliki keterampilan khusus Sikap dan perilaku staf dan pasien Evaluasi

Evaluasi yaitu:
Menentukan

diagnosis awal Identifikasi faktor presipitasi dan kebutuhan segera bagi pasien Mulai terapi atau merujuk pasien ke fasilitas yang sesuai

Gaduh Gelisah
Keadaan gaduh gelisah bukan suatu diagnosis, tetapi gambaran perilaku kacau, suara keras (berteriakteriak), jalan mondar-mandir, sering melakukan tindak pengrusakan (destructive) dan permusuhan (hostile). Gaduh gelisah disebabkan (etiologi) antara lain. Psikosis Organik Psikosis Fungsional Kecemasan atau Reaksi stress akut

Gejala

Terjadi akut atau sub akut. Berupa Gejala Psikomotor: Jalan mondar mandir ,berlari-lari atau jalan bergegas Meloncat-lancat Gerakan tangan dan kaki serta mimik dan suara cepat dan hebat/keras Ekspresi bingung, marah atau ketakutan (gangguan afek-emosi) Cara berpikir capat dan sering terdapat waham referensi (ideas of reference) Ada halusinasi visual (terutama pada Gangguan Mental Organik akut), atau halusinasi auditorik (terutama pada skizofrenia)

Psikosis Organik
Psikosis organik yang sering menimbulkan gaduh gelisah adalah Delirium dan Kebingungan post konvulsi

Delirium
Delirium merupakan suatu ganguan metabolisme otak yang difus di kedua belahan hemisferium yang menyebabkan terjadi perubahan kesadaran, onset bisa perlahan-lahan atau mendadak dan hilang timbul (up and down)

Gejala gangguan psikiatrik yang bisa ditemukan adalah


- Gangguan kognitif - Gangguan mood - Gangguan Persepsi - Gangguan perilaku

Gejala neurologis yang sering adalah - Tremor - Nistagmus - Inkordinasi - Inkontinensia urin

Etiologi bermacam-macam
Kriteria diagnostik Delirium untuk kondisi medik umum (PPDGJ III)

Kebingungan Post Konvulsi


terjadi setelah: serangan epilepsi grand mal terapi kejang listrik (ECT). Penatalaksanaan : memegang kedua tangan pasien bujuk dengan kata-kata yang menentramkan biasanya 15 menit pasien sudah tenang Bila tetap bingung ij. Diazepam 10 mg iv.

Psikosis Fungsional
yang sering menyebabkan gaduh gelisah antara lain: Psikosis Akut Skizofrenia Furor Kataton Gangguan Afektif Mania

Psikosis Akut

onsetnya mendadak setelah sesudah terjadi stress psikologik. Sehingga menyebabkan frustrasi, konflik, tekanan atau krisis. Stres mendadak,hebat dan harus jelas , misalnya :
kehilangan orang yang dicintai kegagalan pekerjaan kerugian atau kebangkrutan bencana
Stres Akut Bisa Beberapa jam Psikosis aAkut Tidak bisa Tidak dapat ditentukan

Diferensail Diagnosis Perhatian bisa dialihkan Perlansungan

Halusianasi Waham

Tidak ada Tidak ada

Ada Ada

Sumber stress Antara lain adalah :frustrasi, konflik, tekanan dan krisis.
Frustrasi adalah penilaian diri sendiri

terhadap kegagalan yang dialami yang berhubungan dengan rasa dan harga diri Konflik adalah ketidakmampuan untuk menentukan satu pilihan dari dua atau lebih yang menyebabkan rasa tidak berdaya disertai menurunnya harga diri

Lanjutan . . . Sumber Stress

Tekanan adalah suatu keadaan terpaksa

untuk menerima kenyataan yang menyebabkan harga diri menurun dan ancaman kehidupan Krisis adalah suatu keadaan yang tiba-tiba terjadi sehingga menyebabkan kehilangan sesuatu yang sangat bernilai disertai ancaman kehidupan dan harga diri

Furor Kataton
Otot berkontraksi maksimal (rigiditas)

Menahan atau melawan tenaga yang mengekang

(negativistik) Gagguan arus pikir selalu ditemukan (inkoherensi dan asosiasi longgar) Ada waham persekutorik.

Gangguan Afektif Mania


tidak ditemukan inkoherensi,
Arus fikir (flight of ideas) mood dan afek eforia

ide kebesaran mirip waham; segala sesuatu mudah

dilakukan pembicaraan membanjir (logorrhoe) boros

Violence (Tindak Kekerasan)


Tindak kekerasan adalah suatu tindakan agresi fisik yang dilakukan seseorang terhadap orang lain atau terhadap diri sendiri. Tindak kekerasan pada diri sendiri (melukai atau menyakiti diri sendiri) disebut mutilasi, mengakhiri hidup sendiri disebut perilaku bunuh diri atau behavior suicide.

Penyebab

Pengguna minuman beralkohol dan narkotika. Ada riwayat tindak kekrasan Ada riwayat penyiksaan pada masa anak-anak Pertimbangan lain kemungkinan terjadi tindak kekerasan adalah. Furor kataton Depresi agitatif Gangguan kepribadian ambang dan antisosial Adanya pernyataan pasien bahwa berniat melakukan tindak kekerasan Ada kesempatan atau cara untuk terjadi tindak kekerasan Laki-laki, usia muda Sosioekonomi sangat sederhana Pengendalian impuls buruk Ada stressor baru

Evaluasi Lindungi diri sendiri - Wawancara tidak dilakukan di ruangan yang terdapat barang yang dapat digunakan sebagai senjata - Tidak berdekatan dengan pasien - Duduk dekat pintu - Tidak membelakangi pasien - Jangan memakai dasi

Waspada bila teramati Gigi terkatup erat, Telapak Tangan dikepal Mengancam Jauhkan alat yang dapat digunakan sebagai senjata (garpu, asbak, pinsil dan lain-lain)

Penatalaksanaan Bujuk dan Tenangkan pasien Pengikatan Menegakkan diagnosis Bisa melibatkan aparat hukum Terapi psikofarmaka -Haloperidol 5 mg/ im (perhari atau tiap 12 jam atau tiap 8 jam) -Olanzapin injeksi 10 mg im, dapat diulangi 1 jam kemudian bila pasien belum tenang. -Lorazepam 2 4 mg atau diazepam 5 10 mg iv (perlahan-lahan, 2 menit atau lebih) Hindari pemberian antipsikotik pada pasien yang memiliki riwayat kejang

SUICIDE DAN HOMICIDE


Pengertian: Suicide adalah kematian yang direncanakan seseorang terhadap dirinya sendiri Homicide adalah tindakan yang menyebabkan orang lain mati atau berakhir hidupnya.

Identifikasi Resiko tinggi untuk melakukan bunuh diri seperti Laki-laki Usia tua Hidup menyendiri (isolasi sosial) Ada riwayat percobaan bunuh diri atau dalam keluarga. Mengidap penyakit kronis atau nyeri kronis Baru menjalani operasi Tidak mempunyai pekerjaan Sudah meninggalkan wasiat Akan melakukan ulang tahun kehilangan yang berarti dalam hidup Ketergangtungan obat atau alkohol

Tanda-tanda Resiko Bunuh Diri 1. Pernyataan berulang-ulang ingin mati 2. Depresi berat 3. Bersdia dihukum berat karena bersalah 4. Napsu makan tak ada 5. Menolak makan-minum untuk suatu tuntutan 6. Psikosis dengan gejala impulsiveness

Krisis Suicidal Fase sebelum melakukan tindak bunuh diri ditandai dengan putus asa dan hanya ingin mati (depresi berat) disebut krisis bunuh diri perasaan sangat sedih dan putus asa. 2 hal yang perlu diperhatikan yaitu: Isyarat bunuh diri Jeritan minta tolong

Fase berikutnya adalah Proses Bunuh diri Motivasi untuk bunuh diri, Niat atau gagasan untuk bunuh diri Penjabaran gagasan, Krisis , menjerit minta tolong. Tindak bunuh diri.

Penatalaksanaan Evaluasi pasien yang gagal melakukan bunuh diri Tentukan Tingkat kemungkinan mati Apakah dilakukan secara impulsive atau direncanakan Perhatikan keadaan pasien bila tertolong, kecewa atau lega dapat diselamatkan Dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau ketika ada orang yang melihatnya Pasien ketergantungan obat atau alkohol akan menghentikan tindakannya bila dapat dibebaskan dari ketergantungannya. Pasien gangguan kepribadian pendekatan secara empatik dan dibantu memecahkan masalahnya secara rasional dan bertanggung jawab Pasien skizofrenia harus dianggap serius sebab biasanya menggunakan cara keras, sadis dan aneh dengan tingkat letal yang tinggi.

Terapi Pemberian antidepresan, sebaiknya tidak diberikan di ruang gawat darurat. Restrain Terapi Kejang Listrik.

ELECTRO CONVULSIVE THERAPY


(TERAPI KEJANG LISTRIK = ECT)

Indikasi
Depresi

Mania
Skizofrenia furor kataton Skizofrenia stupor kataton Depresi nerotik Tanda-tanda Suicide

Kontra indikasi
Payah jantung
Aneurisma aorta Pasien usila Osteomielitis Tumor otak Wanita hamil (berhati-hati) Trombosis koroner

Hipertensi

Pengenalan alat

2 kondensator, alat yang melepaskan listrik ke kepala pasien Kondensator untuk mengatur voltase dan

waktu pelepasan muatan listrik


2 elektroda, alat yang di tempelkan di pelipis pasien

Persiapan pasien
Periksa fisis secara teliti : tekanan darah, nadi/menit, Pernapasan/menit, suhu tubuh.

Pasien dipuasakan
Kosongkan kandung kencing dan rectum Kepala (rambut) dishampo

Gigi palsu, benda-benda lainnya dilepas.

Teknik Pelaksanaan (1)


Dosis awal 100-150 volt Waktu 0,2 0,3 detik

Pasien baring lurus diatas permukaan datar dan agak keras


Pakaian ketat (sabuk, BH, pakaian dalam lainnya dilonggarkan)

Teknik Pelaksanaan (2)

Bagian kepala (pelipis) yang akan ditempelkan

elektroda bersihkan dengan kapas alkohol.


Oleskan air garam atau pasta khusus di pelipis.
Diantara gigi diganjal dengan bahan yang lunak.

Teknik Pelaksanaan (3)


Dagu pasien ditekan agar mulut tidak terbuka pada

waktu kejang.

Anggota

gerak pasien dipegang untuk mengendalikan gerak pasien waktu kejang klonik.

Rambut tebal disisihkan seoptimal mugkin


Elektroda ditekan dengan kekuatan sedang pada

tempatnya.

Frekwensi dan jumlah ECT


Cara blok 2 sampai 4 hari berturut-turut Cara semi blok 2 3 kali seminggu selang 1 2 hari Sekali tiap 2 atau 4 minggu

Komplikasi

Luxasi Fraktur

Lidah / pipi / bibir tergigit

Ruptur otot
Dislokasi mandibula

Sakit kepala Amnesia retrograde

Gejala EPS akibat penggunaan antipsikotik


pasien psikiatrik ke ruang gawat darurat kerena EPS pemberian antipsikotik dapat menyebabkan Sindrom Neuroleptik Maligna.

Gejala demam tinggi, 41,5 0C Otot-otot kaku (lead pipe rigidity) Takhikardia, tekanan darah labil keringat berlebihan Mioglobinuria Terjadi hari pertama sampai hari ke 10 pemberian anti psikotik Kesadaran terganggu Enzim CPK meningkat Leukositosis

Faktor resiko Usia 20 -40 tahun Dehidrasi Malnutrisi Restrain


Penatalaksanaan - Kalau Demam tinggi pemberian antipsikotik dihentikan. - Pasien rigiditas, meskipun ringan atau tidak berespon terhadap antikholinergik hentikan segera pemberian antipsikotik - Monitor tanda-tanda vital - Pemeriksaan laboratorium - Perhatikan ada atau tidak lekositosis dan peningkatan Enzym Creatinine Phospokinase (CPK) - Rehidrasi cepat untuk menghindari kejang dan gagal ginjal

Terapi Psikofarmaka Amantadin 200 400 mg oral / hari dalam dosis

terbagi Bromocriptin 2,5 mg /2 atau 3 kali sehari Levodopa 50 100 mg/hr dalam infus Dantrolen 1 mgkg/hr iv selama 8 hr , lalu dilanjutkan pemberian oral selama 7 hr Benzodiazepin bila obat-obatan lain tidak berhasil

AKATHISIA
Definisi : Akathisia merupakan kegelisahan motorik yang subjektif, tidak nyaman disebabkan oleh medikasi antipsikotik dan sering disertai Agitasi dan iriritabilitas

Gambaran Klinik
- Merupakan gejala ekstra piramidal
- Disebabkan oleh antipsikotik yang kuat - Mirip Parkinsonisme atau Distonia

- Gigi terkatup rapat (rahang kaku) disebut Cog-wheel


- Rigid - Afek tumpul

- Agitasi dan irritable sehingga sering menyebabkan peningkatan dosis antipsikotik

Lanjutan Gambaran Klinis

- Cenderung berdiri dan duduk berulang-ulang - Jalan mondar-mandir

- Duduk meyilangkan kaki lalu melepaskan, secara

berulang-ulang - Menggeser-geserkan kaki atau mengetuk-ngetukkan kaki ke lantai.

Penatalaksanaan
- Tenangkan pasien, dan katakan akan baik kembali

dengan mengurangi dosis antipsikotik yang diberikan dan diberi obat tambahan untuk mengurangi ketidaknyamanan yang dirasakan. - Clonidin 0,1 mg / 3 kali sehari (hati-hati, tekanan darah harus terkontrol bila terlihat tanda-tanda penurunan tekanan darah, clonidin segera dihentikan) - Amantadin 100 mg / 3 kali sehari - Bila obat-obatan ini tidak efektif sebaiknya antipsikotik diganti dengan yang kekuatan lebih lemah

KEDARURATAN Psikiatri Anak

TINDAK KEKERASAN PADA ANAK (Child Abuse)


Ada istilah Abuse dan Neglect Abuse diartikan perlakuan kasar dan merugikan, perlakuan kejam, penyiksaan, perlakuan sewenang-wenang, caci maki dan penghianatan Neglect diartikan sebagai, melalaikan, mengabaikan, meninggalkan, menelantarkan.

5 Masalah yang berhubungan dengan Abuse dan Neglect


1. Physical Abuse of Child (Tindak Kekerasan Fisik pada 2.

3.
4. 5.

Anak ) Sexual Abuse of Child ( Tindak Kekerasan Seksual pada Anak) Neglect of Child (Tindak Melalaikan atau Menelantarkan Anak) Physical Abuse of Adult (Tindak Kekerasan Fisik pada orang dewasa) Sexual Abuse of Adult (Tindak Kekerasan Seksual pada orang dewasa)

Tindak Kekerasan Pada Anak Terbagi 3 (tiga)

1. Physical Abuse and Neglect

2. Emotioal Maltreatment
3. Sexual abuse