Case Report Session

KEJANG DEMAM KOMPLEKS
Disusun Oleh : Puti Leviana 0810312041 Preseptor : Dr. Didik Hariyanto, Sp.A (K)

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi


Kejang demam  bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38°C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium. Terjadi pada usia antara 6 bulan dan 5 tahun Tidak terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu.

Klasifikasi  Kejang demam  kejang demam sederhana  kejang demam kompleks. .

Kejang Demam Sederhana (Simpeks)     Berlangsung singkat (kurang dari 15 menit) Umumnya akan berhenti sendiri. tonik atau klonik. Kejang berbentuk umum. tanpa gerakan fokal Tidak berulang dalam waktu 24 jam .

Kejang Demam Kompleks     Kejang lama > 15 menit. atau kejang umum didahului kejang parsial Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam . Atau kejang berulang lebih dari 2 kali dan diantara bangkitan kejang anak tidak sadar. Kejang fokal atau parsial satu sisi.

5 – 1. 0. 8. Kejang demam kompleks terjadi rata-rata 25 – 50 % dari seluruh kasus kejang demam .8 % di Jepang.5 % di Cina.35 % di Hongkong dan 0. 5 – 10 % di India.Epidemiologi        Paling sering terjadi pada anak Sekitar 2 – 5 % dari populasi Terjadi pada usia antara 6 bulan dan 5 tahun dengan manifestasi paling sering pada usia 2 tahun Insiden di seluruh dunia bervariasi. Kejang demam terjadi pada semua ras Sedikit lebih predominan pada anak lelaki. 14 % di Guam.

dan infeksi saluran kemih Risiko berulangnya kejang demam akan meningkat pada anak dengan riwayat orangtua dan saudara kandungnya juga pernah menderita kejang demam Kejang demam diturunkan secara autosomal dominan sederhana.Etiologi dan Faktor Risiko     Sering berhubungan dengan infeksi virus penyebab demam pada anak : herpes simpleks-6 (HHSV-6). Shigella. gastroenteritis. dan influenza A Penyakit yang mendasari demam berupa infeksi saluran pernapasan atas. otitis media. .

infeksi virus.Etiologi dan Faktor Risiko    Kejang demam kompleks berhubungan dengan banyak faktor. faktor genetik dan metabolik. serta kemungkinan adanya abnormalitas struktur otak. seperti gejala klinisnya. . Gurner et al : lokus genetik di kromosom 12 yang berhubungan dengan peningkatan risiko kejang demam kompleks Kejang demam kompleks juga memiliki kemungkinan untuk menjadi salah satu gejala adanya infeksi meningitis bakterial akut.

dengan atau tanpa generalisasi sekunder Gerakan kepala atau mata ke salah satu sisi Kejang diikuti paralisis unilateral transien (dalam beberapa menit atau jam. kadang-kadang beberapa hari) . dengan kemungkinan tampilan :      Klonik dan atau tonik Kehilangan tonus otot sesaat Dimulai pada salah satu sisi tubuh.Manifestasi Klinis KDK     Dapat memiliki durasi yang lebih lama (hingga > 15 menit) Dapat muncul dengan beberapa kali kejang dalam 24 jam Dapat terjadi kejang lagi pada 24 jam berikutnya Kejang bersifat fokal.

masalah neurologik. dan berapa lama durasi kejangnya Riwayat demam dan penyakit lain yang diderita oleh anak Riwayat penyebab demam.Diagnosis Anamnesis :       Tampilan kejang. umum atau fokal. Tanyakan faktor risiko terjadinya kejang demam. misalnya penyakit virus dan gastroenteritis Riwayat penggunaan obat pada anak Riwayat kejang pada anak sebelumnya. keterlambatan tumbuh kembang. seperti :      Riwayat keluarga yang pernah atau tidak menderita kejang demam Suhu tubuh yang tinggi Riwayat prenatal dan keterlambatan perkembangan Penyakit perinatal (saat usia 28 hari pertama) Riwayat konsumsi alkohol dan rokok saat kehamilan ibu. atau penyebab lain dari kejang seperti trauma. karena dapat meningkatkan risiko terjadinya kejang demam sebanyak 2 kali lipat .

misalnya otitis media. atau penyakit virus lain  Pemeriksaan neurologis  Tanda rangsangan meningeal  Tanda-tanda trauma atau keracunan .Diagnosis Pemeriksaan fisik :  Pemeriksaan sistem untuk mencari penyebab demam. faringitis.

Diagnosis Banding    Bakteremia dan sepsis Meningitis dan ensefalitis Status epileptikus .

Pemeriksaan Penunjang  Pemeriksaan Laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam. elektrolit. dan gula darah   Pungsi Lumbal  untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan terjadinya meningitis   Elektroensefalografi (EEG) Pencitraan . tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam  darah perifer.

tekanan darah. berikan oksigen. suhu tubuh. dan fungsi jantung . kalau perlu dilakukan intubasi. pernafasan.Penatalaksanaan  Pengobatan fase akut saat anak kejang  semua pakaian yang ketat dibuka  anak dimiringkan apabila muntah untuk mencegah aspirasi  Bebaskan jalan napas untuk menjamin oksigenasi  Pengisapan lendir dapat dilakukan secara teratur.  Tanda vital mesti dipantau dan diawasi. sperti kesadran.

5 – 0.75 mg/kgBB rektal 5 mg  BB < 10 kg  diazepam rektal 10 mg  BB > 10 k  diazepam rektal 5 mg  usia < 3 tahun  Diazepam rektal 7.  diazepam .  Diazepam rektal dengan dosis 0.3 – 0.5 mg  usia > 3 tahun. Saat pasien kejang  Diazepam IV  dosis 0.5 mg/kgBB perlahan-lahan dengan kecepatan 1 – 2 mg/ menit atau dalam waktu 3 – 5 menit dengan dosis maksimal 20 mg.

Kejang belum berhenti  dapat diulangi lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit Bila setelah 2 kali pemberian masih kejang  fenitoin intravena dengan dosis awal 10 – 20 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1 mg/kgBB/menit atau kurang dari 50 mg/menit Bila kejang berhenti  fenitoin dengan dosis selanjutnya 4 – 8 mg/kgBB/hari dimulai 12 jam setelah dosis awal

Kejang berhenti dengan pemberian diazepam,  fenobarbital loading dose secara intramuskular dengan dosis awal 10 – 20 mg/kgBB, lalu dilanjutkan setelah 24 jam dosis awal dengan 4 – 8 mg/kgBB/hari

Pemberian obat saat demam dan mencari penyebab demam

Antipiretik
dengan dosis 10 – 15 mg/kgBB/kali sebanyak 4 kali dan tidak lebih dari 5 kali.  ibuprofen 5 – 10 mg/kgBB/kali, 3-4 kali sehari
 parasetamol

Antibiotik bila ada indikasi, misalnya otitis media dan pneumonia

retardasi mental. . misalnya hemiparesis. serebral palsi. paresis Todd.Terapi Profilaksis  Indikasi  Kejang lama > 15 menit  Ada kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang. hidrosefalus  Kejang fokal  Dipertimbangkan bila :  kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam  terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan  kejang demam terjadi > 4 kali per tahun.

  Profilaksis terus menerus pemberian antikonvulsan setiap hari.Jenis Profilaksis  Profilaksis intermittent hanya diberikan pada saat pasien demam  diazepam rektal dengan dosis 5 mg (untuk anak dengan berat badan < 10 kg) atau 10 mg ( anak dengan berat badan >10 kg). bila anak menunjukkan suhu ≥ 38. kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan.5°C.  Asam valproat dengan dosis 15 – 40 mg/kgBB/hari dalam 2-3 dosis  Fenobarbital 3-4 mg/kgBB/hari dalam 1-2 dosis   Pengobatan ini diberikan selama 1 tahun bebas kejang. .

Kejang demam lebih besar kemungkinan berulangnya pada tahun pertama kehidupan . maka kemungkinan berulangnya kejang demam adalah 80 %.Prognosis  Kejang demam kemungkinan akan berulang bila ada faktor risiko berikut : 1     Ada riwayat kejang demam dalam keluarga Usia terjadinya kejang demam kurang dari 12 bulan Suhu tubuh yang rendah saat kejang Cepatnya terjadi kejang setelah demam   Bila seluruh faktor risiko ada. sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan berulangnya sekitar 10 – 15 %.

yang terjadi sebelum usia 1 tahun.   Kematian karena kejang demam tidak pernah dilaporkan. dan keterlambatan tumbuh kembang dapat menjadi faktor risiko terjadinya epilepsi. Kejang demam kompleks. . Kejang demam kompleks. atau dipicu oleh suhu <39°C dihubungkan dengan peningkatan mortalitas 2 kali lipat pada 2 tahun pertama setelah kejang terjadi. riwayat epilepsi atau abnormalitas neurologis pada keluarga.

ILUSTRASI KASUS .

Ikal Rawang .IDENTITAS PASIEN     Nama Umur Jenis Kelamin Alamat : FA : 2 tahun 11 bulan : Perempuan : Simp.

M. Dr. Seorang anak perempuan umur 2 tahun 11 bulan dirawat di Bangsal Anak RSUP. Djamil Padang sejak 28 Juli 2013 dengan :  Keluhan Utama : Kejang berulang 3 jam yang lalu sebelum masuk rumah sakit .

frekuensi ± 4 kali.Riwayat Penyakit Sekarang    Demam sejak 12 jam yang lalu. tidak berdarah . jumlah ± ¼ gelas / kali. frekuensi ± 3 kali. tinggi. isi sisa makanan dan minuman. tidak menyemprot Berak-berak encer sejak 6 jam yang lalu. tidak menggigil dan tidak berkeringat Muntah sejak 10 jam yang lalu. terusmenerus. tidak berlendir. jumlah ± 4-6 sendok makan perkali.

Ini merupakan episode kejang yang pertama.Riwayat Penyakit Sekarang • • Kejang berulang 3 jam yang lalu. anak tidak sadar setelah kejang yang terakhir. berat badan terakhir 9 kg (ditimbang 1 bulan yang lalu) . kejang seluruh tubuh dengan mata melihat ke atas. Anak kurang mau makan sejak sakit. minum masih mau. oralit belum dicoba. frekuensi 4 kali. lama kira-kira 2-5 menit per kali. jarak antara kejang sekitar 15 sampai 30 menit.

Riwayat Penyakit Sekarang      Batuk pilek tidak ada. buang air kecil warna dan jumlah biasa. sesak nafas tidak ada Riwayat kontak dengan penderita batuk-batuk lama tidak ada Riwayat nyeri telinga dan keluar cairan dari telinga tidak ada Riwayat nyeri saat buang air kecil tidak ada. terakhir 3 jam yang lalu Riwayat perdarahan dari hidung. gusi dan saluran cerna tidak ada .

fenobarbital IM 75 mg. anak kemudian dirujuk dengan keterangan infeksi SSP + GEA derajat ringan – sedang Di IGD RSUP M. dumin supp.Riwayat Penyakit Sekarang    Anak telah dibawa ke RS Reksodiwiryo. anak telah dikonsulkan ke bagian mata dengan hasil konsul saat ini tidak ditemukan tanda-tanda papil udem Anak sudah dikonsulkan ke supervisor neurologi anak dan dianjurkan untuk pemeriksaan CT Scan Kepala . tleah diberi oksigen 2 liter / menit. stesolit supp. IVFD KaEN 1B 10 tetes/ menit (makro). diazepam IV 3 mg (2kali). Djamil Padang.

tidak mengkonsumsi obat-obatan atau jamu. tidak pernah mendapat penyinaran selama hamil. riwayat imunisasi TT tidak diketahui. Riwayat Penyakit Dahulu : Tidak pernah menderita kejang dengan atau tanpa demam sebelumnya Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang pernah menderita kejang dengan atau tanpa demam Riwayat Kehamilan Ibu : Selama hamil ibu tidak pernah menderita penyakit berat. kontrol teratur ke bidan. dan gestasi cukup bulan   .

telur 4 kali seminggu. Riwayat Kelahiran : Lahir spontan ditolong bidan.6 bulan Nasi Tim : 6 bulan – 8 bulan Nasi Lunak : 9 bulan – 12 bulan Nasi Biasa : 12 bulan . langsung menangis kuat.sekarang. daging ayam 2 kali seminggu. tetapi panjang badan lupa. Riwayat Makanan dan Minuman : ASI : 0 bulan – 18 bulan Bubur susu : 2 bulan . 3x 1 porsi perhari. sayur 4 kali seminggu .Kesan : kualitas dan kuantitas cukup  . Berat badan lahir 2500 gram.

000. pekerjaan buruh. Riwayat Imunisasi : BCG : umur 1 bulan (scar +) DPT : umur 2 bulan. tidak bekerja. Penghasilan keluarga ± Rp 2. Ibu tamat SMP. 4 bulan. 4 bulan. 6 bulan Campak : 9 bulan Kesan : imunisasi dasar lengkap Riwayat Sosial Ekonomi : Pasien merupakan anak kedua.  . 6 bulan Hepatitis B : umur 0 bulan. ayah tamat SMA.000 sebulan. 4 bulan. 6 bulan Polio : umur 2 bulan.

sampah dibakar. sumber air minum dari sumur gali. pekarangan luas. Kesan : higiene dan sanitasi kurang baik . Riwayat Lingkungan dan Perumahan : Tinggal di rumah semi permanen. buang air besar di WC dalam rumah.

Pemeriksaan Fisik           Keadaan umum Kesadaran E1M4V1 = 6 Tekanan Darah Frekuensi denyut nadi Frekuensi nafas Suhu Sianosis Edema Anemis Ikterus : sakit berat : tidak sadar. GCS : 90 / 50 mmhg : 140 x /menit : 28 x/ menit : 39.2 oC : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada .

   Panjang badan : 88 cm Berat badan : 10 kg Status gizi :  Badan menurut Umur : 72.3 % Kesan : Gizi Kurang .7%  Berat Badan menurut Tinggi Badan : 79.5 %  Tinggi Badan menurut Umur : 93.

sianosis tidak ada. simetris. diameter pupil 1 mm/ 1mm. sklera tidak ikterik. Konjungtiva tidak anemis. lingkar kepala 48 cm (normal standar Nellhaus) Mata : Tidak cekung. turgor kembali cepat Kelenjar Getah Bening Kepala : Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening : Bentuk bulat. air mata ada. kuning tidak ada.Kulit : Teraba hangat. reflek cahaya +/+ normal Telinga : Tidak ditemukan kelainan : Tidak ditemukan kelainan Hidung . pucat tidak ada. pupil isokor.

faring tidak hiperemis Mulut : Mukosa bibir dan mulut basah.Inspeksi : Normochest. Oral trush tidak ada Leher Dada : : JVP 5-2 cmH20. simetris kiri dan kanan.Tenggorokan : Tonsil T1-T1 tidak hiperemis.Auskultasi : suara nafas vesikuler. wheezing tidak ada . ronkhi tidak ada .Perkusi : Sonor . kaku kuduk tidak ada Paru .Palpasi : Fremitus sukar dinilai . retraksi tidak ada .

turgor kembali cepat : Timpani Auskultasi : Bising usus (+) normal .Dada : Jantung Inspeksi: Iktus tidak terlihat - Palpasi : Iktus teraba 1 jari medial linea mid clavicularis sinistra RIC V Perkusi :  Batas kanan : Linea Sternalis dextra  Batas kiri : 1 jari medial linea mid clavicularis sinistra RIC V  Batas atas : RIC II - Auskultasi : Bunyi jantung normal. bising tidak ada Perut : Inspeksi : Distensi tidak ada Palpasi Perkusi : Supel. hepar dan lien tidak teraba. irama teratur.

Reflek openheim (-/- ).Punggung : Tidak ditemukan kelainan Alat kelamin : Tidak ditemukan kelainan. Reflek Gordon (-/-) Tanda Rangsangan Meningeal : Kaku kuduk tidak ada Brudzinsky I (-) Brudzinsky II (-) Kernig Sign (-) .P1 Anus : Colok dubur tidak dilakukan Anggota gerak : Akral hangat. Reflek scaefer (-/-). perfusi baik Reflek fisiologis : +/+ normal Reflek patologis : Reflek babinsky (-/-). Status pubertas A1. Reflek chaddock (-/-). M1.

000/mm3 .100/ mm3  Hitung jenis leukosit : 0/ 0/ 25/ 42/26/3  Hematokrit : 29 %  Trombosit : 251.Pemeriksaan Laboratorium Darah :  Hemoglobin : 12 gr%  Leukosit : 12.

Pemeriksaan Laboratorium Urin :  Protein : (-)  Reduksi : (-)  Bilirubin : (-)  Eritrosit : (-)  Bilirubin : (-)  Urobilin : (+) Kesan : urin dalam batas normal .

eritrosit (-).Pemeriksaan Laboratorium Feses :  PH netral  Makroskopis : warna kuning  Mikroskopis : leukosit (-). telur cacing (-) .

Diagnosa Kerja     Kejang Demam Kompleks Diare Akut Tanpa Deidrasi Suspek Sepsis Gizi kurang .

O  Luminal 2 x 40 mg P.Terapi  O2 1 liter / menit  IVFD 2A 85 cc/kgBB/hari = 850 cc/ hari = 12 tetes / menit (makro)  Sementara puasa  Ampicillin 4 x 500 mg IV  Kloramphenicol 4 x 250 mg IV  Paracetamol 4 x 100 mg P.O  Zinc 1 x 20 mg P.O .

Rencana      Na. Ca. K. GDR PT / APTT Kultur Darah CT Scan Kepala Lumbal Pungsi .

Follow Up Tanggal 28 Juli 2013 pukul 19. tidak tinggi  Sesak nafas tidak ada  Muntah tidak ada  Berak-berak encer tidak ada  BAK warna dan jumlah biasa  Keluarga pasien masih menyiapkan dana untuk CT-Scan .00 WIB S/  Anak mulai bangun  Kejang tidak ada  Demam masih ada.

bising (-)  Pulmo : Vesikuler. perfusi baik . turgor kembali cepat  Ekstremitas : Akral hangat. BU (+) normal.8 0C  Mata : konjungtiva tidak anemis. rhonkhi -/-. wheezing-/ Abdomen : Distensi (-).O/  Tampak sakit berat. GCS E4 M5 V3 = 12  Tekanan Darah : 90 / 60 mmhg  Frekuensi denyut nadi : 132 x /menit  Frekuensi nafas : 28 x/ menit  Suhu : 37. sklera tidak ikterik  Thorax : Retraksi (-)  Cor : Irama teratur.

Iskandar Syarif. Laboratorium  Na : 125 mmol/l  K : 3. advise :  Setuju  untuk penundaan CT Scan kepala  Observasi klinis pasien .A (K). Sp.4 mmol/l  GDR : 185 mg/dl  Calcium : 9 mg/dl  Kesan : perbaikan kesadaran Konsul dr.

 Terapi : O2 1liter/menit  IVFD 2A 12 tetes/menit (makro)  Makanan Cair 8 x 25 cc / NGT  Oralit 100 cc / BAB encer / muntah  Ampicillin 4 x 500 mg IV  Kloramphenicol 4 x 250 mg IV  Luminal 2 x 40 mg P.O  Zink 1 x 20 mg   Rencana :  Tunda CT Scan dan Lumbal Pungs .O  Paracetamol 4 x 100 mg P.

frekuensi 4 x. tidak tinggi  Kejang tidak ada  Sesak nafas tidak ada  Muntah tidak ada  Berak-berak encer ada. tidak berdarah  Anak sudah menangis minta minum  BAK warna dan jumlah biasa .Follow Up Tanggal 29 Juli 2013 pukul 06.00 WIB S/  Demam masih ada. tidak berlendir. jumlah ±2-3 sdm/kali.

rhonkhi -/-. sklera tidak ikterik  Thorax : Retraksi (-)  Cor : Irama teratur.O/  Tampak sakit sedang. Sadar  Tekanan Darah : 100 / 70 mmhg  Frekuensi denyut nadi : 112 x /menit  Frekuensi nafas : 24 x/ menit  Suhu : 37.6 0C  Mata : konjungtiva tidak anemis. wheezing -/ Abdomen : Distensi (-). perfusi baik . bising (-)  Pulmo : Vesikuler. turgor kembali cepat  Ekstremitas : Akral hangat. BU (+) normal.

 Kesan : Masih febris  Diare akut tanpa dehidrasi   Terapi : O2 1liter/menit  IVFD 2A 6 tetes/menit (makro)  Makanan Cair 8 x 50 cc / NGT  Oralit 100 cc / BAB encer / muntah  Ampicillin 4 x 500 mg IV  Kloramphenicol 4 x 250 mg IV  Luminal 2 x 40 mg P.O  Zink 1 x 20 mg  .O  Paracetamol 4 x 100 mg P.

Follow Up Tanggal 30 Juli 2013 S/  Demam tidak ada  Kejang tidak ada  Sesak nafas tidak ada  Muntah tidak ada  BAK dan BAB biasa .

BU (+) normal. rhonkhi -/-.O/  Tampak sakit sedang. turgor kembali cepat  Ekstremitas : Akral hangat. Sadar  Tekanan Darah : 100 / 70 mmhg  Frekuensi denyut nadi : 100 x /menit  Frekuensi nafas : 20 x/ menit  Suhu : 37 0C  Mata : konjungtiva tidak anemis. wheezing -/ Abdomen : Distensi (-). perfusi baik . sklera tidak ikterik  Thorax : Retraksi (-)  Cor : Irama teratur. bising (-)  Pulmo : Vesikuler.

O  Paracetamol 4 x 100 mg P. Kesan :  Hemodinamik stabil  Terapi :  Makanan Cair 4 x 120 cc  Makanan lunak 500 kkal  Ampicillin 4 x 500 mg IV  Kloramphenicol 4 x 250 mg IV  Luminal 2 x 20 mg P.O  Zink 1 x 20 mg .

DISKUSI .

frekuensi pernafasan 28 x / menit dan suhu 39. Pasien tidak sadar.2 serta adanya leukositosis pada pemeriksaan laboratorium pada tanggal 28 Juli 2013 dengan nilai 12. dengan frekuensi nadi 140 x/ menit.  Kejang berulang yang dialami anak lebih dari 1x dalam 24 jam merupakan salah satu ciri-ciri dari kejang demam kompleks.100 /uL menunjukkan adanya tanda-tanda infeksi berat yang mengarah pada sepsis .

Pemeriksaan rangsangan meningeal dengan hasil negatif menunjukkan tidak terdapat infeksi pada otak dan meningen. menunjukkan tidak terdapat tanda-tanda dehidrasi pada pasien ini. air mata ada. dan turgor kulit kembali cepat. Diagnosis banding kejang demam kompleks adalah epilepsi yang diprovokasi demam dan meningoensefalitis .   Mata tidak cekung.

terapi profilakasis jangka panjang digunakan karena terdapat indikasi kejang berulang lebih dari 2x dalam 24 jam.  Pada terapi. Pada pasien ini. antibiotik yang digunakan adalah ampicillin dan klorampenicol. digunakan sebagai terapi untuk mengatasi suspek sepsis yang didiagnosis pada pasien ini. kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan. Terapi rumatan diberikan selama 1 tahun bebas kejang. . Sebaiknya terapi rumatan yang diberikan adalah asam valproat dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2-3 dosis karena efek samping dari fenobarbital adalah anak dapat mengalami gangguan prilaku dan kesulitan belajar. Terapi rumatan yang diberikan adalah fenobarbital dengan dosis 3-4 mg/kgBB/2 dosis/hari.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful