Anda di halaman 1dari 30

Perancangan Jaringan Komunikasi Microwave Simpang Kuranji - Simpang 3 Lubuk Minturun, Padang.

Ramadhona (1010952021) Ahmad Imaduddin (1010952034) Taufika Ageri (1010963022) Yudhariesha Kiswara (0910952017) Dandi Andika P. (0910953086)

Latar Belakang Masalah


Di Indonesia saat ini jaringan yang menggunakan microwave sudah familiar dan sudah banyak digunakan. Hal ini dikarenakan sistem yang menggunakan gelombang mikro memiliki berbagai kelebihan dibandingkan dengan system yang menggunakan kabel. Disamping kelebihan tersebut tentu saja ada kekurangan-kekurangan yang terdapat pada system ini. Gangguan-gangguan yang dialami sistem microwave ini kebanyakan terdapat pada lingkungan. Diantaranya, faktor-faktor yang menyebabkan sebuah gelombang radio mengalami redaman antaran lain : redaman karena hujan, redaman karena awan dan redaman karena gas-gas yang banyak terdapat diudara

Tujuan
Tujuannya adalah menghitung probabilitas ketersediaan link antar BTS dan STO yang digunakan untuk memprediksi kinerja sistem dan mengetahui kemampuan menangkap informasi di bagian penerima (BTS) dengan parameter yang meliputi : Latitude dan Longitude Jarak/Panjang Link (Km) Sudut dan Phsi () Redaman Hujan, Redaman Ruang Bebas (dB) Fading, Feeder Loss, dan Gain (dB / dBm)

Perancangan system komunikasi microwave pada daerah ini berdasarkan beberapa pertimbangan, diantaranya adalah sebagai berikut :
Daerah tersebut merupakan daerah yang sedang

berkembang, sehingga diperkirakan beberapa tahun lagi akan menjadi daerah yang padat penduduk. Pindahnya pusat kota padang dari daerah tepi pantai ke daerah yang tinggi sehingga pada daerah kuranji ini akan terjadi pembangunan yang amat pesat. Keluhan penduduk sekitar akan kurang baiknya akses komunikasi yang ada sekarang sehingga dirasa perlu adanya tambahan jaringan komunikasi. Banyaknya pengguna jaringan telekomunikasi pada daerah ini sehingga dapat memberikan keuntungan bagi penyedia layanan komunikasi. Untuk perluasan jaringan komunikasi microwave yang sudah ada.

Perumusan Masalah

Adapun permasalahan pada perancangan jaringan dengan menggunakan system komunikasi microwave ini adalah : Bagaimana menentukan/ menghitung jarak antara Tx dan Rx. Bagaimana mendapatkan nilai redaman hujan yang efektif untuk memperoleh hasil yang efisien. Bagaimana cara menghitung loss yang terjadi akibat bangunan-bangunan lain yang ada pada jalur perancangan tersebut. Kendala untuk mengambil garis lurus dari Tx ke Rx secara real (nyata).

Batasan Masalah

Adapun batasan masalah pada perancangan jaringan dengan menggunakan system komunikasi microwave ini adalah : Frekuensi yang digunakan berada diatas dan dibawah 10 GHz yaitu 7,8,9,11,13,15,17,20,22 GHz. Parameter input yang digunakan yaitu koordinat latitude dan longitude. Wilayah atau daerah yang akan dilakukan perhitungan adalah Surabaya. Data yang digunakan didapat dari satu provider saja yaitu PT.Telkom. Ketersediaan Link adalah suatu proses penambahan link dari pemancar menuju penerima dalam bentuk prosentase (%).

LANDASAN TEORI

Teori Penunjang Fading adalah fluktuasi level daya sinyal yang diterima oleh penerima. Fluktuasi level daya terima ini disebabkan oleh adanya pengaruh multipath fading, ducting, dan karakteristik dari lintasan propagasi. Hal ini dapat mengakibatkan sinyal daya terima menjadi saling menguatkan atau saling melemahkan.

Teori Penunjang (lanj.)

Sinyal radio bergerak secara matematis dapat ditulis pada persamaan : r(t) = m(t).ro(t)

Keterangan : r(t) = Sinyal radio bergerak. m(t) = local mean, long term fading, atau fading lambat yaitu fading yang disebabkan oleh kontur daerah antara base station dan mobile station. ro(t) = multipath fading, short term fading atau fading cepat yaitu fading disebabkan oleh gelombang pantul dari struktur di sekitar mobile station, seperti gedung dan rumah.

Flat Fading Margin


Di penerima harus menyediakan cadangan daya yang disebut Flat Fading Margin untuk mengantisipasi pengaruh fading yang disebabkan oleh thermal noise. Untuk perhitungan Flat Fading Margin dapat dilihat pada persamaan: FMa = RSL Ptha FMb = RSL - Pthb
Dengan : MF = Flat Fading Margin (dB) RSL = level daya terima (dBm atau dBW) Ptha = level daya ambang (treshold) dengan BER 10-3 dengan level dibawah -79 (dB) Pthb = level daya ambang (treshold) dengan BER 10-6 dengan level dibawah -76,9(dB)

Flat Fading Margin (lanj.)


Bila nilai salah satu atau keduanya lebih kecil dari 30 dB, harus diadakan perbaikan. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan: (a) Mengganti antena dengan gain yang lebih tinggi. (b) Mengganti saluran transmisi dengan redaman (losses) yang lebih rendah. (c) Meningkatkan/mempertinggi daya pancar.

Selektive Fading Margin


Selective Fading Margin untuk mengatasi kesalahan bit yang disebabkan oleh amplitude distortion dan group delay yang terjadi pada seluruh pita frekuensi. Untuk perhitungan Selektive Fading Margin dapat dilihat pada persamaan (3) : MS = 102 - 35log d - 10log S
Dengan : MS = Selektive Fade Margin (dB) d = jarak link radio (Km) S = Equipment Signature (Spesifikasi pembuatan antena dari masing-masing pabrik)

Effective Fading Margin


Effektive fading Margin dinyatakan pada persamaan (4) : ME = - log (10 MF/10 + 10MS/10)

Dengan : ME = Effektif Fade Margin MF = Fade Margin MS = Selektive Fade Margin

Fading Lambat
Fading lambat adalah rata-rata dari sinyal fading r(t) berupa garis putus-putus pada gambar 2 yang juga disebut local mean. Perkiraan lokal mean m^(x) pada titik xi sepanjang sumbu x dapat dinyatakan secara matematis pada persamaan (5) dan (6): pers 5:

pers 6:

Fading Lambat (lanj.)


Penyebab fading lambat adalah perubahan konfigurasi alam antara base station dan mobile station yang akan menyebabkan fluktuasi path loss akibat efek bayangan dari penghalang alam (shadowing). Ketika bergerak mengitari base station akan terlihat kuat sinyal naik turun tergantung ada tidaknya penghalang. Fanding lambat sinyal radio mobile bervariasi pada setiap titik pada jarak R dari base station mengikuti distribusi normal.

Fungsi rapat peluang dari distribusi normal adalah pada persamaan :

dimana: x = fading lambat (local mean) x = rata-rata dari semua fading lambat = standar deviasi dari x (dB) merupakan variasi level sinyal x disekitar x . Besarnya

Fading Cepat
Fading cepat disebut juga fading lintas jamak, terjadi karena adanya lintasan ganda yang disebut sebagai multipath. Hal ini terjadi karena adanya pantulan gelombang dari bendabenda seperti rumah, gedung, mobil, pohon dan benda-benda lain di sekitar mobile station. Fading cepat ini terdistribusi mengikuti distribusi Rayleigh pada persamaan di bawah, sehingga fading ini disebut Rayleigh fading, yang mempunyai persamaan fungsi rapat peluang.

Dengan : P(r) = Probailitas dari r r = fading cepat sinyal penerima m = local mean dari r

Probabilitas Link (Link Probability)

Multipath fading probability (P0). Probabilitas dari multipath fading ini, dipengaruhi oleh faktor lapangan (terrain factor). Secara umum dinyatakan dalam persamaan (9): Po = 1,4 x 10 -8 f . B . d . C
Dengan : Po = Multipath Fading f = Frekuensi yang digunakan (GHz) d = Jarak / Panjang Link (km) B = Frekuensi (GHz) C = terrain factor (0,25 4,0)

Feeder Loss Dan Gain


Feeder loss disebut juga redaman saluran transmisi. Redaman saluran transmisi ini terjadi karena hilangnya daya sinyal sepanjang feeder, sehingga redaman saluran transmisi identik dengan panjang dari kanal tersebut.

Gain antena parabola (penguatan daya pada antena parabola) dapat ditentukan dengan menggunakan rumus dalam decibel yang dinyatkan pada persamaan (14):
G (dB) = 20,4 + 20 log f + 20 log D + 10 log n
Dengan: G = Gain/Penguatan (dB) f = frekuensi kerja (GHz) D = diameter antena parabola (m) n = efisiensi luas tangkap (aperature efficiency)

PERANCANGAN MICROWAVE LINK


Perancangan Jaringan Pada perancangan jaringan dengan menggunakan system komunikasi microwave ini akan dibuat sebuah sistem dengan 3 tahap yaitu proses pengambilan data, proses pengolahan data, analisa dan kesimpulan.

Survei
Survei dilakukan untuk mendapatkan data yang real atau sesuai dengan kondisi yang sebenarnya dilapangan. Pada perancangan ini Tx berada di daerah kuranji, tepatnya pada simpang kuranji dan Rx nya berada di daerah lubuk minturun padang. Jarak antara Tx dan Rx adalah 10400 meter.

Beberapa penghalang yang berada diantara Tx dan Rx yaitu :


Penghalan 1 : Masjid Nurul Ihsan dengan h = 12 m, jarak dari Tx = 2300

m Penghalan 2 : Citra Swalayan dengan h = 10 m, jarak dari Tx = 3100 m Penghalan 3 : Balai Sejarah dengan h = 20 m, jarak dari Tx = 4000 m Penghalan 4 : Masjid Taqwa dengan h = 15 m, jarak dari Tx = 5100 m Penghalan 5 : Bukit dengan h = 50 m, jarak dari Tx = 5400 m Penghalang 6 : bukit, h = 100 m, jarak dari Tx = 5400 m Penghalang 7 : mesjid al-iman, h = 15 m, jarak dari Tx = 5600 m Penghalang 8 : bangunan yayasan Drs. H. Syaikh Asrul Bakar Penghalang 9 : masjid nur-zikrullah, h = 35 m, jarak dari Tx = 8200 m Penghalang 10 : rumah warga h = 10 m, jarak dari Tx = 10200 m

3.Desain Rancangan
- Antena

Desain Perancangan (lanj.)


- Desain sistem

- Perhitungan Perhitungan rugi-rugi Loss

Perhitungan Fressnel Zone Perhitungan Free Space Loss (fsl)


D = 10,4 km F = 5,8 GHz

FSL 92,5 20logD (km ) 20logF (GHz) FSL 92,5 20log 10,4 20log 5,8 128,109 dB

Desain Perancangan (lanj.)


Vegetation Loss Loss kabel / branching loss

Setiap kabel baik dari segi jenis dan juga merek mempunyai rugi-rugi (loss) yang berbeda-beda. Semakin besar diameter kabel yang dipakai, maka rugi-rugi (loss) yang didapat semakin kecil
Loss Absorpsi dan loss karena hujan tidak ada karena loss tersebut

untuk frekuensi di atas 10 GHz Jumper Loss Jumper berfungsi untuk menghubungkan antara feeder / kabel dengan antena.

L konektor 4 x 0,42 1,68 dB

Path Loss

Path Loss adalah loss yang terjadi ketika data / sinyal melewati media udara dari antenna ke penerima dalam jarak tertentu.
PL 10 log Gt.Gr. 2

d2
2 2

10 log

2511,88 0, 0517 4.3,14


2

.104002

16864, 7 10 log 1, 7 x1010 60dB

Perhitungan Link budget


RSL Po Lctx - L konektror Gatx Lcrx - L konekttor Grtx FSL - path loss - diff loss
Berdasarkan data yang diperoleh, dimana : Po = 1W = 30dBm Gatx = G rtx = 34dbi Lctx = Lcrx = 0,2 dB FSL = 128,109 dB L konektor = 1,68 dB Path loss = 60 dB Difraction loss = 0 dB

RSL 30 0,2 - 1,68 34 0,2 - 1,68 34 128,109- 60 - 0 -93,869 dB

Kesimpulan
Dari perhitungan yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa kita dapat membangun/ membuat perencanaan perancangan jaringan microwave link dengan memperkuat gain pada antenna pemancar dan juga penerima, agar hasil yang didapatkan semakin baik dan berkualitas.