Anda di halaman 1dari 31

GANGGUAN PSIKOTIK

FK UPN Veteran JAKARTA RS MARZUKI MAHDI BOGOR

Ganguan Psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai oleh hilangnya kemampuan untuk menilai realita Terdiri atas : 1. Psikosa organik (Gangguan mental organik) 2. Psikosa non organik (fungsional) : gangguan skizofren, psikosa afektif, psikosa paranoid,dll)

GANGGUAN MENTAL ORGANIK Adalah gangguan mental yang berkaitan dengan penyakit atau gangguan baik pada otak (gangguan mental organic) ataupun penyakit sistemik yang mengakibatkan disfungsi otak (gangguan mental simtomatis) Onsetnya dapat pada semua usia tetapi cenderung berawal pada masa dewasa muda atau lanjut usia. Dapat bersifat reversible atau irreversible dan progresif.

Manifestasi psikopatologinya sangat bervariasi dengan dua gambaran utama : Sindrom dengan gangguan kognitif yang menonjol seperti gangguan daya ingat, daya pikir dan daya belajar atau gangguan sensorium seperti gangguan kesadaran dan perhatian. Sindrom dengan manifestasi yang menonjol di bidang daya persepsi, isi pikiran, perasaan dan emosi atau pola umum dari kepribadian dan perilaku

PPDGJ III membagi gangguan mental organic dalam beberapa kategori : Demensia dengan berbagai tipenya Sindroma amnestik organic Delirium Gangguan mental lainnya akibat kerusakan dan disfungsi otak dan penyakit fisik Gangguan kepribadian dan perilaku akibat penyakit, kerusakan dan disfungsi otak Gangguan mental organic atau simptomatik yang tidak tergolongkan

DELIRIUM Adalah suatu disfungsi metabolisme otak yang menyeluruh, bersifat sementara dan reversible, biasanya terjadi secara akut (kadang-kadang subakut).

Pasien yang beresiko tinggi untuk mengalami Delirium adalah : Anak-anak Lanjut usia (60 tahun) yang biasanya juga menderita demensia atau komorbiditas medis lainnya. Gangguan pada susunan saraf pusat seperti CVA, Parkinson, demensia, tumor otak. Pasca bedah. Luka bakar. Pada keadaan lepas zat pada penderita ketergantungan zat psikoaktif. Pernah mengalami delirium sebelumnya.

Gejala-gejala yang dapat dijumpai antara lain : 1. Gangguan kesadaran (kesadaran yang berkabut) dan kewaspadaan yang menurun 2. Gangguan persepsi seperti halusinasi dan ilusi. Halusinasi optic lebih sering terjadi dari pada auditorik 3. Gangguan psikomotor dapat berupa hipereaktifitas atau hipoaktivitas 4. Gangguan mood/suasana perasaan seperti cemas, takut, depresi, irritable, marah, eforia, apati sering terjadi. 5. Gangguan pola tidur. Biasanya penderita tampak mengantuk, tidur untuk waktu yang singkat dan waktu tidur yang terputus-putus (fragmented)

6. Gangguan neuropsikiatrik seperti : Gangguan perhatian (memusatkan, mempertahankan dan mengalihkan perhatian) Memori jangka pendek terganggu, amnesia. Disorientasi (waktu, tempat dan orang) Gangguan visuo-konstruksional (draw a clock test atau meniru pola geometric sederhana) Gangguan fungsi luhur Gangguan pola berpikir Gangguan berbicara dan berbahasa

DEMENSIA Adalah suatu sindrom/kumpulan gejala akibat terganggunya faal otak, baik secara langsung atau tidak langsung (melalui gangguan sistemik) pada otak yang telah mencapai perkembangan intelegensia yang stabil, pada umumnya bersifat kronis, kadang-kadang progresif yang berdampak adanya gangguan fungsi kognitif yang multiple, antara lain gangguan daya ingat, daya pikir, daya nilai, kemampuan berbahasa, penempatan dalam ruang (visuospatial) sehingga mengganggu fungsi pekerjaan dan sosialnya.

Tahun 1996 International Psychogeriatric Association (IPA) memberi batasan behavior and Psychological Symptoms of Dementia (BPSD) adalah keluhan gejalagejala yang diakibatkan oleh terganggunya persepsi (perception), isi pikiran (thought of content), suasana perasaan/mood.

Berdasarkan lokasi kerusakkannya, demensia dapat dibagi menjadi : kortikal terutama merupakan disfungsi korteks serebri yang ditandai dengan gejala amnesia, afasia, apraksia dan agnosia. Subkortikal terutama mengenai struktur-struktur di bagian dalam substansia grisea dan subtansia alba Tipe campuran menunjukkan gejala dari keduanya dan dapat dijumpai pada demensia vascular

Gejala Klinis : Gangguan daya ingat Gangguan daya nilai Gangguan daya berpikir abstrak Gangguan daya pikir Gangguan penempatan dalam ruang Gangguan wicara Gangguan perilaku Gangguan mood/suasana perasaan

GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU AKIBAT PENGGUNAAN ZAT PSIKOAKTIF Zat psikoaktif adalah obat atau senyawa yang apabila masuk ke dalam tubuh manusia dapat mempengaruhi tubuh, terutama susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan perubahan aktifitas mental emosional dan perilaku. Bila digunakan terus-menerus akan menimbulkan adiksi.

LATAR BELAKANG INDIVIDU MENGGUNAKAN ZAT PSIKOAKTIF Faktor individu : ingin tahu dan ingin mencoba, tidak bisa menolak ajakan teman,low self confidence, identitas Faktor lingkungan : mudah memperoleh zat adiksi,komunikasi dengan orang tua kurang efektif, teman sekelompok/sebaya pengguna zat adiksi.

GEJALA KLINIS Gejala keracunan opioid yaitu rasa kantuk, tenang, euphoria (rasa gembira/nikmat), obstipasi, analgesia, gangguan pusat pernapasan, mual, muntah, tekanan darah menurun, pupil konstriksi, kejang. Gejala putus obat/zat (abstinensia) biasanya terjadi setelah 6-8 jam penggunaan terakhir :Gelisah, sulit tidur, Bersin-bersin, pilek, Pengeluaran air mata, Piloereksi, Pupil dilatasi, Peningkatan tekanan darah dan nadi (takikardi), Diare, kram perut, Demam, Rasa ingin menggunakan obat/zat opioid sangat hebat (sugesti-craving), Rasa sakit dan pegal seluruh tubuh, Ngilu tulang dan persendian

SKIZOFRENIA Yaitu sekelompok gangguan psikosis fungsional yang ditandai oleh distorsi pikiran dan persepsi yang mendasar dan khas, afek yang tidak wajar atau tumpul.

PATOGENESIS A. Teori Somatogenik


1. Keturunan/ genetic : saat ini dikatakan bahwa model poligenik dan epigenetic berperan dalam terjadinya skizofren 2. Endokrin :sering timbul skizofrenia pada waktu pubertas, kehamilan dan peurperium 3. Metabolisme : mungkin disebabkan oleh kesalahan metabolisme 4. Susunan saraf pusat : diduga kelainan susunan saraf pusat dapat menyebabkan gangguan neurotransmitter pada tempat tertentu di otak.

B. Teori Psikogenik
1. Adolf Meyer : suatu mal-adaptasi 2. Sigmund Freud : kelemahan ego 3. E. Bleuler : jiwa yang terpecah belah atau disharmoni 4. Stress psikologik :Persaingan antara saudara kandung, Hubungan yang kurang baik dalam keluarga, pekerjaan dan masyarakat

C. Teori Sosiogenik : Keadaan social ekonomi, pengaruh keagamaan, nilai-nilai moral, bulan kelahiran, industrialisasi, perbedaan kultur,dll.

GEJALA KLINIS Berbahasa dan komunikasi : asosiasi longgar, sirkumstansial, tangensial, kemiskinan isi pembicaraan, neologisme, inkoheren Isi pikiran : tidak logis, distorsi pikiran dan persepsi, berbagai macam delusi/waham Persepsi : halusinasi perintah serta berbagai macam halusinasi, ilusi Afek : tidak serasi, labil, tumpul, dll sense of self : tidak tahu siapa dirinya, ragu-ragu dan bimbang tentang identitasnya Kemauan (volition) : inisiatif, aktifitas yang bertujuan, dorongan dan interest yang kurang, tidak mampu menyelesaikan aktivitas Hubungan dengan dunia luar : menarik diri dari dunia luar kedalam egosentrik dan fantasi/ide yang tak logis Perilaku motorik : motorik spontan berkurang, katapleksi, gerakan monoton dan konstan, agresif (katatonia agitasi)

Crow 1980 mengajukan demensi lain dari gejala skizofrenia yaitu : Gejala positif (Type I) : disebabkan gangguan regulasi dopamine, dengan gejala onset akut, potensial reversible, fungsi intelektual normal, respon dengan antipsikotika baik. Gejala negative (Type II) : disebabkan abnormalitas struktur otak, dengan gejala kemiskinan pembicaraan/ide dan proses berpikir (alogia), keterbatasan afek dan emosi, hilangnya kemauan dan dorongan social serta perawatan diri, hilangnya kemampuan untuk menikmati kesenangan (anhedonia-asosialisasi) dan kurangnya perhatian.

Diagnosa skizofrenia dalam PPDGJ thought echo thought insertion or withdrawal thought broadcasting delusion of control delusion of influence delusion of passivity delusion of perception Halusinasi auditorik Waham-waham menetap

Dapat dibedakan beberapa tipe skizofren, diagnosis dari suatu tipe dilakukan berdasarkan gambaran klinik yang menonjol, jenis-jenisnya antara lain : Skizofren paranoid Skizofren hebefrenik Skizofren katatonik Skizofren tak terinci Depresi pasca skizofren Skizofren residual Skizofren simpleks Skizofren lainnya Skizofren yang tak tergolongkan

SKIZOFREN PARANOID Pedoman diagnostik Halusinasi dan waham harus menonjol a. suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah,atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal b. halusinasi pembauan atau pengecapan rasa atau bersifat seksual c. waham dapat berupa hampir setiap jenis,tetapi waham dikendalikan, dipengaruhi, atau passivity dan keyakinan yang dikejarkejar yang beraneka ragam adalah yang paling khas

Gangguan Waham Menetap Ialah gangguan psikotik fungsional dengan gejala utama adanya waham yang berlangsung lama sebagai satu-satunya gejala klinis yang khas atau menonjol, tetapi tidak dapat digolongkan sebagai gangguan mental organik, skizofrenia, gangguan afektif atau gangguan jiwa lainnya

GEJALA KLINIS : Gejala utama adalah waham yang menonjol dan tidak bizarre artinya waham tentang situasi yang dapat terjadi pada kehidupannya nyata dan dikembangkan secara logis dan sistematis. Respons emosi dan perilaku individu dengan gangguan ini sangat serasi dengan wahamnya, dapat ada halusinasi tetapi tidak menonjol

Jenis waham dapat berupa : Tipe erotomanic = waham dicintai Tipe grandios = waham kebesaran Tipe jealous = waham cemburu (waham ketidaksetiaan disebut conjugal paranoia; waham cemburu terhadap pasangan disebut othello syndrome) Tipe presekutori = waham dianiaya, disiksa Tipe campuran = bila mempunyai waham 2 atau lebih atau tipe tidak spesifik

Gangguan Psikotik Akut dan Sementara Adalah suatu perubahan dari keadaan tanpa gejala psikotik ke keadaan psikosis yang jelas abnormal dalam periode 2 minggu atau kurang tanpa diketahui untuk berapa lama gangguan ini akan berlangsung Pembatasan waktu biasanya dalam waktu 1-3 bulan dapat terjadi remisi sempurna dan hanya sebagian kecil yang berkembang menetap menjadi gangguan lain.

Gejal Klinis Gejala polimorfik yaitu gejala yang beraneka ragam dan berubah cepat seperti waham, halusinasi, gejala emosi yang bervariasi dan berubah-ubah dari hari ke hari atau jam ke jam Gejala skizofrenik yang khas

Gangguan Distimia Adalah salah satu bentuk gangguan suasana perasaan (afektif/mood) menetap yang perjalanannya khronis dan ditandai dengan mood yang depresif

Gejala Klinis Gejala yang dijumpai ialah mood yang depresif yang ditandai dengan perasaan sedih, murung, putus asa serta minat yang berkurang/hilang terhadap aktifitas harian yang biasa dilakukan Gejala penyerta seperti perubahan nafsu makan, gangguan pola tidur, penurunan harga diri, lesu tidak bertenaga dan cepat lelah, penurunan dorongan seks, pesimisme, putus asa dan ketidakberdayaan.