Anda di halaman 1dari 26

Jepang dalam Tata Ekonomi Politik Internasional

Universitas Paramadina
Iwan R. Zaelani, M. Si

Politik
Politik luar
luar negeri
negeri Jepang
Jepang terhadap
terhadap Indonesia
Indonesia
Pasca Perang

Proyek perampasan perang (perbaikan dan ganti rugi)


 20 Januari 1958 - Penandatanganan perjanjian perampasan
perang (Menlu Jepang Fujiyama dan Menlu Indonesia
Soebandrio).

“Pemerintah Jepang berjanji untuk membayar sejumlah US$


223,8 juta, yang dicicil selama kurun waktu 12 tahun (1959-
1970); penghapusan hutang Indonesia sebelumnya sejumlah US$
176,92 juta; Bantuan ekonomi selanjutnya sebesar US$ 400 juta”.

 Indonesia (Presiden Soekarno) lebih banyak


memperhatikan dan memprioritaskan penanganan
masalah-masalah politik ketimbang memperbaiki keadaan
ekonomi.
 Lebih dekat dengan blok Timur
 Internasionalisasi produk Jepang ke Asia
ORDE BARU
 Komitmen Jepang terhadap Indonesia Semasa Orde Baru
secara signifikan meningkat karena intensnya orientasi
pro kapitalis (Jepang membantu Pembangunan ekonomi
yang anti-komunis & Jepang juga memegang peran kunci
dalam menjadwalkan kembali hutang luar negeri)

 1967-Jepang membantu dalam pemulihan ekonomi US$


34,3 juta.

 Industri substitusi impor (1979 perusahaan-perusahaan


yang berafiliasi ke Jepang di Indonesia hanya menjual 16
persen produk mereka untuk ekspor)

 Industri manufaktur, mayoritas FDI Jepang dalam kurun


waktu ini diarahkan pada industri-industri padat karya ;
tekstil, pakaian jadi dan pelat baja.
CSIS (Ali Moertopo) 1970an menggelar “Akselerasi Modernisasi 25 Tahun”;
“Indonesia akan menjadi sebuah negara modern hanya dalam tempo 25
Tahun dengan strategi industrialisasi yang tepat berdasarkan penerapan
model Jepang.”

Dr. Panglaykim “Indonesian Corporated”;


 Diyakinkan bahwa Indonesia dapat belajar banyak dari sukses ekonomi
Jepang dengan mencontoh pola-pola pembangunan ekonomi negeri itu,
terutama dengan menciptakan mekanisme pengambilan keputusan yang
saling berkait diantara negara dan sektor swasta, konglomerasi-
konglomerasi yang sedang berkembang, dan memaksimalkan intervensi
negara dalam bidang ekonomi.

Deskripsi Ricklefs dalama peristiwa Malari:


“....Jepang mengambil 53 persen ekspor Indonesia di tahun 1973 (71
persen dari minyak) dan mensuplai 29 persen dari impor Indonesia. lebih
jauh lagi, peran Jepang makin mencolok karena investasi mereka yang
makin meningkat di sektor industri-industri manufaktur di Jawa, yang
menimbulkan tekanan yang makin berat atas para pengusaha pribumi.
Investor Jepang lalu secara luas dianggap sebagai pemeras-pemeras jahat
(unprincipled exploiters) pada perekonomian Indonesia, dengan dibantu
oleh orang-orang yang dekat dengan kalangan istana kepresidenan......”
 Jepang dan Indonesia mempunyai hubungan ekonomi dan
politik yang kuat serta saling terkat satu sama lain;
- Selat Malaka dan Selat Lombok merupakan jalur laut
perdagangan Jepang.
- Secara politis, Indonesia merupakan negara terbesar dan
cukup berpengaruh di ASEAN.
- Indonesia memiliki pasar yang sangat potensial untuk
industri ekspor Jepang

 Bagi Indonesia, Jepang tidak hanya dilihat sebagai pemberi


dana paling besar, Jepang juga merupakan salah satu
rekan dagang paling penting Indonesia, baik disektor
ekspor (sektor energi, spt minyak, gas bumi dan batu bara)
maupun impor (khususnya disektor manufaktur dan
elektronika)
 PMA terbesar di Indonesia
 Jepang di Indonesia lebih dari sekedar “partner bisnis”
 1996 Indonesia merupakan negara dengan
pendapatan perkapita US$ 1000. (sebuah fakta
optimisme akan keberhasilan orde baru)

 1997-krisis finansial Asia Timur dan Asia


Tenggara

 Indonesia membutuhkan dukungan ekonomi

 Jepang merupakan aktor penting yang


diharapkan mampu membantu Indonesia dan
negara-negara Asia lainnya untuk lepas dari
krisis
Dinamika hubungan pemberian dan Jepang kepada
Indonesia selama krisis:

 Keinginan Jepang untuk memulihkan perekonomian yang


lesu pasca jatuhnya buble economy, dengan cara
menyelamatkan kredit Jepang yang tertanan di Indonesia
dan memastikan agar pasar Indonesia tetap menyerap
barang-barang industri Jepang

 Posisi Jepang sebagai kekuatan ekonomi regional yang


utama di kawasan Asia, membuat Jepang berkepentingan
untuk menjaga stabilitas ekonomi Asia

 Hubungan Indonesia-IMF akan sangat mempengaruhi


lancar atau tidaknya bantuan Jepang kepada Indonesia
 Melindungi Kepentingan Nasional Jepang

 Mencapai perkembangan nasional di semua bidang

 Memperoleh kembali pengaruh di dunia internasional


(Official Development Assistance)
 Jepang tetap merupakan investor terbesar di Indonesia sekalipun
kecenderungannya menurun.
 Investor Jepang menilai hambatan investasi di Indonesia semakin
menghambat perkembangan usaha.
 Hambatan ini adalah klasik yaitu kepastian hukum, ketenagakerjaan,
dan infrastruktur.
 Perusahaan Jepang sendiri sebenarnya berminat besar dalam
pembangunan infrastruktur namun kepastian hukumnya lemah.
 Perusahaan Jepang lebih tertarik untuk investasi di Cina. Sebenarnya
meraka tidak mau terlalu bergantung pada Cina, di sinilah
semestinya Indonesia berperan.
 Perusahaan Jepang berminat besar dalam industri manufaktur dan
pembangunan infrastruktur.
 Kunjungan SBY dua kali ke Jepang mendapat sambutan sangat baik,
namun realisasi investasi Jepang di Indonesia sangat bergantung
pada perbaikan kondisi di lapangan.

12
 Sekitar 30% dari ekspor Indonesia adalah ke
Jepang.
 Impor dari Jepang juga termasuk yang
terbesar.
 Penandatangan EPA (Economic Partnership
Agreement) Indonesia Jepang akan
mendorong perdagangan dan investasi
Jepang di Indonesia.
 Ekspor Indonesia terutama minyak dan gas,
dan juga produk padat karya.

13
 DITANDATANGANI
- Singapore (December 2003)
- Mexico (September 2006)
- Malaysia (July 2006)
- Philipines (September 2006)
 TELAH SELESAI
- Thailand (Agreement in principle September 2005)
 AGREEMENT IN PRINCIPLE
- Indonesia (26 November 2006)
- Chile (17 November 2006)
 DALAM PROSES
- Brunei Darussalam
- Vietnam (perundingan pertama January 2007)
- ASEAN
 Mempromosikan EAST ASIA INTEGRATION

14
 Economic Partnership Agreement/ EPA adalah
Persetujuan Kemitraan Ekonomi komprehensif, yang
mencakup bidang-bidang investasi, perbaikan iklim
usaha dan peningkatan kepercayaan dunia usaha,
perdagangan barang dan jasa, aturan asal barang,
. prosedur kepabeanan, mobilitas usahawan dan tenaga
kerja, energi dan sumber daya mineral, hak kekayaan
intelektual, persaingan usaha, pengadaan oleh
pemerintah, serta kerjasama peningkatan kapasitas
nasional

15
 Fasilitasi

 Liberalisasi

 Kerjasama

16
 Perundingan multilateral sangat lambat
perkembangannya
 EPA bersifat WTO ++
 Mendapatkan akses pasar yang lebih luas
 Memperoleh jaminan akan pasokan bahan baku
yang lebih murah bagi investasi Jepang di
negara mitra
 Transparansi dan kepastian
hukum/perlindungan bagi investasi Jepang,
termasuk untuk perusahaan-perusahaan Jepang
yang sudah beroperasi;

17
 Jepang merupakan mitra dagang dan investor utama bagi
Indonesia, dan Indonesia penerima ODA terbesar dari
Jepang;
 Jepang menyerap 20% dari total ekspor Indonesia, dan
merupakan sumber impor terbesar kedua dengan pangsa
13%;
 Meningkatkan peluang pengiriman tenaga kerja ahli;
 Meningkatkan investasi Jepang ke Indonesia;
 Memberikan kepastian akses pasar yang lebih preferensial
dan luas;
 Kerjasama dalam peningkatan kapasitas untuk
meningkatkan daya saing Indonesia;
 Menempatkan Indonesia sejajar dengan negara-negara
ASEAN yang telah terlebih dahulu menyelesaikan
perundingan kemitraan komprehensif.

18
 INVESTMENT CHAPTER:

- Subject to New Investment Law


- Upaya bersama untuk perbaikan dan
memberikan kepastian hukum/
perlindungan
bagi investor
- National treatment
- Most Favoured Nation
- General Treatment

19
 Prosedur persetujuan investasi
 Kepastian hukum
 Pembagian kewenangan antar pusat dan
daerah
 Labor cost
 Tax and customs
 Competitiveness
 Ketersediaan infrastruktur

20
 IMPROVEMENT OF BUSINESS CLIMATE
- Upaya bersama dalam menciptakan
iklim usaha yang lebih kondusif
untuk
mendorong perdagangan dan
investasi
- Menfasilitasi upaya peningkatan
kepercayaan sektor swasta

21
 TRADE IN GOODS
- Menurunkan/mengurangi bea masuk
bagi
produk-produk termasuk bahan baku
untuk
industri otomotif, electronik/electrical
products,
serta machinery;
- Penerapan USDFS (User Specific Duty
Free
Scheme) bagi produk tertentu untuk
digunakan
oleh industri otomotif. 22
 TRADE IN SERVICES
- Sektor perdagangan jasa (trade in services) merupakan salah satu
bagian
penting dari IJEPA yang memberikan dorongan bagi investor Jepang
untuk
melakukan investasi di sektor ini.
- Memberikan kepastian melalui kesepakatan untuk tidak mengubah
peraturan yang ada menjadi lebih restriktif untuk sektor-sektor jasa
seperti
financial, construction, telecommunication, maritime transport;
- Membuka sektor manufacturing related services.
- Pihak Jepang menawarkan akses bagi pengusaha bidang jasa dari
Indonesia antara lain legal accounting, auditing and book keeping,

taxation, engineering, dan architectural services.


- Bagi Indonesia, komitmen IJEPA di bidang jasa ini di samping untuk
meningkatkan investasi di bidang jasa, juga diharapkan dapat
memacu
tumbuh kembangnya industri jasa Indonesia sendiri.

23
 Energy and Mineral Resources
- Mengingat semakin mengemukanya
permasalahan energi akhir-akhir ini, kedua pihak
juga sepakat untuk memasukkan kerjasama
bidang energi ke dalam IJEPA.
- Kerjasama ini mencakup berbagai aspek yaitu
produksi, riset hingga peningkatan kapasitas
(capacity
building).
- Dalam konteks peningkatan kapasitas, kerjasama
banyak ditekankan pada pengembangan energi
alternatif seperti bio-mass, bio-fuel, dan geothermal.

24
 JFI (Joint Forum Investment) merupakan forum
kerjasama bilateral Indonesia - Jepang yang
bertujuan untuk menciptakan iklim investasi
Indonesia yang kondusif melalui Strategic
Investment Action Plan (SIAP).
 SIAP merupakan kesepakatan antara Presiden
Soesilo Bambang Yudhoyono dengan PM
Junichiro Koizumi yang ditandatangani pada
tanggal 2 Juni 2005.
 Bertujuan untuk meningkatkan investasi asing,
khususnya Jepang ke Indonesia, dalam
kerangka memperluas lapangan pekerjaan dan
pengentasan kemiskinan.

25
- Merupakan rencana aksi yang akan
dilakukan untuk memperbaiki iklim
Investasi Indonesia.
- Telah disepakati sejumlah 118 rencana
aksi yang akan dilakukan oleh 4 Working
Group:
› Tax/Customs
› Labor
› Infrastructure
› Competitiveness/SMEs
26