Anda di halaman 1dari 37

ARSITEKTUR TRADISIONAL

IR. SRI HANDJAJANTI, MT | IR. LAKSMI UTAMI, MS IR. ENNY SS, MS

NTB- LOMBOK

IR. SRI HANDJAJANTI, MT | IR. LAKSMI UTAMI, MS IR. ENNY SS, MS

BUDAYA MASYARAKAT SASAK TERKAIT PERMUKIMAN

BUDAYA MASYARAKAT SASAK TERKAIT PERMUKIMAN

BUDAYA MASYARAKAT SASAK TERKAIT PERMUKIMAN

Perkampungan asli suku bangsa Sasak didirikan diatas tanah yang mungkin dahulu menjadi milik bersama masyarakat kampung. Rumah yang didirikan diatas tanah gubug tidak dibatasi oleh pagar halaman. Setiap rumah tidak memiliki hak atas tanah tempat bangunan rumahnya. Perkampungan merupakan satuan permukiman bentuknya memanjang dari arah Utara ke Selatan. Letak perkampungan diatur berdasarkan fungsi kerabat penghuninya di dalam kehidupan bermasyarakat. Perumahan dalam suatu perkampungan ditata sedemikian rupa, sehingga urutan strata penghuninya di dalam kekerabatannya akan tercermin dengan jelas. Rumah tempat tinggal

paling Utara mempunyai strata sosial yang tertinggi sedangkan yang paling Selatan mempunyai
strata sosial sebaliknya.

Bangunan Rumah Suku Sasak


Bangunan rumah dalam komplek perumahan Sasak terdiri dari beberapa macam, diantaranya adalah: Bale Tani, Bale Jajar, Berugaq / Sekepat, Sekenam, Bale Beleq Bencingah. Nama bangunan tersebut disesuaikan dengan fungsi dari masing-masing tempat.

Bale Tani
Bale Tani adalah bangunan rumah untuk tempat tinggal masyarakat Sasak yang berprofesi sebagai petani. Bale Tani berlantaikan tanah dan terdiri dari satu ruang untuk serambi (sesangkok) dan satu ruang untuk kamar (dalem bale).

Pondasi bale tani terbuat dari tanah, desain atapnya dengan sistem jurai yang terbuat dari alang-alang di mana ujung atap bagian serambi (sesangkok) sangat rendah, tingginya sekitar kening orang dewasa. Dinding rumah bale tani pada bagian

dalam bale terbuat dari bedek, sedangkan pada sesangkok tidak menggunakan dinding. Posisi dalem bale lebih tinggi dari pada sesangkok oleh karena itu untuk masuk dalem bale dibuatkan tangga (undak-undak) yang biasanya dibuat tiga trap dengan pintu yang dinamakan lawang kuri.

Bale Jajar
Bale jajar merupakan bangunan rumah tinggal orang Sasak golongan ekonomi menengah ke atas. Bale jajar mempunyai dua kamar (dalem bale) dan satu serambi (sesangkok), kedua kamar tersebut dipisah oleh lorong/koridor dari sesangkok menuju dapur di bagian belakang. Ukuran kedua dalem bale tersebut tidak sama, posisi tangga/pintu koridornya terletak pada sepertiga dari panjang bangunan bale jajar.

Bahan yang dibutuhkan untuk membuat bale jajar adalah tiang kayu, dinding bedek dan alang-alang untuk membuat atap.

Bangunan bale jajar biasanya berada dikomplek pemukiman yang luas dan ditandai oleh keberadaan sambi yang menjulang tinggi sebagai tempat penyimpanan kebutuhan rumah tangga atau keluarga lainnya.

Berugaq / Sekepat
Berugaq/sekepat mempunyai bentuk bujur sangkar tanpa dinding, penyangganya terbuat dari kayu, bambu dan alang-alang sebagai atapnya. Berugaq atau sekepat biasanya terdapat di depan samping kiri atau kanan bale jajar atau bale tani. Berugaq/sekepat ini didirikan setelah dibuatkan pondasi terlebih dahulu kemudian didirikan tiangnya. Di antara keempat tiang tersebut, dibuat lantai dari papan kayu atau bilah bambu yang dianyam dengan tali pintal (Peppit) dengan ketinggian 4050 cm di atas permukaan tanah.

Fungsi dan kegunaan berugaq/sekepat adalah sebagai tempat menerima tamu, karena menurut kebiasaan orang Sasak, tidak semua orang boleh masuk rumah. Berugaq/sekepat juga digunakan pemilik rumah yang memiliki gadis untuk menerima pemuda yang datang midang (melamar).

Sakenam
Sekenam bentuknya sama dengan berugaq/sekepat, hanya saja sekenam mempunyai mempunyai tiang sebanyak enam buah dan berada di bagian belakang rumah. Sekenam biasanya digunakan sebagai tempat kegiatan belajar mengajar tata krama, penanaman nilainilai budaya dan sebagai tempat pertemuan internal keluarga.

Bale Beleq
Bale beleq adalah salah satu sarana penting bagi sebuah Kerajaan. Bale beleq diperuntukkan sebagai tempat kegiatan besar Kerajaan sehingga sering juga disebut Bencingah. Adapun upacara kerajaan yang biasa dilakukan di bale beleq diantaranya adalah:
Pelantikan pejabat kerajaan Penobatan Putra Mahkota Kerajaan Pengukuhan/penobatan para Kiai Penghulu (Pendita) Kerajaan Sebagai tempat penyimpanan benda-benda Pusaka Kerajaan seperti persenjataan dan benda pusaka lainnya seperti pustaka/dokumen-dokumen Kerajaan

BANGUNAN PENDUKUNG
Selain bangunan-bangunan yang telah disebut di atas, masyarakat Sasak membuat bangunan-bangunan pendukung

lainnya seperti sambi dan lombung.

Sambi
Bagian atas sambi ini dipergunakan sebagai tempat menyimpan hasil pertanian, sedangkan bagian bawahnya dipergunakan sebagai tempat tidur atau tempat menerima tamu. Ada juga sambi yang atapnya diperlebar sehingga pada bagian bawahnya dapat digunakan sebagai tempat menumbuk padi (lilih) dan juga tempat duduk-duduk, berupa bale-bale yang alas duduknya dibuat dari bilah bambu dan papan kayu.

Pada umumnya, sambi mempunyai empat, enam atau delapan tiang kayu. Sambi dengan enam tiang seringkali disebut ayung, karena pada bagian atasnya sering digunakan untuk tempat tidur. Bangunan sambi yang bertiang delapan terkadang disebut sambi jajar karena berbentuk memanjang. Semua sambi selalu dilengkapi dengan tangga untuk naik dan didalamnya juga memiliki tangga untuk turun ke dalam.

Lumbung
Lumbung adalah tempat untuk menyimpan segala kebutuhan. Lumbung tidak sama dengan sambi dan alang, karena lumbung biasanya diletakkan di dalam rumah/kamar atau di tempat khusus diluar bangunan rumah. Lumbung berbentuk bulat, dibuat dari gulungan bedek kulitan dengan diameter 1,5 meter untuk lumbung yang ditempatkan di dalam rumah dan berdiameter 3 meter jika diletakkan di luar rumah.
Bahan untuk membuat lumbung adalah bambu, bedek, dan papan kayu sebagai lantai. Di bawah papan lantainya dibuatkan pondasi dari tanah dan batu pada empat sudutnya. Atapnya disangga dengan tiang kayu atau bambu berbentuk seperti atap rumah tinggal.

NTT FLORES

-Nusa Tenggara Timur adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di tenggara Indonesia. Provinsi ini terdiri dari beberapa pulau, antara lain Flores, Sumba, Timor, Alor, Lembata, Rote, Sabu, Adonara, Solor, KoModo dan Palue. Ibu kotanya terletak di Kupang, Timor Barat. -Provinsi ini terdiri dari kurang lebih 550 pulau; tiga pulau utama di NTT adalah Flores, Sumba, dan Timor Barat. -Provinsi ini menempati bagian barat pulau Timor. Sementara bagian timur pulau tersebut adalah bekas provinsi Indonesia yang ke-27, yaitu Timor Timur, yang merdeka menjadi negara Timor Leste pada tahun 2002.

Pulau di NTT: Di Pulau Flores: Suku manggarai, suku ngada, suku nage keo,suka ende,suku sikka, suku larantuka, suku solor, suku lamaholot, suku labala, suku kedang

Di Pulau Sumba: Suku Sumba Timur, Anakalang, Loli, Waijewa dan Kodi.

Di Pulau Timor: Suku Dawan atau Atoin Meto (suku terbesar di seluruh NTT), suku Belu (Tetun, Kemak, Marae) Helong, Sabu dan Rote, serta Alor.

Arsitektur tradisional, termanifestasikan dalam bentuk rumah gendang dan compang. Rumah Gendang Rumah tradisional Manggarai biasa disebut dengan nama Mbaru Gendang atau Mbaru Tembong. Bentuknya menyerupai seperti kerucut yang terbuat dari rerumputan kering. Struktur bangunan menerus dari atap sampai lantai.

Compang Compang adalah tugu yang dibuat di tengah halaman rumah yang difungsikan sebagai altar dalam upacara adat. Altar tersebut terbuat dari tumpukan batu yang ditengahnya terdapat sebuah pohon. Altar tersebut dikelilingi halaman dan pemukiman penduduk. Lokasi compang biasanya merupakan pusat desa. Compang biasanya difungsikan sebagai tempat untuk persembahan dalam penyelenggaraan upacara adat.

Lingko - Lingko adalah sebuah pola pembagian sawah pertanian (berbentuk seperti sarang labalaba) yang ditengahnya terdapat sebuah londok (tempat rahasia). Londok tersebut merupakan sentral dalam pembagian lahan pertanian. Londok merupakan lambang kebersamaan. Bentuk desain londok ini hampir sama dengan design compang yang berada di pusat pusat desa.

Suku Ende

Contoh Perkampungan Adat Mole

Contoh Perkampungan Sao Ria

ENDE -LIO

SUMBA

SUMBA

EAST SUMBA HOUSE "Uma Marapu" Desa Wunga, Kec.Hahar, Kab.Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Indonesia (1987) www.sumai/org

Detail konstruksi

Struktur bangunan

memang pada dasarnya semua sistem sambungan di struktur rumah sumba adalah portal, kecuali untuk atap. struktur atap mengandalkan ikatan, baik ikatan dari alang-alang penutup atap ke rangka bambu maupun rangka bambu itu ke struktur utama rumah yang berupa komposisi empat buah portal yang membentuk semacam sokoguru dalam struktur rumah jawa.

portal-portal ini mendapatkan kekakuannya dengan sambungan-sambungannya mengandalkan pen atau pasak. bukan dengan ikatan. benar bahwa kontribusi ikatan dalam struktur rumah [selain atap ] sekadar agar tidak lepas.

Ragam hias

Suku kodi

Suku anakalang

Suku wanokaka

Pulau Timor
1. Suku Alor / Takpala

Pola Perkampungan

Pada kampung tradisional Takpala terdapat beberapa komponen penting yang membentuk pola perkampungannya, yakni: Mesang, Mesbah, Kolwat, Kanuarwat, Fala.

2. Mesbah (misbah)

Rumah Adat Kolwat

Rumah Adat Kanuarwat

Fala (gudang)
Fala merupakan rumah tinggal yang oleh masyarakat setempat menyebut sebagai rumah gudang. Penamaan ini sejalan dengan sala satu fungsi lumbung tempat penyimpanan hasil pertanian seperti padi dan jgung. Sementara sebutan Fala sendiri muncul karena adanya Dulang (Fala) sebagai penghalau hama tikus yang ditempatkan pada bagian ujung atas tiang utama.

1. Pembagian Ruang Secara Vertikal Fala terdiri dari beberapa susunan ruang yang disesuaikan dengan fungsinya antara lain sebagai berikut :