Anda di halaman 1dari 30

*

Analisis Angkutan Sedimen pada Salah Satu Ruas Sungai Bengawan Solo Menggunakan Metode Meyer-Peter Muller
DISUSUN OLEH: NUR HIDAYAH Y.N.

I0108125

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah Masalah Penelitian Penelitian Masalah

2. Rumusan 3. Batasan 4. Tujuan

5. Manfaat

Latar belakang masalah


Aktivitas manusia dapat menyebabkan erosi permukaan yang akan terbawa aliran, dalam bentuk sedimen. Sedimen tersebut akhirnya akan diendapkan pada tempattempat tertentu ketika aliran tidak mampu mengangkut sedimen. Sedimen akan mengurangi fungsi infrastruktur air yang telah terbangun. Dalam perencanaan dan pemeliharaan infrastruktur air diperlukan analisis sedimen

Gary W. Brunner (2003) menyatakan bahwa banyak teori maupun pendekatan empiris yang dapat digunakan untuk mengetahui angkutan sedimen. Beberapa diantaranya Ackers-White, Englund-Hansen, Laursen, Meyer-Peter Muller dan Yang. Pemilihan teori atau pendekatan yang tepat untuk sungai masih cukup sulit. Oleh sebab itu masalah sedimen menarik untuk diteliti.
Dalam penelitian ini akan dikaji teori Meyer-Peter Muller untuk mengetahui sedimen yang terjadi di Sungai Bengawan Solo.

Rumusan Masalah
Bagaimana kriteria sedimen pada ruas sungai Bengawan Solo ? Apakah metode Meyer-Peter Muller tepat untuk menganalisis besarnya sedimen pada ruas sungai Bengawan Solo ?

Batasan Masalah
Lokasi yang diteliti adalah ruas sungai dari jembatan Jurug sampai pertemuan dengan sungai Madiun Menggunakan cross section dari Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Metode yang digunakan untuk analisis sedimen adalah metode Meyer-Peter Muller Sampel sedimen diambil sesaat.

Tujuan Penelitian
Mengetahui karakteristik sedimen pada ruas sungai Bengawan Solo Mengetahui apakah metode MeyerPeter Muller tepat untuk menganalisis besarnya sedimen pada ruas sungai Bengawan Solo

Manfaat Penelitian
Manfaat teoritis: memberi tambahan informasi dalam sedimen Manfaat praktis: memberikan tambahan informasi kepada pemerintah mengenai kriteria sedimen yang ada di ruas sungai Bengawan Solo antara Jurug sampai pertemuan sungai Madiun.

TINJAUAN PUSTAKA & LANDASAN TEORI


TINJAUAN PUSTAKA
Aliran
Sedimen Analisis Butiran Sedimen Analisis Angkutan Sedimen

LANDASAN TEORI
Aliran
Sedimen Analisis Butiran Sedimen Analisis Angkutan Sedimen

Aliran

TINJAUAN PUSTAKA

Aliran air dikatakan steady flow apabila besarnya debit aliran yang melewati cross section konstan terhadap waktu. Jika beasarnya debit aliran berubah sesuai dengan waktunya, maka aliran tersebut dikatakan unsteady flow. Aliran air yang steady flow membutuhkan tingkat debit inflow dan outflow yang konstan dan sama (Nhartman, 2008). Steady flow masih dibagi lagi menjadi 2 macam yaitu non-uniform flow dan uniform flow. Non-uniform flow adalah aliran air dimana kecepatan dan kedalaman bervariasi dalam jarak jauh, sementara ketika konstan disebut uniform flow. Uniform flow hanya terjadi pada suatu saluran berpenampang yang mempunyai suatu kekasaran, kemiringan dan dan arah alirannya yang konstan, namun non-uniform flow hanya terjadi di saluran alami dengan variabel yang bervariasi (Nhartman, 2008). Berdasarkan syarat diatas maka disimpulkan bahwa sungai Bengawan Solo termasuk jenis unsteady flow karena sungai Bengawan Solo mempunyai morfologi yang bermeander sehingga parameter debit tiap cross section tidak konstan.

Metode pengukuran debit Metode Equal Discharge Increment (EDI) adalah metode pengambilan contoh sedimennya yang dilakukan pada titik tengah pada sub penampang melintang sungai/saluran yang memiliki besaran debit yang sama (Panitia Teknik Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil,2008).

Sedimen Sedimen merupakan bagian integral, esensial, dan dinamis dari daerah aliran sungai. Sedimen berasal dari pelapukan erosi material organik mineral dan tanah di daerah hulu serta erosi di tepi sungai (Jos Brils, 2004). Ada tiga macam angkutan sedimen yang terjadi di dalam alur sungai yaitu: 1. Wash load atau sedimen cuci terdiri dari partikel lanau dan debu yang terbawa masuk ke dalam sungai dan melayang sampai mencapai laut, atau genangan air lainnya. 2. Suspended load atau sedimen layang terutama terdiri dari pasir halus yang melayang di dalam aliran karena turbulensi aliran air. 3. Bed load, tipe ketiga dari angkutan sedimen adalah angkutan dasar di mana material dengan besar butiran yang lebih besar akan bergerak menggelincir atau translate, menggelinding atau rotate satu di atas lainnya pada dasar sungai; gerakannya mencapai kedalaman tertentu dari lapisan sungai.

Dari ketiga jenis angkutan sedimen, jenis suspended load dan bed load sangat berpengaruh terhadap jumlah sedimen yang ada di dasar sungai (Mulyanto, 2007)

Gambar 2.1 Bagan Hubungan antara Mekanisme Pengangkutan dengan Asal Bahan dalam Angkutan Sedimen

Analisis Butiran Sedimen 1. Berat Jenis Sedimen (Specify Gravity) Berat jenis lumpur dari perbandingan antara berat butir lumpur dengan berat air di udara pada volume yang sama dan temperature tertentu. Penelitian berat jenis butiran sedimen (Gs) dilakukan berdasarkan ASTM D 854-92. 2. Analisis Hidrometer

Ini untuk menentukan distribusi ukuran butir tanah


yang memiliki diameter kurang dari 0.075 mm (lolos saringan no 200 ASTM) dengan cara pengendapan. 3. Analisis Saringan Ini untuk menentukan distribusi ukuran butir tanah yang memiliki diameter lebih besar dari 0.075 mm (tertahan diatas saringan no 200 ASTM) dengan cara penyaringan.

Analisis Angkutan Sedimen Banyak percobaan yang telah dilakukan untuk analisis sedimen. Ismail (2008) mencoba memprediksi sedimentasi Kali Mas di Surabaya dengan berbagai metode untuk bed load yaitu Meyer-Peter Muler, Einstein, dan Frijlink yang mempunyai laju sedimen masing-masing metode sebesar 16,9 m3/hari, 0,12 m3/hari, dan 5,56 m3/hari. Mochammad Fadlun (2009) melakukan penelitian pengendalian sedimen di sungai Deli dengan menggunakan berbagai macam metode dan akhirnya dipilih metode Meyer-Peter Muler dengan nilai chi-square sebesar 0,0193.

Dari penelitian mengenai sedimentasi tersebut, penelitian ini mencoba meneliti karakteristik sedimen pada Sungai Bengawan Solo dengan formula Meyer-Peter Muler (1948).

LANDASAN TEORI
Aliran sungai
1. Jenis Aliran Keadaan aliran unsteady flow dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:

dengan, Q = debit (m/s) A = daerah aliran (m) q = lateral inflow (m/s) h = stage above datum (m) C = koefisien resistan Chezy (m /s) R = jari-jari hidraulis (m) I = koefisien distribusi momentum 2. Metode equal-discharge-increment Rumus yang digunakan:

dengan, Q = debit di suatu penampang melintang sungai (m/s) qi= debit pada setiap sub penampang ke i (m/s) qqi= debit tengah pada setiap sub penampang melintang ke i (m/s) Sqi= debit pada seksi ke i (m/s) i= 1, 2, 3, 4, 5,................. n, i tanda adalah bagian penampang n= jumlah vertikal pengambilan di suatu penampang melintang

Sedimen
Tabel 2.1. Ukuran Butiran sedimen menurut American Geophysical Union
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Sediment Material Clay Very Fine Silt Fine Silt Medium Silt Coarse Silt Very Fine Sand Fine Sand Medium Sand Coarse Sand Very Coarse Sand Very Fine Gravel Fine Gravel Medium Gravel Coarse Gravel Very Coarse Gravel Small Cobbles Large Cobbles Small Boulders Medium Boulders Large Boulders

Grain Diameter Range


(mm) 0,002 0,004 0,004 0,008 0,008 0,016 0,016 0,032 0,032 0,0625 0,0625 0,125 0,125 0,25 0,25 0,5 0,5 1 12 24 48 8 16 16 32 32 64 64 128 128 256 256 512 512 1024 1024 2048

Geometric Median Diameter


(mm) 0,003 0,006 0,011 0,023 0,045 0,088 0,177 0,354 0,707 1,41 2,83 5,66 11,3 22,6 45,3 90,5 181 362 724 1448

Analisis Butiran Sedimen


1. Berat Jenis Sedimen (Specify Gravity)

dengan, Gs W1 W2 W3 W4 T1 =Berat jenis butiran sampel (gram/cc) =Berat piknometer kosong (gram) =Berat piknometer + sampel sedimen kering (gram) =Berat piknometer + sampel sedimen kering + aquades (gram) =Berat piknometer + aquades (gram) =Suhu pada W4 (0C)

T2

=Suhu pada W3 (0C)

2. Analisis Hidrometer Koreksi pembacaan dengan, Rcp = koreksi pembacaan R = pembacaan hidrometer Ft = koreksi temperatur Fz = koreksi bacaan nol Persentase dari tanah yang terurai dalam suspensi dengan, P = Persentase dari tanah yang terurai dalam suspensi Rcp = koreksi pembacaan a = konstanta yang tergantung dari kepadatan suspensi W = berat tanah kering (gram)

Pembacaan hidrometer aktual dengan, Rc1 = koreksi pembacaan hidrometer aktual R = pembacaan hidrometer Ft = koreksi meniskus Diameter butiran

dengan, d = diameter butir tanah(mm) K = Konstanta tergantung temperatur suspensi dan berat jenis dari butiran tanah (Tabel) L = Jarak dari permukaan suspensi ke tempat kepadatan suspensi yang diukur(mm) T = interval waktu dari mulainya pengendapan sampai waktu pembacaan(menit) 3. Analisis Saringan

1.

Analisis Angkutan Sedimen Fungsi Angkutan Sedimen

Fungsi angkutan sedimen yang digunakan dalam analisis ini adalah fungsi Meyer-Peter Mller. Fungsi angkutan bed load MeyerPeter Mller didasarkan pada data eksperimen telah diuji secara luas dan digunakan untuk sungai dengan sedimen yang relatif kasar. Tingkat angkutan adalah sebanding dengan perbedaan antara tegangan geser rerata yang bekerja pada butiran dan tegangan geser kritis. Ukuran partikel yang berlaku berkisar 0,4-29 mm dengan berbagai berat jenis sedimen 1,25 gram/cc sampai lebih dari 4.0 gram/cc. Persamaan angkutan umum untuk fungsi Meyer-Peter Mller adalah:

dengan: gs kr kr s g dm R S = = = = = = = = = satuan angkutan sedimen (ton/hari) koefisien kekasaran koefisien kekasaran berdasarkan butiran satuan berat air (gr/cc) bobot dari sedimen (gr/cc) percepatan grafitasi (m/s2) diameter partikel rata-rata (mm) radius hidrolik (m) energi gradien

Van Rijn memperkirakan US Inter-agency Committee on Water Resources (IACWR) curves untuk kecepatan jatuh menggunakan nonspherical particles dengan faktor bentuk 0,7 dalam suhu air 20 0 C. Tiga persamaan yang digunakan, tergantung pada ukuran partikel (Van Rijn, 1993):

dengan: w= kecepatan jatuh partikel (m/s) v = kinematik viskositas (m/s) s = berat jenis partikel (gram/cc) d= diameter partikel (mm)

METODE PENELITIAN
1.

Lokasi Pengambilan Sampel Data yang Diperlukan

2.

3.

Alat yang Digunakan


Analisis Data Tahapan penelitian

4.

5.

Lokasi Peng ambilan Sampel

Gambar 3.1 Lokasi Pengambilan

Data yang Diperlukan

Debit Aktual Sampel Sedimen

Cross Section Bengawan Solo Debit jamjaman

Data Primer

Data Sekunder

Alat yang Digunakan


Alat Survey Alat Pengujian Sampel

Uji hidrometer

Uji saringan

Analisis Data
Analisis Laboratorium Pengujian sampel sedimen dilakukan di lab mektan. Adapun analisis laboratorium yang akan di uji adalah butiran agregat yang nantinya dimasukan ke dalam program HEC-RAS. Besarnya butiran diperoleh dengan cara analisis hidrometer dan analisis saringan. Analisis Data Dalam analisis ini dilakukan simulasi tentang kajian ruas sungai Bengawan Solo dengan bantuan software HEC-RAS versi 4.1. Fungsi yang digunakan adalah Meyer-Peter Mller (1983) serta kecepatan endap dihitung dengan teori Van Rijn (1993). Data kemudian diuji validitas data dengan menggunakan uji chi square.


Data primer: - Sedimen - Debit aktual

Mulai

Data sekunder: - Data Geometri - Data Debit tahunan

dameter butiran > 0,075mm Tidak hydrometer analysis

Ya sieve analysis

Pengolahan Data dengan metode Meyer-Peter Muller

Uji Chi Square

Pembahasan

Selesai

DAFTAR PUSTAKA
Brils, Jos, 2004, European Sediment Research Network (SEDNET), European Sediment Network, Netherlands http://surabaya.okezone.com/read/2012/03/22/520/597874/penye mpitan-sungai-berantas-sebabkan-banjir-malang Ismail, 2008, Prediksi Sedimentasi Kali Mas Surabaya, Jurnal: Aplikasi, Surabaya Mochamammad Fadlun, 2009, Analisis Pengendalian Sedimen di Sungai Deli dengan Model HEC-RAS. Tesis, Program Magister Pengolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Universitas Sumatera Utara, Medan Mulyanto, H.R, 2007, Sungai: Fungsi dan Sifat-Sifatnya, Yogyakarta: Graha Ilmu Nhartman, 2008, Iowa Stormwater Management Manual, Iowa State University, United States Panitia Teknik Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil, 2008, Cara Uji Analisis Ukuran Butir Tanah. SNI 3423:2008 , 2008, Tata Cara Pengambilan Contoh Muatan Sedimen Melayang di Sungai dengan Cara Integrasi Kedalaman Berdasarkan Pembagian Debit, SNI 3414:2008 W Burner, Garry, 2002, HEC-RAS, River Analysis System Hydraulic Reference Manual US Army Corp of Enggineers, USA