Anda di halaman 1dari 126

MEKANIKA TEKNIK

JTM FTI-ITS Surabaya


O Introduksi
O Keseimbangan Partikel
O Keseimbangan Benda Tegar
O Analisa Beam
O Analisa Truss
O Momen Inersia & Tahanan Inersia
O Momen Polar & Tahanan Polar
O Konsep Beban & Tegangan
O Teori Kegagalan Statis
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 2 ]
Introduksi: Definisi
Problem:
Apa itu Mekanika?
Apa saja cabang ilmu dari Mekanika?
Mekanika: ilmu yang mempelajari apa yang dialami sesuatu (nama tek-
niknya adalah bodi) ketika sebuah atau beberapa gaya bekerja pada-
nya. Baik bodi maupun gaya bisa relatif besar atau kecil
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 3 ]
Introduksi: Cabang Mekanika
MEKANIKA
RIGID BODIES FLUIDS
STATIKA DINAMIKA
DEFORMABLE BODIES
COMPRESSIBLE UNCOMPRESSIBLE
KINETIKA
KINEMATIKA
Apa yang mungkin terjadi bila mekanika
(statika) tidak diaplikasikan secara tepat?
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 4 ]
Introduksi: Metode Penyelesaian Soal
Problem Statement:
Data-data yang telah diketahui.
Spesifikasi apa yang harus diselesaikan.
Gambar sket problem dilengkapi semua kuantitas yang diberikan.
Free-body Diagram:
Diagram terpisah dari masing-masing bagian bodi dengan penunjukan gaya-
gaya yang jelas (baik arah, garis kerja maupun besarnya).
Fundamental Principle:
Aplikasikan 6 prinsip dasar dalam mekanika untuk menyatakan kondisi
bagian masing-masing bodi (baik ketika diam maupun bergerak).
Gunakan prinsip aljabar untuk mendapatkan kuantitas yang belum diketahui.
Solution Check:
Perhatikan unit/satuan hitung yang diberikan. Kadangkala unit data yang
diberikan dengan unit data yang ditanyakan tidak sama sehingga memerlukan
konversi satuan.
Gunakan naluri Anda, apakah hasilnya reasonable atau tidak?
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 5 ]
Introduksi: Free-body Diagram
Prosedur menggambar FBD:
Pisahkan bodi yang dianalisa dari semua
tumpuan.
Identifikasikan beban luar yang bekerja,
reaksi tumpuan dan berat bodi itu sendiri:
letak vektor, nilai dan arahnya. Berikan
nama sesuai dengan posisi dan arahnya.
Asumsikan sesuai dengan nalar arah vek-
tor gaya yang belum diketahui nilainya.
Masukkan juga dimensi bodi maupun
jarak antar vektor gaya yang bekerja.

JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 6 ]
Introduksi: Unit
Ada 2 unit utama uang sering digunakan dalam mekanika yaitu
International System of Units (SI) dan U.S. Customary (FPS)









Faktor konversi umum:
1 ft = 0.3048 m 1 ft = 12 inch
1 lb = 4.4482 N 1 ksi = 1000 psi
1 slug = 14.5938 kg 1 slug = 32.2 lb

JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 7 ]
Keseimbangan Partikel: Definisi
Quiz:
Apa itu partikel?
Seberapa besar dimensi partikel?
Hukum apa saja yang berlaku pada partikel?
Partikel: sebuah titik massa yang tidak memiliki dimensi (panjang, lebar
maupun tinggi). Jadi partikel hanya dikenali dengan nilai massanya
(besaran yang dimiliki hanya massa).
Asumsi sesuatu dianggap sebagai partikel tergantung pada keadaan
dan kebutuhan. Tidak semua yang kecil dianggap partikel, begitu pula
sebaliknya. Jadi tidak ada konvensi seberapa besar dimensi partikel.

JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 8 ]
Keseimbangan Partikel: Hukum Newton
Newtons First Law: Partikel akan tetap diam atau ber-
gerak dengan kecepatan konstan pada lintasan lurus bila
bekerja padanya resultan gaya yang berada dalam kese-
imbangan.

Dua buah gaya pada partikel, dalam keseimba-
ngan bila:
Besarnya sama
Sama garis kerjanya
Berlawanan arah

Tiga buah gaya atau lebih pada partikel, dalam
keseimbangan bila:
Membentuk poligon tertutup
Memenuhi persamaan:
0 0
0
= =
= =


y x
F F
F R

Syarat Keseimbangan Partikel
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 9 ]
Keseimbangan Partikel: Hukum Newton
Newtons Second Law: Bila resultan gaya yang bekerja
padanya tidak dalam keseimbangan maka partikel akan
bergerak dengan percepatan yang proporsional dengan nilai
resultan gaya dan searah dengan resultan gaya ter-sebut.



Newtons Third Law: Gaya aksi dan reaksi antara par-
tikel yang bertumbukan harus memiliki nilai dan garis kerja
yang sama tapi berlawanan arah.


Newtons Law of gravitation: Dua buah partikel yang
berdekatan akan saling menarik dengan arah gaya yang
berlawanan dan nilainya sama besar.
ma F =
2
r
Mm
G F =
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 10 ]
Keseimbangan Partikel: Definisi Vektor
Vektor: parameter yang memiliki nilai dan arah. Con-
toh: perpindahan, kecepatan, percepatan.
Skalar: parameter yang memiliki nilai tapi tidak me-
miliki arah. Contoh: massa, volume, suhu.
Klasifikasi Vektor:
Fixed vectors: vektor yang menunjuk pada suatu titik
kerja gaya dan tidak bisa dipindah-pindahkan.
Free vectors: vektor yang bebas dipindah-pindahkan
dimana saja tanpa mempengaruhi analisa.
Sliding vectors: vektor yang dapat dipindah-pindahkan
sepanjang garis kerjanya tanpa mempengaruhi analisa.
(Principle of Transmissibility)

Vektor kembar memiliki nilai dan arah yang sama.

Negatif dari suatu vektor adalah vektor yang me-
miliki nilai yang sama tapi arahnya berlawanan.


JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 11 ]
Keseimbangan Partikel: Penjumlahan Vektor

Trapezoid Rule untuk penjumlahan vektor
(Parallelogram Law)

Triangle Rule untuk penjumlahan vektor

Hukum Cosines:


Hukum Sines:

Penjumlahan vektor bersifat komutatif:


Pengurangan vektor
B
B
C
C
Q P R
B PQ Q P R

+ =
+ = cos 2
2 2 2
A
C
R
B
Q
A sin sin sin
= =
P Q Q P

+ = +
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 12 ]
Keseimbangan Partikel: Penjumlahan Vektor

Penjumlahan 3 buah vektor atau lebih meru-
pakan aplikasi triangle rule secara berulang.



Polygon Rule untuk penjumlahan 3 buah
vektor atau lebih.
Penjumlahan vektor bersifat asosiatif:




Perkalian vektor dengan skalar.
( ) ( ) S Q P S Q P S Q P

+ + = + + = + +
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 13 ]
Concurrent vectors: beberapa vektor yang
garis kerjanya bertemu pada satu titik.
Concurrent forces yang bekerja pada sebu-
ah partikel dapat diwakili dengan 1 buah
resultan vektor gaya yang mana merupa-
kan penjumlahan dari semua vektor yang
bekerja pada partikel tersebut.



Komponen suatu vektor: dua buah vektor
atau lebih yang bila diaplikasikan secara
bersamaan maka memiliki efek yang sa-
ma dengan satu vektor induknya.

Keseimbangan Partikel: Resultan Concurrent Vectors
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 14 ]
Mendapatkan resultan vektor dengan me-
tode penguraian pada sumbu cartesian:

Uraikan setiap vektor pada sumbu carte-
sian menjadi komponen-komponennya:



Nilai resultan vektor sama dengan jumlah
skalar dari komponen vektor yang berkai-
tan:


Untuk menentukan nilai dan arah resul-
tan gunakan:

Keseimbangan Partikel: Penguraian Vektor pd Sumbu Cartesian

=
+ + =
x
x x x x
F
S Q P R

=
+ + =
y
y y y y
F
S Q P R
S Q P R

+ + =
( ) ( )j S Q P i S Q P
j S i S j Q i Q j P i P j R i R
y y y x x x
y x y x y x y x


+ + + + + =
+ + + + + = +
x
y
y x
R
R
R R R
1 2 2
tan

= + = u
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 15 ]
Keseimbangan Benda Tegar: Definisi
Quiz:
Apa itu benda tegar?
Apa perbedaan yang signifikan antara partikel dengan benda tegar?
Benda tegar: kumpulan partikel bermassa yang dimensi-dimensinya
(panjang, tinggi maupun lebar) tidak mengalami perubahan.
Perbandingan antara partikel dengan benda tegar:
Syarat Keseimbangan: Syarat Keseimbangan:
Memiliki dimensi yang tidak berubah Tidak memiliki dimensi
Benda Tegar Partikel

= = 0 & 0
y x
F F

= = = 0 ; 0 ; 0 M F F
y x
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 16 ]
Keseimbangan Benda Tegar: Aplikasi Keseimbangan Gaya+Momen
Keseimbangan dua buah gaya:






Keseimbangan tiga buah gaya:
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 17 ]
Keseimbangan Benda Tegar: Reaksi Tumpuan
Tumpuan rol: reaksinya adalah sebuah gaya yang searah dengan garis
aksinya.
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 18 ]
Keseimbangan Benda Tegar: Reaksi Tumpuan
Tumpuan engsel: reaksinya adalah sebuah gaya yang tidak diketahui arah
maupun nilainya.






Tumpuan jepit: reaksinya adalah sebuah gaya yang tidak diketahui arah
maupun nilainya dan sebuah kopel.
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 19 ]
Keseimbangan Benda Tegar: Momen Gaya
Quiz:
Bila F = 10 N dan r = 3 m, berapakah momen
gaya terhadap titik O?
a. 10 N m b. 30 N m
c. 13 N m d. (10/3) N m
Momen gaya F disekitar titik O didefinisikan
sebagai?
a. r F b. r F
c. F r d. F r
Aplikasi momen gaya:
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 20 ]
Keseimbangan Benda Tegar: Momen Gaya
Momen gaya terhadap sebuah titik merupakan uku-
ran kecenderungan untuk berputar. Sehingga sering
juga disebut torsi.
Momen gaya termasuk salah satu vektor:
Besarnya: dimana jarak d harus tegak-
lurus terhadap F.
Nilainya:
Arahnya: arah CCW dianggap momen positif (kaidah
tangan kanan).
d F M =
Fd M =
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 21 ]
Keseimbangan Benda Tegar: Momen Kopel
Quiz:
Momen 12 N.m dibutuhkan untuk memutar roda. Manakah yang memerlukan
gaya yang lebih kecil?
Sebuah engkol digunakan untuk melepas baut fleg roda. Apa pengaruh peru-
bahan dimensi a, b atau c pada gaya yang diperlukan untuk memutar engkol?
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 22 ]
Keseimbangan Benda Tegar: Momen Kopel
Dua buah gaya yang sama besar, garis kerja paralel
namun berlawanan arah dinamakan kopel.
Momen kopel diformulasikan sama dengan momen
gaya yaitu

. d F M =
Quiz:
Apa perbedaan momen gaya dengan momen kopel?
Momen kopel merupakan free vector. Dapat dipindah-
kan dimana saja didalam bodi tanpa mempengaruhi
efek gerakan bodi.
Momen gaya bukan free vector sehingga tidak dapat
dipindah-pindahkan.
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 23 ]
Keseimbangan Benda Tegar: Beban Terdistribusi
Aplikasi beban terdistribusi dalam kehidupan sehari-hari:










Quiz:
Apakah mungkin mereduksi beban merata tersebut menjadi sebuah gaya
tunggal yang memiliki efek eksternal yang sama?
Jika mungkin, bagaimana caranya menentukan gaya tunggal yang ekivalen
dan dimana lokasi garis kerjanya?
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 24 ]
Keseimbangan Benda Tegar: Beban Terdistribusi
Dalam banyak hal, pembebanan sering be-
kerja pada permukaan suatu bidang. Seperti
beban yang disebabkan oleh angin, air atau
berat suatu bodi itu sendiri.
Analisa beban terdistribusi dapat disederha-
nakan sehingga memudahkan dalam perhitu-
ngan.
Dalam hal ini, w adalah fungsi x dengan unit
gaya per satuan panjang.
Dengan asumsi bahwa beban terdistribusi di-
anggap sebagai suatu bodi maka berat bodi
akan terletak pada sentroid (titik berat). De-
ngan demikian:


dimana garis kerja F
R
melewati sentroid luasan
A yaitu titik C pada gambar yang berjarak .
( ) L x w
R
= F
x
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 25 ]
Keseimbangan Benda Tegar: Sentroid Beberapa Luasan
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 26 ]
Keseimbangan Benda Tegar: Sentroid Beberapa Luasan
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 27 ]
Keseimbangan Benda Tegar: Contoh Soal Beban Terdistribusi
Solusi:
Menentukan beban terpusat yang ekivalen
dengan beban terdistribusi. Besarnya meru-
pakan total luasan dibawah kurva.




Menentukan garis kerja F
R
:
Tentukan beban terpusat yang
ekivalen dengan beban terdistri-
busi tersebut dan reaksi masing-
masing tumpuan!
( ) ( )
( ) ( ) kN 1500 - 4500
F
18
2
6
4500 6 1500
2
1
=
(

+ =
(

+ =
A B B A R
w w L w L w
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 28 ]
Keseimbangan Benda Tegar: PostTest
Sebuah tanki bermuatan ditarik de-
ngan kabel melewati bidang miring.
Bila beratnya 25 kN yang terletak
pada titik G, tentukan tegangan ka-
bel dan reaksi-reaksi tumpuannya!
Seorang laki-laki menarik 10 kg ba-
lok yang panjangnya 4 m menggu-
nakan seutas tali.
Tentukan tegangan tali dan reaksi di
titk A!
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 29 ]
Balok (Beam): Aplikasi
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 30 ]
Analisa Balok: Variasi Tumpuan pada Balok (Beam)
Beam diklasifikasikan menurut model tumpuannya.
Gaya reaksi pada beam dapat ditentukan apabila hanya ada 3 buah gaya
yang belum diketahui. Selain dari itu, reaksinya tidak dapat ditentukan
dengan prinsip statika biasa (indeterminate).
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 31 ]
Analisa Balok: Bidang Normal (N)
Definisi: bidang yang dibentuk oleh gaya aksi dan reaksi dimana arah ke-
duanya berimpit dengan sumbu balok.
Penandaan:
Bidang Normal Positif:
+Bidang yang dibentuk oleh gaya aksi dan reaksi yang membentuk gaya
tarik pada balok.
+Digambar diatas sumbu balok.
Bidang Normal Negatif:
+Bidang yang dibentuk oleh gaya aksi dan reaksi yang membentuk gaya
tekan pada balok.
+Digambar dibawah sumbu balok.
+

JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 32 ]
Analisa Balok: Bidang Lintang atau Geser (V)
Definisi: bidang yang dibentuk oleh gaya aksi dan reaksi dimana arah ke-
duanya tegak lurus terhadap sumbu balok.
Penandaan:
Bidang Geser Positif:
+Bila gaya geser pada balok menimbulkan momen kopel positif.
+Digambar diatas sumbu balok.
Bidang Geser Negatif:
+Bila gaya geser pada balok menimbulkan momen kopel negatif.
+Digambar dibawah sumbu balok.


+
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 33 ]
Analisa Balok: Bidang Momen (M)
Definisi: bidang yang dibentuk oleh momen yang terdapat pada titik-titik
tertentu pada balok.
Penandaan:
Bidang Momen Positif:
+Bila momen aksi dan reaksi membuat balok melengkung ke atas.
+Digambar diatas sumbu balok.
Bidang Momen Negatif:
+Bila momen aksi dan reaksi membuat balok melengkung ke bawah.
+Digambar dibawah sumbu balok.


+

JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 34 ]
Analisa Balok: Tegangan pada Balok
Dalam analisa balok, ada 2 tegangan yang terjadi:
Tegangan Normal (o): akibat gaya normal dan bending
Tegangan Geser (t): akibat bending
JTM FTI-ITS Surabaya
ELEMEN MESIN 1
Achmad Syaifudin, ST [ 35 ]
Analisa Balok: Klasifikasi Beban Tegangan
c o E
A
P
= = : Stress Normal
( ) T E A = o o : Stress Thermal
I
My
x
= o : Stress Normal
Ib
VQ
xy
= t : Stress Shear
: Stress Shear
J
T
t = Torsi
Bending
Aksial
Tegangan Sket Beban
Geser
: Stress Shear
s
A
T
= t
JTM FTI-ITS Surabaya
ELEMEN MESIN 1
Achmad Syaifudin, ST [ 36 ]
Analisa Balok: Beban Aksial (External Loading Normal Stress)
External loading menimbulkan:


Dari Hukum Hookes didapatkan regangan:


dimana regangan adalah deformasi dibagi
dengan panjang semula, sehingga


Apabila beban dan material bervariasi, baik
modulus elastisitas maupun luas penampang-
nya maka deformasi total adalah
AE
P
E
E = = =
o
c c o
AE
PL
L
= = o
o
c

=
i
i i
i i
T
E A
L P
o
A
P
= o
JTM FTI-ITS Surabaya
ELEMEN MESIN 1
Achmad Syaifudin, ST [ 37 ]
Analisa Balok: Momen Bending (Normal Stress)
Momen bending dapat menyebabkan be-
am terdeformasi.
Pada neutral surface (axis) tidak mengala-
mi perubahan panjang (deformasi).
Semua penampang melintang akan te-
tap datar dan tegak lurus terhadap longi-
tudinal axis.
Jumlah momen pada penampang melin-
tang adalah
I
Mc
I
My
x
= =
max
o o
dA y
c
M
dA
c
y
y dA y ydF M
A
A A A
}
} } }
=
|
.
|

\
|
= = =
2 max
max
) (
o
o o
Ini adalah
momen inersia, I
JTM FTI-ITS Surabaya
ELEMEN MESIN 1
Achmad Syaifudin, ST [ 38 ]
Analisa Beban: Momen Bending (Shear Stress)
Gaya geser internal pada beam menyebab-
kan deformasi geser, tegangan dan rega-
ngan geser.
Gaya geser dalam beam harus mendapat
perhatian lebih karena seringkali beam ga-
gal karena tegangan geser yang timbul.


|
|
.
|

\
|
= =
2
2
1
2
3
c
y
A
V
Ib
VQ
xy
t
segiempat
2
3
max
=
A
V
t
lingkaran
3
4
max
=
A
V
t
JTM FTI-ITS Surabaya
ELEMEN MESIN 1
Achmad Syaifudin, ST [ 39 ]
Analisa Balok: Komparasi Efek Normal Stress Shear Stress
Contoh soal:
in kip 90 ft kip 5 . 7
kips 3
max
max
= =
=
M
V
Pertanyaan:
Tentukan tinggi beam yang aman dari
tegangan normal maupun geser!
JTM FTI-ITS Surabaya
ELEMEN MESIN 1
Achmad Syaifudin, ST [ 40 ]
Analisa Balok: Komparasi Efek Normal Stress Shear Stress
Solusi:
( )
( )
2
2
6
1
2
6
1
3
12
1
in. 5833 . 0
in. 5 . 3
d
d
d b
c
I
S
d b I
=
=
= =
=
Tinggi beam berdasarkan tegangan normal yang
diijinkan.
( )
in. 26 . 9
in. 5833 . 0
in. lb 10 90
psi 1800
2
3
max
=

=
=
d
d
S
M
all
o
Tinggi beam berdasarkan tegangan geser yang
diijinkan.
( )
in. 71 . 10
in. 3.5
lb 3000
2
3
psi 120
2
3
max
=
=
=
d
d
A
V
all
t
Jadi tinggi beam setidaknya adalah d = 10.71 in
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 41 ]
Analisa Balok: Metode Potongan
Solusi:
Gambar Free Body Diagram.
Evaluasi reaksi-reaksi tumpuan.
Membagi balok menjadi beberapa po-
tongan, dengan pedoman setiap mele-
wati perubahan gaya maka ada satu
potongan.
Evaluasi setiap potongan sebagai ben-
da tegar yang dijepit (ada tiga reaksi
tumpuan jepit) untuk mendapatkan ga-
ya geser internal dan momen kopel in-
ternal.
Membuat diagram gaya geser dan mo-
men kemudian tentukan momen mak-
simumnya (positif atau negatif dalam
diagram tidak berpengaruh).
Substitusi momen maksimum sehing-
ga diperoleh tegangan normal maksi-
mumnya.
Gambarlah diagram bidang geser
dan momen kemudian tentukan te-
gangan normal maksimum akibat
bending!
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 42 ]
Analisa Balok: Metode Potongan
Solusi:
Evaluasi reaksi tumpuan dengan asumsi balok sebagai
benda tegar, didapatkan:


Aplikasikan juga pada setiap potongan:

= = = = kN kN 14 40 0
D B B y
R R M F
( )( ) 0 0 m 0 kN 20 0
kN 20 0 kN 20 0
1 1 1
1 1
= = +

=
= =

=
M M M
V V F
y
( )( ) m kN 50 0 m 5 . 2 kN 20 0
kN 20 0 kN 20 0
2 2 2
2 2
= = +

=
= =

=
M M M
V V F
y
0 kN 14
m kN 28 kN 14
m kN 28 kN 26
m kN 50 kN 26
6 6
5 5
4 4
3 3
= =
+ = =
+ = + =
= + =
M V
M V
M V
M V
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 43 ]
Analisa Balok: Metode Potongan
Menentukan gaya geser dan momen bending
maksimum dari diagram:


Tegangan normal maksimum:
m kN kN = = = 50 26
B m m
M M V
( )( )
3
3
m
m N
m
m m
6
3
6
2
6
1
2
6
1
10 33 . 833
10 50
10 33 . 833
250 . 0 080 . 0


= =
=
= =
S
M
h b S
B
m
o
Pa
6
10 0 . 60 =
m
o
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 44 ]
Analisa Balok: Metode Potongan
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 45 ]
Analisa Balok: Contoh 1
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 46 ]
Analisa Balok: Contoh 1
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 47 ]
Analisa Balok: Contoh 2
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 48 ]
Analisa Balok: Contoh 2
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 49 ]
Analisa Balok: Contoh 2
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 50 ]
Analisa Balok: Contoh 2
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 51 ]
Rangka Batang (Truss): Aplikasi (Truss Sederhana)
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 52 ]
Rangka Batang (Truss): Aplikasi
Multipanel Trusses
Sainsbury Centre

Norwich, England
Warren Trusses
Centre Georges Pompidou

Paris
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 53 ]
Rangka Batang (Truss): Aplikasi
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 54 ]
Rangka Batang (Truss): Aplikasi (Modern)
STADIUM AUSTRALIA
Homebush, Sydney, 1999
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 55 ]
Rangka Batang (Truss): Keuntungan dan Kelemahan
Keuntungan:
Dapat menahan beban yang sama dengan material yang lebih ringan.
Memerlukan potongan material yang lebih kecil.
Banyak bentuk yang menjadi pilihan.
Tampak kacau.
Kelemahan:
Membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak dalam pemasangannya.
Memerlukan penahan lateral yang lebih besar.
Kurang cocok untuk beban merata.
Tampak lebih bersih.

JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 56 ]
Analisa Truss: Definisi
Dalam interaksi antara bagian-bagian yang berhu-
bungan, hukum ketiga Newton menyatakan bahwa
gaya aksi dan reaksi antara benda-benda yang kon-
tak memiliki besar, arah dan garis kerja yang sama.
Ada tiga kategori tentang struktur dalam tinjauan
teknik:
Frames: struktur penahan beban yang terdiri setidak-
nya satu batang dengan 3 atau lebih gaya (beban)
yang bekerja padanya.
Trusses: struktur penahan beban yang terdiri dari
batang-batang lurus yang dihubungkan dengan sam-
bungan dimana tiap batang ada 2 gaya yang bekerja
padanya.
Machines: struktur yang memiliki elemen yang ber-
gerak, didesain untuk mentransmisikan daya dan atau
memindahkan beban.
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 57 ]
Analisa Truss: Definisi
Walaupun sambungannya dengan paku
keling/las, maka bisa dianggap bahwa ba-
gian tersebut disambung dengan pin se-
hingga gaya aksi/reaksi pada truss diang-
gap hanya berupa gaya aksial yang be-
kerja pada ujung truss, yang mana dapat
berupa gaya tekan (gaya yang cenderung
menekan batang) atau gaya tarik (gaya
yang cenderung menarik batang).
Truss Stabil
Truss Tak Stabil
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 58 ]
Analisa Truss: Tipe Truss 2D
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 59 ]
Analisa Truss: Asumsi-asumsi pada Truss
Gaya luar diasumsikan bekerja hanya pada sambungan. Berat batang itu
sendiri diasumsikan terbagi merata pada kedua ujungnya.
E
D
C
A
B
C
D
E

w L / 2
w L / 2
A
B
L
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 60 ]
Analisa Truss: Asumsi-asumsi pada Truss
Semua batang dalam kondisi lurus dan sambungan dengan batang lain
diasumsikan tanpa gesekan.
Typical Bolted Truss Joint
Gusset Plate
Channel Section
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 61 ]
Analisa Truss: Asumsi-asumsi pada Truss
Seluruh batang merupakan elemen gaya aksial baik tarik (Tension=T) ma-
upun tekan (Compression=C)
C
C
T
T
Compression
Member
Tension
Member
A
B
C
D
A
B
C
D
Tension Tension
Ten sion
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 62 ]
6 7



4 5




1 2 3
Analisa Truss: Cara Membentuk Truss
Buat truss segitiga dasar.
Tambah 2 batang lagi yang disambung dengan satu pin.
10

6 7

4 11


3 5 9
1
2 8
Truss Tegar : m = 2n 3
m : jumlah batang n : jumlah pin
11 = ( 27 ) 3
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 63 ]
Analisa Truss: Penentuan Batang Tarik atau Tekan
Prosedur:
Menentukan reaksi masing-masing tumpuan.
Analisa gaya batang dengan metode:
+Sambungan
+Potongan
+Grafis (Cremona)
Pilih metode yang cocok sesuai dengan
kondisi truss.
Pisahkan setiap batang dari sambungannya
dengan pedoman gaya aksi pada sambungan
akan menimbulkan gaya reaksi dari ujung
rangka truss.
Menentukan kondisi masing-masing batang
apakah mengalami tension atau compression?
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 64 ]
Analisa Truss: Metode Sambungan/Sendi (Joints Method)
Prosedur:
Menentukan reaksi setiap tumpuan dengan
menganggap keseluruhan truss adalah benda
tegar.
Analisa setiap sambungan (joints) dimulai
dari sambungan yang memiliki paling sedikit
gaya yang tidak diketahui, yaitu dari A, D, B,
C dan E.
Aplikasikan persamaan keseimbangan untuk
benda tegar pada setiap sambungan.


Susun truss dengan memisahkan batang dari
setiap sambungan untuk menentukan kondisi
batang, tarik/tekan.
Gunakan metode sambungan
untuk menentukan gaya inter-
nal dari setiap batang dan kon-
disinya, tarik/tekan?

= = = 0 0 0 M F F
y x
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 65 ]
Analisa Truss: Contoh Soal
Solusi:
Menentukan reaksi tumpuan.








Analisa joint A: semua gaya (eksternal dan
internal) harus berada dalam keseimbangan
(membentuk polygon tertutup)
( )( ) ( )( )
( ) m 1.8
m 3.6 kN 4.5 m 7.2 kN 9.0
E
M
C

+ =
=

0
| = kN 45 E
= =
x x
C F 0
0 =
x
C

+ + = =
y y
C F kN 45 kN 4.5 kN 0 . 9 0
+ = kN 5 . 31
y
C
5 3
0 . 9
AD AB
F F
= =
4
kN
kN
kN
25 . 11
75 . 6
=
=
AD
AB
F
F
9.0 kN
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 66 ]
Analisa Truss: Contoh Soal
Analisa joint D:



Analisa joint B:






Analisa joint E:
( )
DA DE
DA DB
F F
F F
5
3
2 =
=
kN
kN
5 . 13
25 . 11
=
=
DE
DB
F
F
( )
lb 3750
25 . 11 5 . 4 0
5
4
5
4
=
= =

BE
BE y
F
F F
kN 9 . 16 =
BE
F
( ) ( )
kN 63 . 23
9 . 16 9 . 16 75 . 6 0
5
3
5
3
+ =
= =

BC
BC x
F
F F
kN 63 . 23 =
BC
F
( )
kN 4 . 39
9 . 6 5 . 13 0
5
3
5
3
=
+ + = =

EC
EC x
F
F F
kN 4 . 39 =
EC
F
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 67 ]
Analisa Truss: Contoh Soal
Semua gaya batang dan reaksi tumpuan telah dike-
tahui maka cheking dilakukan pada joint C.



Sehingga dapat disimpulkan bahwa:
+Batang AB: Tension
+Batang AD: Compression
( ) ( )
( ) ( ) cek kN
cek kN
0 4 . 39 5 . 31
0 4 . 39 63 . 23
5
4
5
3
= + =
= + =

y
x
F
F
T
T
T
T
C
C
C
A
C
B
E
D
Batang BC: Tension
Batang BD: Tension
Batang BE: Tension
Batang ED: Compression
Batang EC: Compression
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 68 ]
Analisa Truss: Metode Potongan Ritter (Section Method)
Bila diinginkan mengetahui gaya internal
beberapa batang tertentu maka dapat digu-
nakan metode potongan.
Syarat potongan memiliki lebih dari satu
sambungan. Kenapa?
Prosedur:
Menentukan reaksi semua tumpuan.
Menentukan bagian truss yang dipotong.
Analisa potongan dengan persamaan keseim-
bangan untuk benda tegar.


Susun truss dengan memisahkan batang dari
setiap sambungan untuk menentukan kondisi
batang, tarik/tekan.

= = = 0 0 0 M F F
y x
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 69 ]
Analisa Truss: Contoh Soal
Solusi:
Menentukan reaksi tumpuan:







Buat potongan melewati batang yang dita-
nyakan.
Aplikasikan persemaan keseimbangan un-
tuk benda tegar.
Tentukan gaya batang dari
FH, GH dan GI
( )( ) ( )( )
( )( ) ( )( )
( )( ) ( )
| =
+ + = =
| =
+

= =

kN
kN
kN
m 25 kN 1 m 25
kN 1 m 20 kN 6 m 15
kN 6 m 10 kN 6 m 5
5 . 12
20 0
5 . 7
0
A
A L F
L
L
M
y
A
( )( ) ( )( )
( ) 0 33 . 5
0
=

=

m
m 5 kN 1 m 10 kN 7.50
GI
H
F
M
T F
GI
kN 13 . 13 =
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 70 ]
Analisa Truss: Contoh Soal
( )( ) ( )( ) ( )( )
( )( ) 0 8 cos
0
07 . 28 5333 . 0
8
tan
= +

=
= = = =

m
m 5 kN 1 m 10 kN 1 m 15 kN 7.5
m 15
m
o
o o
FH
G
F
M
GL
FG
C F
FH
kN 82 . 13 =
( )
( )( ) ( )( ) ( )( ) 0 cos
0
15 . 43 9375 . 0
8
5
tan
= + +
=
= = = =

m 10 m 5 kN 1 m 10 kN 1
m
m
3
2
|
| |
GH
L
F
M
HI
GI
C F
GH
kN 371 . 1 =
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 71 ]
Analisa Truss: Diagram Maxwell (Cremona)
Prosedur :
Menentukan gaya reaksi tumpuan secara keseluruhan dengan persamaan
keseimbangan (benda tegar).


Menentukan arah gerakan (CW/CCW) setiap titik sendi dari konstruksi truss.
Arah gerakan semua sendi dari kontruksi truss harus tetap.
Menentukan daerah (medan) pada konstruksi truss.
Pembuatan diagram dimulai dari titik sendi yang maksimum hanya dua gaya
batang yang belum diketahui.


= = = 0 ; 0 ; 0 M F F
y x
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 72 ]
Momen Inersia: Why is it learnt?
Kebanyakan batang struktur dibuat berlubang (bukan pejal) dengan
berbagai macam bentuk profil (I, L, H, C ect). Mengapa tidak dibuat
silinder atau balok pejal?
Parameter utama apa dari batang struktur yang mempengaruhi keputu-
san dalam desain?
Bagaimana kita menghitung parameter ini?
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 73 ]
Momen Inersia: Why is it learnt?
Perhatikan tiga penampang melintang yang berbeda yang mungkin dapat
digunakan dalam menopang beban P. Semuanya memiliki total luasan
yang sama. Bila diasumsikan memiliki material yang sama maka ketiga-
nya akan memiliki intensitas massa per satuan panjang yang sama pula.
Untuk menahan beban P, manakah diantara ketiganya yang menghasil-
kan tegangan internal dan defleksi paling kecil? Mengapa?
Jawabannya tergantung pada momen inersia terhadap sumbu x dari
masing-masing penampang.
Ternyata profil A yang paling kuat karena kebanyakan luasannya terletak
paling jauh dari sumbu x.
10 cm
3 cm
C
10 cm
3 cm
B
10 cm
1 cm
1 cm
A
R S
P
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 74 ]
Momen Inersia: Definisi
Gaya total F yang bekerja pada penampang balok
A dapat diturunkan dari

sehingga

Besaran ini disebut gaya inersia (momen perta-
ma) dengan unit satuan panjang pangkat tiga
[L
3
]. Besaran ini digunakan untuk menghitung
tegangan geser akibat beban bending pada balok.
Momen akibat gaya AF yang bekerja pada luasan AA adalah

sehingga

Besaran ini disebut momen inersia (momen kedua) dengan unit satuan
panjang pangkat empat [L
4
]. Besaran ini digunakan untuk menghitung
tegangan normal (tarik/tekan) akibat beban bending pada balok.
dA y k M
}
=
2
A ky F y M A = A =
2
}
= A = A = ydA k A ky F R
x
Q ydA k R = =
}
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 75 ]
Momen Inersia: Momen Inersia Polar
Momen inersia selalu berkaitan dengan sumbu
x (I
x
) atau sumbu y (I
y
). Momen inersia yang
berhubungan dengan sumbu putar dinamakan
momen inersia polar (J), dinyatakan dengan

Hubungan momen inersia polar dengan mo-
men inersia I
x
dan I
y
adalah
}
= dA r J
2
0
( )
x y
I I
dA y dA x dA y x dA r J
+ =
+ = + = =
} } } }
2 2 2 2 2
0
Jadi momen inersia polar adalah penjumlahan dari monen inersia terha-
dap sumbu x dan y. Besaran ini digunakan untuk menghitung tegangan
geser akibat torsi pada poros.

JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 76 ]
Momen Inersia: Jari-jari Girasi
Bayangkan bila luasan A dikonsentrasi-
kan pada pusat luasannya sehingga akan
menimbulkan jarak dari sumbu inersia,
jarak ini disebut jari-jari girasi dan dinya-
takan dengan persamaan:



Analogi yang sama untuk sumbu y dan
polar:




Jadi
A
I
k A k I
x
x x x
= =
2
A
J
k A k J
A
I
k A k I
O
O O O
y
y y y
= =
= =
2
2
2 2 2
y x O
k k k + =
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 77 ]
Momen Inersia: Prinsip Sumbu Sejajar
Pada penampang yang tidak beraturan,
seringkali momen inersia harus dicari de-
ngan menganggap luasan penampang se-
bagai suatu komposit.
Akibatnya sumbu inersia tidak tepat bera-
da pada pusat luasan penampang.
Bagaimana menyatakan momen inersia
dari sumbu yang tidak melewati pusat
luasan penampang?




Jadi prinsip Sumbu Sejajar adalah
( )
} } }
} }
+
'
+
'
=
+
'
= =
dA d dA y d dA y
dA d y dA y I
2 2
2
2
2
2
Ad I I + =
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 78 ]
Momen Inersia: Formulasi
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 79 ]
Momen Inersia: Formulasi
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 80 ]
Momen Inersia: Formulasi
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 81 ]
Momen Inersia: Contoh Soal
Determine the moment of inertia
of the shaded area with respect to
the x axis.
SOLUTION:
Compute the moments of inertia of the
bounding rectangle and half-circle with
respect to the x axis.
The moment of inertia of the shaded area is
obtained by subtracting the moment of
inertia of the half-circle from the moment
of inertia of the rectangle.
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 82 ]
Momen Inersia: Contoh Soal
SOLUTION:
Compute the moments of inertia of the bounding
rectangle and half-circle with respect to the x axis.
Rectangle:
( )( )
4 6
3
1
3
3
1
mm 10 2 . 138 120 240 = = = bh I
x
Half-circle:
moment of inertia with respect to AA,
( )
4 6 4
8
1
4
8
1
mm 10 76 . 25 90 = = =
'
t tr I
A A
( )( )
( )
2 3
2
2
1
2
2
1
mm 10 72 . 12
90
mm 81.8 a - 120 b
mm 2 . 38
3
90 4
3
4
=
= =
= =
= = =
t t
t t
r A
r
a
moment of inertia with respect to x,
( )( )
4 6
3 6 2
mm 10 20 . 7
10 72 . 12 10 76 . 25
=
= =
' '
Aa I I
A A x
moment of inertia with respect to x,
( )( )
4 6
2 3 6 2
mm 10 3 . 92
8 . 81 10 72 . 12 10 20 . 7
=
+ = + =
'
Ab I I
x x
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 83 ]
Momen Inersia: Contoh Soal
The moment of inertia of the shaded area is obtained by
subtracting the moment of inertia of the half-circle from
the moment of inertia of the rectangle.
4 6
mm 10 9 . 45 =
x
I
x
I =
4 6
mm 10 2 . 138

4 6
mm 10 3 . 92
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 84 ]
Konsep Desain: Filosofi Desain
Ada 3 keadaan dalam perancangan suatu mesin yaitu
Beban dan geometri telah diketahui kemudian menentukan faktor kea-
manan dan jenis material yang digunakan.

Beban dan material telah diketahui kemudian menentukan faktor kea-
manan dan geometri komponen mesin yang sesuai.

Beban, material dan geometri telah diketahui kemudian tinggal menen-
tukan apakah aman atau tidak.


Problem:
Bagian manakah yang termasuk DESAIN?
Bagian manakah yang termasuk ANALISA?
DESAIN
ANALISA
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 85 ]
Konsep Desain: Safety Factor
Persamaan dasar dalam menentukan angka keamanan:
stress calculated
stress material allowable
N =
Untuk material ulet (ductile materials):
N= 1.25 2.0 Static loading, high level of confidence in all design data.
N= 2.0 2.5 Dynamic loading, average confidence in all design data.
N= 2.5 4.0 Static or dynamic loading with uncertainty about loads,
material properties, complex stress state, ect
N= 4.0 or more Static or dynamic loading with uncertainty about loads,
material properties, complex stress state, and desire to
provide extra safety.
Untuk material getas (brittle materials):
Untuk setiap tingkatan faktor keamanan diatas rata-rata menjadi dua kali
lipatnya.





JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 86 ]
Sifat-Sifat Material
Problem:
Mengapa kita harus mengerti tentang sifat-sifat material sebelum melakukan
perancangan suatu mesin?

Dalam desain dan analisa desain, sifat-sifat material sangat diperlukan:
Desain:

+Maka harus dirancang geometri yang sesuai untuk memenuhi persamaan
diatas

Analisa:

+Analisa ulang struktur sehingga tegangan failure dibawah tegangan ijin
material
Jadi, kedua kasus diatas memerlukan calculated stress.
N
calculated allow
o o =
allow calculated
o o <
Problem:
Apa itu calculated stress? Bagaimana cara mendapatkannya?
Apa itu allowable stress? Bagaimana cara mendapatkannya?
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 87 ]
Sifat-Sifat Material
Allowable Stress diperoleh dari TENSION TEST.
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 88 ]
Sifat-Sifat Material
Sehingga akan diperoleh kurva STRESS - STRAIN.
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 89 ]
Sifat-Sifat Material
Sifat Metalurgi Material:
Brittle fracture (patah getas):
+Tidak ada reduksi luas penampang patahan.
+Patahan tampak lebih mengkilap dan bidang patahan relatif tegak lurus
terhadap tegangan tarik.
+Disebabkan oleh pembebanan dinamis dan temperatur kerja yang rendah
(Kapal Titanic).
Ductile fracture (patah ulet):
+Ada reduksi luas penampang patahan.
+Tempo patah lebih lama.
+Daerah patahan lebih halus dan berserabut.
Beberapa golongan besar material:
+Cast Iron dan Malleable Iron
+Steel alloys
+Aluminium alloys dan Copper alloys
+Magnesium alloys dan Nickel alloys
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 90 ]
Sifat-Sifat Material
Sifat Mekanik Material:
Homogenitas
Elastisitas
Isotropik
Plastisitas
Tensile Strength/Ultimate Strength
Fracture Strength
Yield Strength/Yield Point
Modulus Elastisitas/Modulus Young
Hukum Hooke
Direct Shear Strength:
+Wrought steel: S
su
= 0.82 S
u
+Malleable iron & cooper alloys: S
su
= 0.90 S
u
+Cast iron: S
su
= 1.30 S
u
+Aluminium alloys: S
su
= 0.90 S
u

JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 91 ]
Sifat-Sifat Material
Shear Yield Strength:
+Aluminium alloys: S
syp
= 0.55 S
yp

+Wrought stell: S
syp
= 0.58 S
yp

Ductility
Malleability
Modulus of Resilience
Modulus of Toughness
Hardness


Keterangan:
S
u
= Ultimate Strength/Tensile Strength
S
yp
= Yield Point Strength
S
su
= Shear Ultimate Strength
S
syp
= Shear Yield Point Strength
dari Uji Tarik
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 92 ]
Beban Tegangan: Klasifikasi
c o E
A
P
= = : Stress Normal
( ) T E A = o o : Stress Thermal
I
My
x
= o : Stress Normal
Ib
VQ
xy
= t : Stress Shear
: Stress Shear
J
T
t = Torsi
Bending
Aksial
Tegangan Sket Beban
Geser
: Stress Shear
s
A
T
= t
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 93 ]
Pembebanan Aksial: External Loading Normal Stress
External loading menimbulkan:


Dari Hukum Hookes didapatkan regangan:


dimana regangan adalah deformasi dibagi
dengan panjang semula, sehingga


Apabila beban dan material bervariasi, baik
modulus elastisitas maupun luas penampang-
nya maka deformasi total adalah
AE
P
E
E = = =
o
c c o
AE
PL
L
= = o
o
c

=
i
i i
i i
T
E A
L P
o
A
P
= o
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 94 ]
Pembebanan Aksial: Contoh Soal
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 95 ]
Pembebanan Aksial: Solusi
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 96 ]
Pembebanan Aksial: Thermal Loading Normal Stress
Perubahan suhu akan menyebabkan pemuai-
an material sehingga terjadi perubahan pan-
jang. Apabila ada bagian yang ditumpu maka
akan terjadi tegangan.
Tegangan yang terjadi dapat didekati dengan
2 bentuk deformasi superposisi: deformasi ter-
mal dan akibat beban luar.


Kedua deformasi tersebut haruslah sama besar
sehingga:
( )
coef. expansion thermal =
= A =
o
o o o
AE
PL
L T
P T
( ) 0
0
= + A
= + =
AE
PL
L T
P T
o
o o o
( )
( ) T E
A
P
T AE P
P T
A = =
A =
= + =
o o
o
o o o 0
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 97 ]
Momen Bending: Normal Stress
Momen bending dapat menyebabkan be-
am terdeformasi.
Pada neutral surface (axis) tidak mengala-
mi perubahan panjang (deformasi).
Semua penampang melintang akan te-
tap datar dan tegak lurus terhadap longi-
tudinal axis.
Jumlah momen pada penampang melin-
tang adalah
S
M
I
Mc
I
My
x
= = =
max
o o
dA y
c
M
dA
c
y
y dA y ydF M
A
A A A
}
} } }
=
|
.
|

\
|
= = =
2 max
max
) (
o
o o
Ini adalah
momen inersia, I
Tahanan Inersia
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 98 ]
Momen Bending: Contoh Soal
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 99 ]
Momen Bending: Solusi
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 100 ]
Momen Bending: Solusi
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 101 ]
Momen Bending: Solusi
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 102 ]
Momen Bending: Shear Stress
Gaya geser internal pada beam menyebab-
kan deformasi geser, tegangan dan rega-
ngan geser.
Gaya geser dalam beam harus mendapat
perhatian lebih karena seringkali beam ga-
gal karena tegangan geser yang timbul.


|
|
.
|

\
|
= =
2
2
1
2
3
c
y
A
V
Ib
VQ
xy
t
segiempat
2
3
max
=
A
V
t
lingkaran
3
4
max
=
A
V
t
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 103 ]
Momen Bending: Contoh Soal
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 104 ]
Momen Bending: Solusi
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 105 ]
Momen Bending: Solusi
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 106 ]
Momen Bending: Solusi
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 107 ]
Momen Bending: Komparasi Efek Normal Stress Shear Stress
Contoh soal:
in kip 90 ft kip 5 . 7
kips 3
max
max
= =
=
M
V
Pertanyaan:
Tentukan tinggi beam yang aman dari
tegangan normal maupun geser!
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 108 ]
Momen Bending: Komparasi Efek Normal Stress Shear Stress
Solusi:
( )
( )
2
2
6
1
2
6
1
3
12
1
in. 5833 . 0
in. 5 . 3
d
d
d b
c
I
S
d b I
=
=
= =
=
Tinggi beam berdasarkan tegangan normal yang
diijinkan.
( )
in. 26 . 9
in. 5833 . 0
in. lb 10 90
psi 1800
2
3
max
=

=
=
d
d
S
M
all
o
Tinggi beam berdasarkan tegangan geser yang
diijinkan.
( )
in. 71 . 10
in. 3.5
lb 3000
2
3
psi 120
2
3
max
=
=
=
d
d
A
V
all
t
Jadi tinggi beam setidaknya adalah d = 10.71 in
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 109 ]
Momen Bending: Desain Beam
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 110 ]
Momen Bending: Desain Beam
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 111 ]
Momen Bending: Desain Beam
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 112 ]
Momen Bending: Desain Beam
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 113 ]
Momen Bending: Desain Beam
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 114 ]
Momen Bending: Desain Beam
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 115 ]
Torsi: Shear Stress
Torsi pada batang silinder sebanding menye-
babkan tegangan geser internal yang besar-
nya sama tapi berlawanan arah.
Jumlah momen dari tegangan geser internal
sama dengan torsi yang diaplikasikan, yang
dinyatakan dengan persamaan:





Jadi tegangan geser akibat torsi adalah
J
c
dA
c
dA T
max 2 max
t

t
t
} }
= = =
W
T
J
T
J
TD
J
Tc
= = = = dan

t t
2
max
Ini adalah momen
inersia polar, J
Tahanan Inersia
Polar
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 116 ]
Torsi: Torsional Failure Modes
Tegangan pada elemen a dan c memi-
liki nilai yang sama. Bedanya pada
elemen a adalah tegangan geser mur-
ni sedangkan pada elemen c adalah
tegangan normal.
Material ulet umumnya failure akibat
tegangan geser sedangkan material
getas lebih lemah terhadap tegangan
normal (tarik/tekan).
Ketika mendapat torsi, spesimen ulet
akan patah pada bidang geser maksi-
mum yaitu bidang yang tegak lurus
terhadap sumbu poros.
Ketika mendapat torsi, spesimen ge-
tas akan patah pada bidang yang
tegak lurus bidang tegangan normal
maksimum yaitu 45
o
terhadap sumbu
poros.
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 117 ]
Teori Kegagalan (Failure Theories)
Failure Theories digunakan untuk menghitung tegangan yang timbul di-
dalam material akibat beban luar, sehingga didapatkan calculated stress.
Kapan material mengalami failure?
Apakah hubungan failure theories dengan safety factors?
Beberapa jenis teori kegagalan:
Maximum Normal Stress
Maximum Shear Stress
Modified Mohr
Strain Energy
Distortion Energy
Goodman
Gerber
Soderberg
Penggunaan teori kegagalan tergantung pada tipe beban yang bekerja,
tipe material yang digunakan dan tipe tegangan yang terjadi.
STATIC
LOADING
FATIGUE
LOADING
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 118 ]
Teori Kegagalan Statis: Maximum Normal Stress Theory (MNSt)
Teori ini berdasarkan asumsi bahwa kegagalan material akibat tension atau
compression.
Cocok digunakan pada material yang relatif tahan tegangan geser namun
lemah terhadap tegangan tarik maupun tekan.
Persamaan Dasar:



Teori ini biasanya diaplikasikan untuk mendesain komponen mesin dari
cast iron. Besi tuang bersifat getas sehingga tidak memiliki yield point dan
ultimate compressive strength lebih besar daripada ultimate tensile strength.
Brittle Materials
max
o >
N
S
u
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 119 ]
Teori Kegagalan Statis: Maximum Shear Stress Theory (MSSt)
Teori ini berdasarkan asumsi bahwa kegagalan material akibat tegangan
geser maksimum.
Cocok digunakan untuk mendesain komponen mesin dari baja (steel) yang
bersifat ulet.
Persamaan Dasar:

dimana:
max
2
t >
N
S
yp

=
2
2
2
dari terbesar yang
3 1
3 2
2 1
max
o o
o o
o o
t


=
2
2
2
dari terbesar yang
2
1
2 1
max
o
o
o o
t
Bila o
1
dan o
2
berlawanan tanda (2D)
Bila o
1
dan o
2
sama tandanya (2D)
2
atau
2
2
max
1
max
o
t
o
t = =
2 1
2
2
max
2 (
(

+
|
|
.
|

\
|

=
xy
y x
t
o o
t
Kasus kombinasi bending dengan torsi atau bending dengan geser tran-
versal, dimana maka ( )
max 2 , 1
2 0 t o o t t o o = = = = =
x yz xz y z
( )
2 1
2 2
4
xy x
yp
N
S
t o + >
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 120 ]
Teori Kegagalan Statis: Distortion Energy Theory (DEt)
Energi distorsi: selisih antara energi regangan dengan energi ekivalen.
Teori ini berusaha membandingkan antara distorsi komponen mesin (ele-
men yang diamati) dengan distorsi energi ketika terjadi kegagalan pada
spesimen uji.
Persamaan Dasar:
Kasus 3D:


Kasus 2D:

Kasus kombinasi bending dengan torsi atau bending dengan geser tran-
versal, dimana maka
( )
3 1 3 2 2 1
2
3
2
2
2
1
o o o o o o o o o + + >
N
S
yp
( )
2 1
2
2
2
1
o o o o + >
N
S
yp
( )
max 2 , 1
2 0 t o o t t o o = = = = =
x yz xz y z
( )
2 1
2 2
3
xy x
yp
N
S
t o + >
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 121 ]
Teori Kegagalan Statis: Komparasi antara MNSt, MSSt dan DEt
2
o +
1
o +
Diagonal Shear
2 1
o o =
Maximum Normal Stress
Maximum Shear Stress
Distortion Energy
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 122 ]
Teori Kegagalan Statis: Komparasi antara MNSt, MSSt dan DEt
2
o +
1
o +
Diagonal Shear
2 1
o o =
DEt
MSSt
MNSt
(0.577, 0.577)
(0.50, 0.50)
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 123 ]
Teori Kegagalan Statis: Contoh Soal #1
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 124 ]
Teori Kegagalan Statis: Solusi Contoh Soal #1
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 125 ]
Teori Kegagalan Statis: Contoh Soal #2
JTM FTI-ITS Surabaya
MEKANIKA TEKNIK
Achmad Syaifudin, ST [ 126 ]
Teori Kegagalan Statis: Solusi Contoh Soal #2