Anda di halaman 1dari 25

Nama : Siti Nurjawahir Rosli NIM koass : 11.2012.249 Dr. Pembimbing : Dr Nunung Sp.

An

Nama : Ny. R Umur : 27 tahun

Jenis kelamin : P
Pekerjaan : Ibu rumahtangga Alamat : Tanggal pemeriksaan : 9/9/2013 Tanggal masuk RS : 8/9/2013

ANAMNESIS
1.Keluhan utama Keluhan utama : Perut mulas-mulas 3 jam SMRS.

Keluhan tambahan : 2. Riwayat penyakit sekarang G2P1A0 hamil aterm. 3. Riwayat penyakit penyerta DM (-), Hipertensi (-). Asma (-), Alergi (-) 4. Habit 5. Riwayat operasi sebelumnya SC 1 kali pada tahun 2007.

III. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum : tampak baik Kesadaran : kompos mentis Tanda-tanda vital

Tekanan darah Nadi Suhu Frekuensi nafas

: : : :

110/70 mmHg 100 x/menit 36C 20x/menit

Kepala Mata Leher Toraks

: normocephal, tidak ada kelainan : konjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) : tidak ditemukan kelainan : simetris, tidak ditemukan kelainan : BJ I dan BJ II reguler, gallop (-), murmur (-) : suara napas vesikuler, wheezing (-), rhonki (-) Abdomen : buncit, bekas luka operasi (+) : supel,nyeri tekan (-),BU(+), bunyi patologis (-) Ekstremitas : akral hangat, nadi kuat, edema (-)

IV. LABORATORIUM Tanggal 6/9/2013 Darah rutin Hb Lekosit Hematokrit Trombosit BT CT GDS

: : : : : : :

11,3 g/dl 11,3 ribu/mm3 35 % 229 ribu/mm3 1.3 menit 10 menit 118 mg/dl

V. STATUS FISIK ASA : 1,E Pasien sehat,normal VI. DIAGNOSA KERJA G2P1A0 dengan bekas SC. VII. RENCANA TINDAKAN BEDAH Sectio caesaria (SC)

VIII. RENCANA TINDAKAN ANESTESI Anestesi regional (spinal)

IX. INTRA OPERASI Lama anestesi :10.00 - 10:45 Lama operasi : 10:10 10:40 Cara Pemberian Tindakan anestesi spinal di L3-L4 dengan pasien pada posisi duduk. Digunakan bupivakain 20mg dan fentanyl 25 mcg. Pasien diberi oksigen 100% 2L/menit dengan nasal canule Obat berikut dimasukkan secara intravena:

Pitogin 20 IU Methergin 200 mcg Ondansetron 8 mg Ketorolac 30 mg

Observasi tekanan darah,frekuensi nafas dan saturasi oksigen selama operasi.


Cairan Masuk: Ring As : 500 ml Hes : 500 ml Cairan Keluar Perdarahan kurang lebih 350 ml Urin kurang lebih 400 ml

X. POST OPERASI Pasca bedah di ruang pulih sadar Keluhan pasien: mual (+), muntah (-), pusing (-), nyeri (+) Pemeriksaan Fisik : Kesadaran : 2 (sadar penuh) Respirasi : 2 (dapat bernafas dalam) Sirkulasi : 2 (Tekanan darah naik/turun berkisar 20%) Warna kulit: 2 (merah muda, capirally refill <3 detik) Aktivitas : 1 (2 anggota tubuh bergerak aktif/diperintah) Terpasang cateter no 16, BAK spontan (+), urin warna kuning (+) Tekanan darah 110/70 mmHg, CRT <3dtk. Terapi pasca bedah Infus : Ketorolac Ondansetron

RL (dalam 24 jam) 3x1 gr 4mg

TINJAUAN PUSTAKA PEMBAHASAN

Anestesi spinal adalah salah satu metode anestesi yang diinduksi dengan menyuntikkan sejumlah kecil obat anestesi lokal ke dalam cairan cerebro-spinal (CSF). Anestesi spinal/subaraknoid disebut juga sebagai analgesi/blok spinal intradural atau blok intratekal. Anestesi spinal dihasilkan bila kita menyuntikkan obat analgesik lokal ke dalam ruang sub arachnoid di daerah antara vertebra L2-L3 atau L3-L4 atau L4-L5.

Umumnya pada tindakan seksio sesarea dilakukan teknik anestesi regional. Anestesi regional yang dilakukan pada pasien obstetri adalah dengan teknik blok paraservikal, blok epidural, blok sub arakhnoid, dan blok kaudal.

Anestesi spinal (blok subarakhnoid) merupakan pilihan utama


dalam tindakan seksio sesarea. Alasan pemilihan anestesi spinal karena rendahnya efek samping terhadap neonatus akan obat depresan, pengurangan risiko terjadinya aspirasi pulmonal pada maternal, kesadaran ibu akan lahirnya bayi, dan yang paling penting adalah pemberian opioid secara spinal dalam rangka penyembuhan nyeri pasca operasi

Kelebihan utama tehnik ini adalah :

Hal hal yang mempengaruhi anestesi

kemudahan dalam tindakan


peralatan yang minimal biokimia darah

spinal
jenis obat dosis obat yang digunakan efek vasokonstriksi berat jenis obat

efek samping yang minimal pada menjaga level optimal dari analisa gas darah pasien tetap sadar selama operasi dan menjaga jalan nafas penanganan post operatif dan analgesia yang minimal.

posisi tubuh tekanan intraabdomen

lengkung tulang belakang

operasi tulang belakang usia pasien obesitas

Kehamilan penyebaran obat.

Indikasi Bedah ekstremitas bawah Bedah panggul Tindakan sekitar rektum perineum

Kontraindikasi absolut Pasien menolak Infeksi pada tempat suntikan Hipovolemia berat, syok

Kontraindikasi relatif Infeksi sistemik Infeksi sekitar tempat suntikan Kelainan neurologis Kelainan psikis

Bedah obstetricginekologi
Bedah urologi Bedah abdomen bawah Pada bedah abdomen atas dan bawah pediatric biasanya dikombinasikan dengan anesthesia umum ringan.

Koagulapatia atau mendapat terapi koagulan


Tekanan intracranial meningkat Fasilitas resusitasi minimal Kurang pengalaman tanpa didampingi konsulen anestesi.

Bedah lama
Penyakit jantung Hipovolemia ringan Nyeri punggung kronik

Persiapan analgesia spinal Informed consent Mendapatkan persetujuan pasien untuk di anestesi

Pemeriksaan fisik
Tidak dijumpai kelainan spesifik seperti kelainan tulang punggung Pemeriksaan laboratorium anjuran Hb,Ht, Leukosit, trombosit, waktu perdarahan, waktu pembekuan

Setelah dimonitor,tidurkan pasien misalkan dalam posisi lateral dekubitus. Beri bantal kepala,selain enak untuk pasien juga supaya tulang belakang stabil. Buat pasien membungkuk maximal agar processus spinosus mudah

teraba.

Posisi lain adalah duduk. Duduk sedikit membungkuk dalam keadaan relaks,pasien tidak mengkakukan otot, dagu rapat ke dada dengan kaki lurus di atas meja operasi.

Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua garis Krista


iliaka,missal L2-L3, L3-L4, L4-L5. Tusukan pada L1-L2 atau diatasnya berisiko trauma terhadap medulla spinalis. Pakai sarung tangan steril.

Sterilkan tempat tusukan dengan betadine atau alcohol.


Beri anastesi local pada tempat tusukan,misalnya dengan lidokain 1-2% 2-3ml

Cara tusukan median atau paramedian. Untuk jarum spinal besar 22G,23G,25G dapat langsung digunakan. Sedangkan untuk yang kecil 27G atau 29G dianjurkan menggunakan penuntun jarum yaitu jarum suntik biasa semprit 10cc.

Tusukkan introduser sedalam kira-kira 2cm agak sedikit kearah sefal,kemudian

masukkan jarum spinal berikut mandrinnya ke lubang jarum tersebut.

Jika menggunakan jarum tajam (Quincke-Babcock) irisan jarum (bevel) harus sejajar dengan serat duramater, yaitu pada posisi tidur miring bevel mengarah ke atas atau ke bawah, untuk menghindari kebocoran likuor yang dapat berakibat timbulnya nyeri kepala pasca spinal.

Setelah resensi menghilang, mandarin jarum spinal dicabut dan keluar likuor, pasang semprit berisi obat dan obar dapat dimasukkan pelan-pelan

(0,5ml/detik) diselingi aspirasi sedikit, hanya untuk meyakinkan posisi jarum


tetap baik. Kalau anda yakin ujung jarum spinal pada posisi yang benar dan likuor tidak keluar, putar arah jarum 90 biasanya likuor keluar.

Berat jenis cairan cerebrospinalis pada 37 derajat celcius adalah 1.0031.008. Anastetik local dengan berat jenis sama dengan css disebut isobaric. Anastetik local dengan berat jenis lebih besar dari css disebut hiperbarik. Anastetik local dengan

berat jenis lebih kecil dari css disebut hipobarik.

Anastetik local yang sering digunakan adalah jenis hiperbarik diperoleh dengan mencampur anastetik local dengan dextrose. Untuk jenis hipobarik biasanya digunakan tetrakain diperoleh dengan mencampur dengan air injeksi. Anestetik local yang paling sering digunakan: 1. Lidokaine(xylobain,lignokain) 2%: berat jenis 1.006, sifat isobaric, dosis 20-100mg (2-5ml) 2. Lidokaine(xylobain,lignokaine) 5% dalam dextrose 7.5%: berat jenis 1.003, sifat hyperbaric, dose 20-50mg(1-2ml) 3. Bupivakaine(markaine) 0.5% dlm air: berat jenis 1.005, sifat isobaric, dosis 5-20mg 4. Bupivakaine(markaine) 0.5% dlm dextrose 8.25%: berat jenis 1.027, sifat hiperbarik, dosis 5-15mg(1-3ml)

Faktor yang mempengaruhi:


Volume obat analgetik local Konsentrasi obat Barbotase Kecepatan penyuntikan Maneuver valsava Tempat pungsi: pengaruhnya besar pada L4-5 obat hiperbarik cenderung berkumpul ke kaudal(saddle blok) pungsi L2-3 atau L3-4 obat cenderung menyebar ke cranial.

Berat jenis larutan Tekanan abdominal yang meningkat

Waktu: setelah 15 menit dari saat penyuntikan,umumnya larutan analgetik sudah menetap

Komplikasi sirkulasi:

Hipotensi terjadi karena vasodilatasi, akibat blok simpatis, makin tinggi blok makin berat

hipotensi.

Pencegahan hipotensi dilakukan dengan memberikan infuse cairan kristaloid(NaCl,Ringer laktat) secara cepat sebanyak 10-15ml/kgbb dlm 10 menit segera setelah penyuntikan anesthesia spinal.

Bila dengan cairan infuse cepat tersebut masih terjadi hipotensi harus diobati dengan vasopressor seperti efedrin intravena sebanyak 25mg diulang setiap 3-4 menit sampai mencapai tekanan darah yang dikehendaki.

Bradikardia dapat terjadi karena aliran darah balik berkurang atau karena blok
simpatis,dapat diatasi dengan sulfas atropine 1/8-1/4 mg IV.

Komplikasi respirasi:

Analisa gas darah cukup memuaskan pada blok spinal tinggi,bila fungsi paru-paru
normal. Penderita PPOM atau COPD merupakan kontra indikasi untuk blok spinal tinggi. Apnoe dapat disebabkan karena blok spinal yang terlalu tinggi atau karena hipotensi

berat dan iskemia medulla.

Kesulitan bicara,batuk kering yang persisten,sesak nafas,merupakan tanda-tanda tidak adekuatnya pernafasan yang perlu segera ditangani dengan pernafasan buatan.

Komplikasi gastrointestinal: Nausea dan muntah karena hipotensi, hipoksia,tonus parasimpatis berlebihan, pemakaian

obat narkotik, reflek karena traksi pada traktus gastrointestinal serta komplikasi
delayed,pusing kepala pasca pungsi lumbal merupakan nyeri kepala dengan ciri khas terasa lebih berat pada perubahan posisi dari tidur ke posisi tegak. Mulai terasa pada 24-48jam pasca pungsi lumbal,dengan kekerapan yang bervariasi. Pada orang tua lebih jarang dan pada kehamilan meningkat.

Posisi berbaring terlentang minimal 24 jam,kepala

tidak boleh diangkat, boleh miring kanan kiri.


Hidrasi adekuat Hindari mengejan Bila cara diatas tidak berhasil berikan epidural blood patch yakni penyuntikan darah pasien sendiri 5-10ml ke dalam ruang epidural.