Anda di halaman 1dari 64

UVEITIS

Wenita Permanasari 20070310053

Uvea
Uvea merupakan lapisan dinding kedua dari bola mata setelah

sclera dan tenon. Merupakan lapisan vaskuler di dalam bola mata yg terdiri atas iris, badan siliar, dan koroid Iris suatu permukaan pipih dengan apertura bulat yg terletak di tengah yg dinamakan pupil, memisahkan kamera okuli anterior dari kamera okuli posterior, yg masing-masing berisi humor aquos. Di dalam iris terdapat sfingter pupil (M. Sfincther Pupillae) yang berjalan sirkuler, letaknya didalam stroma dekat pupil dan dipersarafi oleh saraf parasimpatis, N III. Selain itu juga terdapat otot dilatator pupil (M. Dilatator pupillae) yang berjalan radier dari akar iris ke pupil, letaknya di bagian posterior stroma dan diurus saraf simpatis Fungsinya: Mengendalikan jumlah sinar yang masuk mata dengan meluas-sempitkan pupil secara reflektoris.

Badan siliar (korpus siliaris )

berbentuk segitiga terdiri dari pars plikata dan pars plana. processus siliaris dan epitel siliaris pembungkusnya berfungsi sebagai pembentuk cairan bilik mata (humor aquos) sebagai makanan untuk kornea dan lensa Fungsi otot siliar untuk akomodasi. kontraksi atau relaksasi otot-otot ini mengakibatkan kontraksi dan relaksasi dari kapsula lentis, sehingga lensa menjadi lebih atau kurang cembung yang berguna pada penglihatan dekat atau jauh. Khoroid segmen posterior uvea, di antara retina dan sklera

Uveitis
Merupakan istilah umum bagi peradangan uvea
Peradangan traktus uvealis banyak

penyebabnya dan dapat mengenai salah satu atau ketiga bagian secara bersamaan

Patofisiologi
Penyebab tersering adalah reaksi hipersensitifitas, baik terhadap mikroorganisme maupun karena autogenik Infeksi terjadi di salah satu bagian tubuh kemudian tersensitisasi jaringan karena mikroorganisme atau protein dalam darah

sebagai antigen

Klasifikasi Uveitis
Berdasarkan patologi, yaitu : - Non-granulomatous - Granulomatous Berdasarkan struktur anatominya, yaitu : - uveitis anterior - uveitis intermediat

- uveitis posterior - panuveitis

UVEITIS ANTERIOR

Radang uvea dapat hanya mengenai bagian depan jaringan uvea atau iris (iritis)
Bila mengenai bagian tengah uveasiklitis

Biasanya iritis akan disertai siklitisuveitis anterior


Uveitis anterior (iridosiklitis) merupakan

penyakit yang mendadak yg biasanya berjalan 68 minggu, pada stadium dini biasanya dapat sembuh dengan tetes mata saja

Klasifikasi
Uveitis anterior dibedakan dalam bentuk: Granulomatosa akut- kronis Non-granulomatosa akut- kronik

Etiologi
Penyebab iritis tidak dapat diketahui dengan hanya melihat gambaran klinisnya saja
Iritis dan iridosiklitis dapat merupakan

manifestasi klinik dari reaksi imunologik terlambat, dini atau sel mediated terhadap jaringan uvea anterior

Pada kekambuhan akan terjadi reaksi imunologik humoral


Bakteremia atau viremia dapat menimbulkan

iritis ringan, yang bila kemudian terdapat antigen yang sama dalam tubuh akan dapat menimbulkan kekambuhan

Penyebab uveitis anterior dapat bersifat eksogen dan endogen. Lebih dari 75% uveitis endogen tidak diketahui penyebabnya,

namun 37% kasus di antaranya ternyata merupakan reaksi imunologik yang berkaitan dengan penyakit sistemik. Penyakit sistemik yang berhubungan dengan uveitis anterior meliputi: spondilitis ankilosa, sindroma Reiter, artritis psoriatika, penyakit Crohn, kolitis ulserativa, dan penyakit Whipple. Keterkaitan antara uveitis anterior dengan spondilitis ankilosa pada pasien dengan predisposisi genetik HLA-B27 positif pertama kali dilaporkan oleh Brewerton et al. herpes zoster/ herpes simpleks, sifilis, penyakit lyme, inflammatory bowel disease; Juvenile idiopathic arthritis; Sarcoidosis, trauma dan/ infeksi.

Pembagian uveitis anterior secara klinis


Ringan
Keluhan ringan sampai sedang VA 20/20 to 20/30 Kemerahan sirkumkornel superficial Tidak ada KPs (keratic presipitat) 1+ cells and flare

Sedang
Keluhan sedang sampai berat VA from 20/30 to 20/100 Kemerahan sirkumkornel dalam VA < 20/100

Berat
Keluhan sedang sampai berat

Kemerahan sirkumkornel dalam

Tampak KPs 1-3+ cells and flare

Tampak KPs 3-4+ cells and flare

Miotic, sluggish pupil


Sinekia posterior ringan Udem iris ringan

pupil terfiksir
Sinekia posterior (fibrous) Tidak tampak kripte pada iris

Tekanan intraokuler berkurang < 4 tekanan intraokuler berkurang 3- tekanan intraokuler meningkat mmHg 6 mm Hg cells anterior sedang sampai berat Anterior virtreous cells

Berat ringannya flare dan Cells (Grade Flare Cells) 0 tidak ada tidak ada 1+ flare tipis atau lemah 5-10 /lapang

pandang 2+ Flare tingkat sedang (Iris dan lensa secara 10-20/lapang pandang masih tampak) 3+ kekeruhan lebih berat (Iris dan lensa 20-50/lapang pandang diselimuti kekeruhan 4+ flare sngat berat (penggumpalan fibrin pada >50/lapangpandang humur aquos)

Flare and cells

Uveitis anterior dapat disebabkan oleh gangguan sistemik di tempat lain, yang secara hematogen dapat menjalar ke mata

atau timbul reaksi alergi mata. Uveitis yang berhubungan dengan mekanisme alergi merupakan reaksi hipersensitifitas terhadap antigen dari luar (antigen eksogen) atau antigen dari dalam badan (antigen endogen)

Non-Granulomatosa Akut
Dapat disebabkan oleh :
Trauma Diare Kronis Penyakit Reiter Herpes Simplex Sindrom Bechet Sindrom Posner Schlosman Paska bedah Infeksi adenovirus Parotitis Influenza klamidia

Non-Granulomatosa Kronis
Dapat disebabkan oleh: Artritis rheumatoid Fuchs heterokromik iridosiklitis

Granulomatosa Akut
Terjadi akibat: Sarkoiditis Sifilis Tuberkulodsis Virus Jamur (histoplasmosis) Paarasit (toksoplasmosis)

Patogenesis
Iridosiklitis Dilatasi pemb. darah kecil hiperemi

perikorneal (pericorneal vascular injection) Permeabilitas pembuluh darah Rusaknya Blood Aquoes Barrier Eksudasi ke dalam humor aquoes konsentrasi protein,fibrin dan sel-sel radang ke dalam akuos humor peradangan kronis dan berulang melekat pada endotel kornea (keratic precipitate (KP)) iridosiklitis yang berat penumpukan Sel radang (leukosit) di Bilik Mata anterior bagian bawah hipopion (bila proses akut) Migrasi eritrosit ke bilik mata anterior bagian bawahhifema (bila proses akut)

Sel-sel radang, fibrin, fibroblast iris melekat pada kapsul lensa anterior (sinekia posterior) pada endotel kornea (sinekia anterior) Otot sfingter pupil miosis timbunan fibrin serta sel-sel radang dapat terjadi jika terjadi perlekatan pada bagian tepi pupil (seklusio pupil) seluruh pupil (oklusio pupil) cairan di dalam kamera okuli posterior tidak dapat mengalir TCOP > TCOA iris menggelembung kedepan iris bombe (Bombans) TIO glaukoma sekunder Gangguan metabolisme lensa lensa keruh katarak komplikata

luas endoftalmitis (peradangan supuratif berat dalam rongga mata dan struktur di dalamnya dengan abses di dalam badan

kaca) ataupun panoftalmitis (peradangan seluruh bola mata termasuk sklera dan kapsul tenon sehingga bola mata merupakan rongga abses) tidak segera ditangani symphatetic ophtalmia.

Manifestasi Klinis
Uveitis dapat terjadi mendadak (akut) berupa mata merah dan sakit
Dapat juga secara perlahan-lahan dengan

mata merah dengan penglihatan turun perlahan-lahan Iridosiklitis kronis merupakan episode rekuren dengan gejala akut yang ringan

Keluhan Subyektif
Pasien dengan uveitis anterior akut mengeluh: Mata merah dan sakit Fotofobia Penglihatan turun ringan Mata berair (epifora) Keluhan sukar melihat dekat akibat ikut meradangnya otot-otot akomodasi

Temuan Klinis
Pupil kecil akibat rangsangan proses peradangan

pada otot sfingter pupil Terdapat edema iris Pada proses radang akut dapat terjadi miopisasi akibat rangsangan badan silier dan edema lensa Terdapat fler/ efek tyndal dalam bilik mata depan Bila peradangan sangat akut akan terlihat hifema atau hipopion

Pada nongranulomatosa terdapat presipitat halus pada dataran belakang kornea Pada granulomatosa terdapat presipitat

besar mutton fat deposit, benjolan Koeppe (penimbunan sel pada tepi pupil), benjolan Busacca (penimbunan sel pada permukaan iris) Dapat terbentuk sinekia posterior, miosis pupil, tekanan bola mata meningkat, pembuluh darah silier dan perilimbus melebar

Pada iridosiklitis akut dapat terbentuk hipopion di bilik mata depan Pada yang kronis terlihat edema makula dan kadang-kadang katarak Tekanan bola mata dapat rendah akibat gangguan fungsi pembentukan cairan mata oleh badan silier Bila tekanan bola mata tinggi menunjukkan gangguan pengaliran keluar cairan mata oleh sel radang/ perlengketan pada sudut bilik mata

Perjalanan Klinis
Perjalanan penyakit iritis sangat khas, yaitu berlangsung 2-4 minggu
Kadang- kadang penyakit ini menunjukkan

gejala- gejala kambuhan atau menjadi menahun

Beberapa keadaan yang menyebabkan tanda dan gejala yang

berhubungan dengan uveitis anterior akut, yaitu: 1. Traumatic Anterior Uveitis Biasanya terdapat riwayat truma tumpul mata atau adneksa mata. Luka lain seperti luka bakar pada mata, benda asing, atau abrasi kornea dapat menyebabkan terjadinya Uveitis Anterior. Visual aquity dan tekanan intraocular mungkin terpengnaruh, dan mungkin juga terdapat darah pada anterior chamber. 2. Idiopathic Anterior Uveitis Istilah idiopatik dipergunakan pada Uveitis Anterior dengan etiologi yang tidak diketahui apakah merupakan kelainan sistemik atau traumatic. Diagnosis ini ditegakan sesudah menyingkirkan penyebab lain dengan anamnesis dan pemeriksaan.

3. HLA-B27 Associated Uveitis HLA-B27 mengacu pada spesifik genotype atau chromosome. Mekanisme pencetus untuk Uveitis Anterior pada pasien dengan genotype seperti ini tidak diketahui. Ada hubungan yang kuat dengan ankylosing spondylitis, sindrom Reiter, Inflamatory bowel disease, psoariasis, arthritis, dan Uveitis Anterior yang berulang. 4. Behcets Diseases/syndrome Sebagian besar menyerang laki-laki dewasa muda dari bangsa mediterania atau jepang. Terdapat trias penyakit Behcets, yaitu akut Uveitis Anterior dan ulkus pada mulut dan genital. Penyakit behcet yang menyebabkan Uveitis Anterior akut adalah sangat langka.

5. Lens Associated Anterior Uveitis Ada beberapa keadaan yang ditemukan pada peradangan anterior chamber dan penyebab yang disebabkan oleh keadaan lensa, yaitu : phacoanaphylactic andhopthalmitis dan phacogenic (phacotoksik) uveitis; phacolitic glaukoma; dan UGH syndrome ( Uveitis, Glaukoma dan Hifema). 6. Masquerade syndrome Merupakan keadaan yang mengancam, seperti lymphoma, leukemia, retinoblastoma, dan malignant melanoma dari choroid, dapat menimbulkan Uveitis Anterior.

Beberapa keadaan yang dapat menghasilkan tanda dan gejala yang

terdapat pada diagnosis Uveitis Anterior kronik adalah : 1. Juvenile Rheumatoid Arthritis Anterior Uveitis terjadi pada penderita JRA yang mengenai beberapa persendian. Karena kebanyakan dari pasien JRA adalah positif dengan test ANA ( Anti Nuklear Antibody ), yang merupakan pemeriksaan adjuvant. JRA lebih banyak mengenai anak perempuan dibanding anak lelaki. Merupakan suatu anjuran pada semua anak yang menderita JRA untuk diperiksa kemungkinan terdapatnya Uveitis Anterior. 2. Anterior Uveitis Associated with Primary Posterior Uveitis Penyakit sistemik, seperti sarcoidosis, toksoplamosis, sipilis, tuberculosis, herpes zoster, cytomegalovirus, dan AIDS mungkin saja terlibat dalam Uveitis Anterior baik primer ataupun sekunder dari uveitis posterior. 3. Fuchs Heterochromatic Iridocyclitis Merupakan suatu penyakit kronik, biasanya asimptomatik, terdapat 2% pasien Uveitis Anterior.

Penatalaksanaan
Tujuan dari pengobatan uveitis anterior adalah
Memperbaiki visual acuity Meredakan nyeri pada ocular

Menghilangkan inflamasi ocular atau


Mengetahui asal dari peradangannya Mencegah terjadinya sinekia

Mengatur tekanan intraocular.

Pengobatan uveitis anterior adalah tidak

spesifik, pada umumnya menggunakan kortikosteroid topical dan cycloplegics agent

Kortikosteroid topikal adalah terapi awal dan secepatnya diberikan.


Tujuan penggunaan kortikosteroid adalah mengurangi

peradangan, yaitu mengurangi produksi eksudat, menstabilkan membran sel, menghambat penglepasan lysozym oleh granulosit, dan menekan sirkulasi limposit. Beberapa kortikosteroid topikal yang tersedia adalah prednisolon acetate 0,125% dan 1%, prednisolone sodium phospat 0,125% , 0,5%, dan 1%, deksamentason alcohol 0,1%, deksamethasone sodium phospat 0,1%, fluoromethasone 0,1% dan 0,25%, dan medrysone 1%.

Steroid tetes pada siang hari dan steroid salep pada malam hari Bila perlu diberikan steroid sistemik dosis tunggal seling sehari yang tinggi kemudian diturunkan sampai dosis efektif. Steroid dapat diberikan subkonjungtiva& peribulbar Pemberian steroid dosis terbagi dalam jangka lama dapat menimbulkan katarak, glaukoma& midriasis pupil

Semua agent cycloplegic


Cara kerjanya adalah: cholinergic antagonist yang

bekerja memblokade neurotransmitter pada bagian reseptor dari sphincter iris dan otot ciliaris.

Cycloplegic mempunyai 3 tujuan dalam pengobatan uveitis anterior, yaitu :


untuk mengurangi nyeri dengan memobilisasi iris mencegah terjadinya perlengketan iris dengan lensa

anterior (sinekia posterior), yang akan mengarahkan terjadinya iris bombe dan peningkatan tekanan intraocular menstabilkan blood-aqueous barrier dan mencegah terjadinya protein leakage (flare) yang lebih jauh

Sikloplegik diberikan untuk mengurangi rasa sakit, mmelepas sinekia yang terjadi, dan memberi istirahat pada iris yang meradang Pengobatan spesifik diberikan apabila kuman pennyebab telah diketahui
Bila terdapat glaukoma sekunder diberikan

asetzolamida

Penyulit
Terbentuknya sinekia posterior dan sinekia anterior perifer yang akan mengakibatkan glaukoma sekunder Glaukoma sekunder ini terjadi akibat tertutupnya trabekulum oleh sel radang/ sisa sel radang Radang pada satu mata mengakibatkan peradangan yang berat pada mata sebelahnya (Uveitis simpatis)

Komplikasi
Katarak
Retinitis proliferans Ablasi retina Glukoma sekunder yang dapat terjadi pada

stadium dini dan stadium lanjut Pada uveitis anterior dengan visus yang sangat turun, sangat mungkin disertai penyulit edema macula kistoid.

UVEITIS INTERMEDIAT

Uveitis Intermediat adalah sebentuk peradangan yang tidak mengenai uvea anterior atau posterior secara langsung.

Sebaliknya, ini mengenai zona intermediat mata Pars Plana Mengenai terutama pada orang dewasa muda

Keluhan utama melihat bintik-bintik mengapung di dalam lapangan penglihatannya. Kebanyakan kasus kedua matanya terkena. Tidak terdapat rasa sakit, kemerahan, maupun fotofobia. Adanya kekeruhan dalam vitreus, yang sering menutupi pars plana inferior. Sangat jarang terjadi synechiae anterior maupun posterior.

Synechiae anterior dan synechiae posterior

Sel radang lebih besar kemungkinan terlihat di ruang retrolental atau di vitreus anterior pada pemeriksaan dengan slit-lamp. Sering timbul katarak subkapsular posterior. Oftalmoskop indirect sering menampakkan kekeruhan putih bulat halus diatas retina perifer. Eksudat seluler menyatu, sering menutupi pars plana. Sebagian menunjukkan vaskulitis terlihat adanya selubung perivaskular pada pembuluh retina

Pada kebanyakan pasien, penyakit ini tetap stasioner atau membaik dalam waktu 5 10 tahun. Beberapa pasien timbul edema makula kistoid dan parut makular permanen.
Terjadi pelepasan membran-membran siklitik

dan retina pada kasus berat. Penyebab belum diketahui

Kortikosteroid adalah satu-satunya pengobatan yang menolong namun hanya dipakai pada kasus berat, terutama bila

penglihatan menurun sekunder akibat edema makular. Mula-mula topikal; jika gagal, suntikan subTenon atau retrobulber dengan kortikosteroid mungkin efektif. Pengobatan demikian meningkatkan resiko katarak.

UVEITIS POSTERIOR

Batasan :

uvea bagian posterior, yg biasanya disertai dengan peradangan jaringan di sekitarnya, misalnya retinitis dan vitreous. Radang uvea bagian posterior ini dapat berdiri sendiri, nama lainnya tetapi dapat bersamaan dengan uveitis anterior, yang sering disebut sebagai Pan-uveitis.

Uveitis non-granulomatous, umumnya tidak dapat ditemukan organisme patogen dan karena berespon baik terhadap terapi kortikosteroid, diduga peradangan ini adalah semacam fenomena hipersensitivitas.
Uveitis granulomatous umumnya mengikuti invasi mikroba aktif ke jaringan oleh mikroorganisme penyebab (misal M.tuberculosis atau Toxoplasma Gondii)

Bentuk-bentuk koroiditis :

- Koroiditis anterior, radang koroid perifer - Koroiditis areolar, koroiditis bermula di daerah makula lutea dan menyebar ke perifer - Koroiditis difusa atau diseminata, bercak peradangan koroid tersebar di seluruh fundus okuli - Koroiditis eksudatif, koroiditis disertai bercakbercak eksudatif - Koroiditis juksta papil

Manifestasi Klinis
Gejala subyektif

- dua keluhan utama uveitis posterior yaitu penglihatan kaburndan melihat lalat beterbangan (floaters) - penurunan visus dpt mulai dr ringan sampai berat yaitu apabila koroiditis mengenai daerah makula atau papilo makular.

Gejala obyektif

- pada lesi yg baru didapatkan tepi lesi yg kabur dan dpt disertai prdarahan sekitarnya dilatasi vaskuler atau sheathing pembuluh darah. - pada lesi lama didapatkan batas yg tegas, seringkali berpigmen rata atau datar dan disertai hilang atau mengkerutnya jaringan retina dan atau koroid

Pemeriksaan Fisik
Oftalmoskop

- kekeruhan badan kaca - bila retina masih terlihat, akan tampak fokal pucat disertai pigmen-pigmen. Lensa kontak 3-cermin Goldmann terlihat adanya pars planitis sebagai focal kepucatan dgn pigmen-pigmen di daerah pars plana

Segmen anterior

- tidak didapatkan kelainan yg berarti - hiperemi perikorneal (-) Pemeriksaan laboratorium ditujukan utk penyakit-penyakit spesifik (TBC dan histoplasmosis) dan penyakit kolagen

Diagnosis banding : Penyakit degenerasi retina Kekeruhan badan kaca karena perdarahan Ablasi retina

Penatalaksanaan
Midriatika - Sulfas atropin 1% : 1 x 1 tetes/hari - Homatropin 2 % : 3 x 1 tetes/hari Tetes / salep mata - dexamethasone 1 % betametasone 1 %

- prednisolone 0,5 % tetes atau salep diberikan 3 x sehari

Suntikan

Suntikan periokulersuntikan utk kasus pars planitis dan uv - long acting metilprednisolon acetat atautriamcinolone 40 mg/cc/mgg - short acting betametasone 4mg/cc/hari dexamethasone 4mg/cc/hari Suntikan subtenon posterior obat sama, 1,5cc/suntikan utk kasus pars planitis dan uveitis posterior

Sistemik

- prednisolon : dosis awal 1-1,5mg/kgBB diturunkan bertahap bila sdh ada respon - siklosporin dpt diberikan bila tdk ada respon dgn steroid, stlah pemberian 2 mggu. dosis awal : 5mg/kgBB/hari, bila ada respon, diberi maintenance 2mg/kgBB/hari. Harus dilakukan pengawassan pd faal hati dan ginjal

Komplikasi
Glaukoma sekunder
Katarak atau neovaskularisasi (pembentukan

pembuluh darah baru) Ablasi retina